EMPAT MUSIM

EMPAT MUSIM
Summer (Bagian 11)


__ADS_3

Kencan.


Menurut bahasa kencan adalah janji untuk saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditentukan bersama, biasanya dilakukan oleh muda-mudi atau kekasih, pada umumnya memiliki kesan romantisme.


Dan yang paling penting, tidak dilakukan di sawah. Iya, di sawah.


"Kai!" panggil Lalita setengah berteriak. "Sebelah sana sudah siap belum?"


Pemuda bermanik hitam itu mengerat bibit padi di tangannya dengan gemas. Dia menghela napas kasar. Menggerak-gerakkan kakinya yang penuh lumpur dengan sebal.


"Ayo kita cepat selesaikan, supaya bisa istirahat!" teriak Lalita lagi dari ujung sana.


Sekarang sudah tahu kan?


Mereka sedang bertanam padi. Ya, benar, bertanam padi.


Kai pikir kali ini akan menjadi kencan yang istimewa karena Lalita bilang ingin mengatakan sesuatu yang penting. Nyatanya dia malah diajak ke petak-petak sawah untuk bertanam padi. Konon kakek yang mempunyai sawah ini sudah tua, gampang encok, dan Lalita terlalu welas asih untuk mengabaikannya.


Ini adalah pengalaman pertamanya bertanam padi dalam ribuan tahun hidupnya. Standing applause, please.


"Petani ganteng kita rajin sekali ya.."


Kai menatap sengit ke udara. Ada Caspian disana, bertopang dagu dan menaik-naikkan alisnya. Sumpah dia ingin membelah Caspian jadi dua sama rata.


"Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulutmu." Kai mencebik kesal.


Caspian geleng-geleng, tersenyum sok bijak. Dia turun melayang ke dekat permukaan tanah, lalu mencoba menyentuh bibit padi yang sudah tertancap sempurna. Tembus.


"Nah lihat, tembus kan." Caspian nyengir lebar. "Bukan aku tidak mau bantu lho."


Kai menghela napas. Setengah terpaksa dia kembali membungkuk, mendorong bibit padi ke dalam tanah sembarangan.


"Semangat! Semangat! Semangat, Pak Petani!" Caspian berputar-putar gembira di sampingnya.


Hantu itu sejak awal ngotot ingin ikut. Berada di sekitar Kai dan Lalita selalu membuatnya gembira. Dia suka melihat tawa renyah Lalita, ataupun ekspresi Kai yang sedang naik darah.


"Ih, Lalita, kakak suram ini nanamnya miring!" jerit Nolan tiba-tiba.


Nah, ini dia satu lagi yang bikin Kai kesal setengah mati. Nolan. Bocah ini seringkali mengekor Lalita dan benar-benar paham caranya merusak suasana.


"Bocah." Kai mendorong jidat Nolan dengan telunjuknya. "Sana urus bagianmu sendiri."


"Aku sudah hampir selesai!" Nolan balik menatap sengit. "Aku bahkan lebih baik darimu."


"Pembual." Kai tersenyum mengejek.


"Kalau gitu kita tanding!" Nolan menjerit sebal. "Siapa yang bisa tanam lebih banyak padi dari sini sampai ke ujung sana." katanya menunjuk kejauhan.


"Siap-siap menerima kekalahanmu, Bocah."


"Mau lomba?" Lalita datang menginterupsi. Dia nyengir lebar melihat dua laki-laki dengan rentang umur jauh beda itu sekarang saling menatap penuh permusuhan.


"Aku yang hitung ya. Ayo siap-siap. Satu.."


Kai dan Nolan masih saling melotot.

__ADS_1


"Dua.."


Mereka berdua otomatis membungkuk.


"Tiga.."


Ttap! Ttap! Ttap!


Secepat kilat mereka berdua menanam padi dan bergerak ke belakang, kadang berhenti sebentar untuk saling memberi lirikan tajam.


Lalita terkekeh. Mengabaikan dua orang yang sedang heboh bertanam padi, dia pun memilih balik ke pinggir sawah. Duduk nyaman sambil mengipasi diri dengan capingnya.


"Lelah ya?" Si kakek pemilik sawah datang dengan langkah lambat-lambat. Tangannya menenteng semangka ukuran sedang.


"Mereka berdua semangat sekali ya." ujar si kakek lagi.


Lalita tertawa. Dia membantu si kakek memotong semangka, kemudian mengambil potongan terbesar. Menggigitnya dengan semangat.


"Mereka kelebihan tenaga, Kek." katanya geli.


Caspian yang sejak tadi ikut melayang ke pinggir sawah dan duduk di samping Lalita pun menggelengkan kepalanya tak percaya. Bisa-bisanya iblis berumur ribuan tahun dimanfaatkan untuk bekerja di sawah.


"Aku selesai duluan!" terdengar teriakan Nolan dari kejauhan.


Kai berdecak sebal, kemudian melirik hasil pekerjaan anak itu dari ujung ke ujung.


"Heh, punyamu tidak rapi."


"Yang mana?"


"Curang!" Refleks Nolan mendorong Kai jengkel. Suara gedebuk terdengar beberapa detik kemudian.


Kai jatuh. Badannya, bahkan wajahnya, kini penuh dengan lumpur. Dia ingin bangkit dan segera menggeplak bocah itu, saat tiba-tiba sesuatu bergerak di depannya. Ada sesuatu yang muncul dari tanah.


"Ada cacing besar." Katanya sedikit takjub.


Nolan yang mendengarnya ikut berjongkok.


"Ih, ada belut! Lalita, ada belut!"


"Tangkap, Nolan!" Lalita berteriak dari pinggir sawah, mengacungkan semangkanya dengan semangat. "Nanti kita bakar sama-sama!"


Sedetik kemudian, Nolan mulai heboh menangkap belut dengan tangan kecilnya. Dia menabrak sana sini dan bergerak sembarang arah, kesulitan memerangkap hewan licin tersebut dalam jemarinya.


Kai memiringkan kepalanya bingung.


'Mereka makan cacing?'



***


Nolan mundur ke belakang jauh-jauh, berlari cepat ke depan, lalu melompat setinggi yang ia bisa, dann...


"Bom meriam datang!"

__ADS_1


Byuuurrrr!


Dia loncat ke dalam sungai.


Kai yang sudah lebih dulu masuk ke air menoyor-noyor kepala Nolan sebal. Dia hampir saja tertabrak lompatan barusan. Nolan terbahak, sembari terus berusaha memercikkan air ke wajah Kai. Lalu dibalas Kai lagi dengan gelitikan.


Lalita tersenyum melihatnya. Tangannya sibuk mengipasi daging belut yang tengah dibakar di tepi sungai. Sementara Caspian sedang melayang-layang di atas panggangan, berusaha menghirup semerbak gurihnya daging belut.


Sungguh perbuatan yang sia-sia.


Saat ini mereka sedang ada di sungai, membersihkan badan yang penuh lumpur akibat bakti sosial bertanam padi. Juga akibat pergulatan panas Nolan dengan belut di sawah tadi tentunya.


Kai naik ke tepi sungai setelah yakin badannya bersih sempurna. Dia menatap sebal benda bulat-bulat biru gelap di dekat pakaiannya. Berry hutan. Nolan yang memetiknya dalam perjalanan menuju kemari tadi.


"Urus sampahmu, bocah."


"Itu berry! bukan sampah!" Nolan balik berteriak dari dalam air.


Kai mendengus geli. Ada saja kelakuan manusia-manusia ini. Makanannya juga aneh-aneh semua. Mereka bertekad makan cacing besar yang tadi, dan sekarang mereka malah ingin makan benda bulat-bulat aneh itu.


"Lempar sini padaku!" Caspian melayang ke atas, membuka rahangnya lebar-lebar.


Kai, setengah penasaran, mengambil beberapa berry dan melemparkannya tepat ke arah Caspian. Berry itu memang masuk ke dalam mulutnya, namun keluar begitu saja.


Nolan yang melihat berry-nya dibuang dan dilempar-lempar oleh Kai, segera naik ke atas untuk protes. Ini namanya perusakan properti.


"Hish, jangan dibuang!" Dia mulai mengutip berry-berry yang tercecer di tanah, kemudian melahapnya dengan semangat. Namun beberapa saat kemudian, jidatnya berkerut aneh.


"Kok hambar sih.." katanya bingung.


Kai tertawa melihatnya. Rasakan, makan makanan bekas hantu.


"Kai.." panggil Lalita, masih terus mengipasi belut. "Ibuku ingin kau datang mengunjunginya."


Pemuda itu mengerjap-ngerjap bingung. Caspian yang sejak tadi melayang mengitari belut, melesat cepat ke sampingnya. Dia menyikut pemuda itu usil.


"Ciyee, pak petani kita mau bertemu ibu mertua."


"Aku senang ibu mau mencoba untuk mengenalmu lebih dekat lagi." kata Lalita lagi. Senyum bahagia membingkai wajahnya.


Pada akhirnya, akan selalu ada jalan untuk berbahagia. Iya kan?



٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪ B e r s a m b u n g ٪٪٪٪٪٪٪٪٪٪


Holaaaa


I've a ton works and it make me pretty exhausted. It's difficult to write something in this situation 😂


Standing applause for all writers who update their story constantly 👏


Thanks for read this.


See ya.

__ADS_1


__ADS_2