
Nu Wa termenung sejenak, dia mengingat masa saat dirinya menciptakan manusia pertama kali.
…
Nu Wa duduk di tepi sungai kecil di kaki Gunung Buzhou, memegang tanah lumpur di tangannya,tangannya mulai meremas. Setelah Nu Wa turun, Tanah lumpur menjadi kecil berbentuk Orang-orang, melihat satu sama lain dengan Nu Wa.
Nu Wa melihat orang -orang ini dan merasa senang yang tak bisa dijelaskan di dalam hatinya. Ini adalah orang - orang tanah lumpur yang dibuat tanpa menggunakan kekuatan spiritual. Dia tidak tahu apa yang salah. Setelah Nu Wa melihat lagi, kecemasannya menjadi tenang, dan dia segera mengambil gumpalan tanah lumpur lagi dan mulai membuat lagi.
Setelah beberapa lama waktu berlalu, sudah ada banyak boneka tanah lumpur berbentuk orang - orang di sekitarnya. Nu Wa melihat penjahat ini dan membuatnya sesuai dengan penampilan berbeda - beda. Walaupun berbeda, namun masing-masing masih agak mirip dengannya. Dia melihat hasil tangannya sendiri. Ada ekspresi bahagia di wajahnya.
Setelah melihat ini sebentar, Nu Wa tiba-tiba merasa ada beberapa kekurangan di antara boneka orang - orang tanah lumpur, tetapi dia tidak bisa memikirkan kekurangan apapun. Nu Wa jatuh ke kontemplasi lagi. Dia mulai berpikir untuk melihat kekurangan pada boneka orang - orang tanah lumpur.
Di mana Nu Wa duduk, memandangi penjahat-penjahat ini, memikirkannya selama tiga tahun, setiap kali dalam tiga tahun ini, dia akan menangkap jejak ketidaksempurnaan, tetapi dia tetap terus memikirkannya, dan tetap tidak bisa memahami juga. Akhirnya Nu Wa tiba-tiba menjadi sedikit marah dan kesal.
Nu Wa melambaikan tangannya, Kekuatan spiritual keluar dari tangannya dan mulai menghantam tiap boneka tanah lumpur. Satu persatu boneka hancur.
Nu Wa menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, mengambil tanah lumpur lagi, dan mulai membuat ulang, tetapi kali ini Nu Wa lebih berhati-hati dari sebelumnya, kali ini dia membayangkan wujudnya, tangan Nu Wa mulai bergerak membentuk ulang boneka dari tanah lumpur, dengan bantuan wajahnya sebagai inspirasi.
Sesaat kemudian, dia dipenuhi dengan boneka orang-orang kecil di sekitarnya, orang-orang kecil ini semuanya adalah dengan wajah Nu Wa, dengan ekspresi berbeda, yang dengan sempurna mencerminkan keindahan setiap aspek Nu Wa.
Tapi Nu Wa masih merasa sedikit tidak puas. Seperti terakhir kali, Nu Wa melihat para boneka tanah lumpur ini. Dia telah melakukan yang terbaik untuk membuat para orang - orang sawah ini, tetapi masih ada kekurangan.
Nu Wa termenung memikirkan bagaimana bisa patung - patung ini sempurnah tanpa ada kekurangan sedikitpun. Di pinggir sungai Nu Wa terdiam sangat lama.
100 tahun berlalu, Nu Wa belum menemukan cara untuk menyempurnakan orang - orang boneka tanah lumpur miliknya. Nu Wa kembali dalam keadaan meditasi, mencoba mencari pemahaman dimana letak kesalahan yang dia buat.
500 tahun berlalu, Nu Wa masih belum menemukan jawaban atas permasalahan dirinya. Pada tahun ke 700, sejak dia mulai melakukan meditasi, kali Nu Wa memasuki keadaan misterius.
__ADS_1
Kesadarannya memasuki ruang abu - abu yang penuh kekacauan.
“Chaos !?” seru Nu Wa terkejut.
Nu Wa mulai berkelana di dalam Chaos, dia mulai bergerak secara acak mengikuti insting miliknya. Setelah sekian lama berkelana, Nu Wa akhirnya melihat sosok Raksasa yang sangat besar.
Tubuh Raksasa itu sangat gagah, seluruh tubuhnya dipenuhi otot yang kekar dan ada pola misterius yang terukir di sekujur tubuhnya.
Nu Wa shock melihat sosok ini, dan dia teriak terkejut.
“Dewa Pangu!”
Setelah melihat sosok ini, Nu Wa mendapatkan pencerahan dan kesadaran nya menghilang dari ruangan Chaos secara tiba-tiba.
Nu Wa yang baru tersadar dari pencerahan, langsung tidak tinggal diam. Dia dengan sigap memulai membentuk boneka lagi.
Melihat sosok tanah liat ini, Nu Wa sedikit mengernyit, karena sosok tanah liat ini tidak memiliki jejak pembawaan. Setelah dipikir-pikir, dia belum pernah melihat Dewa Pangu yang sebenarnya secara jelas.
Setelah berpikir beberapa saat, Nu Wa mulai membayangkan wujud Dewa Pangu secara lebih jelas Lagi. Walau Nu Wa hanya melihat sebentar saja wujud Dewa Pangu di ruang Chaos, Nu Wa sudah mendapatkan sosok yang cocok untuk boneka tanah lumpurnya.
Nu Wa mulai mengerjakannya lagi, Tangan milik Nu Wa meliuk - liuk membentuk tanah lumpur menyerupai wujud Dewa Pangu semirip mungkin. Akhirnya satu persatu boneka tanah lumpur jadi. Dengan berbagai Expresi wajah. Nu Wa melihat kumpulan Boneka ini puas, Namun masih merasa ada yang kurang.
“Benar, ini masih wujud laki - laki, setidaknya harus ada wujud perempuan”
Nu Wa mulai membuat boneka tanah lumpur dengan wujud perempuan,dengan menjadikan dirinya sebagai model, dan tubuh Dewa Pangu menjadi dasarnya.
Kumpulan Boneka tanah lumpur berwujud wanita telah jadi beberapa lusin.
__ADS_1
Nu Wa melihat figur-figur tanah liat ini dengan gembira. Ada laki-laki dan perempuan, dan masing-masing terlihat seperti makhluk sungguhan.
“Hah, makhluk sungguhan?”
Saat Nu Wa melihat figur-figur tanah liat ini lagi, Dia memikirkan sesuatu dipikarannya.
Nu Wa melihat boneka tanah lumpur ini dan merasa bahwa boneka ini mati, bukan makhluk nyata, tetapi seperti patung patung.Nu Wa mulai berpikir lagi, dan mulai mencari apa yang masih kurang, Nu Wa merasa wujud boneka tanah lumpur sudah sempurna , namun dia masih merasa ada yang kurang. Nu Wa tiba mendapat pencerahan.
Apa yang dipahami Nu Wa adalah hukum keberuntungan, dan dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang keberuntungan, dan segera melambai pada boneka tanah lumpur , dan kekuatan hukum keberuntungan keluar, dan vitalitas yang sangat besar muncul.
Ketika kekuatan hukum keberuntungan dituangkan ke dalam boneka tanah lumpur, semua boneka tanah lumpur ini runtuh satu per satu dan berubah menjadi potongan-potongan lumpur.
“Kenapa seperti ini? Benar kan?” Nu Wa memandangi patung-patung tanah liat yang pecah itu, bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia mengira bahwa figur tanah liat ini bisa menjadi makhluk nyata melalui kekuatan keberuntungannya, tetapi itu bukanlah imajinasi.
Nu Wa memandangi lumpur yang pecah dan jatuh ke dalam kontemplasi. Dia duduk dengan tenang dimana dia memikirkan kesalahan yang dia lakukan.
Nu Wa duduk termenung lagi selama sembilan tahun, memandangi pecahan-pecahan itu, matanya bingung. Lagi dan lagi.
Seketika Nu Wa mengambil tanah lumpur lagi dan meremasnya di tangannya.Setelah beberapa saat, puluhan boneka tercipta lagi. Dia sekali lagi melambaikan hukum keberuntungan kearah kumpulan boneka tanah lumpur itu, namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya, semuanya hancur lebur.
Pada saat ini, Nuwa mulai bertanya-tanya apakah itu masalah hukumnya sendiri yang menyebabkan boneka - boneka tanah liat itu pecah lagi dan lagi. Nu Wa semakin stress karena menurut dirinya, kesempatan dan peluang dia untuk menjadi suci ada pada boneka - boneka tanah lumpur ini.
….
Dan untuk Plot Honghuang, author harus mencari referensi yang paling cocok dengan Cerita Honghuang umumnya, agar tidak terlalu lari dari kisah mitos aslinya.
jangan lupa Vote, Like, komen, dan gift kalau bisa, agar author rajin update dan kalau rate tinggi, Author akan melakukan Crazy update dalam seminggu ini.
__ADS_1