EUFORIA AKENO'S

EUFORIA AKENO'S
Bab 1


__ADS_3

"Ben, aku ingin mengunjungi pabrik, persiapkan mobil ... 5 menit lagi aku selesai. "


Suara Shana ditelpon mengejutkan Ben yang sedang bergumul dengan seorang wanita muda.


"Ada apa?"


"Aku harus kembali hunny... Shana ingin mengunjungi pabrik."


Ben bergegas berdiri mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan dilantai.


"Kenapa harus dengan mu Ben?? Masih banyak penjaga diluar sana. Aku masih membutuhkan mu Ben .. " rengek wanita muda itu sembari berdiri didepan Ben dengan tubuh tanpa sehelai benang pun.


Jakun Ben naik turun melihat body sintal didepannya. Ia juga mengelus dada bidang Ben yang berisi.


Ben merengkuh wanita itu dan kembali bergumul menyelesaikan pekerjaan mereka yang terbengkalai. Hingga keringat membasahi tubuh mereka.


Sementara itu Shana yang sudah bersiap siap ingin pergi, seketika diam saat dihalaman belum ada mobil dan juga Ben disana.


"Ben... Kenapa lama sekali...?"


Shana mengambil ponselnya dan menghubungi Ben kembali. Sementara dua anak manusia itu sedang bergumul dengan suara suara yang menggairahkan.


Ben buru buru keluar dari kamarnya saat melihat panggilan suara dari bosnya Shana.


"Ben... Kemana saja kamu??"


Shana tergelak melihat Ben turun daei mobil dengan kemeja tanpa dikancingi.


"Maafkan aku Shana .. ini sangat mendesak.." jawab Ben dengan senyuman kecutnya.


"Antar aku kepabrik ... Aku ingin mengecek keuangan disana. Sudah telat 5 hari mereka belum kesini memberikan laporan padaku."


"Aku belum menanyakan pada kepala keuangan pabrik Shana. Tapi aku sudah tau garis besarnya. Kemungkinan besar kita menggapai keuntungan 70% dibulan ini. Dan aku juga sudah memesan bibit pohon Murbei, sesuai dengan saran mu Shan..."


"Bagus sekali. Kami beruntung memiliki mu Ben ..." Shana memuji Ben dengan kecepatan nya saat bertindak.


Sementara dari kejauhan, Belen terlihat memperhatikan sesuatu dengan mata melotot. Bagaimana Ben dan wanita muda memulai aksi mereka. Nafasnya terlihat sesak dengan wajah memerah.


Ia berlari saat wanita muda itu memergokinya. Yang tak lain adalah tukang cuci mereka.


"Sial... Nona muda melihat kami..." Ia menutup jendela dan mengenakan pakaian nya.


Belen berlari kekamarnya, buru buru masuk kekamar mandi. Ia membasahi tubuhnya di bawah siraman air dingin. Bayangan Ben dan wanita itupun terus berada dimatanya.


"Apa itu yang dinamakan bercinta??"


Belen menutup mulutnya menahan rasa malunya, karna telah melihat sepasang anak manusia bercinta. Belen memegang dadanya yang bergemuruh dan juga hawa panas ditubuhnya.

__ADS_1


"Mengapa tubuh ku menjadi gerah seperti ini? Jantungku seakan ingin lepas ... Belen... Kendalikan pikiranmu .. jangan Travelling kemana mana Bel...


Huuf... Ambil nafas.... Hembuskan .."


Belen mengontrol tubuhnya sendiri. Hingga kini ia sudah merasa tenang dan keluar dari kamar mandi.


"Kakaaaak... "


"Astaga Fre... Kamu membuatku jantungan"


"Kakak.. Kenapa baju nya basah?"


"Aku ingin kekamar mandi, tadi ketumpahan air diluar. Sebentar ya..."


Belen masuk lagi kekamar mandi setelah mengambil handuknya. Sementara Freya duduk di kasur Belen dengan seragam kuliahnya.


"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting?" Tanya Belen pada Freya sambil mengambil pakaian didalam lari.


"Aku mau pinjam T-shirt kakak yang warna kuning, aku ada kegiatan dikampus."


"Ambil saja... "


"Makasi ya kak..."


Freya mengambil t-shirt kuning didalam lemari lalu mengecup pipi Belen dan berlari keluar untuk berangkat.


.


.


"Baiklah pak, terimakasih atas kerja kerasnya. Untuk bulan ini beri bonus yang setimpal untuk karyawan kita. Saya percayakan sama pak Kasim untuk mengurus nya. "


"Syukurlah... Terimakasih banyak nona Shana. Saya akan berusaha sebaik baiknya."


"Kasim... Saya tunggu pekerjaan kamu." Timpa Ben.


Ben dan Shana berjalan kearah bibit pohon Murbei, Shana senang melihat bibit bagus yang didapat Ben.


Mereka berdua melihat kegiatan dipabrik, hingga menghasilkan sebuah kain yang cantik. Ia membawanya pulang. Shana meneruskan kebiasaan ayah mereka, saat ada pengolahan Shana akan membawa pulang kain pertama yang dihasilkan. Karna itu adalah yang terbaik.


"Kita pulang Ben... "


Shana masuk kembali kedalam mobil dan mengelus kain halus nan cantik, sutra...


"Apa kita perlu ketempat lain nona?"


"Tidak... Aku ingin berjumpa dengan kedua adikku "

__ADS_1


"Baiklah"


Mobil yang dikendarai Ben melaju dengan cepat keluar dari halaman pabrik.


"Siapa wanita itu pak tua?" Shana menggoda Ben dengan memanggilnya pak tua.


"Heheh... Maria..."


"Astaga Ben... Maria. Dia sudah menikah Ben!" Shana terkejut dan memukul bahu Ben dari belakang.


"Bagaimana lagi Shan... Dia selalu berada dikamar ku disaat yang tepat." Jawab Ben jujur.


"Terserah kau saja Ben... Huuh..." Shana mengambil nafasnya. Tak habis pikir dengan orang kepercayaan nya satu ini.


"Shan... Semalam aku bertemu Vince di club. Ia bersama teman teman polisinya. Sepertinya sedang dalam bertugas." Ben berusaha mengalihkan perhatian. Dan itu berhasil.


"Ya... Aku tau." Jawab Shana seperti tidak bersemangat.


"Kapan kalian menikah?" Tanya Ben seperti pada anaknya.


"Kenapa pak tua? Kau sudah lelah mengurus ku?" Jawab Shana santai.


"Aku ingin merasakan menjadi pak tua yang selalu kau sebut nona muda. Hahahah..."


"Dasar pak tua... Hahahaha" Shana juga ikut tertawa.


Dalam hatinya merasakan kekecewaan yang besar untuk Vince. Seminggu ia berada dikota ini. Tak sekalipun ia menemui Shana. Bahkan menelpon pun hanya sekali.


'Apakah kau benar benar mencintai ku Vince...?'


Lamunan Shana jauh melayang, berbagai macam pikiran buruk dan baik memenuhi kepalanya. Dan itu semua karna Vince, pria tampan yang sangat ia cintai.


.


.


.


.


.


Bersambung


Hi pembaca ku, semoga kalian menikmati cerita dan alurnya. Mohon saran nya ya untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi.


Terimakasih..

__ADS_1


Salam cintooh...


__ADS_2