EUFORIA AKENO'S

EUFORIA AKENO'S
Bab 2


__ADS_3

Berjalan sendirian dikebun jagung, menikmati pemandangan menakjubkan. jagung yang sedang berbunga memperindah kebun.


Berkebun sama sekali tidak memungkinkan seseorang menjadi tua secara mental, karena terlalu banyak harapan dan impian yang belum terwujud.


Seperti itu juga harapan gadis cantik bertubuh molek ini, Belen. Begitu banyak harapan untuk mewujudkan cita citanya. Semua keindahan dan kebahagiaan yang ingin ia gapai.


Sesuatu yang baru tdi pagi ia temui, yang bahkan sampai kini masih melintas dipikirannya. Seketika wajahnya menjadi kemerah merahan karena malu. Beberapa kali ia menepuk keningnya untuk mengusir bayangan Ben yang terlihat sangat jantan.


'Aku akan minta kakak untuk memberhentikan Maria. Wanita transgender yang menikah bahkan memiliki suami yang sangat sayang padanya. Dasar ... Pria tua itu sangat nakal. Tapi... bukan kah semua orang tidak mengetahui jika Maria bukan lah wanita asli? Hanya aku yang tau.. mmmm. '


Belen melamun didepan kebun jagung yang sedang berbunga, bahkan sebagiannya sudah berbuah. Maria adalah pekerja dirumah mereka, Belen tidak sengaja mendengar pembicaraan Maria ditelepon. Saat ia bertengkar dengan seseorang suara Maria berubah besar dan sangat jantan.


Belen menegurnya, lalu Maria berlutut kepada Belen agar merahasiakan semua yang ia ketahui tentang Maria. Karna kasihan Belen berjanji untuk menjaga rahasia Maria.


"Apa aku sudah sepantasnya untuk mengenal pria?? Usia ku sepertinya sudah matang."


Belen tersenyum malu malu membayangkan siapa lelaki yang akan hadir dalam hidupnya dan bersemayam dihatinya.


"Nona muda..."


Belen mencari suara yang terdengar memanggilnya. Ia berjalan keluar dari kebun jagung untuk melihat siapa pemilik suara bariton tersebut.


' Ben...'


Dadanya berdegup kencang tak beraturan, bayangan pergumulan Ben dan Maria pun kbali melintas dikepalanya.


"Nona Belen... Apa kau mendengarku?"


Ben berjalan keluar dari mobil menghampiri Belen. Yang terlihat bingung melihatnya.


"Pak tua... Kau disini?"


"Hahahah... Dengar nona muda, aku masih sangat muda. Diusia ku sekarang aku adalah pria dewasa. Bukannya pria tua. Kau sama saja dengan kedua saudaramu. Hahaha.."


Belen tersipu malu saat Ben menghampirinya. Beberapa kali ia memperbaiki rambutnya yang diterpa angin.


"Dengarkan aku nona Belen .. jika kau ingin berjalan jalan dikebun jagung, sebaiknya memakai pakaian yang tertutup. Bukannya kau tau kalau terkena daun jagung itu sangat gatal."


Belen melihat pakaian yang dikenakannya, ia merasa risi karna Ben juga ikut memperhatikan pakaian yang cukup terbuka ia kenakan.

__ADS_1


"Ah.. iya. Aku lupa, tadi hanya ingin ketaman saja. Tapi bunga jagung jagung ini seakan memanggilku kesini Ben... Mereka sangat indah..." Belen melihat kembali ke kebun jagung yang sedang berbunga.


"Iya.. nona muda... Sama sepertimu. Jagung muda. Hahahahha...."


"Kau mau kemana Ben? Mau kah menemani ku sebentar?" Tanya Belen penuh harap. Entah kenapa Ben membuatnya menjadi sangat penasaran.


"Aku hanya mau pulang untuk mencuci mobil, tapi permintaan nona muda adalah perintah untuk ku. Baiklah akan kutemani sebentar. Tapi..."


Ben membuka kancing kemejanya, Belen terlihat panik. Ia memalingkan wajahnya kearah kebun. Tiba tiba tangan Ben sudah melingkar dari belakang tubuh Belen.


"Kenakan ini dikakimu.. celanamu terlalu pendek."


Belen mengambil alih kemeja itu dan mengikatnya simpul dipinggang rampingnya. Dan ia kembali menoleh kearah Ben, Seketika menelan ludahnya melihat tubuh Ben yang sangat membuat gila.


"Begini lebih baik untuk mu Nona Belen. Sayangnya aku tidak punya pakaian lagi untuk menutupi bagian atas mu yang terbuka. Kau berpakaian seolah kau sedang berada di India. Huh..?"


"Bagaimana dengan mu Ben? Bisa bisa kau yang terkena daun jagung. "


"Jangan hiraukan aku. Ayo... Kita mau kemana?"


"Hanya ingin berjalan didalam kebun ini. Aku sangat menyukai nya."


"Nona Belen... Apa kau melihat kami tadi pagi? Kau tidak ingin menanyakan nya?"


Deg ..


Belen seketika berhenti dan melepaskan gandengan tangannya dari Ben. Ia menjadi gugup karna merasa tertangkap basah.


'Kami? Apa maksudnya ia dan Maria?'


"Maksudmu?"


"Aku dan Shana pergi kepabrik tadi pagi. Dan pabrik sutra kita berkembang dengan baik."


'Astaga... Ternyata kepergiannya dengan Kak Shana. Aku salah duga... '


Belen tersenyum lega.


"Baguslah, karna saat ini kami bertiga belum ada satupun yang menikah. Dan Freya masih membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan nya. Kami beruntung memiliki mu Ben. "

__ADS_1


Belen kembali menggandeng Ben dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar Ben.


'Gadis ini... Sungguh ciptaanNya yang indah. '


Ben mengelus kepala Belen dan tersenyum. Mereka seperti pasangan sesungguhnya. Tapi Ben juga sadar siapa dia dan siapa gadis ini.


Belen tiba tiba meloncat kepelukan Ben, karna melihat seekor anak anjing. Dalam ketakutannya ia diam diam menikmati pelukan Ben yang sedang menggendong nya. Dada Ben yang bidang dan keringatnya yang wangi.


"Belen... Itu hanya seekor anak anjing."


"Tapi aku tidak menyukai semua binatang Ben! Kau pun tau itu."


"Baiklah, kita pergi dari sini."


Ben menggendong Belen keluar sari kebun jagung itu dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Kau sangat berat... Huf..."


"Terimakasih kejujuran mu pak tua. Aku lapar dan ingin memakan sesuatu yang pedas."


"Sekarang??"


"Iya ... Sekarang!!"


.


.


.


.


.


Bersambung


Hi pembaca ku, semoga kalian menikmati cerita dan alurnya. Mohon saran nya ya untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi.


Terimakasih..

__ADS_1


Salam cintooh...


__ADS_2