
"Ben... Apa pemuda itu sudah sadar?" Tanya Shana saat dimeja makan.
"Semalam ia terbangun sekali, meminta segelas air. Lalu tertidur lagi. Pagi ini aku belum melihatnya bangun." Jawab Ben atas pertanyaan Shana.
"Kakak... Aku akan pulang telat hari ini. Banyak tugas yang harus kulakukan." Shana menggangguk pada adik bungsunya.
"Kenapa tidak mengerjakan dirumah saja Freya?" Timpal Ben.
"Aku harus bolak balik mengambil buku diperpustakaan Ben. Itu akan sangat merepotkan. Jika sudah kemalaman suruh seseorang menjemputku."
"Perintah diterima nona muda..." Jawab Ben sambil tersenyum.
"Dimana Belen? Aku tak melihatnya.." tanya Ben pada mereka berdua.
"Mungkin masih dikamarnya."jawab Freya singkat.
Ben mangangguk dan mereka pun melanjutkan sarapan pagi. Senyum Ben tersungging saat mengunyah makanan. Itu membuat Shana dan Freya ikut tersenyum.
Seandainya mereka tau apa arti senyuman Ben, pasti mereka akan membunuhnya.
Ponsel Shana berbunyi ia melihat sekilas, senyuman nya melebar saat tertera nama Vince disana.
"Angkat saja..." Ben yang mengerti memberikan peluang untuk Shana.
"Sebentar... kalian teruskan sarapan." Shana berlari kearah kamarnya.
"Hallo..."
'Shana... Aku didepan rumahmu..'
"Benarkah? Aku akan keluar"
Segera Shana kembali berlari kearah halaman, sehingga Ben dan Freya menatap heran putri sulung Akeno itu.
"Ada apa dengannya?" Tanya Freya pada Ben.
Ben hanya mengangkat bahunya. Lalu melanjutkan sarapan nya kembali.
"Vince ..." Teriak Shana saat melihat Vince berada didepannya. Mereka berpelukan untuk melepaskan rindu yang lama terpendam karna sudah lama tidak bertemu.
"Miss u Hunny .." Bisik Vince saat memeluk Shana.
Dan Vince mendaratkan ciumannya pada Shana. Dan mereka berpelukan lagi.
"Masuklah... Kami sedang sarapan. Pasti kau belum sarapan."
__ADS_1
Vince menggeleng sambil tersenyum mengikuti Shana dari belakang bahkan tangan mereka masih saling menggenggam.
"Hi Vince... Lama tak melihatmu?" Sapa Ben yang berdiri untuk bersalaman dengan Vince.
"Kau nampak sehat pak tua... Haha" kelakar Vince yang tak berbeda dengan Shana.
"Kak Vince... Kemana saja kau? Aku kira sudah ..." Sapa Freya sambil adu jotos dengan kekasih kakaknya itu.
"Aku masih hidup calon dokter... Bagaimana kuliahmu?" Tanya Vince yang sudah cukup akrab dengan keluarga Akeno.
"Semoga aku tidak gugur kak Vince." Jawab Freya dan kembali duduk.
"Makan lah..." Shana selesai menyiapkan makanan untuk Vince.
"Calon istri terbaik.." goda Ben.
"Mm... Hunny... Dimana Belen? Aku tak melihatnya." Tanya Vince saat tak melihat Belen.
"Dia masih tidur... Mungkin karna menonton televisi semalam. Ku dengar jam 2 dinihari televisi masih menyala."
Ben terbatuk dan segera meneguk air minum.
"Hati hati pak tua..." Kelakar Freya. Ia berdiri dan pamit pada semua untuk berangkat kuliah.
"Shana... Aku duluan... Selamat sarapan Vince."
Ia mengambil ponsel dan mengirimi Shana chat agar tak memberitahu perihal Chan Dermot pada Vince. Karna kekasih Shana adalah seorang polisi.
Dengan tenang ia menyuntikan kembali bius yang disediakan Dokter Kim. Setidak hingga Vince pergi dari rumah ini. Dan keluar mengunci pintu kamar dari luar.
Shana memperhatikan itu ia mengangguk pada Ben tanda ia mengerti akan isi Chat dari Ben.
Tak sengaja ia melewati kamar Belen yang masih tertutup.
'Apa gadis itu sangat kelelahan? Hahaha...'
Ben melanjutkan untuk menuju kekamarnya. Disana sudah ada Maria menunggunya. Ben melepaskan semua hasratnya yang tertahan setelah kejadian semalam bersama Belen.
Dan Maria buru buru keluar dari kamar Ben setelah semua selesai dengan indah, seolah olah mereka tak saling kenal.
Semua orang disana sangat menyegani Ben. Disamping ia orang kepercayaan Akeno, Ben juga sangat dingin kepada orang lain. Ia sangat gampang marah dan penuh wibawa.
Dan postur tubuhnya yang tinggi kekar membuat semua ciut. Dan Ben mempertahankan itu, kecuali saat bersama Akeno bersaudari ia akan jadi pria cerewet dan penuh perhatian.
"Shana... Waktu ku penuh untuk mu seharian ini, aku sungguh sangat merindukanmu Hunny. Pekerjaan ku baru selesai. Aku lega sekarang." Vince memeluk Shana dari belakang saat berada dikamar Shana.
__ADS_1
"Aku mengerti, walau kadang itu sangat menyakiti hatiku." Shana membelai kepala Vince dari depan.
"Dan berita baiknya..." Vince menggantung ucapannya.
"Apa?" Tanya Shana penasaran.
"Aku naik pangkat, dan..." Vince melepaskan pelukan nya dari tubuh Shana. Sehingga gadis itu menatapnya heran.
"Dan..."
"Dipindahkan dikota lain."
Shana langsung berjalan mundur beberapa langkah. Memang berita baik jika Vince naik pangkat. Tapi menjadi kabar buruk baginya saat mengetahui Vince pindah tugas keluar kota. Artihya mereka harus lebih lama lagi untuk berhubungan jarak jauh.
"Dan setahun setelah nya aku baru bisa menikah."
Penegasan Vince pada Shana sudah menyatakan bahwa ia belum bisa menikahi Shana untuk waktu yang dekat ini.
Shana mencoba menjernihkan pikirannya. Ia mencoba terlihat tegar, walaupun air matanya sudah terlanjur menetes. Vince mendekati Shana dan memeluk gadis itu hangat.
"Seminggu lagi aku akan bertugas disana, aku berjanji akan setiap hari menemui mu menjelang keberangkatan ku hunny... Don't cry hunny. I love you..."
Vince mendaratkan ciuman hangat pada Shana hingga nafas mereka tersengal sengal.
"Vince... Aku tak bisa." Shana sedikit mendorong tubuh Vince.
"Why?"
"Aku sedang datang bulan... Sayang sekali Hunny."
Shana mengusap lembut pipi Vince. Ia berbohong demi kebaikan dirinya. Ia tak akan memberikan apa yang sepatutnya ia berikan pada suaminya nanti. Dan Vince, waktu satu tahun tidak cukup membuatnya untuk lebih yakin pada Vince. Apalagi mereka akan terpisah dalam jangka yang lama.
Walaupun mereka pernah melakukannya beberapa kali, itu pun saat Shana mabuk. Jika ia dalam keadaan sadar Shana tentu lebih bisa menjaga dirinya.
"Aku hanya ingin berdua bersamamu Hunny, bukan memaksamu..." Vince memeluk Shana lagi, walaupun ada rasa kecewa dihatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung