Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
No Longer A Rival?


__ADS_3

Iris baru selesai mencari referensi dan menyalin beberapa teori penting saat dilihatnya Laya masuk ruang jurnalistik dan menghampirinya. Iris yang sudah selesai membereskan bukunya, langsung mengambil tas dan beranjak pergi, sekuat tenaga menghindari Laya.


Laya tak menyerah, ia mengejar Iris dengan seluruh kekuatanya. Mereka berkejaran dari luar ruang jurnalistik, ke lorong kelas, menuju gerbang sekolah.


Sekolah sudah sepi, ini sudah hampir jam 5 sore, anak-anak sudah bubar beberapa jam lalu. Hanya tertinggal penjaga sekolah dan beberapa pengurus ekskul yang masih


mengurus ekskul.


“Iris!” teriak Laya mencoba menghentikan Iris.


Iris menghentikan langkahnya dan menarik napas panjang. Ia tak ingin menarik perhatian, kabar pertengkaranya dengan Yuli sepertinya belum menyebar.


Meski saat ini sudah tidak banyak siswa, tapi bukan berarti tidak ada yang melihatnya dan Laya. Ia tak ingin ada lebih banyak rumor aneh.


Ia berbalik dan mendapati Laya sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia jelaskan. Mata Laya selalu kaya akan ekspresi.


Iris pernah menyaksikan langsung bagaimana pancaran emosi di mata itu berubah begitu cepat. Tapi saat ini ia tak dapat menangkap makna dari tatapan Laya, kemarahan kah atau kesedihan, atau


malah kelelahan.


Iris tak ingin menduga-duga lebih lama, ia harus segera menyelesaikan apapun masalahnya ini dengan Laya. Ia memberi isyarat pada Laya untk mengikutinya. Mereka harus pergi ke tempat yang lebih tenang.


Iris pergi ke taman tempat mereka berdiskusi tentang tugas sosiologi sebelumnya. Ia meletakan tasnya di meja bundar dan duduk di bangku. Laya mengikutinya dan duduk di hadapan Iris.


“Untuk sementara ga usah dateng ke rumah, kalaupun lu emang mau ke rumah langsung aja ke sana dan ga usah bareng gua.” Kata Iris tegas pada Laya.


“Kenapa?”


“Kalo kita keliatan teralu deket cuman bakal mancing rumor–rumor aneh.”

__ADS_1


“Lo segitu gak sukanya kalo kita keliatan deket?” tanya Laya dengan wajah datar, entah kenapa ada sedikit kesedihan dalam nada bicaranya.


“Ini bukan soal gua suka atau ngak, gua cuman berusaha mengurangi masalah. Lo denger sendiri kan tadi Yuli bilang apa. Risih rasanya diomongin di belakang kaya gitu.” Jelas Iris.


Laya memahami jelas perasaan Iris. Ia bukanya tidak tau apa-apa, ia juga mendengar rumor-rumor aneh itu, dan merasa risih. Tadinya ia pikir hal itu tak akan mempengarhi Iris, seperti selama ini.


“Lo tau kan kalo lo ga bisa nyalahin gua atas semua kejadian itu.” ucap Laya tegas, ia ingin memperjelas keadaan. Ia tahu Iris sedang kelelahan tapi ia merasa harus memperjelas posisinya.


Iris termenung mendengar pernyataan Laya. Ia tak ingin mengakuinya tapi ia memang sedikit banyak menyalahkan Laya. Setelah ribuan kali mendengar orang-orang membandingkan mereka, ia lelah dan ingin sesekali meneriaki Laya.


Ia merasa seperti sedang tertangkap tangan saat mencoba melakukan hal jahat dan itu melukai harga dirinya. Ia sudah mencoba menahan diri selama ini, tapi tak pernah menyangka Laya sendiri yang melontarkan pernyataan itu padanya.


“Gua gak pernah nyalahin lo, Ekalaya!” ucapnya tegas, mencoba membohongi Laya dan dirinya snediri.


“Benarkah? Lo gak pernah? Lantas kenapa tingkah laku lo menunjukan sebaliknya.” Tukas Laya lagi, seakan hendak memojokan Iris.


Iris terdiam sesaat, menyadari bahwa Laya terkadang lebih memahami dirinya dari pada dirinya sendiri. Entah kenapa ia merasa memahami apa yang dilakukan Yuli di kelas tadi. Sebagaimana selama ini ia mencoba mengunggulli Laya, Yuli juga telah berusha keras mengungguli drinya dan Laya.


“Em, sedikit banyak gua menyalahkan lo. Ngak bolehkah?” kata Iris mencoba terlihat setenang mungkin, sekuat tenaga menutupi keputusasaan dalam dirinya.


“Kenapa? Kenapa malah jadi salah gua?!” tanya Laya dengan nada suara meninggi. Ia terlihat sama lelahnya dengan Iris


“Kenapa enggak?!” Balas Iris tak kalah keras dari Laya.


Laya menatap Iris dengan penuh ketidak percayaan. Ia tidak percaya bahwa Iris menjadi setidak rasional ini. Bahwa Iris yang saat ini menatapnya dengan penuh kebencian dan kemarahan adalah Iris yang sama dengan Iris yang menenangkanya dan menyurhnya menjadi dirinya sendiri.


Iris membuang napas keras, menunjukan kemarahan dan kekesalannya.


“Lo ngak akan pernah paham. Lo punya segalanya di tangan lo. Lo ngak harus ngedenger orang-orang ngebandingin lo dan orang lain. Lo ngak akan tau gimana melelahkan dan menyiksanya itu semua.” Kata Iris sambil menatap dalam ke mata Laya, seakan memastkan Laya meresapi tiap kata yang ia keluarkan.

__ADS_1


Kata-kata itu seakan menusuk setiap inci tubuh Laya. Bagaimana mungkin ia tidak tau, ia tau jelas seperti apa rasanya.


Ia menghabiskan seluruh hidupnya membandingkan diri dengan kakaknya dan Iris tau jelas semua itu. Ia telah membagi hal itu dengan Iris, hanya pada Iris, jadi bagaimana mungkin Iris tidak tau.


Iris menatap Laya lekat-lekat, melihat bagaimana kata-katanya menusuk ulu hati laya, melihat pancaran kesakitan di mata Laya.


Iris sekuat tenaga menahan tangisnya, memastikan tak satu pun air menetes  dari matanya. Ia menlan ludah dan mencoba terlihat kuat di hadapan Laya. Ia tak bisa mundur sekarang, ia tak bisa berbalik saat sudah menyerang.


“Mumpung kita lagi ngomongin ini, biarin gua tanya satu hal, apa alasan sebenarnya lo ga mau ikut olimpiade sosial?” tanya Iris


Laya menatap Iris dingin kemudian menjawab, “Karena lo.”


Iris terkejut mendengar jawaban Laya. Ia tak tau harus marah, tertawa, atau menangis mendengar jawaban Laya. Apa maksud jawaban Laya, kenapa jawaban Laya justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.


“Apa maksudnya? Lo kasian sama gua? Lo menganggap gua lemah, sehingga lo ngerasa harus mengalah supaya gua bisa menang?! Itu juga alasan lo selalu mampir ke rumah gua selama ini! Jadi deket sama keluarga gua! Supaya lo bisa metertawakan hidup gua yang penuh kekurangan, gitu?!”


Iris seakan meledak, mengeluarkan semua kekesalan yang ia pendam. Matanya terasa panas dan seluruh tubuhnya tegang. Ia mengepalkan kedua tanganya keras, dan menatap Laya dengan penuh kemarahan dari tempatnya.


Sementara Laya masih bertahan di tempatnya, mentap Iris dengan penuh kedinginan. Ia tidak tertawa ataupun marah melihat reaksi Iris.


“Jadi begitu cara lo memandang diri lo selama ini, Ris.” Kata Laya.


Iris tertegun mendengarnya, ketegangan perlahan meninggalkan tubunya, meski ia masih membeku di tempat.


“Ngak pernah sekalipun gua mengasihani ataupun mentertawakan hidup lo Ris. Ngak ada dari hidup lo yang harus dikasihani atau ditertawakan.” Ucap Laya.


Laya mengambil tasnya dan berdiri dari duduknya, berniat untuk pergi, tapi sebelum melangkah ia kembali menatap Iris lekat-lekat.


“Am I worth nothing when i’m no longer your rival, cause i can’t boots your motivation and make you work harder? I can be my own Ekalaya you said, what a hypocrite! Even you can’t accept me as i am.”

__ADS_1


Ucapnya kemudian meninggalkan Iris.


Laya telah melangkah jauh meninggalkan Iris, hingga Iris tak bisa melihat bahkan bayanganya. Tanpa ia sadari air mata jatuh membahasi pipinya. Iris menutup wajahnya mencoba menahan isak tangis yang tak lagi mampu ia bendung, menyadari apa yang baru saja ia lakukan.


__ADS_2