
"Shana, luka nya cukup serius. Sebaiknya anda membawanya kerumah sakit. Disana akan lebih baik dan peralatan lebih cukup tentunya. Jika tidak ditangani segera pendarahan akan membuatnya koma." Jelas dokter Kim keluarga Akeno.
"Tak bisa kah paman membawa peralatan yang dibutuhkan disini?" Tanya Shana sambil berjalan keluar rumah bersama Dokter.
"Shana... Siapa pemuda itu?" Tanya Dokter Kim serius. Ia sudah lama menjadi dokter dirumah keluarga Akeno. Jadi ia melihat Shana, Belen dan Freya seperti anak sendiri. Karna Tuan Akeno teman masa kecilnya.
"Paman Kim.. penjaga menemukan nya dikebun jagung kami. Aku rasa ia korban daei penganiayaan. Aku khawatir jika penjahat itu mengintai pemuda itu jika dibawa kerumah sakit. Akan berbahaya juga untuk kami." Jelas Shana sesuai nalarnya.
"Shana... Justru membawanya kerumah akan lebih berbahaya untuk kalian. Sebaiknya kau lapor polisi, bisa jadi ia borunan. Dan Vince... Kalian masih bersama?" Dokter membuat Shana bungkam.
"Tolong aku paman... Sekali ini saja. Kumohon ..."
Shana merengek pada Dokter Kim. Dan Dokter itu pun tak ada daya untuk tidak menolong anak temannya.
"Tolonglah paman... "
"Mmm... Baiklah. Tapi kalian tetap harus berhati hati. Perkuat penjagaan disini dan kebun. Aku akan menelpon rumah sakit untuk membawa peralatan yang dibutuhkan."
Dokter Kim keluar rumah untuk menghubungi rumah sakit. Shana menjadi lega ia kembali masuk kekamar pemuda itu pingsan. Disana juga ada Freya.
"Maria membersihkan nya kak. Tubuhnya penuh dengan luka juga lumpur. Apa yang terjadi padanya? Aku sangat penasaran." Gumam Freya saat Shana berdiri disampingnya.
Shana juga memikirkan hal yang sama. Mereka berdua melihat Maria membersihkan tubuh pemuda itu dan mengenakan pakaian.
"Nona... Maafkan aku telat. Diluar hujan deras sekali." Ben datang tergesa gesa mencari Shana.
"Dimana Belen?" Tanya Freya.
"Dikamarnya..." Jawab Ben singkat.
Ia mendekati pemuda itu dan memperhatikan sambil mencari tahu jika ada identitasnya. Ben mengambil celana kotor yang dibuka Maria daei tubuh pemuda itu. Ia memeriksanya dan menemukan sebuah dompet kecil berisikan identitas pemuda itu.
"Chan Dermot, Shana ... Dia bukan buronan. Lebih terlihat seperti korban perampokan. Hanya dompet kartu yang tersisa. Dan ini ...." Ben mengangkat tangan kanan pemuda itu.
" Kalian lihat? Ada bekas jam tangan dan juga cincin yang direnggut paksa darinya. Bahkan penyamun itu mengambil semua pakaiannya. " Jelas Ben .
Shana dan Freya menggangguk tanda paham apa yang dikatakan Ben sangat masuk akal.
"Siapa dia?" Tanya Belen mendekati Shana.
__ADS_1
"Orang yang ditemukan dikebun jagung Bel..." Jawab Shana singkat. Ia kembali mengikuti Ben untuk lebih menyelidiki tentang pemuda itu.
"Chan Dermot... Aku seperti pernah mendengarnya..." Ben berpikir keras. Tapi dia tak menemukan hasil.
"Nama yang bagus bukan?" Gurau Freya untuk memecah ketegangan disana.
"Dan dia juga tampan..." Belen mendekati dan memperhatikan wajah yang mulai bersih itu. Hanya tertinggal sayatan luka.
"Aku akan berjaga disini malam ini. Siapa tau dia hanya pura pura dan punya maksud lain." Ben keluar dari kamar tersebut dan pergi kekamarnya. Maria melihat itupun lalu mengikutinya.
"Ben.. kau dari mana bersama Nona Belen ?"
Ben berhenti didepan Maria dan memperhatikan nya dari atas hingga bawah.
"Dia bukan kau Maria.." Ben kembali menuju kamarnya.
"Jangan ikuti aku lagi. Nop disana mencarimu... Perhatikan saja suamimu Maria..."
Maria ternganga berdiri melihat Ben meninggalkannya.
'Kenapa dia tidak manis lagi kepadaku? Apa aku berbuat kesalahan?'
"Kakak... Apa kau yakin akan merawat pemuda ini? Maksud ku Chan Dermot .." tanya Belen serius.
"Aku ingin membantunya, dan kita akan tanya saat ia sembuh." Jawab Shana. Ia dan Freya keluar dari kamar itu untuk melanjutkan tontonannya yang tertinggal.
'Apa Tuhan mengirimmu untuk ku Chan? Karna aku sangat ingin mempunyai pria disisi ku.'
Belen mengelus wajah tirus milik pemuda yang diduga bernama Chan Dermot. Ia meraba seluruh tubuh Chan. Dan perhatian nya tertuju pada bagian bawah Chan yang terlihat padat dan berisi.
'Cepatlah sembuh Chan... Kita akan menjadi partner.'
Belen tersenyum dan merasakan detak jantungnya berpacu lagi. Wajahnya seakan panas dan terlihat kemerahan merahan.
Pandangannya tertuju pada bagian bawah Chan. Dan dengan sengaja ia mengelus benda itu. Hingga memberikan efek yang mengejutkan.
Suara erangan terdengar dari Chan yang masih terlihat lemas. Matanya mulai mengerjap dan jemarinya ikut bergerak.
"Apa dia sadar?" Belen menarik tangannya dan berdiri sedikit menjauh dari Chan.
__ADS_1
"Karna sentuhan ku padanya?? Ia terbangun..."
'Benar ... Ia terbangun karna aku menyentuh bagian vitalnya. Tangan ini sangat tidak sabar. Tapi benda itu terasa kenyal dan membuat ku betah untuk menyentuhnya.'
Belen mematung melihat Chan yang mulai membuka matanya pelan. Dengan lirih ia mencoba untuk duduk. Tapi keadaanya tidak mungkinkan hal itu terjadi. Sehingga Belen mendekat.
"Berbaring saja...! Luka mu belum sembuh..."
Belen membantu Chan untuk kembali berbaring. Ia keluar dan memanggil kedua saudarinya. Ben pun datang membawa segelas minum.
"Dia sudah sadar?" Tanya Shana masuk kekamar.
"Berkat Belen..." Jawab Ben dengan senyuman manis nya.
Belen hanya menanggapi dengan senyuman. Ia melihat Ben mendekati Chan. Mencoba berkomunikasi dengannya.
"Apa kau bisa melihatku... Jika kau mendengar anggukan kepalamu..."
Chan mengangguk kan kepalanya sekali. Lqlu menunggu Ben untuk bertanya lebih lanjut.
"Chan Dermot... Itu namamu?" Chan mengiyakan lagi.
"Apa dia sudah siuman?" Tanya Dokter Kim saat membawa peralatan medis masuk kedalam kamar.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hi pembaca ku, semoga kalian menikmati cerita dan alurnya. Mohon saran nya ya untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih..
__ADS_1
Salam cintooh...