EMPAT MUSIM

EMPAT MUSIM
Summer (Bagian 5)


__ADS_3

Lama gadis itu mematut wajah di depan cermin. Sesekali berpusing, kemudian mata jadenya menyipit senang saat gaun cokelat terang selutut yang dikenakannya berkibar kecil.


"Sepertinya kau sedang senang."


Lalita menoleh ke arah pintu. Ibunya berdiri dengan senyum tipis. Jarang sekali dia bisa melihat anak sematawayangnya berkaca lamat-lamat.


"Ah, Ibu. Bukan begitu." Lalita berseru malu.


Ibunya tetap melepas pandangan.


"Kau mau kemana?"


"Seperti biasa, bu, mencari bunga."


Yang dipanggil ibu kini menatapnya dengan ekspresi serius. Anaknya memang biasa mencari bunga, tapi yang tidak biasa adalah sikapnya. Dia persis orang kasmaran.


"Apa kau bertemu seseorang?"


Lalita diam, pura-pura mematut diri di cermin. Ia tahu ibunya sensitif soal urusan ini.


"Kau harus ingat aku tidak suka kau bertemu sembarang pria." Pembicaraan itu ditutup dengan dingin oleh ibunya, yang kemudian langsung melangkah pergi.


Lalita memandang punggung ibunya sendu.


'Ibu, aku pikir aku jatuh cinta. Bagaimana ini..'


***


"Aku penasaran apa bunga-bunga ini punya keluarga." Kata Lalita, sore itu di bukit kecil di padang bunga, tempat mereka biasa duduk bersama selama seminggu ini.


Kai menggerakkan dagunya, menunjuk ke depan, "Mereka semua itu ya keluarga. Sama-sama bunga." Jawabnya enteng.


Lalita tersenyum kecut. Tatapannya begitu sedih.


"Aku tidak punya ayah." Katanya lirih.


Kai meliriknya. Dia sejujurnya tidak mengerti. Lalita tidak punya ayah, lalu kenapa? Dia saja hidup sendiri selama ribuan tahun, dan dia tidak pernah mengeluhkan hal itu.


"Aku malah tidak punya siapa-siapa." Sahut Kai mengendikkan bahu.


Lalita tercengang. Rasanya dia ingin turut berbela sungkawa, tapi ditahan karena dilihatnya ekspresi Kai begitu datar.


"Apa kau.. kesepian?" Tanyanya kemudian.


"Tidak juga." Sahut Kai kalem. "Kalau kau terbiasa hidup sendiri, kau tidak akan pernah merasa sepi karena memang tidak pernah kenal kata ramai."


Mata jade Lalita menatapnya berkaca-kaca. Selama ini dia berusaha terlihat ceria, tegar, dan kuat demi ibunya. Dia tidak bisa bilang betapa dia ingin tahu tentang ayahnya, karena takut akan menyakiti ibunya.


Tetapi Kai.. dia tidak berpura-pura. Dia apanya, dia jujur, dia seperti..


"Kau benar-benar seperti pansy." Katanya tertawa kecil sembari mengusap bulir air mata yang sempat jatuh.


Kai memandang gadis itu tak mengerti. Apa sih yang dibicarakan gadis ini? Manusia memang sulit dimengerti, apalagi yang jenisnya perempuan. Double trouble.


"Aku tidak kenal ayahku. Aku benar-benar tidak tahu apapun tentangnya." Lalita mulai bercerita. "Sepertinya ayah dan ibuku sudah berpisah sejak lama. Dan ibu tidak mau cerita apapun tentang ayah, aku pikir ibu membencinya."

__ADS_1


"Ya bilang saja." Kai bertopang dagu, menatap gadis itu yakin. "Bilang saja kalau kau ingin tahu."


Lalita sedikit tertunduk. Lirih dia menjawab, "Ibuku itu orangnya agak keras." Lalu cepat-cepat dia menambahkan, "Tapi aku paham kalau dia bersikap begitu demi kebaikanku."


Sampai situ Kai diam. Dia membayangkan ibu Lalita persis kelompok dewa-dewi idiot di atas sana. Bertingkah sok keras, sok benar dan sok oke dengan kalimat andalan 'semua ini demi kebaikan umat manusia'. Halah.


"Oiya, Kai, besok adalah hari peringatan kesatria. Malamnya akan ada festival meriah. Mau datang?"


Kai menghela napas, memikirkan hari peringatan ini membuat perasaannya jadi tidak nyaman. Mau apa dia kesana ya..


Mengenang masa lalu? Lagian apa sih yang manusia-manusia ini peringati? Apa mereka tidak diberitahu oleh leluhur mereka apa yang sebenarnya terjadi tiga ratus lima puluh tahun yang lalu?


"Datang kan?" Lalita memandangnya penuh harap. "Aku akan menjemputmu disini."


"Memang orang luar desa boleh datang?" Kai balik bertanya, hatinya masih merasa berat.


"Boleh dong."


Kai mendesah sekali lagi. Haduh..


"Baiklah.."


***


Semua tampak begitu indah dimata Lalita belakangan ini. Langit tampak lebih biru, awan tampak lebih putih, rumput nampak lebih hijau, angin terasa lebih semilir, dan bunga-bunga tampak lebih hidup. Hatinya pun berdetak lebih berirama, lebih bahagia. Dia tidak perlu repot-repot memeriksakan diri pada tabib untuk menanyakan penyebabnya, karena dia sendiri pun sudah tahu.


Dia jatuh cinta.


Dia jatuh cinta pada seorang pengelana yang tak jelas asal-usulnya.


Dia jatuh cinta pada manik hitam yang selalu menyimak cerita-ceritanya penuh perhatian.


Dia jatuh cinta pada jemari yang terkadang usil mengusap kepalanya.


Dia jatuh, jatuh begitu dalam.


Maka disinilah dia berakhir sekarang. Di tengah jalan setapak menuju padang bunga, malam-malam. Soalnya dia sudah berjanji akan menjemput pria itu malam ini.


Dia bahkan mengendap-endap keluar rumah agar tidak tertangkap basah oleh ibunya.


Memang, terkadang cinta membuat orang sedikit lebih berani, sedikit lebih nekat.


Lalita berlari kecil ketika dilihatnya pria itu sudah berdiri disana.


"Kau benar-benar menjemputku ya." Pria itu menatapnya tersenyum.


"Aku kan sudah janji." Lalita nyengir bahagia. "Aku juga sedikit tak percaya kau mau datang dari jauh malam-malam begini."


"Aku juga kan sudah janji."


Mereka berdua saling tatap, dan tersenyum. Lalita kemudian buru-buru memalingkan wajah dan mengubah haluan saat menyadari wajahnya pasti tengah merona merah.


"Jalan ke desaku lewat sini." Katanya sembari memimpin jalan.


Kai mengikutinya dari belakang. Diam-diam dia mencuri pandang ke arah gadis itu. Lalita memakai dress putih selutut tanpa tangan. Rambut karamelnya digulung ke atas dengan sebuah poppy bertengger manis disana.

__ADS_1


Kai tiba-tiba merasa beruntung. Syukurlah dia ditakdirkan memiliki mate, memiliki pasangan, seorang gadis manusia yang manis.


"Syukurlah kau manis.." Kai berujar lirih.


Malam ini kebetulan cerah sekali. Bulan bersinar terang. Tidak ada awan dan tidak ada angin. Jadi sebenarnya Lalita bisa mendengar jelas apa yang pria itu katakan. Tapi degup jantungnya terlalu kencang untuk bisa mengatakan sesuatu.


Lalita terlalu gugup untuk mengatakan apapun dan Kai bukan tipe orang yang akan bicara duluan, maka perjalanan kali ini begitu senyap. Tidak ada dialog apapun lagi, tahu-tahu mereka sudah sampai di desa.


Kai bisa melihatnya dengan jelas. Desa ini sudah cukup berubah dibanding terakhir kali. Rumah-rumah warga bersusun rapi, baris berbaris dan berhadap-hadapan. Lampu-lampu kertas dipasang penuh menghiasi jalanan. Nampak bunga poppy dipajang hampir di seluruh penjuru.


Begitu banyak orang-orang yang menyapa Lalita saat mereka berdua berjalan di antara keramaian.


"Lalita, terimakasih untuk poppynya." Seorang nenek-nenek menyapa dari depan rumah. Lalita berlari kecil untuk memeluknya sebentar.


"Wah, wah, Lalita siapa itu?" Seorang bibi toko ikan tersenyum usil saat melihat Kai. "Pacarmu ya?"


Lalita hanya tertawa dan melambaikan tangannya ramah. Kemudian, seorang anak kecil datang berlari memeluk kaki gadis itu. Soalnya anak itu cuma setinggi perutnya.


"Lalita!" Seru anak itu nyengir bahagia.


"Hoo halo, Nolan.."Lalita berjongkok, jemarinya mengusap-usap rambut anak itu. "Apa yang kau lakukan disini?"


Bocah bernama Nolan itu lebih dulu melempar tatapan tajam penuh permusuhan pada Kai. Sementara yang ditatap cuma mengerutkan keningnya bingung.


Seolah puas sudah memberikan peringatan pada Kai untuk jauh-jauh dari kakak cantik kesayangannya, Nolan kembali menatap Lalita dan menjawab riang, "Aku menunggumu. Kita akan melihat Tanana sama-sama kan?"


"Tentu, tentu. Aku kan sudah janji."


"Kita akan ke kuil sekarang kan?"


"Tentu, tentu." Lalita mengangguk lagi.


Eh? Sebentar, sebentar. Alis Kai bertaut bingung.


"Apa kita akan ke kuil?" Tanyanya dengan nada sedikit keberatan.


"Ya, tentu." Lalita menjawab agak bingung, apa salahnya pergi ke kuil?


"Kan aku pernah cerita ada ritual yang diadakan di kuil khusus hari ini." Lanjutnya lagi.


Belum sempat Kai protes, Nolan sudah lebih dulu menarik-narik tangan gadis itu.


"Ayo, Lalita. Ayo!" Katanya gusar.


Kai menatap kesal dua manusia yang sudah berjalan mendahuluinya itu. Dengan ogah-ogahan dia mulai mengikuti.


Ke kuil hah?



٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ Bersambung ٪٪٪٪٪٪٪٪٪


Terimakasih sudah membaca!


Tolong like, vote, dan komentarnya yaa. Itu bagaikan vitamin untukku hehe

__ADS_1


__ADS_2