
Laya baru saja selesai mandi saat handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Iris, Laya sedikit terkejut melihatnya. Ia mempersiapkan diri beberapa detik sebelum menerima panggilan itu.
“Hallo, nak Laya.” kata suara di ujung sana. Betapa terkejutnya Laya ketika ia mendengar suara serak bu Seruni.
“Iya bu ada apa bu?” jawab Laya terburu-buru, ia merasakan sedikit kepanikan dalam nada suara bu Seruni.
“Maaf mengganggu malam-malam nak, tadi Iris pergi ke luar dan belum juga pulang. Ibu ingin tanya apa kamu mungkin tau ke mana Iris biasanya main. Maaf ya nak, kamu satu-satunya teman Iris yang ibu tau, Iris juga tidak bawa HP, jadi ibu coba menghubungi kamu.” Jelas bu Seruni.
“Tempat Iris main yang aku tau cuman sekolah bu, tapi kalo jam segini sekolah pasti sudah dikunci.” Jawab Laya.
“Begitu ya nak, baik nak terima kasih ya, maaf ganggu malam-malam. Tolong kalo kamu denger kabar tentang Iris langsung kasih tau ibu ya nak.”
“Iya bu, coba saya tanyakan teman-teman yang lain juga ya bu. Ibu jangan terlalu khawatir, Iris pasti baik-baik aja.” Kata Laya coba menenangkan bu Seruni.
“Iya nak terima kasih banyak ya.”
“Sama-sama bu.”
Telepon itu pun terputus, setelahnya Laya langsung mengirim SMS kepada Reski dan Melinda menanyakan apakah mereka bersama Iris.
Selang beberapa menit dia mendapat jawaban, sayangnya keduanya sedang tidak bersama Iris. Hal ini membuat Laya menjadi sedikit panik, suara bu Seruni tadi tedengar serak seperti orang habis menangis.
Ia juga mengingat pertengkaranya dengan Iris tadi. Hatinya seakan ikut kalut menyadari keberadaan Iris yang tak diketahui. Merasa tak sanggunp hanya berdiam diri di kamar, Laya langsung mengambil jaket dan kunci
motornya.
***
Laya menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan pelan. Ia menyusuri jalan dari rumah ke sekolah. Hari sudah sangat gelap, beberapa kios terlihat bersiap-siap untuk tutup.
__ADS_1
Laya mengitarkan pandanganya ke jalan, berharap menemukan sosok yang ia kenal. Ia sudah berjalan melewati sekolahnya dan sekarang menuju rumah Iris.
Di belokan ia biasa menemukan Iris menunggu angkot, Laya melihat seorang wanita yang tengah duduk di pinggir jalan. Ia duduk sambil menutup wajahnya di dengkul. Wanita itu mengenakan celana training dan kaos biru lengan pendek.
Laya mengenali celana itu, meski tak melihat wajahnya, Laya yakin sekali itu adalah Iris. Laya pun langsung mendekatkan motornya dan menghentikanya di dekat Iris. Ia turun dan langsung menghampiri Iris.
Saat berdiri di hadapan Iris ia semakin terkejut karena mendapati bahwa Iris sedang menangis, bahunya bergetar dan suara tangisanya terdengar. Untuk beberapa saat Laya membeku di tempat tak tau apa yang harus dilakukan. Iris tak pernah terlihat selemah ini sebelumnya.
Setelah sadar kembali, Laya berjongkok di hadapan Iris, memanggil nama Iris pelan,
“Ris.”
Iris mengangkat wajahnya dan kaget mendapati Laya berada tepat di hadapanya. Melihat Laya, bukanya berhenti menangis, tangisan Iris justru semakin kencang. Ia kembali terisak, nafasnya tersendat. Jika sebelumnya menutup wajahnya di lutut, kini ia menutup wajahnya dengan tangan. Laya menjadi panik melihat tangisan Iris yang makin kencang.
Ia duduk di samping Iris, mencoba menenangkan Iris.
“Kenapa malah makin nangis?” tanyanya di tengah kepanikanya.
Laya menarik tangan Iris yang menutup wajahnya, ia menarik lengan jaketnya dan menghapus air mata Iris.
“Maafin, harusnya tadi gua ga memprovokasi lo.” Katanya.
Iris menggeleng mendengar perkataan Laya.
“Gua yang salah... maafin... harusnya gua ga ngomong sejahat itu.” kata Iris masih agak terisak. “But, I mean it.... when I said that you can be your own Ekalaya, I mean it.” Katanya lagi.
Laya tersenyum mendengarnya, “I know.” Jawabnya.
“But do you know, you are enough. You work hard, I know it. Your mom know it. Your friends know it too. So don’t worry, you are not alone.”
__ADS_1
Iris kembali menitikan air mata mendengar perkataan Laya. Laya benar. Ia tidak sendirian. Tapi mendengar hal itu membuatnya semakin ingin menangis.
Laya yang melihat Iris kembali menangis, tanpa disangka, menarik Iris ke dalam dekapanya dan membiarkan Iris menangis di pundaknya. Ia juga menepuk-nepuk pelan bahu Iris.
“Kalau cape istirahat, ga ada salahnya istirahat sebentar. Dalam hidup lo ga harus selalu berlari.” Kata Laya mencoba menguatkan Iris.
“Ngak bisa, gua ga bisa berenti sekarang.” Jawab Iris masih dengan isakannya.
Laya mendorong bahu Iris pelan, menatap dalam mata Iris dan memastikan Iris menatap balik matanya.
“Kalo gitu lo harus kuat, kalo ga punya pilihan lain selain berlari lo harus kuat. Lakuin seperti yang selama ini lo lakuin, tanpa mempedulikan apa kata orang, paham?” kata Laya tegas pada Iris.
Iris menangguk, tanpa ada reaksi lain.
“Kalo gitu kita pulang, gua anter lo ke rumah.” Kata Laya
“Ngak mau pulang.” Jawab Iris tiba-tiba.
Laya dan Iris sama-sama terdiam setelahnya, di tengah kesunyian, terdengar suara kruyukkkk, datang dari perut Iris.
“Oke, kita cari makan dulu.” Kata Laya.
Laya menarik tangan Iris dan mengajaknya berjalan ke arah motor. Iris menurut saja ditarik Laya. Setelah sampai di motornya, Laya melepas jaketnya dan menyampirkannya pada Iris.
Iris memasukan lenganya ke lengan jaket. Laya membantu memasang resleting jaketnya, bahkan menyampirkan tudung jaket di kepala Iris. Ia juga memberikan sebuah helm pada Iris.
Setelah Iris siap, barulah Laya naik ke atas motor dan menstarter motornya. Iris tentu saja langsung naik di bangku belakang motor Laya. Mereka kemudian membelah jalanan malam itu, mencari tempat makan yang masih buka.
Laya menemani Iris makan di sebuah warung pecel di pinggir jalan. Ia tak ikut makan, hanya menemani Iris, memberikan apa yang dibutuhkan Iris dan memperhatikan Iris makan dalam diam. Setelah selesai, mereka kembali naik ke atas motor. Kali ini Laya mengantarkan Iris pulang ke rumah.
__ADS_1
Ibu dan ayah Iris menyambut mereka begitu mereka tiba di rumah Iris. Bu Seruni mengucapkan banyak terima kasih kepada Laya, begitu pula ayah Iris. Ia bahkan menyuruh Laya mampir saat ada waktu untuk makan bersama. Laya tentu saja mengiyakan, setelahnya ia langsung pamit karena hari sudah malam. Ia melihat Iris memperhatikanya dari pintu rumah. Hatinya tenang mengetahui Iris sudah ada di rumah dengan selamat.