
Laya sedang berbaring di kasurnya setelah selesai mandi dan ganti baju. Rambutnya yang basah, serta bulir-bulir air yang mengalir turun dari rambut ke bantalnya, tidak mengganggunya sama sekali. Pikiranya sedang berkelana pada kejadian dua hari ini.
Singgah di rumah Iris dan menemui keluarga Iris merupakan pengalaman yang memukau bagi Laya. Ia seakan menemukan dunia yang selama ini ia rindukan, terlebih melihat hubungan Iris dan Krisan, melihat bagaimana Iris begitu peduli pada Krisan.
Sebagian dirinya iri pada interaksi mereka. Mereka seakan tak punya jarak, Laya bisa melihat betapa Iris menyanyangi Krisan, bukan hanya dari tindakanya tapi juga dari sorot matanya.
Laya tak pernah melihat tatapan mata seperti itu sebelumnya, tatapan mata yang hanya memancarkan cinta dan kasih sayang. Laya juga bisa melihat betapa Krisan mengagumi dan menyayangi kakaknya, bahkan bisa dikatakan sedikit banyak ia bergantung padanya.
Terlebih melihat ibu Seruni, ibu Iris, entah bagaimana mengingatkan Laya pada ibunya. Bu Seruni begitu menyukai bunga. Ibunya juga pernah sangat menyukai bunga. Laya samar-samar mengingat saat kecil, halaman rumahnya dipenuhi tanaman bunga, mulai dari mawar, krisan, lily bahkan ada bunga Iris. Ia mengingat bagaimana ibunya bercerita tentang bunga-bunga itu, apa makna dan arti dari bunga itu.
Namun saat Laya masuk SD, tanaman bunga itu hilang dalam semalam. Halaman rumahnya menjadi gersang, tak ada lagi tanaman bunga di pekarangan itu. Saat itulah insting dalam diri Laya mengatakan bahwa dia tak boleh lagi bicara tentang bunga. Meski begitu Laya tetap belajar banyak tentang bunga. Ia mempelajari teori-teori tentang cara menanam bunga, sehingga ia tau banyak hal dan bisa leluasa membicarakan hal itu dangan bu Seruni.
Laya merasa bunga telah menjadi bagian dari hidupnya. Ibunya mencintai bunga, Laya menangkap rasa cinta itu. Meskipun entah mengapa ibunya telah membuang bunga dari hidupnya, Laya merasa bahwa bunga adalah bagian dari diri ibunya yang harus ia jaga.
Setelah mengobrol dengan bu Seruni, Laya sedikit banyak merasa ia bisa memahami ibunya. Bu Seruni pernah memiliki mimpi untuk menjadi ahli botani. Ia ingin sekali masuk ke jurusan ekologi, namun pada satu titik dalam hidupnya ia menyerah akan mimpi itu.
Ia tidak menyesali keputusan hidupnya, tapi ia ingin menjaga bagian dari mimpinya yang tak terwujud itu. Maka ia menanam berbagai macam tumbuhan di rumah, mulai dari bunga hias, tanaman obat,sesekali ia membiarkan rumput liar tumbuh dan berkembang di sana.
Apa yang dialami ibunya mungkin tak jauh berbeda dengan yang dialami bu Seruni. Pada satu titik dalam hidup, ibunya mungkin harus menyerah pada mimpinya. Hanya mekanisme pertahanan diri mereka saja yang berbeda.
Bu Seruni memutuskan untuk merawat bagian kecil dari mimpinya, sementara ibunya memilih untuk membuang seluruh bagian dari mimpinya.
Laya teringat teringat percakapanya dengan bu Seruni tadi siang.
“Kenapa gak ada bunga Iris di sini bu?” tanyanya
“Kenapa ya? Sepertinya ibu hanya enggan. Ibu merasa tidak akan sanggunp merawat mereka. Ibu hidup dalam keterbatasan, maka dari itu ibu tidak ingin menaman mereka di sini. Ibu tidak ingin membatasi hidup mereka. Ibu ingin mereka hidup dengan cara mereka sendiri, bertunas dalam jalan mereka sendiri, dan mekar dengan
kemauan mereka sendiri. Ibu ingin mereka memiliki hidup mereka sendiri.” Jawab bu Seruni sambil memandang bunga Seruni di hadapanya.
__ADS_1
“Duh harusnya aku tanya ibu dulu sebelum beli ini ya, kita ganti aja gimana bu? Aku bisa bawa pulang yang ini.” Kata laya lumayan panik.
“Ngak perlu diganti Laya. Bunga ini sudah sampai pada ibu, maka memang di sinilah bunga ini harus berada. Ibu akan rawat baik-baik bunga seruni ini, supaya nanti kamu bisa liat bahwa di pekarangan rumah ibu ada bunga seruni paling indah.”
Laya memikirkan baik-baik jawaban bu Seruni. Ia merasa kagum tapi juga sedih akan jawaban bu Seruni. Bu Seruni begitu menghargai hidup, baik anak-anaknya atau tanaman yang ia rawat. Laya merasakan kasih sayang yang begitu besar dari bu Seruni pada tiap kehidupan yang ada di rumahnya. Meski kelak bunga seruni itu mekar, bu Seruni akan tetap menjadi bunga Seruni paling indah di rumah itu.
Meski begitu di lubuk hatinya yang terdalam kesedihan menghantuinya, akankah ibunya bisa menemukan kembali bagian dari mimpinya yang hilang, dan mekar di jalanya sendiri. Laya berdoa dalam hatinya, mendoakan kebahagiaan sang ibu, memohon supaya sang ibu bisa kembali mekar di jalanya sendiri.
***
Dua minggu berlalu sejak Iris mendaftarkan diri untuk mengikuti olimpiade sosial. Selama itu pula Iris telah belajar mati-matian siang dan malam. Ia mencari dan membaca buku di perpustakan selama jam istirahat. Mencari berbagai macam artikel atau essay di ruang club jurnalistik setelah pulang sekolah, begitu terus bergantian setiap harinya.
Di Hari sabtu dan minggu ia pergi ke perpustakaan daerah untuk melihat contoh jurnal dan skripsi. Iris telah
memutuskan untuk fokus pada PWC seperti kata pak Ibrahim.
Teman-temanya, Melinda dan Reski juga selalu siap memberikan dukungan untuk Iris, menemaninya di perpustakaan ataupun ruang jurnalistik. Tak hanya mereka Anwar dan Laya juga sering menawarkan bantuan pada Iris. Iris selalu bersyukur karena dia dikelilingi orang baik.
Meski begitu Iris memahami bahwa dunia ini memiliki banyak sisi. Meski banyak orang yang mendukungnya akan selalu ada orang yang mencibirnya, seperti pak Idris yang terang-terangan menganggap apa yang dilakukan Iris sia-sia. Iris mendengar banyak sentilan kecil tentang dirinya.
Banyak yang mengaggap bahwa ia egois dan serakah, terlebih lagi dengan kenyataan bahwa dia sudah pernah gagal, banyak pula yang merasa bahwa Iris hanya akan menyia-ntiakan waktunya, seperti yang pak Idris katanya. Beberapa adik kelasnya juga mencibirnya, mereka merasa Iris merampas kesempatan mereka. Iris mencoba sekuat tenaga untuk tidak menghiraukan ocehan orang-orang tentangnya dan fokus pada tujuanya.
Namun meski sudah berusaha keras untuk menutup telinga, Iris tetap merasa jengah. Terlebih lagi setelah muncul berbagai spekulasi tentang dirinya dan Laya. Kabar kedekatannya dengan Laya makin banyak menyebar. Intensitas Laya datang ke rumah Iris juga meningkat, dalam seminggu terakhir saja Laya sudah tiga kali datang ke rumah Iris.
Ia akan mendatangi Iris di tempat ia biasa menunggu angkot dan menawarkan untuk mengantarnya pulang. Meski saat sudah sampai rumah Laya tak lagi menjadi tamunya. Laya akan berbincang dengan ibunya, membantu merawat tanaman bahkan bermain dengan Krisan, mulai dari bermain bola, sepeda sampai menerbangkan layang-layang bersama.
Iris tidak keberatan dengan hal itu, Laya tidak mengganggunya, adik dan ibunya juga terlihat nyaman bersama Laya. Iris sama sekali tidak punya niat untuk mempermasalahkan hal itu. Namun orang-orang yang tidak memahami itu akan membuat kesimpulan mereka sendiri dan menyebar berbagai rumor aneh. Mereka hanya akan percaya apa yang ingin mereka percaya.
Laya juga telah memperlihatkan banyak perubahan. Ia tak lagi menjadi begitu kompetitif. Meski sudah dua minggu sejak pengumuman Laya tidak kunjung mendaftar untuk mengikuti olimpiade Sosial. Ia tak lak lagi terlihat mengerjakan soal SBMPTN atau UN di waktu senggangnya. Ia malah beralih membaca buku fiksi. Ia juga berhenti dari beberapa les yang diikuti. Perubahan paling besar adalah ia berhenti memanah.
__ADS_1
Banyak yang mengaitkan perubahan Laya dengan Iris, beberapa yakin bahwa mereka telah menjalin hubungan spesial, didukung pula dengan testimoni orang-orang yang melihat Laya menjemput Iris dan pulang bersama.
Tapi rumor itu bukanlah apa-apa, yang paling menyakiti Iris adalah rumor bahwasanya Iris sengaja merayu Laya, supaya Laya jatuh ke perangkapnya dan melepas semua kompetisi itu, sehingga Iris bisa menang. Iris sama sekali tidak paham, bagaimana mereka bisa perpikir sejauh itu.
Seperti saat ini, saat bertanya pada pak Ibrahim di ruang guru, ada pak Idris dan bu Widia, ada pula pak Adi guru biologi. Iris sedang berbicara dengan pak Ibrahim saat pak idris mendekati mereka dan berkomentar.
“Kamu bener-bener mau ikut lombanya? Emang ga sayang waktu sama uang apa?” katanya sambil mengintip berkas yang sedang dibaca pak Ibrahim.
Iris dan pak Ibrahim sama-sama mengabaikanya. Terlihat tak puas dengan reaksi mereka, pak Idris mendekati pak Adi dan duduk di depanya.
“Kamu kan sudah kelas 12, sudah bukan waktunya lagi loh ikut lomba-lomba. Kalau memang mau ikut, sebaiknya yang ikut ya si Laya itu, dia kan sudah pernah menang, jadi kesempatan menangnya tentu lebih besar. Iya gak pak Adi?” tanya seakan meminta dukungan dari pak Adi.
“Hemm, kamu toh anak IPS yang sering juara umum itu. Saya si setuju sama pak Idris, lebih baik kamu fokus SBMPTN, dari pada ikut hal yang ga pasti kaya gini.” Jawabnya santai. Pak Idris terlihat sangat puas dengan jawaban pak Adi.
“Iya kan pak, anak zaman sekarang emang susah banget dibilanginya.” timpal pak Idris, terlihat sangat puas setelah menemukan lawan bicara yang sepemikiran.
“Lagi pula anak IPS pada akhirnya bisa jadi apa si.” Balas pak Adi sambil tersenyum, seakan mengejek keberadaan Iris.
Ejekan itu sekan menguras seluruh tenaga di dalam diri Iris. Iris ingin melawan tapi tubuhnya terasa membeku. Seluruh tubuhnya lelah setelah belajar semalaman, dan hatinya juga lelah mendengar cemooh dan cibiran.
Saat berpikir bahwa ia telah sampai di batas kesabaranya, sebuah sentuhan hangat terasa di pundaknya, tanpa ia sadari bu Widia sudah berdiri di sampingnya.
“Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pikir sangat tidak pantas seorang guru bicara begitu di depan muridnya.” Kali ini terdengar suara pak Ibrahim.
Pak Ibrahim meletakan kertas yang sedari tadi dibaca di mejanya, melepas kaca matanya dan memandang lembut ke arah Iris.
“Kamu bisa kembali ke kelas Iris, bapak akan baca-baik-baik hasil tulisan kamu. Kita bicarakan lagi hasilnya besok, oke.” Katanya lembut tak seperti nada suara sebelumnya.
Iris hanya mengangguk, dan seakan sudah saling memahami, bu Widia membawa Iris keluar dari ruang guru. Iris tak tau apa yang terjadi pada guru-gurunya di ruang guru. Ia tak tau dan tak mau tau, satu-satunya yang ia inginkan adalah pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu.
__ADS_1