
Arunika menyelimuti cakrawala. Cahaya lembutnya yang hangat berhasil membangunkan Kai dari tidur ala kadarnya. Manik itu mengerjap, menatap khusyuk paras indah yang tengah terpejam di hadapannya.
"Cantik.." Gumamnya senang.
"Setuju."
"Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta." Katanya lagi.
"Aku tahu."
Hah?
Kai spontak mendongak. Ternyata Caspian sudah melayang di atas mereka sejak tadi. Hantu itu bertopang dagu dengan ekspresi menggoda.
"Aaaw.. sentimentil sekali jagoan kita pagi ini." Kikiknya geli.
Kai meraih batu kecil di samping, kemudian melemparkannya ke wajah Caspian dengan sebal. Batunya tembus dan melayang jauh, tentu saja.
"Pergi sana jauh-jauh!"
"Huuu takuuutttt." Caspian menjulurkan lidahnya jahil. Lalu terbang jauh, masih terbahak-bahak.
Lalita yang merasa mendengar keributan sepihak, perlahan terbangun dan mengucek-ucek matanya.
"Kai.." Panggilnya, setengah sadar dia melihat sekeliling dengan bingung. "Ada apa?"
Kai berbalik.
"Selamat pagi, Lalita." Sapanya lembut.
"Selamat pagi.." Lalita tersenyum lebar. "Aku pikir kau sedang bicara dengan siapa tadi."
Kai mengedikkan bahunya, pura-pura tidak mengerti. Dia kemudian membawa langkahnya menuju tepi sungai. Membasuh wajahnya yang sebenarnya masih tetap ganteng walau sedikit sembab.
Lalita mengikutinya dari belakang.
"Airnya segar sekali!" Lalita membasuh wajahnya.
Dia melirik Kai diam-diam. Bulir-bulir air kadang terjatuh dari anak-anak rambutnya yang hitam legam. Level kegantengan Kai naik beberapa derajat.
Kai yang sedang asik membasuh muka tiba-tiba berhenti saat matanya menangkap sesuatu. Dia berjalan ke sisi sungai di depannya. Lalita mengikuti tanpa bertanya.
"Lalita, lihat." Kai menunjuk sesuatu di balik alang-alang setinggi lutut. "Ini forget me not."
"Eh benar." Lalita berseru senang. "Aku bahkan tidak memperhatikan. Hoo, kau hebat juga.." katanya menyikut pemuda itu usil.
"Karena dia begitu kecil." Ujar Kai lagi. "Semua orang tidak memperhatikannya meskipun dia cantik karena dia kecil. Dia selalu tersembunyi. Bukankah kau yang bilang dia dinamai forget me not agar orang-orang tidak melupakannya?"
Lalita tersenyum lebar. Tanpa menjawab dia kemudian beranjak dan berkeliling sekitar seperti mencari sesuatu. Kai hanya memandang bingung saat gadis itu kembali dengan dua tempurung kelapa di tangannya.
Lalita berjongkok. Menggali tanah di sekitar forget me not. Dia mencoba mencabut dua gerombolan kelopak-kelopak biru nan lucu itu beserta akar-akar dan tanah yang menyangkut disana, kemudian meletakkannya dalam kedua batok kelapa tadi.
__ADS_1
"Lalu kita tambah sedikit tanah lagi.." Cicit gadis itu sibuk mengorek sedikit tanah kemudian menambahkannya ke dalam tempurung kelapa.
"Selesai!" Serunya senang. Dia menyerahkan satu tempurung kelapa pada pemuda di depannya. "Kai simpan satu, aku simpan satu.."
Kai menatap gadis itu bingung. Sekarang dia harus bertanam bunga atau apa?
"Ingat apa yang pernah aku ceritakan dulu tentang forget me not?" Tanya gadis itu menudingkan telunjuknya.
Aah..
"Kalau dua orang merawat forget me not bersama, maka mereka tidak akan saling melupakan." Jawab pemuda itu, matanya lurus menyelami manik jade yang berbinar bahagia.
"Mereka tidak akan saling melupakan. Selamanya."
***
Tanana jalan hilir-mudik dari dalam kuil ke halaman, dari halaman ke dalam kuil, dan begitu seterusnya, bolak-balik sejak fajar menyingsing tadi.
Dia khawatir luar biasa. Anak gadisnya belum pulang sejak malam tadi. Bukan mereka tidak berusaha mencari, hanya saja tidak membuahkan hasil. Seda saja baru bisa istirahat beberapa jam sebelum fajar.
Sungguh dia tidak menyangka Lalita memberikan respon sampai seperti itu tadi malam. Biasanya gadis itu begitu penurut, tidak banyak membantah. Cinta memang selalu berhasil mengubah seseorang.
Dukun wanita itu mengibaskan jubahnya kesal. Dia kembali berjalan ke halaman kuil, namun terhenti di ambang pintu, matanya berkaca-kaca saat melihat anak sematawayangnya sudah berdiri di halaman.
"Lalita!"
"Ibu.." Gadis itu menghambur dalam pelukan. Rasa bersalah memenuhi relung rasa karena dia sadar Tanana pasti mengkhawatirkannya sepanjang malam.
Tanana sibuk mengelus rambut Lalita dan mengusap-usap pundaknya.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Syukurlah para dewa melindungimu, Lalita.."
"Ibu, Kai menolongku tadi malam."
Tanana melepas pelukannya. Dia menatap Lalita. Cahaya mata gadis itu menunjukkan keteguhan yang nyata.
Tanana menghela napas.
"Kemarilah, Lalita. Biarkan aku menceritakan sesuatu padamu."
Lalita sedikit terkesiap. Kemudian buru-buru mengikuti langkah ibunya ke dalam kuil.
"Aku dulu sepertimu." Tanana memulai cerita saat mereka berdua sudah duduk tenang dalam kuil. "Aku menyukai tantangan dan sesuatu yang baru. Kau tahu sendiri, desa ini memang indah, tapi terkadang bisa membosankan. Aku ingin keluar, melihat kehidupan di negeri yang jauh. Tapi keluarga kita adalah pemegang tampuk ritual suci di desa ini, Lalita. Keluarga kita sudah menjadi dukun dari generasi ke generasi."
Sampai sini Lalita mulai galau soal masa depannya. Dia tidak mau jadi dukun.
"Begitu pula soal pasangan." Lanjut Tanana. "Sudah adat keluarga kita mencari pasangan dengan perjodohan. Ibumu ini pun, dijodohkan waktu itu. Tapi ibu menolak. Karena ibu sudah jatuh cinta pada seseorang."
Manik jade Lalita berkedip-kedip penasaran. Dia menatap antusias Tanana yang kini tersenyum kecut ke arahnya.
"Orang itu adalah ayahmu."
__ADS_1
"Ayah?"
"Aku bertemu dia di hutan saat belajar memanah diam-diam. Dia begitu tampan dan gagah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan aku sangat gembira saat tahu dia pun tertarik padaku. Kakek-nenekmu tidak setuju. Mereka bilang dia adalah orang asing yang tak jelas asal-usulnya. Tapi aku tidak peduli." Tanana tertawa kecil, mengenang kebodohannya dulu.
"Lalu?" tanya Lalita hati-hati. Ibunya tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya.
"Hubungan diam-diam kami berlanjut semakin jauh. Aku hamil." Manik kecokelatan Tanana menatap Lalita sendu. "Tapi dia tidak mau mengakui. Dia bahkan memintaku untuk menggugurkanmu. Dia mencampakkan kita, Lalita. Dia membuang kita."
Lalita mulai berkaca-kaca. Dia bisa menangkap derita yang tersirat lewat tatapan ibunya.
Tanana menghela napas. Menelan semua rasa pahit yang masih tersisa sampai saat ini.
"Omong kosong soal cinta. Seandainya dulu aku mendengarkan orangtuaku."
Lalita begitu sedih mendengarnya. Dia memeluk Tanana erat sekali.
"Ibu, maafkan aku. Karena aku Ibu sampai harus mengalami semua ini."
Tanana tersenyum. Jemarinya mengusap rambut gadis itu penuh kasih sayang.
"Aku hanya tidak mau kau mengalami hal serupa. Hanya itu."
"Tapi Kai itu.."
"Berjanjilah." Sela Tanana cepat memotong ucapan Lalita.
Manik jade Lalita menatapnya putus asa.
"Berjanjilah kau akan mengenalkannya pada ibu dalam waktu dekat." Lanjut Tanana sedetik kemudian. Senyum tulus terukir indah membingkai wajahnya.
"Aku sayang ibu!" Lalita kembali memeluknya, lebih erat dari sebelumnya.
"Jangan lakukan hal terlalu jauh sebelum kau mengenalkannya. Ingat, Ibu harus menilainya dulu." Tanana menyentil hidung Lalita gemas. "Aku harus pastikan pemuda itu layak untuk puteri tercintaku."
"Aku janji, aku janji." Jawab Lalita senang. Dia menciumi pipi Tanana berkali-kali.
Tanana terkekeh dan menepuk-nepuk bahu anaknya. Gadis itu terlihat sangat bahagia.
"Kau sangat menyukai pemuda asing itu ya?"
Sangat suka. Sangat.
٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪
*arunika \= berkas cahaya matahari pagi
*cakrawala \= lengkung langit
See ya.
__ADS_1