EUFORIA AKENO'S

EUFORIA AKENO'S
bab 8


__ADS_3

Dering ponsel membangunkan gadis yang masih tertidur hingga menjelang siang ini.


Belen mencari dimana ponsel ia letakan. Dan melihat siapa yang menghubungi nya. Seketika senyumannya merekah dan bergegas duduk.


'Pagi nona muda .. maksudku... Selamat siang nona muda ..' suara Ben terdengar dari seberang.


Belen tersipu malu. "Kau mengganggu ku pak tua..."


'Pak tua yang bisa menyenangkan mu nona muda.. hahaha..' terdengar tawa renyah Ben dari sana.


"Yah... Sangat menyenangkan." Balas Belen.


'Bangunlah Belen, Vince datang menemui kakakmu. Mungkin sekarang mereka ada dikamar Shana.'


"Aku sangat malas untuk keluar kamar hari ini Ben. Biarkan aku tetap tidur. Suruh saja Maria mengantarkan makanan untuk ku."


' Apa kau begitu lelah Nona?' goda Ben.


"Benar aku sangat lelah, karna kau menyerang berkali kali. Dan berkali kali juga aku..."


Belen menghentikan ucapannya. Apa yang baru saja ia katakan. Itu akan sangat memalukan.


"Sudahlah... Aku menutup teleponnya."


Belen mematikan ponsel dan memegang dadanya yang berdetak kencang.


"Kenapa pak tua itu selalu membuat jantung ku tidak aman? Apa... Aku menyukainya?"


Belen kembali menarik selimut dan menutup matanya. Senyuman manis itu tak pudar dari wajahnya.


"Dasar gadis manja, aku hanya melakukan dengan mulutku... Dia sudah selelah ini. Apalagi jika naga ini memasuki nya. Apa dia akan pingsan seminggu? Hahahha... " Ben tertawa saat mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan.


"Apa aku bawakan dia makanan kekamarnya? Jika dia sakit pasti aku yang paling repot."


Ben berjalan keluar rumah, ia menatap sekeliling mencari Maria. Dan ia menemukan Maria sedang berduaan dengan suaminya.


"Hemm... Maria..."


"Ya Tuan .."


"Siapkan makanan untuk makan siang nona Belen. Ia sedang tidak enak badan. Aku akan mengantar kekamarnya. Setelah selesai kau letakan di meja makan."


Ben meninggalkan pasangan itu tanpa menoleh sedikit pun. Maria semakin terpikat oleh pesona Ben.

__ADS_1


"Sebentar sayang .. " Maria mengecup pipi suami nya dan berlari kecil untuk melakukan apa yang diperintahkan Ben.


Ben duduk didepan televisi sambil mengawasi kamar tempat Chan dirawat. Ia melihat Shana dan Vince keluar dari kamar.


"Kalian mau kemana?" Tanya Ben seperti seorang ayah pada anaknya.


"Ben, aku akan keluar bersama Vince. Mungkin akan kembali besok. Aku percaya kan semuanya padamu Ben." Shana berdiri didepan Ben untuk pamit.


"Baiklah... Kalian bersenang senanglah. Jaga dirimu Nona Shana." Ben berdiri dan mengiringi mereka hingga pasangan itu naik mobil.


"Baiklah... Hanya ada pak tua ini dirumah menjaga pemuda yang terluka."


Ben masuk kedalam kamar Chan sambil menggerutu. Ia melihat kondisi Chan. Dan mengganti infus yang sudah habis.


"Cepatlah kau sembuh Chan, kau sangat merepotkan!"


Ia kembali keluar kamar dan menguncinya, melihat Maria mempersiapkan makanan. Tanpa bersuara Maria memperhatikan Ben yang sedang memotong buah.


'Sungguh sangat dingin. Tadi ia dapat bercinta dengan penuh gairah. Seperti dua orang yang berbeda.' bisik hati Maria melihat Ben.


Lelaki itu sama sekali tak menatap wajahnya. Setelah Maria keluar dari dapur, ia mengambil nampan berisi makanan. Dan masuk kekamar Belen.


'Benar saja, gadis ini tidak pernah mengunci pintu kamarnya.'


Ia mendekat dan mengelus lembut pipi Belen yang terlihat cantik walaupun sedang tidur.


"Kau lelah nona muda? Apa lidah ku membuat mu melayang?" Ben tertawa sendiri membayangkan kejadian semalam bersama Belen.


Dan Ben pun mengantuk karna terlalu lama menunggu Belen bangun. Ia merebahkan tubuhnya disamping Belen terlelap.


Dan menutup matanya yang terasa berat berkat pergumulan tadi pagi bersama Maria. Ia juga merasa cukup lelah.


Belen merasa ada seseorang yang tidur disampingnya. Didalam mimpinya ia melihat Ben sedang tidur sekasur dengannya. Dengan senyuman merekah Belen mendekat dan memeluk Ben erat.


Begitupun Ben, yang tak sadar ia juga membalas pelukan Belen. Mereka berdua terlelap cukup lama. Belen mengerjapkan matanya merasakan ada sesuatu dibelakangnya dan ada tangan kekar di dalam bajunya.


Pelukan yang begitu hangat yang belum pernah ia rasakan. Hembusan nafas hangat dari seseorang ditengkuknya membuat bulu kuduk berdiri.


'Apa aku masih bermimpi? Dan tangan ini telah berani masuk ke baju ku dan menggenggam kedua bukit kembarku. Ah aku masih bermimpi.'


Belen membuka matanya dan merasakan ada tonjolan keras dipahanya. Ia mencoba menggoyangkan tubuhnya dan benar ini bukan lagi mimpi.


Belen benar benar membuka matanya lebar lebar. Dan merasakan cubitan kecil di lengannya.

__ADS_1


'Aku sedang tidak bermimpi, dan aku sedang dipeluk seseorang dari belakang. Siapa itu? Apakah pemuda itu?'


Belen segera memalingkan wajahnya kebelakang dan tepat mengenai bibir Ben yang masih tertidur. Belen tak sengaja mengecup bibir Ben.


'Ben? Kenapa dia ada disini? Tadi dia hanya menelpon ku.'


Ia bermaksud hendak membangunkan Ben, tapi ia urungkan karna Belen merasa sangat nyaman dalam posisi ini. Ia melirik jam dinding dan terkejut menyadari ia sudah tidur selama itu.


'Pukul 3 sore.. apa aku putri tidur?'


Belen tetap diam, ia mulai merasakan sesuatu saat tangan Ben bergerak meremas sebelah bukit kembarnya.


'Aiih... Itu sangat enak dan terasa geli.' pikiran Belen tak ingin menyudahinya.


Ia belum pernah merasakan sentuhan lelaki manapun walaupun ia sering kali mengenakan pakaian seksi. Mungkin karna ia keturunan Akeno yang disegani oleh warga kota ini.


"Ben... Ben .."


Belen mencoba membangunkan Ben dengan memanggil namanya.


"Ben... Bangunlah, aku lapar." Belen memanggil lagi.


"Belen, aku sangat mengantuk."


'Apa dia tau aku tak marah padanya? Bahkan ia memanggil namaku. Apa dia hanya pura pura tidur?'


"Ben tangan mu... Keluar dari sana.!"


Tangan itu semakin meremas dengan lembut. Bahkan kedua bukit Kembar Belen dijangkau Ben. Menyebabkan gadis itu mendesah dan menutup matanya.


"Kau menyukainya?" Bisik Ben tepat ditelinga Belen.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2