Dunia Baru Bagi Sang Violet // When They Existance Disappear

Dunia Baru Bagi Sang Violet // When They Existance Disappear
08. Arrogant persona


__ADS_3

Sikap dan cara bicara yang arogan yang telah kutunjukkan sejak tadi tidak lain dan tidak bukan adalah kesengajaan. yang mana, itu adalah bagian dari persona baru yang ingin kubentuk untuk diriku sendiri, Marie Violetta Rosettine.


Nama itu merupakan identitas baru yang telah kubuat untuk diriku yang berada didunia ini, dimana aku meminjam nama "Rosettine" dari keluarga bangsawan yang telah tiada karena terjebak dalam konspirasi kerajaan dan nama "Violetta" yang baru saja terlintas dalam pikiranku beberapa saat yang lalu.


Keluarga yang amat besar Rosettine adalah keluarga bangsawan bergelarkan Viscount yang memiliki banyak sekali anggota keluarga, termasuk 10 anak dan 19 cucu dari kepala keluarga, tanpa menghitung orang tua dan istri kepala keluarga tersebut.


Namun, nasib tragis malah menimpa keluarga ini. Mereka dieksekusi mati di depan banyak orang oleh pemerintah kerajaan yang baru... hal ini bisa terjadi karena sejak awal raja baru itu membenci mereka. Sang raja membuat banyak orang membenci keluarga Rosettine, mengakibatkan mereka dihina dan dicopot gelar bangsawannya secara berturut-turut. Akibatnya, mereka terpaksa hidup sebagai keluarga baron miskin dan pada akhirnya difitnah sekali lagi dengan fitnah yang lebih kejam. Yaitu mereka difitnah sebagai pelaku dari pembunuhan raja sebelumnya, yang menyebabkan mereka dieksekusi mati di depan umum tanpa pengadilan yang adil. Bahkan untuk melakukan pembelaan pun mereka tak bisa.


Nama keluarga mereka pun tenggelam jauh dalam sejarah, sehingga aku bisa dengan mudah meminjam dan mengunakan nama mereka, karena pastinya tidak akan ada seorang pun yang meninggatnya... karena sejak kejadian itu sudah 48 tahun lamanya.


Aku mengetahui cerita tragis ini dari sebuah buku yang tidak sengaja ku temukan di perpustakaan milik Vishl dan dari itu aku tau, bahwa ternyata perpustakaan itu bukan hanya tempat yang megah dan mewah, tapi juga tempat penyimpanan catatan sejarah yang mencakup informasi-informasi yang seharusnya tidak diketahui oleh masyarakat umum.


Aku tidak tahu bagaimana caranya Vishl bisa memiliki akses ke semua informasi itu, namun...


"Dari semua informasi ini, mungkin aku bisa memulai sesuatu yang akan mungkin akan memuaskan bagi diriku," gumamku pelan dan berterima kasih bahwa gumaman itu tidak terdengar oleh siapa pun di sekitarku.


Namun, saat ini aku hanya bisa menunggu karena aku baru saja pulih dari kondisi abnormal itu

__ADS_1


.


 


Saat kami berencana melanjutkan perjalanan untuk keliling desa, kami malah berhenti sejenak di kedai kopi yang secara kebetulan ada di dunia ini, yaitu "Cofi Da'oli," atau "Kopi Harian" dalam bahasa duniaku.


Kedai kopi ini dikelola oleh seorang ayah dan anak perempuannya bernama Riria, yang pemalu dan canggung. Ayahnya adalah master kopi sekaligus chef, sedangkan Riria membantu sebagai pelayan untuk melayani pelanggan mereka.


Vishl tampaknya sangat senang menjahili Riria, Vishl beberapa kali mencoba membuatnya merasa dibodohi atau malu dengan berbagai macam hasutan ataupun ucapan. Tindakan Vishl menunjukkan bahwa semangat dalam dirinya yang belum surut sejak pagi hari tadi, padahal sebelumnya dia sangat sulit untuk bangun, bahkan hampir tidak mungkin, jika aku tidak memintanya.


Entah bagaimana, hubunganku dengan Vishl sekarang seperti saudara, di mana aku adalah kakaknya dan dia adalah seorang adikku. orang orang sekitar kami pastinya akan beranggapan bahwa kamu benar benar adalah saudari. Karena memang seperti itulah setting yang kami atur, yang secara kebetulan juga Tsuki telah mencoba untuk mengatur seperti itu.


"Tidak benar! ak..-- saya tidak merasa direpotkan sama sekali!" balas Riria, yang malah menjawab alih-alih Vishl.


"Betul! Lagipula, Riria adalah ala-- maksudku, teman kita!"


"..."

__ADS_1


"... Sepertinya kami sudah terlalu merepotkan kalian..," ucapku menghela nafas dan menutup mata sejenak, sambil mengambil uang dan menaruhnya di atas meja.


Kemudian, Riria yang peka segera menghampiriku untuk membantuku untuk pindah ke kursi roda, meskipun dia masih harus mencatat pesanan pelanggan lain.


"Mengapa kamu memilihku lebih dulu? Apakah tidak ada pelanggan yang menunggumu?" tanyaku padanya.


Dan pelanggan yang aku maksud itu malah menjawab, "Tidak ada gunanya memberi prioritas pada orang asing daripada orang yang benar-benar membutuhkan bantuanmu."


Aku tidak tahu siapa dia, tapi entah kenapa aku merasa bahwa memahami apa yang dia maksud..


Riria kemudian menjawab ucapan orang itu, "Aku tidak tahu maksudnya... Namun, memang benar memberi prioritas pada orang yang membutuhkan adalah hal yang wajar."


"Tapi, Riri, maksud dia adalah menjadikan orang lain sebagai alat saat orang yang diprioritaskan mengalami kesulitan," balas Vishl, yang dengan terus terang menjelaskan maksud sebenarnya kepada Riria.


"Ehh! Apakah itu benar?" balas Riria terkejut, melihat orang tersebut.


"Sepertinya benar, tapi sepertinya aku tidak akan membiarkan diriku menjadi alat bagi orang lain, kecuali diriku sendiri," ujarku kembali dengan sedikit tersenyum dan bersikap arogan terhadap orang tersebut.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2