
Kemarin, saat Kai menginjakkan kakinya di padang bunga ini, dia tidak begitu memperhatikan. Berjuta tempat sudah dia datangi dalam ribuan tahun. Pun ladang bunga begini bukan hanya satu di dunia.
Tapi sekarang, setelah dia berkeliling bukit, dia yakin benar.. ini bukan pertama kalinya dia kemari.
'Sepertinya.. aku memang pernah kesini, tiga ratus lima puluh tahun yang lalu.'
Dia benar-benar tidak menduga, setelah waktu yang panjang dia berakhir dengan kembali lagi ke tempat ini.
"Kai! Kemari!" Teriak si gadis bersurai karamel dari kejauhan.
Kai menatap sekeliling, dia mendapati gadis itu tengah berlarian di tengah hamparan bunga. Satu dua kupu-kupu ikut terbang mengikuti langkahnya.
"Kai, Sini!"
Pria itu menggeleng kecil. Kadang dia merasa gadis itu begitu polos, persis anak-anak.
"Ada apa?" Tanyanya setelah jarak mereka cukup dekat.
"Lihat. Ini mirip denganmu." Gadis itu berjongkok, dan menunjukkan bunga-bunga pansy yang bergerombol di dekatnya. Kelopaknya yang tumpang tindih dengan garis-garis hitam di pangkal kelopak menciptakan ekspresi marah yang lucu.
Alis Kai naik satu.
"Ini Pansy si bunga pemarah. Lihat kelopaknya, seperti orang marah kan?" Lalu dengan sebuah cengiran lebar, dia melanjutkan, "Setibanya aku disini tadi, aku langsung teringat padamu saat melihat pansy ini. Menurutku dia persis sepertimu."
Dengan nada kesal yang dibuat-buat, pria itu menyahut, "Oh jadi begitu. Menurutmu aku ini pemarah?"
Si mata jade tertawa kecil. Dia memetik sebatang pansy, lalu meraih telapak tangan Kai, dan meletakkannya disana dengan lembut.
"Tapi, mereka adalah bunga yang jujur. Tetua desa mengatakan bahwa pansy punya karakter yang tidak dibuat-buat ketika berhadapan dengan orang lain. Disamping itu, mereka punya ambisi yang besar pada cinta." Ujarnya dengan suara lembut yang menenangkan. "Harusnya kau senang bisa mirip dengan mereka." Dia menyikut Kai sambil tertawa geli.
Kai mendengus geli, menatap bunga di tangannya sambil menimbang-nimbang harus dibuang dimana benda itu nantinya.
"Jangan dibuang." Celetuk si surai karamel, seakan bisa membaca pikiran. "Simpan dan bawa pulang ke rumah."
Kai mengurungkan niatnya saat dilihat mata jade itu melotot lucu padanya.
"Tapi," Sela Kai saat melihat gadis itu kembali berjongkok menyentuh bunga-bunga, "Kenapa kau berbicara dengan tanaman?"
Tanaman tidak bicara, tapi dia berkali-kali mendapati si surai karamel berbicara dengan bunga. Seperti tadi saat dia baru sampai, dia melihat gadis itu bercengkrama dengan bunga matahari. Maksud Kai, itu tanaman lho? Kalau itu hewan semacam kucing ataupun kelinci mungkin dia bisa mengerti, tapi tanaman? Mereka bahkan tidak bergerak kalau tidak tertiup angin.
"Kau tahu tidak? Bunga-bunga yang kita tanam akan tumbuh subur dan cantik kalau kita sering mengajaknya bicara."
__ADS_1
Hah?
"Mereka punya perasaan, Kai.."
Jidat Kai berlipat-lipat penuh tanda tanya dengan ketidak masuk akalan ini.
Gadis itu tersenyum menanggapi ekspresi Kai yang menggelikan.
"Semua bunga di dunia punya kisahnya masing-masing. Aku sudah cerita padamu kisah bunga matahari, poppy, dan pansy. Bunga yang lain juga punya ceritanya sendiri."
Si gadis menggerakkan jarinya memanggil Kai, memintanya untuk mengikutinya. Mereka berjalan meninggalkan poppy, dan melewati ratusan bunga lainnya.
Ternyata mereka kembali ke tempat pertama kali berjumpa. Sebuah tebing kecil yang berbalut rumput hijau kecil. Gadis itu menarik tangannya, mendekat ke sisi kanan tebing.
"Ini namanya Bleeding Heart. Hati yang berdarah." Katanya menunjuk tanaman semak-semak dengan bunga-bunga merah yang mencuat keluar dengan cantiknya. Bentuknya juga lucu, persis seperti hati.
"Dahulu kala ada seorang pemuda yang jatuh hati pada seorang gadis cantik." Si surai karamel mulai bercerita, lalu dengan tenang dia kembali melanjutkan, "Ia mencoba menarik perhatian gadis itu dengan memberinya hadiah. Mulai dari memberinya sepasang kelinci yang lucu, sepasang sandal yang indah, bahkan sepasang anting berhias permata. Namun, gadis itu tetap menolaknya. Pemuda itu sangat patah hati sampai akhirnya meninggal dunia. Tak lama setelah dimakamkan, dari makamnya muncul tunas tumbuhan semak. Ketika musim semi tiba, tanaman itu berbunga dengan bentuk bunga menyerupai hati yang terbelah sedang meneteskan darah."
"Tunggu, tunggu," Kai mengangkat tangannya menginterupsi, "Kenapa cerita cinta tentang bunga-bunga ini selalu berakhir tragis?"
Gadis itu tertawa kecil.
Dia kembali menarik lembut tangan Kai, membimbingnya berjalan lebih jauh ke sisi utara. Dari jarak sekian meter, mereka bisa melihat dengan jelas beberapa pohon setinggi empat sampai lima meter yang tengah berbunga. Dan di sekeliling pohon, tumbuh bunga-bunga berwarna merah dengan sepasang daun hijau pandan yang melengkung indah.
Gadis bermata jade itu berjongkok. Kemudian menyentuh si bunga merah sebagai ritual khasnya sebelum bercerita.
"Menurut legenda lama, dahulu hidup seorang gembala bernama Alteo yang kabarnya setampan dewa Apollo dan segagah demigod Hercules. Semua yang melihatnya pasti jatuh hati, termasuk peri Amarilis. Sayang, Alteo tidak begitu memerhatikan Amarilis dan perempuan-perempuan lainnya. Pemuda ini hanya tertarik pada keindahan bunga. Amarilis pun berusaha untuk mendapatkan cinta Alteo. Sesuai petunjuk dari Oracle di Delphi, Amarilis harus mengetuk pintu rumah Alteo menggunakan gaun putih dan menusuk hatinya dengan panah emas. Amarilis pun melakukannya selama 29 hari. Namun, pada hari ke-30, terjadi hal berbeda. Alteo membuka pintu dan mendapati bunga indah berwarna merah bermekaran. Konon, bunga itu adalah tetesan darah dari sang peri. Pemuda ini pun langsung jatuh hati pada bunga berwarna merah yang belum pernah dilihatnya dan juga pada Amarilis. Hati Amarilis yang tertusuk panah emas juga langsung sembuh kembali. Mereka pun bersatu dan hidup bahagia selamanya."
"Itu juga ada bagian tragisnya." Kai memajang raut muka kurang puas. Telunjuknya kemudian menuding pohon di depan mereka, "Apa ada cerita juga tentang pohon ini?"
"Oh tentu. Itu pohon magnolia."
"Apa ceritanya tragis juga?" Kai memandangnya curiga.
Gadis bermata jade terkekeh. "Cerita tentang yang satu ini datang dari negeri yang jauh. Orang-orang menuturkan kalau Magnolia adah perwujudan dari seorang wanita yang pemberani. Dia pergi berperang demi keluarga dan bangsanya. Dia diangkat jadi Jenderal besar, bertemu seseorang dan jatuh cinta, lalu hidup bahagia."
Kai mengangguk puas. Akhirnya ada cerita yang sesuai dengan seleranya.
__ADS_1
Langit semakin menguning. Matahari hampir sampai ke peraduannya.
Gadis itu merebut keranjang anyam penuh poppy dari tangan Kai.
"Sekarang aku harus pulang."
"Masih ada banyak bunga lagi disini untuk diceritakan." Kai memandangnya setengah tak rela.
Yang dipandang hanya tertawa.
"Satu hari takkan cukup untuk menceritakan mereka semua. Kita harus bertemu besok, besok, besok, dan besok lagi untuk bercerita tentang semuanya."
Angin bertiup lembut. Helai-helai karamel itu bergoyang lemah dan manik jadenya berkilat berkilauan. Kai merasa ingat sesuatu.
Ah, nama!
"Sia-"
"Eh, lihat.."
Belum sempat dia selesai bicara, gadis itu sudah ngeloyor pergi lebih dulu. Dia duduk bersimpuh di dekat pohon magnolia di barisan belakang. Jemarinya menghalau Amarilis yang tinggi-tinggi, dan memperlihatkan bunga kecil biru yang tersembunyi di baliknya.
"Ketika itu, Tuhan baru menciptakan alam semesta dan tiba waktunya Tuhan menghiasinya dengan berbagai tanaman bunga yang sangat indah dan berbagai macam." Suara gadis itu mengalun merdu.
Untuk beberapa saat, Kai tercengang. Dia ingat cerita ini. Inilah cerita yang selalu dia dengar setiap malam bahkan sebelum dia bertemu gadis ini.
Sedang si gadis, dengan wajah berseri-seri masih terus melanjutkan, "Kemudian satu per satu bunga dinamai: mulai dari Mawar dinamai Rose, Bakung dinamai Lily, Tulip, kemudian Magnolia, dilanjutkan dengan Frangipani, Poppy, Pansy, Melati alias Jasmine, Lavender, Geranium, dan Aster. Mereka sangat senang dengan nama-nama mereka tadi. Lalu ada satu bunga kecil yang indah berada diantara semak-semak dibawah bunga mawar yang belum dipanggil namanya oleh Tuhan. Maka bunga yang belum dinamai tadi berseru-seru memanggil Tuhan dan berkata: 'Forget me not, my Lord! Forget me not!'. Lalu Tuhan tersenyum sambil memandangnya dan berkata: 'Then shall it be your name..'."
Kai merasakan desiran hebat dalam dadanya. Matanya tertumbuk pada bunga biru kecil yang bersembunyi takut-takut. Seakan muncul perasaan kuat yang aneh untuk selalu melindungi si bunga biru kecil.
"Nama bunga ini adalah forget me not." Gadis itu memetik sekuntum dan menyerahkannya pada Kai. "Ibuku bilang, jika dua orang merawat forget me not dengan kasih sayang, keduanya tidak akan saling melupakan."
Angin berhembus lagi, menggelitik hati pria itu.
"Aku belum tahu namamu.." Ucapnya lirih.
Gadis bermata jade memasang senyum terbaiknya.
"Namaku Lalita."
Then, forget me not, Lalita..
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
__ADS_1