
"Kau ingin melakukan hal hal seperti itu dengan pria yang bukan menjadi suami mu kelak?" Ben berusaha mengajaknya diskusi.
"Apa bedanya pria itu dengan mu." Jawab Belen sambil menatap Ben tajam.
Ben memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Ia menghela nafas sejenak beberapa kali dan menatap heran pada Belen.
"Belen, aku hanya mematuhi perintah majikanku. kau lupa kalau itu kemauan mu Belen? Jadi jangan jadikan aku kambing hitam atas apa yang telah terjadi diantara kita. Dan .. dengan Maria, itu privasiku, tak seorang pun berhak mengatur hidupku. Dan kau bukan kekasihku. Aku menerima bayaran dari Akeno selama bertahun tahun, bahkan saat kau masih ingusan. Jaga bicara mu Belen.." jawab Ben panjang lebar dengan sedikit menahan emosi.
Belen meneteskan air matanya, dan segera ia menyekanya lagi. Hatinya begitu sakit mendengar bahwa Ben melakukan itu hanya karna ia mematuhi perintah majikan nya. Bukan karna ia menyukainya.
Ben melajukan mobilnya lagi tanpa menoleh pada Belen. Sama halnya dengan Belen, Ben juga merasakan sakit dihatinya saat mengatakan sesuatu uang berarti ia tak menyukai Belen.
'Maafkan aku Belen... Aku ingin kau tau kita tidak sepadan. Jikalau kau tau aku menyukai mu semenjak kau ingusan. Tapi kau seorang Akeno... Itu membuat sulit hubungan ini jika terjalin.'
Ben menarik nafas dan menghembuskan nya kasar. Ia menggeleng gelengkan kepalanya, pertanda ucapannya tidak sesuai dengan hatinya. Tiba tiba ia memberhentikan lagi mobilnya didepan sebuah taman. Belen sempat terkejut ia sampaiihat kearah Ben yang tak menatapnya sama sekali.
"Kau ingin aku turun disini?" Tanya Belen dengan suara gemetar.
Ben menoleh, memandang wajah ayu itu dalam dalam. Ia merengkuh pundak Belen dan memberikan kecupan dibibir Belen. Belen terkejut dengan sikap Ben. Bukankah apa yang dia katakan itu sangat bertolak belakang dengan tingkahnya?.
"Ini aku... Aku yang menyukaimu Belen. Tubuh ku bergerak dikendalikan hatiku untuk memberikan tanda sayang untuk orang yang aku sayangi semenjak dulu."
Belen kembali meneteskan air matanya. Hatinya seketika lega, perasaannya berbalaskan rasa suka dari Ben. Ia membalas ciuman yang lagi diberikan Ben. Mobil itu menjadi saksi awal cinta mereka. Mungkin jika tempat itu aman bagi mereka berdua, mereka sudah melepaskan rindu seperti pasangan yang sedang LDR.
"Ben..." Lirih Belen dengan Terisak.
"Belen... Aku menyukai mu.. sejak kau kecil. Tapi aku menyadari seorang Akeno tidak mungkin bersama dengan kepala penjaga mereka. Jadi kuminta, jangan terlalu dalam untuk urusan hati Belen. Jika tidak kita akan sama sama tersakiti." Jelas Ben dengan suara lembut.
Dreet...
Dreet...
Pembicaraan mereka terputus karna ponsel Ben berdering. Itu panggilan dari Freya.
'Pak tua, dimana kamu? Aku sudah lama menunggu. Dan disini juga sudah mulai sepi.' rengek Freya pada Ben.
__ADS_1
"Aku sudah dekat Freya..."
Ben segera menyalakan kembali mobilnya. Mengelus sebelah pipi Belen dan tersenyum. Ia melajukan mobilnya ke kampus Freya yang tak jauh lagi dari sana.
"Ben... Aku mencintaimu." Belen menatap Ben dari samping berharap pria itu mengatakan hal yang sama.
"Belen... Sudah kubilang jangan pakai perasaan mu terlalu dalam. Ini akan sangat menyakitkan kita. " Ben menggenggam jemari Belen dengan lembut. Seakan tak ingin lepas lagi.
"Tapi Ben .." sanggah Belen.
"Dengarkan aku Belen. Aku hanya kepala penjaga dirumah mu. Yang digaji oleh kalian. Apa kata dunia jika aku berhubungan dengan mu. Itu akan mencoreng nama Akeno." Alasan Ben agar Belen mau mengerti.
"Tapi kami yatim piatu Ben. Aku yakin kedua saudari ku akan memahami kita." Bujuk Belen lagi.
"Tunggu aku menghubungi mu." Jawab Ben karna sudah memasuki area parkir kampus Freya.
Freya langsung mendekati mobil dan membuka pintu belakang. Ia tak sadar ada Belen disana.
"Lain kali jangan terlalu malam pulang nya Fre... Bisa bahaya. " Sapa Belen dari depan.
"Ya.. aku ingin makan makanan pedas." Jelas Belen.
Ia terus melirik kearah Ben. Entah kenapa pria dewasa itu semakin tampan dan gagah dimatanya. Apakah itu karna cintanya untuk Ben. Semua akan terlihat dengan indah.
"Aku tidak suka pedas, carikan untukku makanan yang normal saja kak.." celetuk Freya.
"Disana juga ada level 0 untuk balita.. hahah" tanya renyah Belen membuat Ben ikut tersenyum.
"Kakak... Jangan mengolok ku..." Freya dengan menunjukkan wajah cemberut namun sangat imut.
"Jangan bertengkar .." sanggah Ben.
Mereka bertiga masuk ke resto langganan Belen dan memesan makanan.
.
__ADS_1
.
.
"Hunny... Sudahlah, jangan menangis. Orang orang akan mengira aku melakukan KDRT padamu." Bujum Vince pada Shana disebuah resto.
"Vince... Aku sangat kepedasan.. dan aku bukan Belen. Mengertilah.. mulutku terasa terbakar." Shana bicara dengan susah payah.
Vince mendekati Shana dan mendaratkan sebuah ciuman yang benar benar hot pada Shana. Hingga Shana merasa tidak kepedasan lagi.
"Aku akan mengambil rasa pedasmu." Ujar Vince lalu kembali duduk di kursinya.
"Ya ampun... Vince .."
Shana tertawa kecil dengan wajah memerah karna banyak pengunjung resto yang memperhatikan mereka. Netizen sejenis hakim dunia yang dapat menyidangi mereka secara langsung atau tak langsung. Ada tertawa dan ada yang julid melihat mereka. Bersyukur mereka tak mendengarkan.
"Aku akan membawamu kesuatu tempat Hunny. Bersiaplah... Aku kekamar mandi sebentar." Vince berdiri dan kekamar mandi.
Setiba disana ia buru buru membasuh mulutnya yang terasa terbakar. Ia sengaja menahan nya didepan Shana agar kekasihnya merasa kagum padanya.
'Benar benar ciuman yang panas... Ini sudah level terbakar ...heheh' bathin Vince masih melihat cermin.
"Kau baik baik saja Vince?" Tanya Shana melihat wajah Vince cukup memerah. Dan Vince hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1