
"Ben tangan mu... Keluar dari sana.!"
Tangan itu semakin meremas dengan lembut. Bahkan kedua bukit Kembar Belen dijangkau Ben. Menyebabkan gadis itu mendesah dan menutup matanya.
"Kau menyukainya?" Bisik Ben tepat ditelinga Belen. Ia sedikit menggigit bagian telinga Belen hingga membuat gadis itu bergidik geli.
"Ben...!" Teriak Belen lembut agar Ben menghentikan kegiatan tangannya.
"Berbalik lah..." Ajak Ben pada Belen. Dengan ragu ragu gadis itu berbalik menghadap Ben. Hingga jarak wajah mereka sangat dekat. Ben sedikit menunduk dan mendaratkan kecupan dibibir manis Belen. Gadis itu terbelalak kaget.
"Aku bersusah payah untuk tidak melakukan ini pada mu dari dulu Belen. Dan sekarang aku ingin melakukannya."
Tanpa menunggu jawaban Belen, Ben mendaratkan kecupan lagi. Ia kembali melepaskan dan melihat ekspresi yang diberikan Belen.
"Kau bisa melawannya Belen." Suara Ben lirih.
Ben kembali mengecup pipinya dan berlabuh di dibibir manis gadis itu. Belen semakin terpaku dan seperti membatu.
Tangan Ben masuk kedalam baju Belen dan menghampiri daging kenyal Belen. ******* gadis itu mulai terdengar. Tak sadar ia memejamkan matanya menikmati sensasi yang belum pernah ia rasakan.
"Bagaimana menurutmu dengan pak tua ini nona muda?" Bisik Ben menatap wajah ayu Belen.
Wajah Belen memerah karna malu. Ia segera turun dari tempat tidur dan lari kekamar mandi. Ben tertawa ditempat tidur sambil menetralisir kan kembali senjatanya yang sudah menegang.
"Sialan Ben... Ia menyentuh ini dan ini... Diciuminya."
Belen bercermin sambil menyentuh bibirnya dan mengulas senyuman sambil tersipu malu. Setelah mandi Belen membuka pintu kamar mandi pelan mengintip keruangan kamarnya.
"Dimana dia?"
Belen tak melihat Ben. Ia bergegas berpakaian dan melihat keluar. Disana hanya ada Maria yang sedang memasak untuk makan malam.
"Maria.. kau melihat Ben?" Tanya Belen seperti sangat merindukan pria itu.
"Tidak nona, aku baru saja kedapur. Mungkin dikamarnya, sebaiknya nona hubungi saja." Jawab Maria sambil membersihkan sayuran.
"Terimakasih..."
Belen mengambil ponselnya dan menelpon Ben.
"Pak tua, aku ingin makan makanan pedas sekarang. Karna sudah mulai gelap, kau temani aku..." Perintah Belen dengan nada tegas.
__ADS_1
"Bisakah itu besok saja nona? Sekarang aku ingin menjemput Freya." Jawab Ben sambil tersenyum.
'Gadis ini.. apa dia terpikat denganku?' pikir Ben.
"Kita bisa makan makanan pedas sebelum mengajak Freya. Atau dia juga boleh ikut." Alasan Belen.
"Tapi nona .. kau tau sendiri, Freya tidak suka makanan pedas." Kilah Ben lagi.
"Turuti mauku pak tua!!" Belen mematikan ponselnya dengan menggerutu ia berjalan kedalam kamar hendak bersiap siap.
Ben terkekeh kecil dikamarnya. Ia mengenakan jeans biru dengan kaos oblong putih. Dengan pakaian itu ia terlihat sangat tampan dan maskulin. Tubuhnya yang kekar membuat penampilan nya nyaris sempurna.
'Baiklah... Kau ingin bermain main denganku nona muda...' bathin Ben dengan senyuman kecilnya.
"Benar .. sepertinya Belen ingin selalu bersamaku... Hahaha..."
Tawa renyah Ben saat keluar kamar dan bersiul siul. Tapi ia urungkan karna disana ada Nop suami Maria. Ia tak ingin ada gosip tentang dirinya.
Ben berjalan keluar rumah, ia melewati pintu samping dimana ada banyak mobil yang terparkir disana. Walaupun rumah Akeno masih terbuat dari kayu, tapi dengan perawatan yang bersungguh sungguh rumah itu terlihat lebih unik dan antik.
"Cepat buka pintunya." Perintah Belen saat melihat Ben.
"Siap Nona..." Ben membuka pintu belakang. Ia sengaja menggoda Belen yang sudah berdiri dipintu samping pengemudi.
"Kau mengerjai ku?" Tanya Belen dengan wajah sinis.
"Hanya bermain main... Hahah" Ben tertawa hingga ia duduk dibelakang kemudi. Ia memperhatikan Belen sejenak dan tersenyum manis.
"Kalau pakaian mu seperti ini, kurasa kau akan aman hingga pulang nanti. " Ujar Ben memuji Belen.
"Ayo jalan... Aku lapar."
"Kau seperti putri tidur." Goda Ben. Belen merengut dan memalingkan wajahnya keluar jendela. Menahan senyumannya.
"Sudah... Tersenyum saja. Mengapa harus malu?" Ben melirik Belen.
"Ben... Bagaimana dengan pemuda itu? Tidak ada seorang pun dirumah." Ben hanya tersenyum menatap Belen.
"Jangan khawatir nona... Aku sudah menanganinya."
Belen ikut tersenyum dan kembali melihat kedepan. Sesekali ia mencuri pandang pada Ben. Ia memperhatikan bibir Ben yang cukup seksi baginya.
__ADS_1
'Bibir itu menyentuhku...' Belen tersipu malu. Ia salah tingkah saat dekat dengan Ben.
"Belen .. kau marah padaku?" Tanya Ben membuatnya terkejut.
"Hmm.. kenapa?" Tanya Belen heran.
"Kau tidak bicara sejak tadi. Bahkan kita hampir sampai." Jelas Ben.
"Aku hanya lelah, lebih baik jika diam. Dan kenapa aku harus marah? Apa yang kau lakukan Ben?" Tanya Belen dengan wajah serius.
"Atas apa yang terjadi Bel..." Jawab Ben singkat.
"Atas keinginan ku sendiri. Jadi itu bukan suatu kesalahan."
Belen menatap Ben yang sedang menyetir. Ben sesekali juga menatap Belen ia tersenyum dan menyentuh kepala Belen. Gadis itu mengambil tangan Ben dan mengecup telapak tangannya.
Ben hanya tersenyum mendapat perlakuan spesial dari Belen. Sang nona muda Akeno.
"Aku ingin seperti Maria."
Ben mendadak menekan rem, ia melihat kearah Belen yang terlihat serius tanpa ragu.
"Jika itu tak kudapati dari mu, akan kudapat dari pria lain." Lanjut Belen lagi.
"Belen, itu bukan cara terbaik."
Ben menatap Belen serius. Ia melihat keinginan Belen sangat kuat untuk merasakan perjuangan yang membuat terasa diawang awang, rasa bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata kata.
"Terserah aku Ben .." jawab Belen singkat.
"Ayo jalan kan mobilnya lagi." Perintah Belen.
"Kau ingin melakukan hal hal seperti itu dengan pria yang bukan menjadi suami mu kelak?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung