EMPAT MUSIM

EMPAT MUSIM
Summer (Bagian 2)


__ADS_3

Dan, disinilah dia sekarang.


Setelah membulatkan tekad untuk mencari tahu suara siapa sebenarnya yang selalu bergema di telinganya belakangan ini dan dengan mudahnya mengikuti nasehat bloon Caspian, maka disinilah dia sekarang.


Di padang bunga!


Dia berdecak kesal. Ini adalah padang bunga di atas perbukitan. Sejauh mata memandang terhampar permadani hidup berwarna-warni.


Tidak, dia tidak cocok dengan tempat ini. Ini semua terlalu cerah, terlalu manis, terlalu indah. Sangat, sangat, sangat tidak sesuai dengan karakternya. Rasanya mau muntah.


Dia juga mesti jalan kaki meski matanya sakit memandang bunga-bunga di sekelilingnya. Berkeliling dengan sayap bukan opsi yang bagus karena akan mengundang perhatian manusia lain. Dia bahkan juga rela menggunakan wujud manusianya.


Sekarang, dimana sumber suara itu?


Tidak ada siapa-siapa disini.


Dia mengerang frustasi. Mengerat kasar sebatang bunga matahari dan memicingkan mata menelisiknya.


"Suara konyol itu selalu membual tentang bunga-bunga. Apa jangan-jangan dia Thumbellina?" batinnya error, semakin fokus memperhatikan bunga dalam genggamannya. Siapa tahu beneran ada peri kecil disana.


Dia terlalu serius memperhatikan bunga matahari itu sampai sebuah tawa gurih dari arah belakang spontan membuatnya menoleh.


"Tuan, anda suka sekali dengan bunga ya."


Dia menoleh. Area di belakangnya ternyata merupakan dataran tinggi hampir menyerupai tebing berbalut rerumputan, tetapi ukurannya lebih kecil, tingginya hanya sekitar lima meter. Di atasnya, berdiri seorang wanita muda yang tengah tersenyum menatapnya.


Rambutnya lurus terurai sebahu dengan warna senada karamel. Mata jadenya berkilau indah dengan alis lurus tipis persis semut berbaris. Hidung celestialnya terpahat memesona. Dan bibir yang tipis masih setia mematri senyum jelita.


Wanita itu memakai gaun abu-abu dengan corak garis putih acak selutut. Tangan kirinya menenteng keranjang kecil yang dianyam dari rotan. Sementara tangan kanannya merapikan rambut ke belakang telinga, anak-anak rambutnya memang beterbangan disapu angin lembut sejak tadi. Cahaya matahari yang memancar dari arah belakang, membuat kemunculannya tampak lebih dramatis. Pendek kata, gadis itu terlihat bersinar.


"Atau barangkali Anda sedang mencari peri kecil disana?" Katanya lagi sembari tertawa ramah.


Tidak ada sahutan.


Si pria iblis masih terdiam, wajahnya memancarkan berbagai emosi. Dia menyadari bahwa inilah suara yang dia cari. Ini suara gadis itu. Tetapi sungguh hal ini diluar akal sehatnya. Dia, berpasangan dengan seseorang yang begitu cerah seperti itu?


Melihat orang yang disapanya hanya terdiam persis batu, si gadis berinisiatif untuk mendekat lebih dulu. Dia berbalik ke belakang untuk mencari jalan menuruni tebing, lalu berlari-lari kecil ke arahnya.


"Aku kenal seluruh penduduk desa tapi aku tidak pernah melihat Anda sebelumnya." Katanya setelah mereka saling berhadapan. Mata jadenya bergerak-gerak menelisik, menunjukkan gelagat mengobservasi.


Pria di hadapannya ini sangat rupawan. Garis rahangnya tegas. Alisnya tidak terlalu tebal. Matanya tajam, hidungnya bangir, dan bibirnya agak tipis. Dia sangat tinggi dan badannya proporsional. Pakaiannya serba hitam, persis rambut dan matanya.


"Apa Anda pengelana?"


"Ya."

__ADS_1


dan suaranya terdengar begitu kaku.


"Bohong." Gadis itu tertawa lagi. "Pengelana macam apa yang hanya membawa diri tanpa perbekalan?"


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?" Si iblis balik bertanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku mencari bunga." Gadis itu menunjukkan keranjang anyamnya. Dia tersenyum melihat pria di hadapannya masih enggan bergerak. Maka dia pun mengambil langkah ke depan, melewati pria itu, berjalan ringan membelah jajaran bunga matahari.


"Aku mau cari poppy merah ke sebelah sana." Dia berhenti, lalu berbalik dengan senyum ceria. "Kalau Tuan sedang bosan dan tidak ada kerjaan, Tuan boleh ikut denganku kalau mau."


Dan dia tertawa saat pria kaku di belakangnya mulai berjalan pelan-pelan mengikuti.


Iblis itu berjalan patah-patah. Menatap sengit setiap hamparan warna-warni yang mereka lewati. Kadang mendesis marah saat kakinya tak sengaja tersangkut batang-batang bunga. Dia gerah, geli, dan tidak suka. Tapi detak jantungnya, dan gemuruh hatinya, membujuk kakinya untuk melangkah mengikuti gadis itu.


"Masih jauh?" Suaranya terdengar memprotes.


"Sedikit lagi, Tuan." Jawab si gadis ringan. "Ohya, Ngomong-ngomong.. siapa nama Tuan?" Dia berhenti dan berbalik. Memberikan tatapan penasaran.


Si iblis tersentak. Nama? Dia tidak punya.


Seumur hidupnya semua orang hanya menyebutnya 'iblis' dengan embel-embel seperti laknat, kejam, terkutuk, ataupun durjana. Ini adalah pertama kali dalam ribuan tahun ada seseorang yang menanyakan namanya.


"Kenapa aku tidak pernah punya nama?" Dia membatin bingung.


"Apa Anda tidak ingin memberitahukannya?" Gadis itu menyita perhatiannya lagi.


Dia terpekur lama, sampai kemudian memutuskan untuk mencari jawaban aman.


"Coba kau tebak."


Gadis itu gantian terpekur. Wajahnya ditekuk serius. Dia menimbang-nimbang, dengan semua karakteristik pria di hadapannya, kira-kira siapa namanya? Ah, jangan-jangan..


"Apakah nama Anda.. Kai?" Ragu-ragu dia menyampaikan pikirannya.


"Ya. Benar."


Gadis itu terkesiap. Mata jadenya membulat lucu.


"Sungguh?" Serunya tak menyangka.


"Ya." Iblis itu (mari kita sebut Kai mulai saat ini) mengangguk mantap. Sungguh dia tidak peduli dengan sebuah nama, tapi nama yang diberikan barusan.. diam-diam dia menyukainya.


"Apa tempatnya masih jauh?" Kai bertanya, menyentak gadis itu dari keterheranannya. Dia masih tidak percaya, sungguh nama pria itu adalah Kai?


"Ah, lewat sini, ..Kai." Katanya gelagapan kembali memimpin jalan.

__ADS_1


Secara ajaib Kai merasa perjalanan ini tidak semenjengkelkan tadi. Benar sih dia masih geli pada semua bunga-bunga ini, tapi tidak separah sebelumnya. Langkah kaki jadi terasa lebih ringan.


"Kita sudah sampai." Suara gadis itu membuyarkan lamunannya.


Kai melemparkan pandangannya ke depan. Manik hitamnya membulat, dia akui dia merasa sedikit takjub. Pemandangan ratusan poppy merah yang berbaris rapi terhampar di depannya.


"Cantik kan?" Gadis itu tersenyum. Dia maju dan mulai memetik tangkai-tangkai poppy, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang.


"Kau hanya akan memetik yang ini saja?" Kai, entah sadar atau tidak, ikut memetik beberapa poppy dan menyerahkannya pada gadis itu.


Gadis itu tersenyum menerimanya, lalu mulai bercerita. "Minggu depan desa kami akan merayakan hari peringatan kesatria, dan hampir semua orang membutuhkan bunga ini. Karena itu aku akan memetiknya untuk beberapa hari."


Kai mengerutkan keningnya sedikit bingung. Begitu banyak bunga di perbukitan ini. Kenapa harus yang merah satu ini saja?


"Bagaimana dengan bunga kuning di tempat kita bertemu pertama kali tadi?"


"Oh, itu. Namanya bunga matahari. Cantik ya?" Si gadis menoleh, Kai reflek mengangguk kecil. "Tapi bunga matahari tidak sesuai dengan tema peringatan hari kesatria. Apa Kai tahu cerita tentang bunga matahari?"


Tanpa repot-repot menunggu jawaban, gadis itu sudah kembali bercerita.


"Dahulu kala, ada seorang Nymph hutan bernama Clytie yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Helios si dewa matahari. Dia melihat Helios menjelajah angkasa dengan begitu gagahnya. Saking cintanya, dia hanya diam memperhatikan angkasa. Tidak makan, tidak minum, tidak istirahat, bahkan tidak berpindah tempat. Clytie yang setia tetap seperti itu selama delapan hari. Di hari kesembilan, sesuatu yang ajaib terjadi. Kakinya berubah menjadi akar, tubuhnya berubah menjadi batang, dan wajahnya yang cantik berubah menjadi bunga yang anggun. Cinta Clytie pada Helios telah mengubahnya menjadi bunga yang terus menghadap ke matahari."


"Begitu." Kai menjawab seadanya.


"Karena itu bunga matahari dipercayai sebagai lambang kesetiaan." Gadis itu kini menatapnya dengan senyum simpul. "Konon, bila kita menanam bunga matahari di belakang rumah, maka ketentraman dan kasih sayang akan hadir dalam rumah tangga."


"Aku baru dengar cerita itu." Kai memasukkan beberapa poppy terakhir. Keranjang anyam itu sekarang sudah penuh.


"Tapi aku punya pendapat yang berbeda." Gadis itu membuang pandangan jauh-jauh. Pikirannya tenggelam dalam cahaya matahari sore yang kemerah-merahan. "Clytie berubah menjadi tanaman, dan perasaannya pada Helios bahkan tidak tersampaikan. Ini kisah cinta bertepuk sebelah tangan. Tanaman itu tumbuh dan menyebar dengan cepat di muka bumi untuk mengingatkan manusia agar tidak berlebihan dalam mencintai atau hanya akan berakhir konyol seperti itu."


"Itu benar." Kai menimpali dengan lugas. "Jangan mencintai orang yang tidak mencintaimu."


Gadis itu tersenyum lagi. Dia tidak bisa menghitung berapa senyuman dan tawa yang keluar hari ini hanya karena dirinya bertemu pengelana jejadian yang tidak jelas asalnya. Namun entah kenapa, dia merasa gembira.


"Baiklah, Ini sudah sore. aku harus pulang atau ibu akan mencariku." Katanya merapikan poppy dalam keranjangnya sekali lagi.


Kai merasa berat saat gadis itu berbalik arah dan melangkah menjauhinya. Jantungnya berdegup kencang dan hatinya kembali bergemuruh. Dengan akal yang masih berusaha dipertahankan kewarasannya, akhirnya dia bertanya,


"Apa kau besok kesini lagi?"


Gadis itu segera berbalik dan menatapnya sumringah. "Datanglah lagi besok. Kita akan ketemu di jam dan tempat yang sama." Katanya melambaikan tangan riang.


Kai tercekat, tak mampu menjawab lagi. Angin sepoi-sepoi membuat sore ini terasa semakin dramatis. Apa dia mulai kehilangan akal sehatnya?


Besok, kita akan bertemu lagi?

__ADS_1



٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ Bersambung ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪


__ADS_2