
Malam ini bulan bersinar sempurna. Cahaya putihnya yang anggun menyentuh semua permukaan bumi. Dan jauh di atas puncak gunung sana, di puncak pohon pinus tertinggi, Kai duduk di atas salah satu cabang yang kokoh, menatap bulan dengan tatapan memuja.
"Saat kami, para manusia sedang kasmaran, entah bagaimana bulan nampak lebih indah, lebih besar, dan lebih bercahaya. Apa itu juga terjadi pada makhluk sepertimu?" Caspian tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kai ogah menyahut. Sejak tadi dia sudah menyadari bahwa hantu tak berkaki itu melayang mendekatinya dari jarak sekian puluh meter. Tapi karena hari ini moodnya sedang bagus, dia memilih abai.
"Jadi, bagaimana tadi?" Caspian bertanya dengan nada jahil. Alisnya kanannya bergerak-gerak lucu, naik turun. Ekspresinya saat ini benar-benar minta ditonjok.
"Pergi sana." Kai mengibaskan kelima jarinya, mengusir makhluk sksd satu ini.
Tetapi Caspian pantang menyerah. Dia malah berpindah posisi secepat kilat, tepat di depan wajah Kai. Lalu dengan cengiran lebar dia kembali bertanya,
"Apa dia cantik?"
Kai berkedip. Surai karamel yang berterbangan tertiup angin dan mata jade yang menyipit ramah tergambar nyata dalam bayangan bulan.
"Apa dia cantik?" Caspian mengulang pertanyaan, kembali menaik-naikkan alis.
"Tidak buruk."
Caspian bersiul keras lalu terbahak sesaat kemudian. "Lalu, apa yang terjadi lagi?"
"Kami memetik bunga."
Si hantu tak berkaki mendadak bengong. Rahangnya terbuka, hampir jatuh ke tanah.
Memetik bunga? Makhluk di depannya ini adalah iblis yang sekitar tiga minggu lalu masih suka menelan manusia. Dan sekarang dia memetik bunga? Hah?
Belum habis keterkejutannya, sosok yang masih santai duduk bersandar pada besarnya batang pinus tersebut kembali menambahkan.
"Dia juga memberiku nama."
"Hah?"
"Kai. Namaku Kai.." Katanya mantap.
Caspian kembali diserang shock batin berkepanjangan. Tadi dia bilang memetik bunga, dan sekarang dia punya nama?!
Bahkan ternyata iblis pun bisa semenggelikan ini saat jatuh cinta.
Caspian kembali melirik Kai yang masih setia menatap rembulan. Persis orang kasmaran.
"Jadi, siapa nama gadis itu?"
Kai refleks menoleh. Perhatiannya tersedot habis. Keningnya berkerut, Matanya berputar bingung, tenggelam dalam tanda tanya yang besar. Siapa nama gadis itu?
Caspian yang melihat gelagat pria di depannya kemudian memicingkan mata sinis.
"Apa kau tidak tanya siapa namanya?"
"Aku lupa."
"Astaga! Kalian memetik bunga berjam-jam. Dia bahkan memberimu nama. Dan kau lupa bertanya siapa namanya?"
__ADS_1
Jangankan Caspian, Kai sendiri mendadak bingung. Kenapa dia tidak menanyakan hal itu? Dan kenapa pula gadis itu tidak suka rela memberi tahu?
"Kapan kalian bertemu lagi?"
"Besok."
"Baik, istirahatlah sekarang. Besok saat bertemu, jangan lupa tanya namanya." Ujar Caspian, dengan senyum tipis menghias wajah.
Tiba-tiba dia merasa lucu. Dulu setiap kali dia mendekati pria ini, selalu saja kena usir dengan kejam. Atau bahkan kena tusuk cakar-cakar tajam yang hitam dan kotor itu. Tidak sakit sih, cuma kan perasaan lembutnya tersakiti!
Tapi coba lihat sekarang? Dia seakan berganti kasta menjadi penasehat cinta.
Disisi lain, Kai merasa dia tidak akan bisa istirahat tenang malam ini. Kalimat tanya itu terus berputar-putar dalam pikirannya, membuatnya serasa ingin menebak-nebak sepanjang malam, siapa nama gadis itu?
***
Besok siangnya gadis tersebut sudah sampai lebih dulu. Dia sedang berbicara dengan bunga matahari saat matanya menangkap bayangan seorang pria keluar dari hutan.
Untungnya Kai berinisiatif pura-pura jalan dari hutan, bukan melesat jatuh dari langit.
Dia bisa melihat gadis itu melompat-lompat riang, juga melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Dan sesampainya dia disana, gadis itu langsung menyambutnya dengan pertanyaan.
"Apa desamu ada di balik hutan itu?"
"Ya.. di balik hutan itu ada sungai, lalu hutan, lalu danau, lalu hutan, lalu bukit, lalu hutan, dan ya.. disana ada desa kecil."
Si gadis bermata jade mendekatkan wajahnya. Matanya menatap tajam dan jidatnya mengkerut curiga.
"Kau bohong lagi kan?"
"Sok tahu." Katanya, kemudian merebut keranjang anyam dalam genggaman gadis itu. "Hari ini bunga merah itu lagi kan?" Katanya sambil melangkah duluan, berusaha memimpin jalan.
"Namanya poppy." Si gadis berlari kecil mengejarnya, menyejajarkan langkah. Lalu, mulai bercerita ini dan itu dengan senyum lebar mengembang sempurna.
"Apa kau tahu kenapa harus bunga poppy yang digunakan untuk hari peringatan kesatria?"
Kai mengendikkan bahu, lalu dengan ekspresi setengah bingung dia menjawab, "Aku bahkan tidak tahu apa itu hari peringatan kesatria."
"Oh! oh! Aku belum cerita." Gadis itu menepuk jidatnya sambil tertawa. "Aku ceritakan ya. Jadi, tiga ratus lima puluh tahun yang lalu desa kami sering sekali ditimpa bencana. Gempa, tanah longsor, banjir, dan angin topan silih berganti memporak-porandakan desa, bahkan terkadang merenggut nyawa. Dukun desa sudah mengadakan ritual-ritual untuk dewa tapi keadaan tak kunjung berubah."
Kai mengangguk, setengah mencibir dia berkata, "Para dewa itu kadang memang tidak banyak membantu."
Kalimat ini bisa jadi dilatarbelakangi permusuhannya dengan mereka.
"Lalu, dukun desa merasa tidak ada jalan lain, lanjut gadis itu, "Dia memutuskan untuk meminta bantuan pada iblis."
Sampai sini Kai tersentak. Dia melirik gadis itu yang masih bercerita dengan semangat empat lima. Iblis katanya?
"Konon mereka membuat perjanjian rahasia yang membuat iblis setuju. Awalnya semua berjalan baik. Bencana di desa hilang satu persatu, tapi kemudian hal buruk lain terjadi. Anak kecil di desa mulai hilang satu persatu. Kau tahu kenapa?" Si gadis menoleh ke samping.
Dia bingung saat tidak ada siapapun di sampingnya. Segera menoleh ke belakang, dia mendapati pria yang dicarinya tertinggal di belakang, tengah mematung menatap sembarang arah.
"Apa yang kau lakukan disitu?" Si gadis memanggil, mengibaskan kelima jarinya.
__ADS_1
Kai menghela napas, lalu mendekat pelan-pelan. Dia kurang suka dengan cerita ini.
"Baik, sampai mana aku tadi?" Si gadis menyentuh dagunya bingung.
"Anak-anak di desa hilang satu persatu."
"Oh benar!" Dia menjentikkan jarinya. "Anak-anak desa mulai hilang satu persatu, tapi tidak ada yang tahu penyebabnya. Setelah itu, gadis-gadis perawan yang mulai hilang satu persatu. Warga desa mulai curiga dengan perjanjian yang dibuat oleh dukun. Setelah dipaksa, akhirnya si dukun bercerita bahwa dia berjanji akan membiarkan iblis mengambil seorang warga desa setiap kali satu bencana dihindarkan."
"Lalu?"
"Lalu para warga desa sangat marah. Siapa yang mau anggota keluarga kita dimakan iblis ya kan?" Mata jadenya menatap manik hitam itu dengan tegas, "Suasana desa juga jadi mencekam. Putra tertua kepala desa tidak tahan dengan situasi ini. Dia memutuskan untuk melawan iblis itu. Dia membentuk pasukan, awalnya sedikit lama-lama menjadi bukit! Seluruh warga desa sepakat untuk berperang bersama-sama."
"Memang berapa sih jumlah warga kalian?" Kai menyahut datar. Perang apaan kalau jumlah personilnya sedikit.
"Ini bukan tentang jumlah!" Si gadis berseru heboh. Dia menggenggam pergelangan tangan Kai kuat-kuat. "Ini tentang optimisme. Semangat juang untuk hidup." Katanya, dengan kobaran api menyala-nyala di matanya.
"Baik, baik," Kai melepaskan tangannya, lalu mengacak rambut gadis itu lagi. "Lalu apa yang terjadi?"
"Ini jelas bukan perang yang adil. Tentu saja warga desa selalu mengalami kekalahan. Banyak sekali korban yang berjatuhan sehingga jumlah warga semakin lama semakin sedikit. Meski begitu tidak ada satu pun yang menyesal."
"Kenapa?"
Hamparan poppy merah yang tampak begitu hidup saat ditimpa sinar mentari memotong cerita tersebut. Mereka sudah sampai di ladang poppy.
"Karena," Suara gadis itu mengalun begitu tenang, "Lebih baik mati di medan perang dengan berjuang dibanding diam saja membiarkan keluarga dan teman-teman kita mati satu persatu."
Kai memandang lepas ke langit biru. Perasaan-perasaan bersalah tak masuk akal mendadak mengaduk-aduk hatinya.
Dia tidak pernah memikirkan apa yang dirasakan oleh keluarga atau teman dari manusia yang dia makan. Dia tidak begitu mengerti apa itu rasa kehilangan.
Makan ya makan saja. Ini persis seperti kebutuhan sehari-hari. Tunggu, dia tidak makan setiap hari lho ya.
Sebenarnya dia punya menu makan yang lain. Nymph hutan ataupun anak Centauri. Tapi Nymph hutan begitu pandai bersembunyi, dan jumlah Centauri semakin lama semakin langka. Centauri terakhir yang dia temui sudah berumur dua ratus tahun. Dagingnya terlalu alot dan dia tidak selera memakannya.
Disisi lain, manusia adalah makhluk lemah yang jumlahnya tak terhitung. Mereka bertebaran di muka bumi dan berkembang biak dengan pesat. Ini menjadikan mereka pilihan strategis untuk dimakan. Jadi jangan salahkan dia.
Kai menghela napas, diam-diam mempertimbangkan apa dia benar-benar harus mencari menu makan lain.
Si gadis, sambil memetik poppy, kembali melanjutkan cerita, "Dalam perang yang berkepanjangan, situasi semakin memburuk. Warga desa semakin sedikit, sungai-sungai mulai mengering, padang rumput menguning, bunga-bunga layu seolah semua itu menjadi tanda-tanda kematian untuk desa ini. Tetapi di tengah keputus-asaan, bunga poppy merah ini tumbuh dengan tangguhnya. Mereka tumbuh dalam keadaan sulit tersebut, malah bertambah banyak terus menerus. Hal ini secara ajaib memberikan semangat hidup untuk semua warga desa. Kapanpun mereka ingin menyerah, mereka teringat pada poppy ini, dan mereka kembali bersemangat. Warna merah poppy yang bersinar cerah juga seakan memberikan keberanian tanpa batas. Akhirnya, para pejuang berhasil mengusir iblis dari desa." Gadis itu menutup cerita dengan senyuman khasnya.
"Jadi," Kai menatap tumpukan poppy di keranjang, "Bunga merah ini sakral bagi kalian?"
"Benar," Gadis itu mengangguk, "Saat iblis berhasil diusir dari desa, putra tertua kepala desa mengucapkan terima kasih pada bunga poppy. Semenjak itu, kami selalu memperingati hari tersebut dengan meletakkan poppy di kuil dan di makam-makam, juga menghanyutkannya di sungai, ataupun memajangnya di dalam rumah."
"Itu pasti hari yang semarak."
"Semua kebahagiaan pada hari peringatan ditujukan sepenuhnya sebagai penghargaan pada para pejuang yang berhasil mengusir iblis dari desa. Untuk selamanya."
Alis Kai naik satu. Dia memperhatikan raut muka si gadis bermata jade yang tengah berseri-seri.
"Untuk selamanya?" Dia membeo, tanpa jawaban.
Tapi aku masih disini.
__ADS_1
٪٪٪٪٪٪٪٪٪ Bersambung ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪