
"Terimakasih kejujuran mu pak tua. Aku lapar dan ingin memakan sesuatu yang pedas."
"Sekarang??"
"Iya ... Sekarang!!"
Ben membawa Belen keluar dari wilayah Akeno. Dia sudah tau dimana Belen akan makan makanan pedas. Belen mengambil ponselnya dan memberitahu Shana jika dia sedang bersama Ben.
Hari semakin sore, dan gerimis mulai turun. Belen membuka kemeja Ben dan memberikannya pada Ben. Mereka turun disebuah resto langganan Belen.
"Apa kau nyaman dengan pakaian itu Belen?" Tanya Ben memperhatikan Belen dengan pakaian mininya.
"Aku sudah terbiasa."
"Aku rasa juga demikian..." Ben menurut saja dengan perkataan majikannya.
Belen melihat Ben yang sejak tadi membuang pandang darinya. Sembari menunggu pesanan mereka datang. Belen memperhatikan Ben yang semakin dilihat semakin tampan.
Kemana saja wajah itu? Kenapa Belen baru menyadarinya sekarang. Apakah karna ia melihat Ben sebagai seorang pria? Bukan sebagai penjaga mereka lagi.
"Kenapa?" Tanya Ben yang menangkap pandang Belen dari sudut matanya.
"Apa kau tidak nyaman melihat ku Ben?" Tanya Belen betul betul penasaran.
"Kau sekarang sudah dewasa Belen. Jangan berpakaian seperti bayi lagi. Beruntung kau bersamaku, karna aku akan senantiasa menjaga kau dan kedua saudari mu. Jangan berpakaian seperti ini lagi saat berjalan sendirian. Akan mengundang bahaya untukmu." Jelas Ben tepat.
"Kenapa bahaya?" Tanya Belen sengaja menggoda Ben.
"Mereka akan menarikmu ketempat yang gelap dan ... " Ben berhenti bicara karna Belen menutup mulutnya dengan telunjuknya.
Deg ...
Jantung kedua nya serentak berdesir. Entah mengisyaratkan apa. Tapi keduanya sama sama terpana. Dan mereka dikejutkan oleh makanan yang dibawa oleh weiters.
"Apa dengan mu hal hal seperti itu takan terjadi?" Tanya Belen sungguh sungguh.
Ben hanya menatapnya sambil terus mengunyah makanan yang sedang berada dimulutnya.
"Makanlah nona muda..."
Belen menunduk dan menyuapi makanan pedas kesukaannya. Kali ini tanpa menatap Ben. Entah mengapa tatapan pria itu membuat jantungnya semakin kuat berpacu.
__ADS_1
'Gadis ini menantang ku... Jika kau bukan keluarga Akeno ... Aku sudah mendekati mu Belen. Kita sangat jauh berbeda sayang.'
Tatapan Ben tak lepas dari Belen. Ia tau gadis itu tak nyaman karna pandangannya. Tapi sengaja agar Belen tak lancang lagi untuk menggodanya. Karna itu akan sangat berbahaya bagi Belen.
.
.
"Kakak, aku pulang..."
Freya masuk dan membuka sepatunya. Ia duduk dekat Shana yang sedang santai menonton televisi.
"Mandilah Fre... Lalu kita akan makan bersama."
"Dimana Belen? Kakak sendirian?" Tanya Freya melihat sekitar ruangan. Memang hanya Shana seorang diri disana. Dan dimeja makan Maria sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
"Ya .. dia bersama Ben." Jawab Shana singkat.
"Makanan pedas lagi." Terka Freya.
"Aku sudah menduganya Fre..."
"Baiklah... Malam ini kita hanya makan berdua. Belen dan Ben sudah makan diluar. Aku mandi dulu .. tunggu aku ya." Freya berlari kekamarnya.
Maria mendengar percakapan mereka berdua, tapi ia tak berani bertanya. Ia terlihat khawatir, mungkin ia mengira Ben akan melakukan hal yang sama pada Belen. Yang seperti Ben lakukan padanya. Ia hanya berharap hal semacam itu tak pernah terjadi.
"Nona... Nona muda..."
Terdengar teriakan dari luar rumah. Beberapa penjaga terlihat sedang membawa seseorang yang terluka parah. Shana dan Maria cepat melihat kehalaman rumah.
"Ada apa?" Tanya Maria bertanya pada salah satu penjaga.
"Nop menemukan pemuda ini diujung perbatasan kebun jagung. Ia sangat terluka parah. Kami harus bagaimana Nona?"
Shana mendekati pemuda yang terkulai lemas karna pingsan dilantai. Ia memperhatikan pemuda itu baik baik. Dan ia sama sekali tak mengenalinya.
"Bawa ia kedalam, letakan dikamar tamu. Dan Maria, hubungi dokter untuk memeriksa keadaannya. Jangan lupa untuk mngatakan bahwa ia akan mengobati pemuda yang penuh dengan luka."
"Baik Nona Muda." Maria menyusul penjaga maduk kedalam rumah.
Shana mengikuti penjaga itu sampai kedalam kamar dan berpikir apa yang harus ia lakukan hingga Ben datang.
__ADS_1
"Ada apa kak?" Tanya Freya terlihat panik saat melihat ada orang luka dirumahnya.
"Penjaga menemukan pemuda itu diperbatasan kebun jagung kita. Aku akan hubungi Ben."
Freya memperhatikan pemuda itu. Rambutnya sedikit gondrong. Ada luka dimana mana. Bahkan ia tidak memakai baju. Hanya celana pendek juga tanpa alas kaki.
'Tubuhnya atletik, dan wajahnya juga tampan jika sudah dibersihkan dan kulitnya juga bersih. Apakah dia dibunuh seseorang? '
Freya mencoba memeriksa denyut nadinya dan lega saat nadinya masih berdetak. Ia tersenyum memandang pemuda tersebut.
"Freya ...! Jangan menyentuhnya. Biarkan dokter yang mengurusnya. Cepat cuci tanganmu." Shana selalu berhati hati menjaga saudarinya.
"Aku hanya memeriksa denyut nadinya kak... Dan itu masib berfungsi."
"Baguslah, ia belum mati."
Shana mengajak Freya keluar dari kamar dan menyuruh dua orang penjaga dikamar itu.
"Aku lapar, ayo kita makan kak."
"Cuci tanganmu!"
Freya tersenyum dan segera mencuci tangannya. Mereka duduk dimeja makan dan mulai melahap makanan yang dipersiapkan Maria.
Shana tak sabar menunggu kedatangan Ben. kepala penjaga itu sudah seperti saudara lelaki baginya, yang selalu bisa diandalkan untuk segala urusan.
.
.
.
.
.
Bersambung
Hi pembaca ku, semoga kalian menikmati cerita dan alurnya. Mohon saran nya ya untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih..
__ADS_1
Salam cintooh...