
Setelah meninggakan kedai kafe itu, aku bersama Vishl mulai berjalan lagi dan berkeliling untuk mampir dibanyak tempat. Termaksud disebuah toko yang menjual bunga, disana aku bertemu dengan pemilik toko itu, dia adalah seorang gadis muda yang tingginya mungkin melebihiku.
"Selamat pagi Nona Vishl, dan...." sapa gadis itu setelah melihat Vishl sekaligus kebingungan saat melihatku.
Wajar saja jika dia tidak mengenalku, mengingat ini adalah kali pertamanya kami bertemu.
"Selamat pagi juga Tiara, perkenalkan dia adalah saudari perempuanku yang pernah ku ceritakan padamu saat itu." Balas Vishl memperkenalkan diriku kepada Tiara.
"Senang bertemu denganmu nona Tiara,"
Tiara Liane Sylvanis II, dia adalah seorang putri mahkota dari kerajaan tetangga Domistica yang telah melarikan diri dari kerajaannya sendiri dan saat ini dirinya menjalani hidup sebagai warga desa ini.
Dengan sengaja menunjukan rasa hormat kepadanya, aku memanggil dirinya dengan sopan, berniat untuk meningkatkan rasa kepercayaannya terhadap diriku.
"... Tidak! Jangan memanggilku sebagai nona! Aku disini bukan sebagai siapapun, hanya seorang penduduk desa nona Vishl!" Teriaknya canggung dan cemas setelah beberapa saat terdiam.
Aku dengan segera melihat sekeliling untuk memastikan sekitar kami dan tidak mendapati seorang pun selain kami dan melanjutkan pembicaraan. "Kamu telah kabur dari kerajaan, bukan diasingkan. Lagipula pastinya akan banyak rakyatmu yang menunggu dirimu... Apalagi orang orang yang berharga bagimu," ucapku ingin menegaskan posisinya saat ini.
Mendengar perkataanku, seketika Tiara termenung dan terdiam. Karena apa yang ku sampaikan adalah kebenaran.
"Marie, jangan terlalu ikut campur!" Ucap Vishl menegurku setelah melihat Tiara yang sedang termenung.
Dengan cepat aku mengakhiri pembicaraanku karena sampai saat ini sudah cukup baik untuk kedepannya.
"Aku tidak berniat ikut campur, hanya saja aku ingin menegaskan posisi Tiara saat ini."
Dan secara bersamaan dengan mengucapkan itu, aku menolehkan wajahku menuju tanaman yang menarik perhatianku sejak pertama kali tiba disini. Yaitu tanaman serupa dengan edelweis namun berwarna merah yang telah mekar dengan indah.
"Ngomong ngomong Tiara, apakah bunga ini sangat langkah?"
Aku mengalihkan topik pembicaraan ini dengan bertanya kepada Tiara sekaligus ingin memastikan kelangkaan bunga yang ku maksud karena penasaran.
Bunga edelweis sendiri merupakan jenis bunga yang sangat dan amat langkah diduniaku. Bahkan terakhir kali aku hidup didunia itu hanya tersisa kurang dari seribu populasi bunga itu dipenjuru dunia.
Dengan apa yang kutanyakan itu, suasana tiba tiba terpecah karena antusias Tiara terhadap bunga yang ku tanyakan padanya. "Nama dari bunga itu Alphium eld, adalah tanaman yang langkah karena butuh lebih dari ratusan tahun untuk tumbuh. Bahkan didaerah Sylvanis hanya tersisa beberapa ribu."
__ADS_1
Mendengar itu aku langsung bertanya kembali kepadanya dengan warna yang tidak seharusnya ada dibunga edelweis. Bunga yang berada di belakang Tiara itu nampak merah dan bercahaya.
"Apakah mereka memang berwarna merah?" Ucapku penasaran.
Bunga yang aneh itu seakan memancarkan aura yang sangat panas dari kelopaknya.
"Bunga Alphium itu mungkin telah terpadu dengan sihir didalam intinya." Jelas Vishl menjawab alih alih Tiara yang kutanyai.
"Itu benar, bunga itu telah menyelamatkanku dari racun gigitan ular yang telah menjalar ke seluruh tubuhku setelah bunga itu secara tiba tiba mempunyai sihir." Terus Tiara menjelaskan bagaimana bunga itu tiba tiba memiliki energi sihir.
Mungkin yang mereka berdua maksud adalah transcend sihir yang dimana bunga itu memenuhi suatu kondisi. Aku tau istilah itu dari catatan yang ditulis oleh Vena. Pengetahuan Vena telah melebihi manusia yang murni dari dunia ini sendiri.
"Kalau begitu Vishl jika saja aku memintamu untuk membelinya agar diriku merasakan senang, apakah kamu akan membeli bunga itu untukku?" Ucapku melontarkan candaan karena menyadari nilai dari bunga yang telah melebihi banyak hal mewah didunia ini.
Pastinya Vishl juga akan menyadari hal itu.
"... Ma Marie.. apa kamu serius mengatakan hal itu?!" Mendengar ucapanku Vishl terkejut dan membuat ekspresi aneh diwajahnya.
"Ya Tentu saja aku serius.." jawabku dengan cepat menanggapi Vishl.
"Tapi bunga ini adalah bunga pribadiku.." balas Tiara ditengah percakapan kami berdua.
Yang kemudian, Tiara mengangkat tangannya ke dagu dan akhirnya menyadari candaanku.
"Tapi aku tidak keberatan untuk menjualnya kepada nona Vishl..." Terus Tiara setelah itu.
Yang pastinya membuat Vishl berteriak terkejut. "Kalian sedang bekerja sama kan?!!!"
Dan situasi tersebut membuat Vishl terdiam kebingungan.. karena kemungkinan dia tidak tau aku sedang bercanda atau tidak.
Melihat reaksinya itu membuatku puas dan membuatku tertawa kecil sambil mengucapkan, "maaf aku hanya sedang bercanda..."
"Ahh!!! Bagaimana aku tau kamu sedang bercanda atau tidak jika kamu mengatakannya sedang wajah yang serius itu?!!" Teriak Vishl yang kemudian dia memalingkan wajahnya karena kesal kepadaku.
Sangat jarang melihatnya merasa kesal.. jujur saja ekspresinya saat ini sangatlah imut.
__ADS_1
Melihat interaksi dari kami berdua, Tiara tertawa dan membuat Vishl kebingungan.
"Kenapa kamu tertawa Tiara?" Tanya Vishl bingung.
"Tidak, aku hanya berpikir kalian berdua sangat dekat." Balasnya Tiara setetah Vishl bertanya.
Tiara pun tiba tiba berbalik arah dan membuka kaca tempat bunga itu ditutup untuk mengambilnya, yang kemudian entah apa sedang Tiara pikirkan, dia dengan senyumannya memberikan bunga merah menyalah itu kepadaku sambil berkata. "Nona Marie, aku sangat menghormatimu! Terima kasih telah membuatku tersadar, mungkin jika sudah saatnya aku akan bertindak. Terima kasih banyak.."
Dengan cepat aku meresponnya. "Apakah kamu serius? Perkataanku tidak senilai dengan harga bunga ini, bahkan bunga ini bisa saja menjadi harta kerajaan.."
Dan dengan cepat pula, Tiara menjawab. "Tiada yang lebih mahal dari obat yang bisa menyembuhkan perasaan seseorang.. apalagi seorang gadis lemah sepertiku.." jawab Tiara mengucapkan kata puitisnya.
"Ehh!! Tunggu! Apa kamu serius Tiara?!" Balas Vishl terkejut dengan pemberian Tiara itu.
Vishl telat bereaksi, mungkin saja dia sedang melamun.
"Ya, aku serius... Anggap saja ini adalah hadiah!"
Tiara pun menaruh bunga itu ditanganku dan aku dengan senang hati menerima bunga pemberiannya.
"Baiklah aku akan menerimanya..." Balasku.
Vishl pun terdiam sejenak dan akhirnya menjawab.
"Aku tidak keberatan jika kamu memberikannya... Namun aku tidak enak untuk menerimanya." Ucap Vishl ragu.
Yang kemudian dibalas oleh Tiara.
"Kalau begitu anggap saja pemberian ini adalah sebagai balas budiku sesuai dengan janji kita saat kamu telah menyelamatkanku dari kematian dulu." Ucapan Tiara yang dia ucapkan dengan tersenyum itu yang membuat Vishl tidak dapat berkata kata lagi dan pada akhirnya menerimanya.
"baiklah kalau begitu, kami akan menerima pemberianmu."
"Aku tidak sabar untuk menjual bunga ini." Ucapku tiba tiba melontarkan candaan lagi.
"Jangan lakukan itu Marie!!!!" Balas Vishl berteriak.
__ADS_1
"..."
To be continued