
"Disana ada seseorang..."
Ben mempercepat laju mobilnya hingga berhenti didepan pintu rumah Akeno. Ia keluar mobil dan buru buru masuk kekamar yang dihuni oleh Chan Dermot.
"Kalian keluar!" Perintah Ben pada bawahan nya.
Setelah pintu kamar tertutup dari luar. Ben mendekati Chan Dermot yang masih duduk diatas tempat tidur.
"Katakan siapa dirimu?"
Pemuda itu hanya tersenyum memandang Ben. Ia menggeser duduknya lalu mengambil sesuatu dari bawah bantalnya.
"Ini... "
Ben mangambil secarik kertas yang sudah jelek dan tidak berbentuk. Ia menyalakan lampu terang untuk membaca tulisan didalamnya.
'Kau kerjakan tugasmu... Atau kau mati!'
Ben mengerucutkan bibirnya, tanda ia tak mengerti. Lalu mengembalikan kertas usang itu pada Chan.
"Aku menolak tugasku untuk membunuh kepala polisi diwilayah ini. Dan aku dikejar sebagai pemberontak oleh pemberontak juga." Jawab Chan jujur.
"Keberadaan mu disini dapat membahayakan keluarga ini."
"Aku akan pergi, saat aku kuat untuk berlari." Jawab Chan.
"Ingat, jangan ceritakan pada siapapun... Mereka akan ketakutan nantinya. " Ancam Ben.
"Terimakasih tuan ..." Chan tersenyum melihat kearah Ben.
Ben keluar dari kamar dan membiarkan penjaga masuk lagi. Melihat itu, kedua nona Akeno menghampiri Ben dan ingin masuk kekamar itu. Dengan sigap Ben membawa mereka keruang kerja Shana.
"Kenapa kita kesini pak tua?" Tanya Freya kesal. Ia ingin melihat rupa tampan yang tersembunyi dikamar tamu rumahnya.
"Dengarkan aku... Kalian jangan terlalu dekat dengan pemuda itu. Chan Dermot. Ia cukup bisa membahayakan nyawa kalian. Tolong dengarkan aku sekali ini. Jangan membuat Shana cemas pada kalian. "
Freya dan Belen saling menatap dan mengangguk lemas. Mereka tak biasanya melihat sikap Ben yang seserius seperti itu. Dan itu artinya semua ucapan Ben benar.
"Kembalilah kekamar kalian... Aku akan tetap berjaga jaga diluar..."
Ben meninggalkan kedua saudari itu. Mereka berdua berjalan masuk kekamar dan menutupnya dari dalam.
Saat Belen hendak masuk kekamar ia melihat Ben sedang berdiri menatap nya dari pintu dapur. Tanpa pikir panjang Belen menghampiri Ben dan memegang tangan Ben.
__ADS_1
Ia menarik Ben kedalam kamarnya. Entah kenapa pria itu patuh tak menolak saat Belen menarik tangannya.
"Ada apa?" Tanya Ben saat Belen menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Aku benar benar menginginkan nya..."
Belen memandangi wajah Ben yang terlihat cukup tegang mendengar ucapan Belen. Dalam hatinya gadis itu sudah bertekad dan tidak ada keraguan. Ia menjadi yakin sejak Ben mengungkapkan perasaan nya pada Belen.
Nafas Belen menjadi sesak, malu dan kecewa bersatu padu. Karna Ben hanya menatapnya tanpa berkata apa apa. Ia tak ingin Ben menolak keinginan nya. Melihat Ben berjalan mendekatinya yang berdiri didepan pintu. Senyumnya sumringah tak sabar ingin meluapkan rasa penasaran yang lama bersarang dihatinya.
Ben memeluk tubuh molek gadis itu lama. Dan mengecup beberapa kali kepala Belen.
"Jangan rusak dirimu Belen..."
Ben membuka kunci pintu dan keluar dari kamar Belen dengan perasaan yang bercampur aduk. Senang, cemas, nafsu dan takut. Ia beranjak kedapur mengambil segelas air minum dan menegaknya hingga habis.
'Gadis itu benar benar menguji imanku ..'
Ben kembali mengambil segelas air dan lagi lagi menghabiskannya.
"Kau kenapa?"
Ben dikejutkan oleh Freya yang mengambil cemilan didalam kulkas. Ia hanya tersenyum dan berjalan keluar dapur. Freya hanya geleng geleng kepala.
Tapi ia berhenti didepan kamar Chan. Karna tak melihat Ben disana.
'Mungkin Ben kekamarnya... Aku hanya ingin berkenalan saja dengan Chan. '
Freya membuka pelan pintu kamar Chan, ia melihat dua orang penjaga menatap heran dirinya yang tiba tiba masuk kekamar Chan.
'Aku hanya ingin melihat kondisi pemuda itu ..'
Freya berjalan mendekati tempat tidur dimana Chan tidur.
"Kau sudah sadar tuan Dermot?" Sapa Freya yang melihat Chan juga menatapnya.
"Nona... Maaf merepotkan keluarga mu. Tadi ayah mu kesini dan ..."
"Ayah?" Freya memotong kalimat Chan yang membuatnya tertawa.
"Kenapa?" Tanya Chan heran.
"Apa kau bisa melihat arwah?" Tanya Freya bersungguh sungguh.
__ADS_1
"Maksudnya Tuan Ben... Nona Freya...." Jawab penjaga yang mengikuti pembicaraan mereka.
"Oh.. Ben... Dia bukan ayahku... Tapi dia segalanya bagi kami. Dia... Ayah, paman, kakak, kakek, guru dan pelindung kami. " Jelas Freya sambil tersenyum manis.
Penjaga jga ikut tersenyum mendengar perkataan Freya tentang Ben. Termasuk juga Chan yang terkesima melihat senyuman simpul Freya yang teramat manis dan tulus.
"Ya... Terimakasih untuk keluarga kalian." Chan menunduk kan wajahnya sedikit untuk memberikan rasa hormat bagi empunya.
"Jangan terlalu formal, aku masih kuliah. Dan kami bukan pejabat negara. " Freya mulai berbicara santai.
"Aku Chan Dermot..." Chan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Freya.
"Aku Freya Akeno... Dan kedua kakak ku Shana Akeno dan Belen Akeno. " Freya menjabat tangan Chan dengan lembut.
"Kalian ketiga nona muda Akeno? Oh... Aku beruntung sekali bertemu kalian..." Chan terlihat senang dan bahagia.
Pandangannya tak luput dari Freya. Sudah pasti ia mengagumi wajah ayu yang cantik dan ramah tersebut.
"Beristirahat lah... Besok aku akan melihat keadaan mu lagi. Selamat malam tuan Dermot.."
"Selamat malam nona muda..." Jawab Chan lirih.
Ia memandangi punggung Freya yang sudah tak terlihat lagi dibalik pintu.
'Cinta pada pandangan pertama...' bathin Chan.
Sementara itu Belen berendam air hangat didalam bathtub sambil sesegukan menangis. Ia merutuki tingkah konyolnya pada Ben. Ia sangat malu, bahkan tak sanggup untuk bercermin.
"Tolol... Belen!! Kau meminta nya seperti anak meminta uang pada ibunya. Dimana mukaku akan ku letakkan saat bertemu Ben nanti .."
Belen terus memukul kepalanya dan menutup matanya dengan wajah memerah.
"Tapi aku benar benar ingin melakukan hal itu. Aku ingin tau rasanya syurga dunia yang lebih pasti. Walaupun Ben pernah.... Itu tak buat ku puas. Aku ingin lebih dari itu Ben... Karna aku juga mencintaimu... Kau pekalah sedikit Ben..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung