
Dahulu kala, jauh di balik hutan berdiri satu desa kecil yang tersembunyi. Desa ini dianugerahi banyak keindahan oleh para dewa. Rumputnya begitu hijau, langitnya begitu biru, dan sungai-sungainya begitu jernih. Tidak hanya itu, matahari bersinar hangat dan ratusan jenis bunga tumbuh di desa ini disetiap musim tanpa henti.
Menurut kisah para tetua, desa ini dibangun oleh seorang Nymph hutan yang menikah dengan manusia. Lalu keturunan, keturunan, dan keturunan mereka selanjutnya membangun rumah di tempat yang sama. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang welas asih dan jauh dari kata tamak.
Suatu malam, seekor anak Griffin singgah ke desa tersebut, dengan tujuan mencari tanaman langka untuk induknya yang terluka. Anak Griffin yang pernah mendengar kabar bahwa manusia penghuni desa ini begitu ramah segera menemui warga desa untuk minta tolong.
Bukan disambut, bukan ditolong, warga desa malah mengejar anak Griffin. Anak-anak panah dilepas, tombak-tombak dilempar, dan pedang-pedang dihunuskan.
Anak Griffin tewas malam itu bersimbah darah. Induknya yang sedang terluka jauh di luar sana juga tewas karena tidak mendapat obatnya.
Dewi bumi, Gaia, menjadi murka.
Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi, desa itu dijungkir balikkan oleh bencana. Gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, dan kekeringan panjang susul menyusul tanpa henti.
Kemudian, mereka beramai-ramai menggelar ritual suci. Bangun dan bersimpuh berkali-kali meminta pertolongan para dewa. Sayang, langit tak menjawab.
Padang rumput mereka menguning. Mata air mereka kering. Semua tanaman yang mereka banggakan mati. Desa itu berubah menjadi tanah kematian, langitnya memerah menggambarkan derita.
Para sesepuh dan dukun desa berembuk. Bencana tidak boleh dibiarkan berkepanjangan. Akhirnya dukun desa pergi berkelana berminggu-minggu jauh ke arah selatan, ke gua tersembunyi di sebuah kaki gunung. Tempat iblis bersemayam.
Ketika dukun desa berhasil sampai disana, gelegar tawa iblis menyambutnya. Dia bertanya,
"Apa permintaanmu?"
Dukun desa menjawab mantap, "Hentikan segala bencana di desa kami."
"Lalu dengan apa kau membayarnya?" Iblis bertanya lagi.
"Kami akan memberikan persembahan hasil panen dan ternak selama lima tahun."
Iblis terkekeh.
"Tidak, tidak. Aku tidak butuh persembahan kalian." Katanya.
Jarinya mengetuk-ngetuk singgasana kelam. Dia berpikir cukup lama, sampai kemudian menjilat bibirnya senang.
"Berikan saja darah anak Griffin itu. Dia jenis langka, aku lumayan menyukainya." Kata iblis.
Dukun desa terkesiap. Tidak menyangka iblis tahu menahu soal anak Griffin yang mereka bunuh tempo lalu.
"Tidak bisa. Itu milikku."
Iblis memicingkan mata merahnya tajam. Menguliti inci demi inci dengan pandangannya yang mengerikan. Dukun desa gemetar dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Lalu dengan apa kau membayarku?"
Si dukun menegakkan kembali bahunya yang sempat gemetar.
"Setiap kali kau hilangkan satu bencana dari desa kami, aku akan biarkan kau mengambil satu orang warga desa."
Iblis terdiam. Menghitung satu demi satu dengan jari-jarinya. Perjanjian ini menawarkan persediaan makanan tanpa batas.
"Aku suka anak kecil." Katanya sambil menjilat bibir, cukup tertarik dengan penawaran barusan.
"Tidak masalah." Dukun desa menjawab datar.
__ADS_1
Iblis tertawa lantang. Suaranya membahana sampai ke mulut gua. Dia menatap dukun itu dan berdecak,
"Dasar tidak setia kawan. Hades akan membakarmu. Kita akan bertemu lagi nanti di neraka."
Dukun desa menatapnya lurus. Dengan lugas dia menjawab, "Tidak masalah. Toh aku akan hidup selamanya."
****
Lalita masih setia menatap manik hitam yang tetap enggan bicara sejak tadi.
"Jadi?" Manik jade itu menatapnya penasaran. "Cerita apa yang kau maksud tadi? Poppy terlahir dari darah?"
Kai mengangguk kecil.
"Apa ini seperti kisah Amarilis?"
Manik hitam itu bergerak gelisah. Bagaimana cara dia menceritakan kisah itu dengan jelas tanpa ketahuan?
Sudah hukum langit bahwa makhluk seperti mereka tidak boleh membongkar penyamaran mereka sebagai manusia dengan alasan apapun, karena akan sangat berpengaruh terhadap esistensi mereka.
"Ini bukan kisah cinta." Kai menghela napas. Kisah ini tidak setragis Amarilis itu. Ini lebih ke.. miskomunikasi?
"Jadi?" Lalita memiringkan kepalanya bingung.
"Ah sudahlah." Kai akhirnya menghembuskan napasnya gusar.
Lagi pula untuk apa dia mengungkit ini? Klarifikasi?
Lalita memandang pria itu tak mengerti. Dia merasa Kai ada masalah, tapi Kai tidak ingin menceritakannya. Seberapapun inginnya, bagaimana dia bisa membantu kalau dia saja tidak tahu apa masalahnya.
"Jadi.. bukankah ada baiknya, kalau kau dan aku saling memiliki dalam hal ini?"
Untuk beberapa saat, Kai terpana. Hatinya sempurna tertembus panah asmara. Wajah Lalita terlihat begitu bersinar dengan sedikit rona merah jambu disana, dan rambut karamelnya bergoyang lembut ditiup angin.
"Lalita, aku.."
"LALITA!"
Teriakan nyaring seseorang memotong ucapan Kai.
Pemuda itu menoleh sebal ke seberang bukit. Itu Nolan, berteriak-teriak heboh. Bocah itu selalu tahu caranya mengganggu suasana.
"Lalita, Tanana menyuruhku untuk menjemputmu!" Nolan berteriak lagi, berlari-lari kecil ke arah mereka.
"Ah!" Lalita refleks berdiri. "Maaf, Kai, aku harus pergi. Ibuku overprotective belakangan ini." Katanya sembari menyambut Nolan yang datang menubruknya.
"Lalita, ayo, nanti Tanana marah." Nolan mulai menarik-narik tangan gadis itu.
"Kai, kita ketemu besok ya. Sampai jumpaa." Lalita menyambar tangan kecil Nolan dan mengajaknya pergi.
Kai menghela napas lagi.
"Ya sudahlah, aku juga rasanya sudah malas untuk cerita." Ujarnya berbisik.
***
__ADS_1
Nolan berlari-lari kecil mengimbangi langkah jenjang Lalita.
"Apa ibuku mengatakan sesuatu?" tanya gadis itu dengan nada cemas yang begitu kentara.
"Tanana menyuruh Seda untuk mencarimu." jelas Nolan.
Lalita terkejut. Seda adalah tangan kanan ibunya. Pemuda itu selalu menuruti perkataan ibunya, apapun itu. Nolan melirik wajah cemas Lalita. Dia kemudian menggenggam tangan Lalita, berusaha untuk menenangkan agar gadis itu tidak terlalu panik.
"Tapi aku bilang pada Tanana bahwa aku yang akan mencari Lalita ke bukit bunga."
"Bagus, Nolan!" Lalita mengelus pipi anak itu bangga. "Apa yang akan kau katakan kalau nanti ibu bertanya siapa saja yang kau temui di bukit?"
Nolan berhenti, menunjuk dadanya bangga.
"Aku setia pada Lalita. Nanti aku bilang ke Tanana kalau Lalita sendirian disana."
Lalita tertawa kecil dan memeluk bocah itu senang.
"Anak pintar. Nolan memang sahabat terbaikku."
Nolan menggesekkan hidungnya di lengan Lalita dengan senang. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Lalita, kakak laki-laki yang suram itu siapa?"
Mata jade itu menatap Nolan dengan lembut.
"Nolan, kakak itu namanya Kai. Dia datang dari tempat yang jauh."
Bibir Nolan mengerucut sebal.
"Apa Lalita menyukainya?"
Gadis itu mengangguk dengan senyum lebar.
"Karena itu.. Nolan juga harus menyukainya."
Nolan ogah-ogahan mengiyakan. Dia tidak suka kalau kakak suram itu dekat-dekat Lalita, tapi kalau memang Lalita menyukainya.. mau bagaimana lagi?
Mentari sore begitu hangat. Berkas sinarnya menerobos pepohonan, menyentuh langkah dua anak manusia yang tengah berlari itu.
Dalam dekapan hangatnya mentari, Lalita tersenyum bahagia. Pipinya juga merona sempurna. Dia teringat ucapannya pada Kai tadi.
'Bukankah sebaiknya kau dan aku saling memiliki?'
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
Pertama-tama, maapin updatenya agak lama.
Aku baru cabut gigi geraham belakang dan itu sungguh bikin ngga mood ngapa-ngapain.
Kedua, terimakasih sudah membaca. Tolong tinggalkan kritik dan saran, like, vote, ataupun rate hehe
Ketiga, silahkan tinggalkan judul karya kalian di komentar karena aku sedang mood baca.
__ADS_1
See ya.