
Kai pasrah ditarik kesana-kemari oleh Lalita. Malam ini kuil begitu ramai sesak dan Nolan ngotot ingin melihat ritual dengan jelas. Maka Lalita asik menyeret mereka sedari tadi demi mendapatkan spot yang bagus untuk melihat ritual.
"Kelihatan, kelihatan!" jerit Nolan riang saat mereka berhasil mendapatkan tempat di sisi kiri kuil, kebetulan tanahnya agak tinggi.
Dari tempat mereka, Kai bisa melihat kuil yang begitu semarak karena dihiasi lampion dan poppy merah. Jendela-jendela kuil di setiap sisi dibuka lebar-lebar, memberikan akses pada siapapun yang hadir untuk melihat seorang wanita paruh baya berambut kecokelatan sedang melakukan tarian aneh.
Kai menyipitkan mata. Wanita itu mengenakan jubah perak yang kebesaran. Atau entahlah, apa itu sedang trend? Kai tidak mengerti. Dia juga mendendangkan kalimat-kalimat aneh yang tidak bisa Kai pahami.
"Siapa dia?" tanyanya pada Lalita. Dia cuma ingin memastikan bahwa desa ini tidak mengundang penari yang salah, karena bukannya menghibur penari itu malah terlihat konyol.
"Tanana." Lalita berbisik, tidak ingin mengganggu konsentrasi Nolan yang sedang asik menonton. "Dukun wanita di desa kami."
Kai mengangguk-angguk. Pantas wanita itu begitu konyol, rupanya dia seorang dukun.
"Dia ibuku." bisik Lalita lagi.
Sepasang manik hitam itu mendelik kaget. Dia melirik Lalita yang tersenyum lurus memandang wanita di dalam sana.
'Hah? Dia anak dukun?'
Tarian ritual tahunan itu berhenti saat beberapa pemuda desa datang mendorong dua buah patung raksasa yang terbuat dari jerami. Satu patung tampak gagah dengan mengenakan jubah berwarna merah, sedangkan patung yang lainnya kelihatan begitu jelek karena dicat hitam legam, bahkan juga memiliki ekor wajik.
"Itu kesatria Azulon!" Nolan menunjuk-nunjuk patung berjubah merah dengan bersemangat.
"Kalau yang satu lagi?" tanya Kai.
Nolan berdecak sebal. "Itu iblisnya. Masa begitu saja tidak tahu." Cibirnya.
Disisi lain, Kai menyumpah-nyumpah dalam hati. Itu adalah dia? Patung jelek itu adalah dia?!
Tanana, si dukun wanita, keluar dari kuil. Dia melangkah mendekati kedua patung yang sudah dibariskan rapi di halaman kuil. Dua orang pemuda melompat dari belakang, seorang membawa poppy dan seorang membawa obor. Tanana mengambil poppy dari pemuda pertama dan meletakkanya pada patung yang pertama.
"Terjagalah desa kita!" Wanita itu mengangkat kedua tangannya, berteriak lantang. Serempak warga desa ikut bersorak-sorai. Sesaat kemudian dengan cepat Tanana meraih obor kemudian melemparkannya pada patung yang kedua. Api menyebar dengan cepat. Patung yang terbuat dari jerami itu langsung terbakar habis.
Semua orang bersorak lagi, kecuali Lalita. Dia hanya tersenyum.
Kai berdecak tak suka. "Seharusnya ada yang mengajarkan sejarah pada orang-orang bodoh ini." batinnya kesal.
***
Caspian melayang-layang, berputar-putar mengelilingi Kai. Dia agak bingung kenapa pemuda itu cuma duduk terpekur dengan kening berkerut. Seharusnya dia merasa senang dong sehabis pulang kencan begini.
"Jadi bagaimana kencannya?" tanyanya mencoba menarik perhatian pemuda itu.
__ADS_1
Sepasang manik hitam itu melempar tatapan malas. Caspian bingung dengan respon yang didapatnya. Dia berpikir sebentar untuk mengoreksi diri.
"Oh, oh, itu bukan kencan ya?" katanya buru-buru merevisi setelah menyadari prediksi awalnya mungkin salah.
"Aku datang melihat ritual yang aneh." Kai akhirnya mau bercerita. Belakangan ini Caspian benar-benar seperti psikolog pribadinya. "Semua orang tampak membenciku."
Caspian menggaruk rambutnya bingung.
"Bukannya sejak dulu semua orang memang membencimu?" celetuknya lagi.
Kai memicing tajam. Dia merasa ingin protes meskipun ini fakta.
"Tapi yang ini beda!" kilahnya. "Mereka membakar patungku!"
"Kau tahu.." Caspian menatapnya heran. "Hades sudah lama ingin membakarmu di neraka. Ini bukan hal baru lho ya."
Pemuda bermanik hitam itu berdecak tak suka. Tapi dia tidak bisa memikirkan hal apapun untuk membalas ucapan hantu gentayangan itu. Maka dia memilih membuka sayap hitamnya, dan kemudian melesat jauh ke angkasa. Meninggalkan Caspian yang cengo dan takjub dengan tingkah iblis barusan.
"Dia ngambek ya?"
***
Lalita merasa sangat senang malam ini. Fakta bahwa dia, Kai, dan Nolan menghabiskan waktu bersama-sama membuatnya membayangkan sebuah keluarga kecil bahagia. Walau di akhir acara tadi mood Kai tiba-tiba memburuk dan Lalita tidak mengerti kenapa, gadis itu tetap merasa gembira.
"Sudah mau tidur?" tanyanya sembari mendekat, memasangkan selimut.
Lalita mengangguk kecil.
"Ibu keren sekali hari ini." pujinya tulus.
Tanana tersenyum, namun kemudian dia teringat sesuatu.
"Aku sempat melihatmu sekilas di halaman kuil. Apa kau bersama seorang pria tadi?"
"Oh iya, aku memang bersama Nolan." jawab Lalita cepat.
"Bukan Nolan yang Ibu maksud." Tanana menggeleng. "Seorang pria, Lalita. Pria. Dia berdiri di dekatmu."
"Ibu.." Lalita duduk lagi, kemudian menatap Tanana setengah merajuk. "Banyak sekali orang disana tadi. Hanya karena seorang pria berdiri di dekatku, apa Ibu pikir dia bersamaku?"
Tanana diam sebentar, kemudian menghela napas dan mengusap surai karamel itu lembut.
"Oh iya, benar juga.." ujarnya mengalah. Dia selanjutnya mencium kening Lalita sebagai ucapan selamat tidur, kemudian beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
Meninggalkan Lalita yang kembali memandangi punggungnya penuh luka.
"Aku jatuh cinta, Ibu. Bagaimana ini?"
***
Lalita tersenyum lebar saat melihat punggung lebar yang tengah membelakanginya dari kejauhan. Itu Kai, sedang duduk di antara hamparan poppy.
Lalita berlari kecil kesana. Ini sudah satu minggu. Satu minggu sejak hari peringatan kesatria dan Kai menghilang begitu saja. Besoknya, besoknya, dan besoknya lagi, Kai tidak pernah datang lagi ke bukit.
Namun Lalita terus pergi ke bukit selama seminggu ini. Dia berharap Kai akan kembali mampir sesekali. Mungkin saat ini pria itu sedang sangat sibuk.
"Kau disini?" Sapa gadis itu hangat setibanya dia berjarak sekian langkah dari pria yang begitu dia rindukan itu.
Kai menoleh sebentar, lalu kembali memandang ratusan poppy merah di depannya. Lalita menyadari gelagat itu. Ada yang berbeda dari pria ini. Dia tampak lebih murung dari biasanya.
Lalita mengambil tempat duduk di sampingnya kemudian melempar tatapan khawatir.
"Apa kau ada masalah?"
Kai menghela napas. Tanpa melepas pandangan dari bunga-bunga di depannya, dia berkata, "Aku pernah dengar cerita tentang bunga poppy. Dan itu berbeda dengan ceritamu sebelumnya."
"Ohya?" mata jade itu membulat penasaran. Cerita apapun yang berkaitan dengan bunga-bunga selalu berhasil menyita perhatiannya.
"Ceritakan padaku." katanya terdengar begitu bersemangat.
"Aku tidak tahu banyak sih. Tapi yang aku pernah dengar, poppy merah ini tidak tumbuh begitu saja." suara Kai terdengar begitu lugas saat menyampaikan. Dia kemudian menoleh untuk menatap sepasang manik jade yang kini mengerjap-ngerjap bingung.
"Dia terlahir dari darah."
Lalita agak berat untuk mencerna informasi barusan.
Darah? Darah siapa?
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ Bersambung ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
Thankseuu sudah membacaa ^^
Tolong tinggalkan kritik dan saran yaa.
Aku butuh itu semua supaya bisa berprogres lebih baik lagi soalnya :')
__ADS_1