EUFORIA AKENO'S

EUFORIA AKENO'S
Bab 5


__ADS_3

"Apa dia sudah siuman?" Tanya Dokter Kim saat membawa peralatan medis masuk kedalam kamar.


"Ya... Silahkan Dokter." Ben berdiri dan memberikan ruang untuk Dokter Kim memeriksa Chan.


"Dia menjadi cepat siuman. Shana bisakah kau dan kedua saudari mu menunggu diluar?"


Ben menghampiri Dokter Kim saat selesai menutup pintu kamar.


"Apa ada yang salah Dokter?" Tanya Ben serius. Dokter Kim membuka kacamatanya dan sedikit tertawa renyah.


"Siapa yang melihat dia siuman?" Tanya Dokter Kim sebelum menjelaskan.


"Oh... Dia Belen... Kenapa?"


"Mungkin kah dia menyentuh bagian vital pemuda ini? Kau bisa lihat sendiri Ben... Disana." Dokter menunjuk bagian bawah Chan yang menegang. Ben tertawa sambil menepuk keningnya pelan.


"Apakah itu yang membuat ia terbangun?" Ben terpana saat Dokter Kim menjawab dengan anggukan dan tawa renyah.


"Ben... Jaga nona muda mu. Lebih tepatnya... Jaga pemuda ini dari nona muda mu... Hahaha"


Chan mulai tertidur lagi sesaat sesudah Dokter memberinya bius. Untuk menjahit beberapa bagian luka yang ternganga.


'Astaga Belen... Bahkan pada pemuda pingsan kau masih saja menyentuhnya. Ada apa dengan gadis ini.'


Ben geleng geleng kepala sambil memperhatikan bagian bawah Chan menjadi normal lagi. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Belen.


' Dia benar benar menginginkan nya ..'


"Ben... Aku sudah memasang alat dibagian tubuhnya. Untuk sementara jangan biarkan ada yang masuk selain kau. Jika hal tadi terulang lagi... Aku tak tau apa yang akan terjadi... Hahaha"


Ben mengantar Dokter Kim pulang. Dia menghampiri ketiga saudari itu yang sedang duduk sambil menonton televisi.


Ketiganya mempunyai wajah yang cantik ayu dan menyenangkan. Mereka pun sangat ramah. Apalagi sekarang, Ben seperti dikelilingi 3 bidadari yang berpakaian seksi. Pemandangan ini sangat membuat Ben tidak nyaman. Sebagai pria dewasa ia kerap kali melampiaskan pada Maria.


"Bagaimana pak tua?" Tanya Shana melihat Ben yang duduk disamping Belen.


"Kalian Bertiga jangan ada yang masuk dulu kekamar itu. Tadi hampir saja membahayakan nyawanya."


Shana, Freya fan Belen saling pandang keheranan. Ben menatap Belen dari sudut matanya.


"Apa kau akan tidur dikamar itu Ben?" Tanya Freya yang terlihat sudah mengantuk.

__ADS_1


"Ya .. sekarang dia sudah sadar... Bisa saja ia berbuat jahat dengan kalian. Ingat .. kunci pintu kamar kalian."


Ben mengangkat kakinya dan meluruskan diatas sofa dan menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. Sehingga ia semakin dekat dengan Belen. Melihat Freya sudah beranjak dari sana. Dan Shana menerima telepon dari seseorang.


"Belen... Jangan menyentuhnya lagi. Dia hampir saja mati." Bisik Ben tanpa melihat Belen.


"Apa maksud mu?" Tanya Belen heran.


"Bagian vitalnya... Ular naga itu bangun. Kau tau? Makanya Dokter menyuruh kalian keluar."


Wajah Belen memerah malu. Ia menunduk malu dan hanya diam.


"Jangan ulangi lagi..." Perintah Ben dengan nada datar.


"Maafkan aku ..." Jawab Belen juga berbisik.


"Kalian masih ingin disini? Aku mau tidur." Tanya Shana mendekati Belen dan Ben.


Keduanya menggangguk yang nampak fokus melihat televisi. Shana pun melihat televisi yang ternyata ada adegan perang dan tembak menembak disana. Ia berjalan masuk kekamarnya karna Ben dapat dipercaya.


"Bel... Apa kau begitu sangat penasaran?" Tanya Ben dengan nada setengah berbisik.


Belen mengarahkan pandangannya kearah Ben. Sadar Belen menatapnya Ben juga menatap Belen. Seakan mereka sedang berbicara dengan bahasa lain.


"Jangan pandangi pak tua ini .." suara Ben menyadarkannya dari lamunan.


"Aku melihatmu dan Maria..."


Belen menatap televisi dan sengaja menggantung ucapannya. Ia tersenyum tipis saat Ben tiba tiba duduk dan menatapnya lebih tajam.


"Ya... Aku melihat kalian... Hingga selesai." Tegas Belen lagi.


"Kau melihatnya?"


Belen kembali mengangguk menatap Ben tajam.


"Dan... Itu sangat buruk. Kau melakukannya dengan pembantu kami juga dirumah ini."


"Aku .. hanya..." Ben gugup.


"Tenanglah... Kedua saudari ku belum tau. Dan aku tak ingin memberitahu mereka." Belen kembali menatap televisi.

__ADS_1


Ben menjadi serba salah. Ia berusaha acuh dan tenang. Kembali keposisi santainya. Ben menjadi lebih rileks saat aroma parfum Belen yang tepat berada disampingnya masuk kehidung dan memberikan ketenangan.


Belen pura pura tidak memperhatikan tingkah Ben. Ia tetap acuh sambil minum jus ditangannya.


Kepala Ben mulai mendekat kearah leher Belen. Dan tiba tiba saja gadis itu berdiri.


"Aku mau tidur!"


Ben menatapnya Belen kesal dari belakang.


'Dia sengaja menggodaku .. gadis kecil jangan bermain main dengan ku...' gerutu Ben dalam hati.


Saat Belen melangkah, Ben sengaja menyandung kaki Belen. Dan tubuh molek itu terjatuh tepat diatas Ben.


Belen tak berkedip saat bertatapan sangat dekat dengan Ben. Detak jantung nya semakin cepat. Sentuhan tangan Ben pada kulit punggung nya membuat gelenyar aneh yang belum pernah ia rasakan. Dan bibir Ben terlihat sangat menggoda.


' Ben tampan sekali... Aku baru menyadarinya...' bisik hati Belen yang masih betah menatap Ben.


"Aku juga mau tidur .."


Ben segera berdiri ia berjalan meninggalkan Belen dan masuk kekamarnya.


Belen memegang dadanya. Jantungnya seakan mau lepas. Ia juga berlari masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Terdiam sejenak, tapi membuka lagi kunci pintu kamar nya.


Masuk kedalam kamar mandi, membuka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuh nya yang terasa sangat panas.


'Aku sangat menginginkannya... Ben... Pekalah sedikit.'


.


.


.


.


.


Bersambung


Hi pembaca ku, semoga kalian menikmati cerita dan alurnya. Mohon saran nya ya untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


Terimakasih..


Salam cintooh...


__ADS_2