
"Vince... Ada apa?" Tanya Shana masih penasaran dengan Vince.
"Aku mengantuk hunny, sebaiknya kita ke penginapan saja." Alasan Vince agar terlihat tetap macho.
Mereka keluar dari resto dan kembali kepenginapan yang telah mereka sewa sebelumnya. Shana berusaha tidak berpikiran jika Vince mendadak seperti ini karna kepedasan. Shana hanya bisa menahan tawanya dan tertawa sepuas puasnya di dalam hatinya.
' Dasar Vince... Mencoba menunjukkan seberapa kuat dirimu...' bathin Shana.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai dipenginapan atau sejenis homestay. Vince langsung mendapat telepon dari atasannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Shana setelah melihat Vince masuk kembali keruangan mereka.
"Aku sebenarnya mencari pemberontak, menurut info ia melarikan diri ke daerah ini." Jawab Vince singkat.
"Benarkah? Pemberontak sudah masuk wilayah ini?" Tanya Shana cukup terkejut. Dan ia tiba tiba teringat tentang pemuda yang ditemui penjaganya.
'Apa aku harus bilang pada Vince?' Shana terlihat berpikir keras.
"Kemana hunny?" Tanya Vince melihat Shana berjalan ke luar.
"Sebentar aku ingin memberitahu Ben. Agar kedua saudari ku aman." Jawab Shana jujur dalam kebohongan yg disembunyikan nya.
"Semoga Ben bersama Freya dan Belen..." Shana merasa cemas sambil menekan tombol nama Ben pada ponselnya.
"Ya Shana..." Jawab Ben ditelepon.
"Ini penting Ben... Apa kau bersama Freya dan Belen?" Tanya Shana berbisik.
"Ya... Mereka bersama ku. Kami makan diluar. Ada apa?" Tanya Ben heran.
"Syukurlah... Jangan tinggalkan pemuda itu Ben, dia seorang pemberontak yang dikejar polisi. Tapi rahasiakan ini dari Belen dan Freya." Jelas Shana berbisik lagi.
"Aku mengerti..." Jawab Ben sambil memutuskan sambungan telepon.
"Aku lega sekarang..." Shana menghela nafas dan berbalik kekamar.
Ia melihat Vince sudah berdiri didepannya sambil memegang dua gelas anggur ditangannya.
'Apa Vince mendengar percakapan kami ditelepon?' bathin Shana.
"Kau baik baik saja Hunny?" Tanya Vince yang melihat Shana cukup gugup melihatnya.
"Ya... Ya.. aku baik.." jawab Shana sambil mengambil segelas anggur ditangan Vince.
"Kenapa wajahmu seperti melihat hantu? Apa saudari mu baik baik saja?" Tanya Vince cukup jujur.
__ADS_1
"Mereka diluar bersama Ben..." Jawab Shana.
"Syukurlah... Kalian jangan keluar tanpa pengawalan dulu untuk sementara ini." Tegas Vince pada Shana sambil membawa kekasihnya kembali kedalam kamar.
"Baiklah Vince ..." Shana merebahkan tubuhnya sambil meletakan ponselnya dinakas.
"Sayang, kau tak ingin memelukku?" Bisik Vince mendekat pada Shana.
"Vince... Aku sedang datang bulan." Jawab Shana sambil mengambil tangan Vince dan meletakan ke bagian bawahnya.
"Aku janji .. hanya berpelukan saja. " Bujuk Vince.
Shana berbalik dan memeluk kekasihnya didalam balutan selimut. Ia sengaja memakai pembalut untuk meyakinkan Vince bahwa ia sedang datang bulan.
Hubungannya dengan Vince sudah terasa agak hambar. Vince hanya mementingkan hasratnya agar tersalurkan. Sudah beberapa tahun berhubungan tak pernah terbersit dipikiran Vince untuk melamar Shana. Padahal gadis itu sangat mencintainya.
'Maaf Vince .. aku melihat kesungguhan mu dulu sebenar tubuh ini benar benar milikmu .. sekarang aku mulai meragukanmu. ' bathin Shana dalam dekapan pria yang terlihat menahan hasratnya.
Shana sengaja memejamkan matanya, agar ia cepat tertidur.
.
.
.
Belen dan Freya menggangguk, mereka tak ingin bertanya karna mereka tau saat Shana menghubungi Ben. Mungkin saja itu sangat penting.
"Kami selesai, kita pulang saja. " Kata Belen sambil mengambil ponselnya.
Mereka berjalan kearah mobil sambil menunggu Ben membayar dikasir. Saat pemuda itu berjalan mendekati mobil, Belen terpesona akan kharisma Ben yang seperti mentari yang selalu bersinar.
Ia terpukau tanpa berkedip, hal hal indah memenuhi pikirannya. Tanpa sengaja senyuman indah tersungging dibibirnya.
"Kakak..." Freya menggoyang bahu Belen yang terus tersenyum menatap Ben yang sudah berada disampingnya.
"Ya..." Jawab Belen masih dengan senyuman.
"Ben bertanya, dimana ponselmu." Freya terlihat dengan tingkah Belen. Ia juga ikut tersenyum.
"Ponsel? Ini... Ponsel ku ada. " Belen mengambil ponsel dan menyerahkan pada Ben.
"Ponsel ku mati." Ben mengambil ponsel dan menelpon beberapa penjaga dirumah.
"Nop... Kau awasi pemuda itu. Aku akan segera sampai." Titah Ben pada Nop.
__ADS_1
"Tapi tuan Ben, pemuda itu sudah terbangun. Tadi ia meminta makanan." Jawab Nop.
"Panggil yang lainnya untuk membantumu. Jangan berjaga seorang diri."
Ben menutup ponsel dan memberikan pada Belen. Gadis itu sengaja memegang tangan Ben sedikit lama. Ben melihat lewat kaca spion kearah Freya. Takut Freya melihat mereka berpegangan tangan. Tapi rupanya gadis itu sedang asik dengan ponselnya.
Ben membiarkan tangannya dipeluk dan diraba Belen.
'Sungguh ini ujian yang sangat berat Tuhan ...'
Ben beberapa kali menarik nafas dan melihat kearah Belen yang tersenyum dengan sengaja menggodanya.
"Freya... Sepertinya kakak mu sedang jatuh cinta..." Belen melepaskan tangan Ben.
"Aku juga melihat Ben..." Jawab Freya tertawa kecil.
"Ternyata benar, bukan aku saja yang melihat itu .. hahaha" balas Ben lagi.
"Kalian jangan menertawai ku. Memangnya kalian tau kepada siapa aku jatuh cinta?" Tantang Belen.
"Maybe... Yess..." Jawab Freya sambil tertawa.
"Maybe ... No..." Timpal Ben lagi.
Lalu mereka berdua serentak tertawa. Belen cemberut dan membelakangi Ben. Ia melihat keluar jendela. Memperhatikan setiap jalanan dengan alunan tawa canda dari Ben dan Freya yang menertawakan nya.
'Bukankah ini sudah dekat ke rumah?'
Belen tiba tiba melihat seseorang yang terlihat sedang mengintai kediaman AKENO'S.
'Siapa dia??'
Belen mengerutkan keningnya. Ia terus menatap seseorang itu dari dalam mobil. Gerakan nya terlihat sangat mencurigakan.
"Ben, Freya... Diamlah." Ucap Belen serius.
"Disana, ada seseorang."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung