
_________π
"Lah? Terserah gw lah! Baju-baju gw, ngapa lu yang sewot?"
"Tapi gara-gara lo, gw jadi malu!"
Suyter mereka kebetulan sama, begitu juga warna rok Fani, sama dengan celana jeans milik Kevin.
Fani berdecak, lalu berdiri namun lengannya ditahan Kevin.
"Mau kemana?" Tanya Kevin sembari memegang tangan kiri Fani.
Fani mendengus kasar lalu melepas genggaman tangan Kevin dan berbalik. "Pulang! Udah gak mood disini," jawab Fani cuek.
"Gak mau jalan-jalan?" Tanya Kevin mengangkat kedua alisnya.
''Tumben ngajakin gw jalan-jalan?"
"Gw gak ngajakin lo jalan! Cuma nanya aja, gak usah baper deh,"
Mulut Fani mengekerucut wajahnya memerah karna marah. "Ihhh! Jadi cowok kok gak peka banget sih!" Bentak Fani sembari mengehentakkan kakinya.
"Gak peka? Maksudnya?" Tanya Kevin. Jujur ia bingung dengan perkataan Fani.
"Harus nya, tadi lo itu bujuk gw kek, rayu gw kek, minta maaf kek karna tadi lo udah php in gw!" Jawab Fani membentak Kevin.
Kevin mendengus pelan. "Jadi... lo maunya dirayu? Dibujuk? Ni?" Tanya Kevin menggoda Fani.
Fani langsung menutup rapat mulutnya. "Gak! Ga-gak gitu juga kali," jawab Fani membuang muka.
"Udah ah, gw mau ketoilet," ujar Fani lalu oergi namun dikuti Kevin.
Fani berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang. "Lo ngikutin gw ya?!" Tanya Fani setelah memergoki Kevin tengah mengikutinya.
"Ge-er! Siapa juga yang mau ngikutin lo," jawab Kevin lalu berjalan meninggalkan Fani.
"Dasar! Cores! Cowok resek!" Geram Fani.
___
Fani lebih memilih kerestoran. Ia memesan minuman lalu pergi ketoilet. Itung-itung numpang:v
Cklek!
Betapa kagetnya Fani setelah melihat Kevin yang tangah mencuci muka diwastafel.
"Tukan! Lo ngikutin gw!" Bentak Fani sembari menunjuk Kevin.
Langsung Kevin berbalik menghadap Pintu. Benar saja, Fani sedang berdiri diambang pintu.
"Kok lo disini?" Tanya Kevin.
"Lo ngikutin gw kan!" Bentak Fani seraya menghampiri Kevin. "Bilang aja lo mau ngintip! Dasar modus!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Gw udah dari tadi nyampe disini kali! Lo juga pasti baru dateng kan?!"
Fani mengerjapkan matanya. "Hehehehe," tawa Fani walau itu terpaksa.
Fani pun langsung masuk ketoilet wanita. "Tidak!" Teriak Fani dari dalam toilet.
Segera Kevin menghampiri tolilet yang dipakai Fani. Ia berdiri didepan pintu. "Lo kenapa Fan?" Tanya Kevin.
Fani membuka sedikit pintu toilet. Ia menonjolkan kepalanya.
''Kev?" Panggil Fani.
"Apa?" Tanya Kevin.
"Gw dapet,"
"Dapet apa? Kecoa?"
"Ihhh gak peka deh. Gw dateng bulan,"
"Pantesan dari tadi marah mulu,"
"Gw kan gak bawa softek. Beliin ya," pinta Fani, seketika wajahnya berubah menjadi sangat imut.
"Beliin softek?!"
Fani mengangguk cepat.
"Ooo jadi sekarang, lo gini, oke-oke," Fani pura-pura marah dan perlahan menutup pintu.
Kevin mendengus kasar. ''Yaudah iya! Tunggu gw beliin dulu," Kevin berjalan keluar menuju minimarket.
___
Kevin berdiri mematung didepan lemari yang penuh dengan benda sejenis pempes itu. "Yabg gede, apa yang kecil?" Gumam Kevin sembari menggaruk pelipisnya.
"Udah ah mending gw ambil yang kecil sama yang besar aja," Kevin pun mengambil keduanya.
"Bu, bu, coba liat deh, itu cowok, tapi kok beli kaya gituan ya?" Bisik seorang ibu-ibu ketemennya.
Sepertinya mereka sedang mengintip Kevin. "Iya bu. Tapi kan bisa aja buat pacarnya, atau ibunya kan,"
Kevin mendengus kasar mendengar perbincangan panas anatara ibu-ibu ujung lemari itu.
Dari pada panas, Kevin lebih memilih pergi kekasir dan segera keluar dari tempat itu.
___
''Ni" ujar Kevin sembari menyodorkan sekeresek benda yang diminta Fani.
"Kok dua?" Tanya Fani sembari membuka kereseknya dan melihat.
"Gw gak tau lo mau nya yang gede atau yang kecil, jadi gw beliin dua-duanya," jawab Kevin.
__ADS_1
"Oo... makasih ya," balas Fani tersenyum kebar lalu menutup pintu.
Kevin berdecak, lalu pergi kemejanya tadi.
___
"Sruppp" Kevin tengah duduk menyeruput jus apel yang ia pesan tadi.
''Haii!'' Sapa Fani sembari duduk dan meletakkan minumannya dimeja Kevin.
"Ngapain lo kesini? Kan masih banyak meja kosong?" Tanya Kevin.
"Gak boleh?"
"Ck! Terserah lo dah," Fani pun tersenyum lebar.
Kurang lebih mereka sudah 8 menit duduk meminum minuman direstoran.
Kevin berdiri mengambil jaketnya yang ia letakkan dimeja dan menuju kasir. "Berapa mbak jadinya semuanya?" Tanya Kevin yang berdiri didepan kasir.
"100 ribu mas," jawab Mbaknya.
Kevin merogoh saku celana nya dan mengeluarkan kertas berwarna merah dengan angka-angka yang tercantum didalamnya.
Kevin menghampiri kembali Fani yang tengah duduk menunggunya. "Tar lagi malem, yok pulang," ajak Kevin sembari menjulurkan tangannya.
Fani melirik tangan Kevin. Lalu menggenggamnya.
"Anter ya," pinta Fani sembari berjalan. Kevin hanya mengangguk.
___
Sepertinya hari sudah malam, dan kebetulan diluar hujan. Kevin juga sedang fokus menyetir mobil.
Fani saling menggesekan telapak tangannya. Sesekali meniupnya. ''Dingin?" Tanya Kevin melirik Fani sebentar.
"He? Iya," jawab Fani menatap Kevin.
Sitt!
Kevin sengaja memberhentikan mobilnya. "Kok berhenti?" Tanya Fani.
Kevin tak menggubrisnya. Ia melepas jaket yang ia pakai. Mendekati Fani. "Mau ngapain?!" Tanya Fani sengaja memberi jarak dengan Kevin.
"Katanya Dingin," jawab Kevin lalu kembali mendekat ke Fani.
Ia memakaikan jaket nya ke Fani walau tak sepenuhnya terpakai tapi rasa dingin Fani sudah tak terlalu terasa.
Masih dengan wajah datarnya. Kevin kembali menyetir.
Bersambung!
Udah panjang belom?ππΉ
__ADS_1