
Pagi itu ekspresi Kai jelas terlihat gelisah. Beberapa kali dia berjalan hilir mudik tanpa maksud tujuan. Berkali-kali juga dia menghela napas panjang. Dan kini, dia berdiri mengetuk-ngetukkan kakinya, sedang pandangannya terlempar jauh entah kemana.
Caspian yang menyadari gelagat ini segera mendekat.
"Gugup ya?" katanya nyengir.
Kai menatapnya sengit.
"Bisa tenang tidak?"
Caspian mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke.. oke.. " katanya, kemudian mundur beberapa meter ke belakang.
"Tapi asal tahu saja, aku ini manusia dan pernah hidup. Urusan mertua seperti ini kecil lah.."
Kai mengangkat wajahnya, sorot matanya berubah menunjukkan rasa ketertarikan.
"Apa menurutmu wanita dukun itu akan menyukaiku?"
Caspian tergelak. Dia kembali melesat mendekat, menepuk bahu Kai sok bijak. Dia berbangga hati dengan posisi penasehat cinta yang diampunya sejak beberapa minggu lalu.
"Ayo kita latihan saja." Hantu tak berkaki itu mencetuskan ide ajaib. "Aku akan coba berperan jadi ibu mertua."
Alis Kai menyatu sempurna. Caspian adalah hantu gila dan dia tidak seharusnya minta pendapatnya soal ini. Belum sempat Kai mengibaskan jarinya untuk mengusir, Caspian sudah berdehem lebih dulu.
"Ehem. Jadi.." mata Caspian memicing tajam. "Kau adalah pemuda yang dekat dengan putriku?" tambahnya dengan suara perempuan yang dibuat-buat, persis suara nenek-nenek kejepit pintu.
"Apa kau mencintai putriku?" tanya Hantu-Ibu mertua- itu lagi.
Kai spontan mengangguk, agak terbawa suasana.
"Apa pekerjaanmu?"
Pekerjaan?
Manik hitam Kai bergerak gelisah.
"Aku tidak punya pekerjaan."
Caspian berdecak ala-ala ibu mertua julid.
"Sudah berapa lama kau menganggur?"
"Selama.. ribuan tahun?" jawab Kai tak yakin, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ckckck." Caspian menggelengkan kepalanya miris. Entah darimana dia mempelajari dialog seperti ini.
"Lalu akan kau beri makan apa putriku hah?"
"Tunggu dulu." Kai menatap Caspian sebal. "Pertanyaan ini menjurus ke ranah pribadi. Jenis makanan kami berbeda, tentu saja kami urus makanan kami masing-masing. Aku kan tidak mungkin memberi Lalita kaki centauri."
Caspian menepuk jidat, dia geleng-geleng tak percaya. "Kau memang tidak ada harapan. Sumpah." Dia kemudian berkacak pinggang, memasang ekspresi serius. "Mana ada calon mertua yang suka dengan lelaki pengangguran!"
"Ya terus aku harus bilang apa? Pekerjaanku berburu manusia sejak dulu begitu?"
"Ah, sudahlah.." Caspian mengibaskan tangannya, menyerah debat kusir tak logis sok realistis dengan iblis satu ini.
"Yang penting itu sebenarnya buah tangan."
"Buah tangan?"
Caspian mengangkat jari telunjuknya ke depan wajah Kai.
"Aturan pertama: bawa hadiah saat mengunjungi ibu mertua."
Hadiah?
***
Kai dan Caspian baru keluar dari hutan yang pernah menjerat Lalita. Di tangan Kai kini tergantung sekeranjang penuh aneka berry hutan yang tampak begitu segar. Ya, ini adalah sesajen untuk Tanana.
"Kau yakin aku hanya perlu membaca biji-bijian ini?" Kai menatap keranjangnya dengan curiga.
__ADS_1
"Hadiah itu tidak perlu mahal. Yang penting menyentuh." Hantu berumur separuh abad itu menepuk-nepuk bahu Kai lagi, seakan sudah memberikan kata-kata mutiara paling dahsyat sejagat raya.
"Sudah, sudah.. sana pergi. Aku yakin Lalita sudah menunggumu."
Kai menghela napas, membawa langkahnya lurus ke depan. Dia masih ragu soal keranjang hadiah ini sebenarnya. Bagaimana kalau seharusnya dia membawa sesuatu yang lebih bermakna? Misalnya sisik anakonda atau gigi geraham kuda nil. Ah, masa bodohlah.
"Sampaikan salamku pada ibu mertua yaa.." dari jauh, Caspian melambai-lambai penuh haru.
Kai meneruskan perjalanannya. Lima belas menit kemudian dia sudah sampai di bukit bunga. Ada Lalita disana, sedang berdiri tersenyum ke arahnya. Sejak kapan dia menunggu?
Kai refleks menyembunyikan keranjang Berry ke belakang punggung.
"Apa itu?" Lalita berputar, melihat benda yang disembunyikan Kai di balik punggungnya. Mata jadenya membulat lucu melihat sekeranjang penuh berry disana.
"Ini untuk ibumu." Pria itu menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Lalita tersenyum lebar.
"Manis sekali. Ibuku pasti sangat senang."
Kai buru-buru melangkah memimpin jalan, terlalu malu menjawab pujian barusan. Di belakangnya Lalita berlari-lari kecil mengikuti langkahnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Sesampainya disana, Kai kembali mematung di halaman kuil. Bolak-balik tarik-hembus nafas berkali-kali. Gugup.
Lalita yang menyadari gerak-gerik pria ini, tersenyum dan menepuk bahunya lembut.
"Tidak apa." katanya membimbing langkah mereka memasuki kuil.
"Semua akan baik-baik saja."
Kai memandang manik jade itu lurus. Pelan, dia mengangguk mengiyakan. Mereka melangkah beriringan menuju pintu depan kuil. Di dalam sana, tampak Tanana duduk bersila menunggu mereka.
"Ibu, kami masuk ya." seru Lalita mengumumkan kedatangannya.
Kai menarik nafas sekali lagi. Selama ribuan tahun dalam hidup tidak sekalipun dia pernah memasuki kuil. Perasaannya kurang nyaman saja.
Dan tepat saat kakinya melangkah untuk pertama kalinya di dalam sana, lonceng-lonceng kecil yang dipasang di pintu masuk dan di langit-langit bergemerincing hebat. Ribut sekali.
"Aneh sekali.. padahal tidak ada angin." celetuk Lalita heran.
Lonceng itu sebenarnya jarang berbunyi, bahkan meskipun jika angin bertiup ke dalam. Konon lonceng-lonceng itu hanya akan bergemerincing untuk menyambut sesuatu yang ghaib.
Tanana, dengan insting dukunnya, memandang pemuda di depannya dengan curiga. Namun dia buru-buru mengendalikan ekspresinya, dia tidak boleh bertindak gegabah sebelum semuanya pasti.
"Ibu, Kai membawakan hadiah untukmu." Lalita satu-satunya yang tidak menyadari perubahan aura di ruangan ini, menyikut-nyikut Kai, mengode untuk menyerahkan sesajennya.
Kai menyerahkan keranjang berry tanpa bicara, Tanana juga menerimanya tanpa bicara. Tanpa sengaja ujung jari mereka sedikit bersentuhan, dann..
Whussshhh
Jimat-jimat kertas yang dipasang di dinding kuil mengepak-ngepak, tertiup angin kuat yang entah berhembus dari mana. Tanana menelan ludah. Sekarang dia yakin.
"Lalita," Tanana buru-buru menoleh kepada Lalita yang celingak-celinguk tak mengerti, mengukir senyum yang jelas terlihat dipaksakan. "Bisa kau tinggalkan kami berdua?"
Lalita terlihat tidak setuju dengan usulan itu. Tapi dilihatnya Kai mengangguk ke arahnya, tersenyum tipis.
"Ish, baiklah.." kata gadis itu setengah tak rela. Dia menoleh pada Kai dan menyentuh punggungnya. "Aku tunggu di luar."
Kai mengangguk mengiyakan. Lebih baik Lalita tidak ada disini untuk mendengar apapun yang akan terjadi nanti.
Maka selepasnya setelah gadis itu melangkah pergi, Tanana dan Kai kembali saling melempar tatapan dingin.
"Aku tahu kau bukan manusia." mulai Tanana, nada bicaranya terdengar waspada.
Kai tak menjawab, hanya menatapnya lurus.
"Dan entah kau makhluk apa, aku bisa merasakan bahwa kau adalah entitas yang sangat kuat, sangat gelap."
"Bakatmu sebagai dukun memang tidak bisa diragukan." Kai memicing tajam, bola matanya berubah kemerahan.
Shrakkk!
__ADS_1
Sepasang sayap hitam muncul dari belakang punggungnya. Mengepak, menerbangkan benda-benda kecil di sekitar. Beberapa helai bulu hitam nan berkilau tersebut terlepas dan turut beterbangan.
Tanana, dalam keterkejutan luar biasa, melemparkan keranjang berry ke depan. Semua berry yang dipetik dengan gembira oleh Caspian dan Kai pagi tadi kini berhamburan di lantai.
"Iblis!" desis Tanana benci. Dia menatap sepasang sayap hitam besar yang sampai menyeret di lantai. Benci dan takut bercampur aduk di hatinya.
"Hal buruk apa yang kau bawa pada desa kami?! Hal buruk apa yang kau limpahkan pada anakku!"
Kai melihat bibir Tanana bergetar, dan giginya bergemelatuk. Kedua tangannya juga terkepal erat.
"Dia.. ditakdirkan berpasangan denganku."
Tanana terhenyak, manik cokelatnya membulat sempurna. Dia terhuyung ke belakang dan jatuh bersimpuh di lantai.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin anakku.." wanita itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia pernah mendengar soal pertalian takdir antara manusia dan makhluk lain, tetapi kenyataan ini sangat sulit untuk diterima.
"Maksudmu.." Tanana mengangkat wajahnya, mendongak menatap Kai benci. "Maksudmu anakku dikutuk?!"
Dikutuk?
Karena dia adalah makhluk terkutuk, maka siapapun yang menjadi pasangannya berarti dikutuk? Ini semua adalah kutukan? Nasib buruk untuk Lalita?
Kai tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggelegar memenuhi ruangan. Persetan!
"Dia ditakdirkan untukku." Kai melesat cepat, mencengkeram wajah Tanana dengan kuku runcingnya yang tajam.
"Sampai mati aku tidak rela." desis Tanana, matanya menyorot tajam penuh kebencian.
Kai menguatkan cengkeramannya. Ujung kukunya menggores pipi wanita itu, membuat setetes darah mengalir disana.
Apa aku bunuh saja sekalian?
"Kau pikir Lalita akan menerimamu jika dia tahu siapa kau sebenarnya?"
Gada raksasa seakan menghantam kesadaran pria itu. Cengkeramannya refleks mengendur.
"Dia bilang tidak bisa jauh dariku." Bisik Kai lirih, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. Dia melepas cengkeramannya, kuku runcingnya kembali normal, dan sayap hitam besar itu menghilang dari balik punggungnya.
Tanana menghapus tetesan darah di wajahnya. Dia menatap Kai sinis.
"Itu hanya karena dia belum tahu. Kau pikir dia akan bertahan denganmu saat dia tahu yang sebenarnya?"
Tanana bisa menangkap ekspresi Kai yang begitu terluka. Melihat hal itu, dukun wanita itu kembali melanjutkan,
"Kau hanya memberi nasib buruk padanya."
Kai mengepalkan tangannya kuat. Dia jatuh cinta. Dia memberikan cinta. Apa itu dianggap nasib buruk? Setengah sadar dia menyeret langkahnya keluar. Disaat bersamaan tampak Lalita berlari dari arah halaman, berdiri di ambang pintu dengan napas naik turun.
"Aku dengar suara ribut. Ada apa?" tanyanya khawatir.
Kai tak menjawab, cuma menatap gadis itu lurus. Benar juga, gadis ini manusia, dan sudah pasti akan membenci keberadaannya. Maka tanpa bicara dia melewati Lalita begitu saja. Pergi tanpa penjelasan.
Lalita ingin mengejar, tetapi Tanana menahannya.
"Lalita, ini adalah keputusannya. Bahwa kalian tidak mungkin bersama."
Lalita menatap ibunya bingung. Apa yang terjadi? Bukankah semua baik-baik saja sebelumnya? Manik jadenya berkeliling, melihat berry yang dibawa Kai berceceran di lantai. Tanpa sadar, setetes air mata lolos dari manik jadenya.
Begini saja, Kai? Kau mengakhirinya begini saja?
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪
Terimakasih sudah membaca ini.
Terimakasih sudah komen, like, vote, ataupun rate.
Silahkan tinggalkan karya kalian, supaya aku bisa balik berkunjung.
See ya.
__ADS_1