
Nirwana tampak lebih sibuk dari biasanya. Di samping para penduduk langit yang sibuk dengan tugasnya masing-masing, seperti mengawasi awan dan matahari, menurunkan hujan, dan menghembuskan angin, para dewan langit tertinggi juga akan menggelar rapat penting. Ada hal serius yang mesti mereka bahas.
Tampak di meja rapat sudah duduk Poseidon dan Aphrodite. Mereka saling memandang satu sama lain dengan jengah. Apa-apaan ini, dewa dan manusia sama saja kalau soal rapat. Suka datang terlambat.
"Hanya kalian?" Sebuah suara menyapa mereka, dengan intonasi tidak menyenangkan. Memang begitu sih pembawaannya.
Serempak keduanya menoleh. Ya benar, itu Hades. Dia datang membawa aura suram.
"Hanya kami. Sejak tadi. Apa mereka pikir aku ini pengangguran?" Poseidon akhirnya mulai mengeluh. "Aku punya banyak pekerjaan di samudera. Dan aku jauh-jauh datang kesini hanya untuk dibuat menunggu?!" Tangannya tidak tahan untuk tidak menggebrak meja.
Baru saja Hades ingin membuka mulut beracunnya, namun disaat bersamaan Zeus datang bersama Hera dengan senyum bijak ala-ala.
"Kolegaku!" Zeus menyambut mereka sumringah. Mengabaikan kening mereka yang sudah berkerut sempurna.
"Senang bertemu kalian semua. Aku ingin membahas sesuatu yang penting." Katanya setelah dia dan Hera ikut duduk manis disana.
"Tentang apa?" Poseidon menopang dagu malas.
"Iblis itu."
Mereka semua saling pandang, tahu persis iblis mana yang dibicarakan.
"Iblis itu lagi-lagi berbuat huru-hara di muka bumi. Dia menggoda dan memakan jiwa-jiwa manusia yang aku ciptakan." Hera menceritakan duduk perkara. "Entah sudah berapa banyak dosa yang dia kumpulkan selama ribuan tahun. Aku ingin dia mati."
"Aku juga merasakan energinya semakin lama semakin kuat. Jika hal ini kita biarkan, dia mungkin akan menjadi masalah besar nantinya. Aku setuju, dia harus mati." Zeus menambahkan.
"Dia juga jenis makhluk abadi, tidak bisa mati begitu saja." Poseidon menyahut ringan.
"Berarti kita harus membunuhnya." sahut Hades cepat. "Tidak perlu repot, aku akan membawa Ares untuk menghadapinya, lalu akan kami serahkan kepala dan sayapnya padamu." Katanya menatap Zeus mantap.
"Tidak, tidak." Hera menggeleng, kurang setuju nama anaknya dibawa-bawa. "Umur iblis itu seribu tahun lebih! Dia mungkin lebih kuat dari yang kita bayangkan."
"Lalu kita bantai saja dia bersama-sama!"
"Kenapa kau bodoh sekali padahal kau lebih tua dariku?" Poseidon mencibir, wajahnya masih setia bertopang dagu. "Apa kata seluruh nirwana kalau kita berkumpul beramai-ramai hanya untuk berhadapan dengan iblis laknat seperti itu? Mereka akan beranggapan bahwa ternyata dewa-dewi Olympus tidak se-oke kedengarannya."
"Ah, persetan dengan nama baik!" Penguasa bawah tanah itu melemparkan tongkatnya geram.
Aphrodite yang sejak tadi hanya diam dan memajang wajah rupawannya akhirnya mengulum senyum manis.
"Kenapa kita harus membunuhnya? Barbar sekali."
__ADS_1
"Lalu bagaimana?" Zeus menatapnya tak mengerti. Sebenarnya yang pertama kali mengangkat kasus ini adalah Aphrodite. Beberapa waktu lalu dia datang menghadap Zeus dan berkeluh kesah tentang kelakuan sang iblis.
"Aku ada ide. Kalian mau dengar?" Bulu matanya yang lentik berayun saat dia berkedip dan matanya berbinar-binar saat dia memandang mereka.
Poseidon melirik Aphrodite dengan tatapan setengah tak suka. Dia mendengar suatu kabar sebelum sampai kesini.
"Ide apa?" Tanyanya curiga.
Aphrodite, masih dengan senyum jelita terbaiknya, menoleh ke samping kepada Eros, putranya yang sejak tadi setia berdiri disisinya.
"Eros akan sangat membantu dalam hal ini." Katanya menyeringai senang.
***
Sosok gelap itu berdiri menjulang tinggi di atas sana. Jubahnya yang menjuntai sampai betis berwarna hitam pekat persis rambutnya. Celana kulitnya juga hitam, bertemu sepatu hitam panjang berujung lancip. Jangan lupakan aura gelap yang menguar di sekelilingnya. Persis kelihatan seperti api hitam yang berkobar. Mata merahnya memicing tajam ke bawah, ke dunia para manusia.
"Kegilaan macam apa ini?" Desisnya tak suka.
Dia sedang murka luar biasa kepada... dirinya sendiri.
Iblis adalah makhluk bengis tak punya hati. Dan hal itu bukan sekedar konotasi. Dia memang tidak punya hati. Tidak pernah jantungnya berdetak seumur hidupnya. Organ-organ itu hanyalah untuk pajangan di dalam sana.
Awalnya sangat pelan sampai-sampai dia pikir dia tengah berhalusinasi. Lama-kelamaan detakan itu semakin jelas. Dan dia terus mengerang bingung. Kenapa?
Apa yang terjadi pada tubuhnya!
Jangan-jangan manusia terakhir yang ditelannya mengandung patogen berbahaya sehingga organnya menjadi seperti ini?
Dia mengepak-ngepakkan sayapnya marah. Beberapa bulu hitam nan berkilau itu sampai terhempas ke berbagai arah. Emosinya hampir meledak, saat suara merdu menghantam gendang telinganya.
"Ketika itu Tuhan baru menciptakan alam semesta dan tiba waktunya Tuhan menghiasinya dengan berbagai tanaman bunga yang sangat indah dan berbagai macam. Satu persatu bunga mulai dinamai, mulai dari..."
"Brengsek!" Makinya berusaha menulikan telinga. Suara itu, suara yang hadir begitu saja di telinganya dan mengganggu kewarasannya. Suara yang muncul bersamaan dengan detak jantung sialan ini.
".. mawar dinamai Rose, bakung dinamai Lily, Tulip, Magnolia, kemudian.."
"Sial, sial, sial!" Sayapnya semakin mengepak marah. Mulutnya penuh sumpah serapah, tapi hatinya tidak. Sungguh, hatinya tengah bergemuruh, dan dia malu untuk mengakuinya.
Egonya hanya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa suara itu terasa begitu merdu di gendang telinganya. Memacu detak jantungnya semakin kencang. Dan dia tahu, bahwa suara itu berasal dari bawah sana. Dunia manusia.
"Kau merasakannya lagi ya?" Seseorang dengan kurang ajarnya berani mengganggunya disaat seperti ini.
__ADS_1
Iblis itu berbalik ke belakang. Mendapati seseorang berwujud manusia tanpa kaki melayang-layang begitu ringannya. Hantu Caspian, usianya sekitar lima abad. Mereka sudah pernah bertemu beberapa kali karena memang tingkah si hantu satu ini sangat menjengkelkan. Selalu saja sksd dengan tiap orang.
"Aku sudah bilang padamu, ini waktunya."
Si iblis menahan diri untuk tidak menghunuskan cakar-cakar hitamnya yang runcing. Percuma, buang-buang tenaga. Hantu itu tidak bisa diserang, dan juga tidak mampu menyerang. Dia persis seperti kumpulan gas yang berterbangan.
"Enyahlah!" Usirnya.
"Bukankah sudah ku bilang aku pernah melihat hal ini? Kau harus percaya padaku!" Caspian malah melayang tepat ke hadapan wajahnya. Memaksa si iblis melihat tatapan matanya yang serius. "Saat kau mendengar suara itu, hatimu bergemuruh kan?"
Si iblis rasanya ingin membelah tubuh Caspian jadi dua sama rata.
"Kau merasakan sensasi panas dan menggelitik kan?" Ocehnya lagi. "Tepat disini," tangan Caspian bermaksud menyentuh dada, tetapi tembus sampai punggung. Soalnya dia hantu sih.
"Ku bilang enyah."
"Aku tahu hati kecilmu penasaran." Caspian bersedekap, mengabaikan lirikan tajam yang ditujukan padanya. "Baik, aku katakan dengan jelas sekali lagi." Hantu itu menghela napas lelah, seakan muak memberi nasehat. "Suara itu dan detak jantung itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pertanda. Kau.. memiliki pasangan di bawah sana."
Sepasang sayap hitamnya mengepak kuat, menghembuskan angin ke sekitar. Dia meraung sekuatnya.
Dia punya insting dan dia tidak bodoh. Dia memang punya pemikiran seperti itu sebelumnya tetapi segera ditepisnya jauh-jauh. Dan sekarang, saat si hantu konyol ini mengatakannya lagi dengan jelas, dia merasa sebuah realita tengah menghantamnya dengan keras.
"Periksalah." nasehat Caspian lagi berusaha bijak. "Kalau setelah itu kau merasa murka dan benci, ya terserah. Tetapi setidaknya periksa dulu kesana."
".. Lalu ada satu bunga kecil yang indah berada di antara semak-semak di bawah bunga mawar, yang namanya belum dipanggil oleh Tuhan.."
Si iblis memusatkan fokusnya mendengar suara aneh itu lagi. Memang merdu. Haruskah dia mengeceknya ke bawah sana? Hatinya berbisik ragu.
Dia gamang, lalu melempar pandang pada Caspian yang kini tengah tersenyum padanya.
"Percayalah, umat manusia tidak seburuk bayanganmu kok."
Maka demi mendengar hal itu, dia segera mengepakkan sayapnya dan melesat jauh ke bawah sana.
Apapun yang akan terjadi nanti, terjadilah. Akan dia putuskan setelah dia memeriksa suara siapa itu. Saat ini, dia hanya ingin tahu siapa pemilik sang suara.
Dan kenapa dia mendengarnya.
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ Bersambung ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
__ADS_1