
Langkah Lalita tampak semakin berat. Dia sudah lelah berlari sejak tadi. Belum lagi sekarang kakinya penuh gurat-gurat luka akibat duri-duri dari semak belukar yang ditabraknya.
Aaauuuuuuuuuu~
Lolongan serigala sukses membuatnya terpatung. Lalita diam, menatap ke arah suara dengan ekspresi ngeri. Kemudian matanya berputar ke sekeliling. Dimana ini?
Dia tidak tahu lagi. Hutan begitu gelap, dan tanah yang diinjaknya sedikit becek. Apa dia semakin tersesat masuk ke dalam hutan?
Yang paling penting, apa benar ada sungai di balik hutan ini seperti perkataan Kai? Kenapa dia merasa hutan ini sepertinya tidak berujung.
Jangan-jangan Kai memang cuma bercanda waktu itu.
Lalita kembali berjengit ngeri ketika mendengar suara gemerisik daun. Seperti ada yang baru lewat di sekitar sana. Serigala? Ular? atau jangan-jangan harimau?
drekk drek drkkkk
"Ular derik!" Seru gadis itu kaget. Suara ular derik yang khas saat menggerakkan ekornya membuat Lalita refleks tersadar untuk segera menghindari hewan melata yang mematikan itu.
Lalita spontan berlari sembarang arah. Dia berlari lebih kencang dari sebelumnya. Menerabas apapun yang ada di depan. Napasnya semakin ngos-ngosan. Lalu tiba-tiba..
"Aduh!" Dia menjerit kaget saat terjerat akar-akar gantung. Dia semakin panik, berusaha sekuat tenaga melepaskan tubuhnya. Sangking kuatnya, begitu terlepas Lalita langsung terhempas ke samping. Kepalanya menghantam pohon besar disana.
Gadis itu terhuyung, pelan-pelan mendekati akar pohon besar untuk kemudian tergeletak disana. Tenaganya habis sudah, dan pandangannya kini mengabur.
"Kai.. kau dimana?" Bisik gadis itu lirih sebelum matanya terpejam sempurna.
***
Mata jade itu mengerjap-ngerjap perlahan, kemudian bergerak gelisah, lalu memandang sosok di hadapannya bingung.
"Kai?" Tanyanya lemah.
"Untunglah kau baik-baik saja." Kai merengkuh tubuh Lalita yang terbaring.
Sumpah dia panik setengah mati. Setelah Caspian bilang kalau dia melihat Lalita di hutan, Kai langsung terbang melesat kesana. Dia cukup lama berputar-putar tapi tidak menemukan siapapun. Oh, dia sebenarnya bertemu seorang nymph hutan tadi. Kai ingin menanyainya tetapi nymph hutan itu malah lari, mungkin takut dijadikan santapan makan malam.
Lalu Kai berusaha mengejarnya ke tengah hutan. Dan dia malah mendapati Lalita pingsan, tergeletak dekat pohon besar. Dia kemudian membopong gadis itu keluar dari sana.
Lalita kembali mengerjap. Pelukan ini nyata, dia tidak bermimpi. Dia kemudian menatap sekelilingnya.
Hutan yang tadi berusaha ditaklukkannya ada di belakang, sekitar seratus meter dari tempatnya saat ini. lalu tanah yang mereka pijaki saat ini nyatanya adalah padang rumput dengan sebuah sungai di sisi kanannya. Airnya yang jernih memantulkan bayangan bulan.
"Ternyata memang ada sungai." Gadis itu menggumam. "Kau tidak main-main waktu itu." Dia tersenyum simpul.
Kai mungkin orang asing bagi desa, tapi tidak baginya. Dia yakin pada Kai. Dan keyakinannya benar kan? Lihat, ibunya salah.
__ADS_1
"Sebenarnya apa sih yang kau lakukan di hutan?" Kai menelisik tubuh gadis itu. Ujung gaunnya sedikit robek, tangannya merah bekas terjerat akar gantung, dan kakinya lecet-lecet penuh luka. Belum lagi matanya yang sembab. Apa dia baru menangis?
"Lalu apa benar di balik hutan sana ada danau?" Gadis itu melempar tatapan jauh ke depan, ke arah hutan pinus yang berbaris rapat.
Kai tidak menjawab, sedang sibuk membolak-balik telapak kaki Lalita untuk melihat seluruh lukanya.
"Lalu di balik danau ada hutan lagi, lalu gunung, lalu hutan, dan dibaliknya benar-benar ada desa kecil?" Lalita bertanya lagi, tidak terlalu peduli pada luka-luka di sekujur tubuhnya. Setelah dia bertemu pemuda ini, semua rasa takut dan rasa sakit sebelumnya seakan bisa dia lupakan.
Kai menghela napas. Dia begitu khawatir saat ini tapi gadis itu malah sibuk membahas hal yang lain. Dia segera menggenggam telapak tangan Lalita dan menuntunnya ke tepi sungai.
"Duduklah." Katanya lembut.
Lalita duduk, menatap gerak-gerik pemuda di hadapannya. Sekarang dia baru bisa melihat ekspresi pemuda itu benar-benar terlihat cemas.
Kai merobek ujung bajunya, membasahinya dengan air sungai kemudian dengan lembut membersihkan luka-luka Lalita.
"Kenapa kau disana sendirian hemm?" tanya pria itu, tangannya masih sibuk mengelap-elap kaki Lalita. Membuat si empunya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Lalita memandangi Kai yang sibuk membersihkan luka di kaki dan tangannya. Mata hitamnya bersinar teduh, dan jari-jarinya terasa begitu lembut. Penuh kasih sayang. Ibunya sudah pasti salah, Kai jelas pemuda baik-baik.
"Aku mencarimu."
Kai mendongak, menatap sepasang manik jade yang entah kenapa terlihat begitu indah malam ini.
"Harus ya malam ini? Tidak bisa tunggu besok? Sudah ku bilang kan tempat tinggalku jauh."
Jemari gadis itu menyusuri telapak tangan kiri Kai. Dia kemudian menggenggam lembut, dan membawa genggaman tangan itu ke dekat dadanya. Mereka kemudian saling menatap satu sama lain, menyelami rasa yang sudah tumbuh sejak lama.
"Aku tidak bisa kalau tidak menemuimu. Aku tidak bisa kalau tidak melihatmu." Ujar Lalita lirih, jemarinya begitu erat menggenggam telapak tangan Kai.
Pemuda itu kembali menelisik setiap inci wajah gadis di hadapannya. Surai karamelnya, mata jadenya, hidung bangirnya, dan bibir merahnya.
"Apa kau bisa?" Lalita bertanya pelan, matanya bersinar penuh harap. "Apa kau bisa untuk tidak melihatku lagi? Untuk tidak menemuiku lagi?"
Kai menyentuh pipi Lalita. Mengusapnya begitu lembut. Perlahan dia mendekat, dan memberikan kecupan singkat disana. Kemudian dia menarik wajahnya beberapa senti, manik hitamnya menatap lurus manik jade Lalita yang berbinar-binar bahagia.
"Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin bisa." Bisiknya sesaat sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening.
***
Dua sejoli beda ras itu kini sedang tiduran, beralaskan tanah rumput dan beratapkan langit malam. Mereka begitu khidmat memandangi bintang-bintang di atas sana.
"Aku yakin Ibu bersikap seperti itu karena dia belum mengenalmu." Ujar Lalita, tidak mengalihkan pandangannya dari langit.
Kai, yang juga melakukan hal serupa, menyahut santai,
__ADS_1
"Kau tidak marah lagi padanya?"
"Tidak." Lalita menggeleng. "Ibu sangat menyayangiku, itu sebabnya dia begitu."
"Lalu kalau sudah tidak marah kenapa masih tidak mau pulang hemm?" Kai bertanya usil, kemudian tertawa kecil.
"Ini sudah malam sekali!" Lalita membela diri. "Bagaimana aku bisa pulang?"
"Kan ku bilang aku bisa mengantarmu.."
"Maksudmu kita jalan lagi melewati hutan gelap itu begitu? Aku trauma. Bagus kita tunggu sampai hari terang besok pagi."
Kai menghela napas kecil. Dia bisa saja sih terbang melintasi hutan dengan cepat, sekaligus membopong gadis itu, tapi nanti identitasnya yang sebenarnya akan terbongkar.
"Tapi kalau tidur disini banyak nyamuk." Kata pemuda itu akhirnya, melupakan usulannya untuk mengantar pulang Lalita.
Gadis itu tidak menyahut, begitu asyik menatap jutaan bintang yang berkerlap-kerlip di atas sana. Dia kemudian mengangkat telapak tangannya ke langit, kemudian bertanya dengan penasaran,
"Bagaimana rasanya ya berada di atas sana?"
"Biasa saja." jawab Kai datar.
Dia hidup seribuan tahun lebih dan sering bolak-balik ke atas sana. Tetapi tidak ada kesan khusus apapun. Biasa saja.
"Waktu kecil aku sangat ingin bisa terbang. Sekaliii saja." Cerita gadis itu semangat.
Kai cuma mengangguk ogah-ogahan.
"Apa kau juga begitu?" tanya Lalita lagi, bermenit-menit kemudian. Tidak ada jawaban.
Lalita menoleh ke samping. Dia mendapati Kai sudah terpejam. Wajah pemuda itu terlihat begitu damai.
"Semoga mimpi indah, Kai.." bisik gadis itu sembari tersenyum. Sesaat sebelum dia ikut tenggelam dalam mimpi.
Jauh di atas mereka, Caspian sedang melayang-layang begitu hebohnya. Hatinya sedang riang luar biasa karena jarang-jarang sekali dia bisa melihat drama percintaan langsung di depan mata. Kepalanya mengangguk-angguk senang melihat sepasang sejoli itu tidur di bawah sana.
"Selamat tidur untuk kalian berdua. Semoga berbahagia selamanya."
٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
Thankseu yang udah mau baca.
Thankseu yang udah mau like, komen, vote, ataupun rate.
__ADS_1
Silahkeun drop judul tulisan kalian supaya kita bisa saling mengunjungi.
See ya.