EMPAT MUSIM

EMPAT MUSIM
Summer (Bagian 8)


__ADS_3

Lalita dan Nolan bertemu Tanana di halaman kuil. Kelihatannya Tanana sudah menunggu mereka sejak tadi. Dari gelagatnya jelas dia sedang marah. Lalita mengerat ujung bajunya cemas. Nolan yang menyadari hal itu, mencoba mencairkan suasana sambil berseru senang,


"Nana, aku menemukan Lalita di bukit bunga! Pintar kan?"


Tapi Tanana diam saja.


Nolan refleks mundur dan memilih menutup mulut saja saat ini.


"Darimana?" Suara Tanana terdengar begitu dingin.


Lalita mencoba mengatur nafasnya. Dia memasang senyum terbaik, kemudian menjawab, "Dari bukit bunga, Ibu."


"Dengan siapa?"


"Maksud Ibu? Aku sendirian." sergah Lalita cepat, sambil menggaruk tengkuk dia berkata, "Yah.. secara teknis aku ketemu Nolan di beberapa menit terakhir."


Mata kecokelatan Tanana semakin memicing tajam.


"Bohong."


Lalita mencoba mencari beberapa alibi lagi saat tiba-tiba Seda muncul dari balik semak di belakang mereka. Lalita dan Nolan melotot kaget, ternyata sejak tadi Seda mengikuti Nolan. Dia pasti melihat dan mendengar semuanya.


"Dia bertemu seorang pria disana." Jelas Seda saat Tanana menatapnya penuh tanda tanya.


Wajah Tanana merah. Dia menatap putrinya dengan jengkel. Sudah dia duga, anak ini jelas sedang kasmaran. Gelagatnya sudah terlihat jelas sejak beberapa hari lalu.


"Siapa pria itu?" tanyanya mencoba menahan amarah yang bisa meledak begitu saja.


"A-Aku sudah dewasa. Ibu tidak boleh ikut campur terlalu jauh." Lalita menjawab patah-patah. Bahunya sedikit gemetar. Nolan memandang gadis itu kasihan.


"Aku melakukan ini untuk kebaikanmu!" Bentak Tanana. Sungguh, dia bukannya ingin menjadi tokoh antagonis atau apa, dia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.


"Aku hanya tidak mau anakku satu-satunya mengalami hal buruk."


"Tapi Kai bukan orang jahat." Bela Lalita. Matanya mulai berkaca-kaca. "Dia pria yang baik."


"Halah.." Tanana berdecak benci. "Kau bahkan tidak tahu asalnya. Dia bukan warga desa ini kan?"


"Tapi-"


"Pokoknya kau tidak boleh bertemu dia lagi. Aku melarangmu." Ujar Tanana mutlak.


"Kau hanya akan menikah dengan pria dari desa ini. Pria yang aku pilih."


"Ibu, aku mohon.. dengar dulu.." lirih Lalita merayu, menatap ibunya putus asa.


"Aku jamin tidak akan ada hal buruk yang terjadi."


Mata Tanana menyorot tajam.


"Jamin?" desisnya berang. "Kau berani menjamin masa depan?!"


Lalita menggeleng gusar. Kenapa begitu sulit bicara dengan ibunya? Kenapa ibunya tidak mau mengerti!

__ADS_1


"Apa kau ingin berakhir sepertiku?!" Suara Tanana semakin meninggi. "Dibuang dan dicampakkan oleh laki-laki asing dari luar sana!"


"Ibu, cukup, cukup.." Lalita menutup kedua telinganya. Marah, sedih, kecewa, dan putus asa berbaur mengaduk-aduk hatinya.


"Hanya karena kisah cintamu gagal, bukan berarti hal yang sama terjadi padaku!"


Setelah mengatakan itu, Lalita putar balik ke belakang. Berlari menyusuri jalan setapak menuju bukit bunga. Meninggalkan ibunya yang masih terpatung mendengar kalimatnya barusan. Juga Nolan dan Seda yang bingung harus berbuat apa.


"Ibu tidak paham, tidak paham.." Dia terus berbisik dengan air mata yang mulai menganak sungai.


Dia adalah anak yang penurut. Gadis manis yang tidak pernah menyusahkan siapapun. Yang tidak pernah mementingkan keinginannya sendiri. Yang selalu memikirkan perasaan orang lain di atas perasaannya. Selalu begitu sejak kecil. Jadi kali ini, untuk kali ini saja, tidak bisakah dia memutuskan sendiri kepada siapa dirinya harus jatuh cinta?


"Kai!" Lalita berteriak ke segala penjuru setibanya di bukit bunga. Tidak ada siapapun. Lalita tertawa mengejek dirinya sendiri. Matahari sudah terbenam, jelas Kai sudah pergi. Tidak mungkin dia ada disini terus, dia bukan penunggu bukit.


Lalita terhuyung, terduduk lemah. Dia terisak kesal karena menyadari mungkin ibunya benar, bahwa Kai adalah pria asing dan dia tak tahu apa-apa tentangnya. Bahkan asalnya pun tidak. Eh? Asal?


Bahu Lalita kembali menegak ketika dia teringat sesuatu. Kai pernah mengatakan sesuatu tentang tempat tinggalnya. Gadis itu menatap lurus ke depan, ke arah hutan yang tampak begitu gelap.


Dibalik hutan ini ada sungai, lalu hutan lagi, lalu danau, lalu hutan lagi, lalu gunung, dan ya disana ada desa kecil.


Lalita ingat Kai pernah mengatakan hal itu.


Dan dia tahu itu terdengar seperti lelucon. Lalita tahu pemuda itu mungkin sedang mengada-ada saat itu. Tapi dia sangat putus asa saat ini, kemungkinan sekecil apapun akan dia ambil. Dia harus bertemu pemuda itu.


Maka gadis itu menguatkan hatinya, menegakkan bahunya, dan membawa langkahnya memasuki hutan.


Lalita sulit untuk melihat jalan, berkas cahaya bulan tak cukup untuk menyinari sekitarnya. Tangannya meraba udara, khawatir menabrak pohon atau mungkin akar gantung yang bisa-bisa malah menjeratnya.


Suara-suara binatang malam sahut menyahut membuat gadis itu bergidik ngeri. Dia menghembuskan napas kasar, memupuk nyali, kemudian memacu langkahnya cepat. Berlari dengan berharap pada peruntungan. Untung-untung dia bisa segera menembus hutan, untung-untung dia tidak tersesat makin dalam ke hutan, untung-untung dia tidak bertemu binatang buas.


Lalita meringis lagi saat mengingat pemuda itu. Sial, darimana asal pemuda itu sebenarnya? Sebegini besar pengorbanannya hanya demi seorang pria.


"Kai!"


Lagi, gadis itu berteriak sekuat yang ia bisa. Namun suaranya tertelan pekikan binatang-binatang malam. Belum lagi kakinya yang mulai lecet sana-sini karena beberapa kali dia jatuh tersandung akar-akar pohon ataupun semak belukar.


"Kai, kau dimana?" Bisik gadis itu lirih.


***


Tiga ratus lima puluh tahun yang lalu...


Putra pertama kepala desa, Azulon, merengsek ke belakang takut-takut saat pedang yang baru saja dihunuskannya, kini patah. Hanya dengan sekali hantaman.


Iblis, memicing tajam, mengeluarkan cakar runcingnya.


"Kalian lebih bedebah dibanding aku." Katanya dingin.


Azulon menyeret badannya, merangkak ke semak-semak. Ditengah kepanikan dan rasa takut yang luar biasa, tangannya yang meraba-raba tanah menyentuh sesuatu. Matanya melirik kaget, benda putih panjang berunjung runcing persis tulang tergeletak disana.


Iblis semakin dekat, pemuda itu bingung mencari pelindung. Dalam sepersekian detik dia meraih tulang itu, kemudian menghunuskan ke depan dengan sigap.


Darah merah menetes di atas tanah bersalju. Iblis dan Azulon sama-sama kaget. Seharusnya iblis adalah makluk abadi, seharusnya ia tidak bisa dilukai. Namun faktanya sayap sang iblis terluka, tersabet tulang putih yang sembarang dihunuskan.

__ADS_1


Mata iblis memicing. Dia mengenal benda yang melukainya. Bukan sembarang tulang biasa, tetapi taring naga. Bagaimana bisa ada disini?


Matanya melirik si pemuda yang tangannya masih gemetar. Konon, taring naga tertua disimpan oleh Ares di langit sana. Tetapi jiwa kesatria yang tulus bisa memanggilnya saat dibutuhkan.


"Kau ditipu olehnya. Kami sudah punya kesepakatan."


Setelah mengatakan kalimat itu, iblis terbang melesat ke angkasa dengan sayap bersimbah darah. Meninggalkan si pemuda dalam keadaan bingung.


Di tengah-tengah kebingungan, sebuah suara lantang membahana dari atas langit.


'Atas ketulusan dan keberanianmu membela kaummu, kami anugerahkan tumbuhan yang kuat, yang berani tumbuh dimana pun.'


Azulon terkesiap saat tetesan darah di depannya tiba-tiba meresap cepat ke dalam tanah dan tunas kecil muncul dari sana. Tunas ini nantinya akan tumbuh menjadi bunga merah mempesona.


Poppy.


***


Kai menggeleng gusar saat mengingat kejadian ratusan tahun silam. Ini hanya kesalah pahaman. Secara teknis dia memang membantai dan menelan warga desa Lalita, tapi ada alasan kuat dibaliknya.


Keningnya berkerut saat melihat Caspian melayang cepat ke arahnya dari kejauhan.


"Aku baru jalan-jalan dari hutan utara dan melihat sesuatu yang menarik!" Kata Caspian heboh.


Kai mendelik malas.


"Apa?" katanya ogah-ogahan.


"Ada seorang manusia, perempuan, tingginya segini.." Caspian menggerak-gerakkan tangannya antusias. "Dia imut, lucu, dan menggemaskan. Apa dia mate mu?"


Kai tersentak.


Apa itu Lalita? Tapi kenapa dia di hutan?


"Dia memanggil-manggil namamu. Kai! Kai! begitu.."


Kai spontan berdiri.


"Dia juga menangis. Kelihatan putus asa sekali."


Sedetik kemudian Kai sudah melesat cepat ke bawah. Ada apa dengan Lalita?


Jantungnya berdegup cepat.



٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪


N O T E :


Terimakasih sudah membaca


Terimakasih sudah meninggalkan komentar, like, rate, dan vote.

__ADS_1


Drop judul tulisan kalian di komentar supaya kita semua bisa saling berkunjung 🤓


__ADS_2