
Setelah keluar rumah dan melangkah beberapa langkah, Vishl membawaku ke sebuah desa yang begitu tentram dan damai.
Desa ini, Vin'yama, didirikan oleh Vena sekitar 200 tahun yang lalu setelah mengungsikan ratusan orang pasca insiden masa lalu, dan dia memutuskan untuk membangun desa baru.
Rumah Vishl ternyata adalah sebuah mansion besar yang berada di belakang desa ini, sedikit di atas gunung bernama 'Yama'. Mungkin maksud Vena adalah 'desa gunung'.
Saat pertama kali melihat desa yang ramai ini, suasana pedesaannya membuatku merasa agak asing. Ini berbeda sekali dengan desa-desa yang pernah kukunjungi di Jepang.
"Selamat pagi, Nona Vishl. Oh.. pasti Anda adalah Nona Marie, senang bertemu denganmu," sapa seorang wanita tua ramah saat mendekati kami berdua.
Wanita itu terlihat sangat ramah, dan entah mengapa aku merasa seolah-olah aku seperti sedang berbicara dengan seorang nenek yang dulu pernah begitu baik padaku, meskipun nasibnya berakhir dengan tragis.
"Ahh, nenek, selamat pagi juga. Hari ini aku ingin membawa Marie berkeliling desa," balas Vishl dengan senyum ramahnya
Aku pun menjawabnya, "Senang bertemu denganmu, namaku Marie. Sepertinya pertemuan ini akan membawa keberuntungan."
Aku mencoba memberi pujian pada pertemuan ini dan berharap sikapku tidak terlalu arogan.
"Semoga perkataan anda terwujud... Nenek akan kembali dulu. Semoga kalian menikmati berkeliling desa," jawab nenek itu sambil berjalan kembali ke lapaknya yang tidak jauh dari tempat kami berbicara.
"Dia adalah orang baik... Aku berharap kamu bisa melihat kebaikannya. Namun, saat ini kesehatannya memburuk," ucap Vishl sambil memalingkan pandangannya.
"Aku bisa merasakan kebaikan hatinya hanya dengan berbicara dengannya. Namun, terlalu baik..."
"Baiklah, mari kita lanjutkan ke tempat di mana aku biasanya bersantai sambil minum teh atau kopi!" seru Vishl tiba-tiba bersemangat untuk memecah keheningan.
"Aku bahkan tidak tahu bahwa kopi ada di dunia ini..."
"Padahal, aku sering minum kopi saat begadang di malam hari..."
"Dan pada saat itu juga aku sudah tertidur pulas..."
"Iya sih, aku juga tidak pernah meminumnya, bahkan mengatakan kopi dipagi ataupun siang hari..."
__ADS_1
.
Setelah percakapan singkat, kami melanjutkan perjalanan dan beberapa kali disapa oleh penduduk desa, termasuk anak-anak yang sepertinya menyukai Vishl.
Sambil menuju tempat yang dituju oleh Vishl, aku menyadari bahwa Vishl dan Tsuki adalah sosok yang dihormati dan disukai oleh warga desa ini.
Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap ramah Vishl dan aura berwibawa Tsuki. Selain itu, penduduk desa merasa bahwa pemimpin sebelum Vishl dan Tsuki terlalu misterius dan tidak suka menunjukkan diri. Padahal, Tsuki-lah yang sebenarnya mengatur desa ini bersama para pelayannya sebagai perantara. Tsuki baru muncul di depan publik tiga puluh delapan tahun sebelum kelahiran Vishl dan meninggal dunia dua tahun setelahnya.
Jika aku menyebut kelahiran Vishl, itu akan terdengar aneh karena ibunya, Vena, meninggal dunia dua abad yang lalu. Dan itulah permasalahan utama yang kami hadapi saat pertemuan di perpustakaan.
.
Tanpa disadari, kami telah sampai di tempat yang dituju oleh Vishl.
Tempat itu adalah sebuah kafe dengan nama dalam bahasa asli dunia ini.
Kami masuk dan disambut oleh pelayan dan pemilik kafe.
Kemudian pemilik kafe berkata, "Riria, apakah kamu sudah menyambut nona yang menggunakan kursi roda?" tanya dia kepada pelayannya.
Riria meminta maaf dan menundukkan kepalanya. "Ah, maafkan kelancangan saya!!! Maaf telah mengabaikan Anda!! nona..."
"Namaku Marie. Tidak apa-apa, jangan salahkan dirimu," jawabku.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Marie!!" ucap Riria sekali lagi.
Pemilik kafe ikut meminta maaf, "Maafkan saya juga karena kelancangan karyawan saya."
"Sudah kukatakan tidak apa-apa. Dia hanya tidak menyadari keberadaanku karena aku terdiam sejak tadi."
"Terima kasih atas pemakluman Anda. Nona Vishl, silakan duduk, dan Riria, bantu Marie untuk duduk di kursi!" ucap pemilik kafe.
Sebelum pemilik itu pergi, dia berpamitan kepada kami berdua. "Silakan pesan kepada Riria. Saya akan ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan," ucapnya seraya menundukkan kepala dan pergi.
__ADS_1
"Sungguh, aku meminta maaf, Nona Marie! Maafkan saya juga, Nona Vishl, karena telah bersikap lancang kepada saudari Anda!" kata Riria dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah, tidak masalah! Marie berkali-kali mengatakannya..." ucap Vishl sambil menggoda Riria.
"Ehh, apakah aku justru membuatnya merasa lebih buruk?!" balas Riria seolah hendak menangis.
"Jangan menggodanya, Vishl. Aku tidak seburuk itu sampai-sampai mempermasalahkan hal sekecil ini. Aku bahkan merasa diriku terlalu arogan dengan perkataanku," kataku.
"Tidak! Itu sama sekali tidak terdengar arogan, bahkan setiap perkataan anda terkesan anggun dan misterius!" jawab Riria.
"Heh... maaf-maaf. Kalu begitu Riria, aku ingin memesan minuman yang biasanya dan Marie?" Ucap Vishl mengatakan pesanannya.
"Aku juga ingin minuman yang sama dengan Vishl untuk saat ini."
"Baiklah, dua kopi khas kafe ini dan apakah ada pesanan lainnya?" Tanya Riria lagi menawarkan menu lainnya.
"Kalau begitu aku ingin memesan 2 kue yang biasanya juga." Balas Vishl..
"Baiklah, Akan segera saya antar!" jawab Riria, menundukkan kepala sekali lagi sebelum berangkat menuju tempat pembuatan kopi.
Jika dipikir pikir, tempat ini mirip dengan kafe modern di duniaku, tetapi dengan ornamen dan atmosfer yang jauh berbeda.
"Ngomong-ngomong, apakah cara bicaraku terlalu arogan?" tanyaku pada Vishl, mencari pendapatnya.
"Mungkin, tapi sepertinya mereka tidak mempermasalahkannya karena meskipun terkesan arogan, kata-katamu sebenarnya tidak arogan sama sekali."
"Hmm... Aku hanya berbicara sesuai dengan pemikiran saya."
"Itu artinya, kamu memang tidak benar benar arogan."
"Ya mungkin saja...."
To be continued.
__ADS_1