EUFORIA AKENO'S

EUFORIA AKENO'S
Bab 6


__ADS_3

"Siapa kau sebenarnya anak muda... Usia mu masih 25 tahun, tapi kau seperti dikejar oleh kelompokmu sendiri. Atau kau melarikan diri dari mereka? Dermot.... Aku seperti pernah mendengar nama itu. Apa kau seorang pemberontak Chan Dermot. Jika benar begitu saat kau sembuh kau harus keluar dari rumah Akeno. Karna kau bisa membahayakan ketiga nona muda ku."


Ben bicara sendiri sambil terus menatap Chan dari sofa. Pikiran nya menerawang, sekilas tentang Belen. Gadis yang membuat nya juga penasaran.


'Belen... Apa yang kau mau? Apakah pergumulan ku dengan Maria itu yang membuatmu seperti sekarang ini?'


"Aku begitu teledor, lain kali aku akan mencari tempat. Dan bukan di rumah ini. Jika Shana tau, bisa mati aku."


Ben tersenyum miring saat membayangkan tubuh molek Maria yang sangat indah. Bagaikan dibentuk oleh keinginan manusia. Begitu sempurna, bahkan dibandingkan dari ketiga Akeno, Maria memiliki tubuh paling cantik dan seksi.


Ben berdiri dari duduknya, ia merasa haus dan berjalan membuka pintu kamar untuk kedapur.


"Apa Belen masih menonton?"


Ben melihat televisi masih menyala tapi tidak ada siapapun disana. Terakhir kali ia meninggalkan Belen disini. Tanpa pikir ia mematikan televisi dan pergi kedapur mengambil air.


"Kenapa pintu kamar Belen masih terbuka?"


Ben berjalan mendekat kekamar Belen bermaksud hendak menutup pintu kamarnya.


"Gadis ini ceroboh sekali, aku sudah bilang untuk mengunci pintu kamar mereka. Dirumah ini ada orang asing dan banyak penjaga pria."


Tapi Ben penasaran ingin tau seperti apa kamar Belen. Semua dipenuhi oleh warna ungu.


'Dia menyukai warna Ungu...'


Langkah kaki nya seakan tak bisa berhenti dan rasa ingin taunya begitu besar sehingga ia masuk kekamar Belen.


Terdengar suara Belen dari kamar mandi. Terasa tak asing oleh Ben jika suara seorang gadis terdengar lirih dan mendesah. Artinya Belen sedang memanjakan dirinya.


Benar saja, pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca pun dibiarkan sedikit terbuka. Ben melihat pemandangan menakjubkan. Tanpa sadar ia masuk kedalam dan mengambil handuk untuk menutupi tubuh Belen.


Seketika gadis itu terkejut dan memalingkan wajahnya kebelakang melihat siapa yang datang.


"Ben... "


Rasa malu dan hasrat menggebu gebu menguasai diri Belen. Ia segera berbalik dan memeluk tubuh kekar itu. Ben menggendong Belen dan membawanya keluar kamar mandi.


"Kenakan pakaian mu Belen. Dan temui aku diluar!"

__ADS_1


Ben berusaha menahan hasratnya. Saat melihat anak perawan tanpa sehelai benangpun membuat jiwa liarnya bergejolak. Ia langsung keluar kamar dan menutup pintu kamar Belen.


"Ben... Sejak kapan dia masuk... Astaga... Dia melihat semuanya.. inj sangat memalukan!" Belen mengutuk dirinya sendiri dan bergegas berpakaian.


'Ah sial!! Gadis itu benar benar menakjubkan. Apa yang dia lakukan, memuaskan diri sendiri? Aku bisa gila jika terus dekat dengan nya '


Ia menuju dapur dan meneguk segelas air untuk menenangkan diri. Menghela nafas dan membawa segelas air kedalam kamar.


Ben memainkan ponselnya untuk melupakan apa yang baru saja ia lihat. Ia tak bisa membayangkan betapa murka nya Shana jika tau kejadian tadi.


"Ben... Kau didalam?"


Terdengar suara Belen mengetuk pintu kamar tempat ia menjaga Chan Dermot.


"Masuklah..."


'Akan lebih aman disini... Setidaknya bukan hanya aku dan dia. Disini ada Chan.'


Belen masuk kekamar, dan sialnya ia malah memakai pakaian yang gak kalah seksi dari sore tadi. Ben lagi lagi menelan ludah dan memalingkan pandangannya.


"Bukannya kau suruh aku tunggu diluar?" Tanya Belen.


Belen duduk disebelah Ben, walapun itu tidak dekat tapi sangat berbahaya untuk kesehatan Ben. Tapi mau bagaimana lagi, disana hanya ada satu sofa.


"Maafkan aku Belen."


"Untuk apa?" Tanya Belen.


"Antara aku dan Maria. Kami hanya bersenang senang. Maria membutuhkan ku .. dan aku membutuhkan seorang wanita. Kupikir, kau begini karna melihat aku dan Maria. "


Penjelasan Ben membuat Belen menundukkan kepalanya. Tanpa menjawab sepatah katapun ucapan Ben.


"Sudahlah... Aku hanya gadis polos yang belum mengenal dunia Ben. Jadi... " Ben menatapnya penuh tanya semakin ingin tau apa yang ada dipikiran Belen.


"Aku hanya penasaran tentang hubungan wanita dan pria. Menurutku itu sangat menakjubkan. Mungkin sebaiknya aku harus mencari seorang pria... "


"Apa dengan cara ini kau bisa mengenal dunia Bel?"


Ben mendekat dan menatap Belen sangat dekat. Ia ingin sekali mendarat dibibir manis milik Belen. Tapi tetap saja ia tahan. Dan ia berdiri berusaha menahan gejolaknya.

__ADS_1


'Ingat Ben... Dia nona muda mu... Bukan wanita yang bisa kau jadikan kekasih'


Belen hanya mematung, detak jantungnya seakan berpacu kuat dengan keinginan manusiawi nya.


"Ben... Apa aku boleh meminta sesuatu..."


"Apa?" Tanya Ben tanpa melihat Belen.


"Kau bisa melakukannya tanpa menyentuh ku?"


Pertanyaan Belen membuat ia semakin gila. Ia menghampiri Belen dan membawanya keluar dari kamar. Ia membuka pintu kamar Belen dan mereka berdua masuk.


Belen sedikit takut saat melihat Ben mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia terduduk ditepi tempat tidur nya.


'Apakah Ben akan melakukannya juga padaku .. sama seperti yang Maria rasakan?'


Ben mendekati Belen, ia duduk dilantai tepat dihadapan Belen. Menyentuh paha molek gadis tersebut. Dan membuka lebar kedua kaki itu. Menyelipkan kesamping penutup kain Belen.


Nafas Belen menjadi tak beraturan, wajahnya terasa panas dan terasa gelenyar aneh saat Ben menyentuh bagian intinya dengan mendaratkan sebuah ciuman.


"Aku bisa melakukannya, tanpa menyentuhmu Belen!"


Tatapan berkabut Ben sangat tajam, tanpa dia sadari senjatanya sudah menegang. Tapi ia berusaha tak menggunakan itu.


"Aku akan membantumu... Hanya kali ini. " Lanjut Ben.


Ia kembali mendaratkan ciuman dibagian inti Belen. Nafas gadis itu tersengal menahan rasa geli dan nikmat yang ia rasakan. Membuat ia bagai diawang awang.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2