
Malam semakin larut, namun Cinta masih belum bisa menutup matanya. Ia masih sibuk memikirkan kata-kata Tante Anes yang tadi ia ucapkan. Bagaimana bisa ia menerima perjodohan itu, Apalagi cinta masih memiliki rasa trauma soal pernikahan. sebenarnya cinta ingin menolak perjodohan itu, tetapi ia tidak ingin membuat almarhum ibunya kecewa. sedangkan paman dan bibinya sangat mendukung apapun keputusannya. cinta sangat bingung, Sungguh kepalanya rasanya hampir pecah memikirkannya.
tok...tok.. tok..
bunyi suara pintu kamar cinta yang diketuk.
"Cinta.. ini bibi, kamu udah tidur sayang?"
mendengar suara bibinya, seketika cinta tersadar dari segala pikiran rumitnya.
"Iya Bi, cinta masih belum tidur kok"
Bibinya pun segera masuk ke kamar cinta dan duduk ditepi ranjangnya. cinta pun merubah posisinya menjadi duduk.
"kok belum tidur? Hayo lagi pikirin apa?? Pasti lagi pikirin kata Tante Anes ya??"
"Bibi kok tau? bibi cenayang ya??"
ucap cinta dengan wajah cemberut.
cinta selalu jujur kepada bibinya. ia tidak pernah berbohong, kalaupun ia berbohong pasti bibi mengetahuinya.
"ya taulah, insting bibi yang bilang gitu"
ucap bibinya dengan senyuman tengil.
"iya deh, bibi emang paling tau"
"iya sayang, apa yang mengganjal dipikiran kamu. kamu tau kan, kamu bisa cerita apa aja ke Bibi?"
ucap Bibi Cinta, sambil menggenggam kedua tangan cinta.
"rencananya cinta mau nolak perjodohan itu, tapi cinta takut almarhum ibu kecewa, menurut bibi cinta harus gimana?"
ucap cinta dengan raut wajah sedih.
" Bibi yakin, almarhum ibu kamu pasti ingin yang terbaik buat anaknya, pasti perjodohan itu ia buat demi kebaikanmu. buktinya Ibu kamu udah ngerencanain semua perjodohan itu dari sebelum ia meninggal. ia melakukan itu pasti demi kebaikanmu sayang. Bibi, tidak memaksakan untuk kamu menyetujui perjodohan itu. Pasti Ibu kamu juga tidak ingin anaknya tidak bahagia karena perjodohan yang ia buat. semua terserah padamu sayang, bibi dan paman selalu mendukung apapun keputusanmu"
cinta menghamburkan dirinya kedalam pelukan bibinya. bibinya memang selalu mengerti bagaimana cara menenangkannya, cinta sangat bersyukur Tuhan memberikan bibi dan juga paman sebagai pengganti kedua orang tuannya yang telah meninggal.
"makasih bi, cinta sayang banget sama bibi"
__ADS_1
cinta semakin mengeratkan pelukannya.
"iya sayang, bibi juga sayang bangetttttttttttt sama kamu"
"bibi emang bibi paling the best in the world"
"ah kamu bisa aja. ya udah sekarang kamu harus tidur, biar besok nggak kesiangan bangunnya, jangan lupa pikirkan baik-baik jawaban yang ingin kamu berikan ke Tante Anes, ya sayang?"
"iya Bibiku sayangggggg"
"good night, semoga mimpi indah"
bibi cinta pun segera menyelimuti cinta dan mencium keningnya, setelah itu melangkah keluar dari kamarnya dan meninggalkan cinta yang tertidur lelap di kamarnya.
~Keesokan Harinya~
Cinta tengah bersiap-siap di kamarnya, karena jam 4 sore nanti Tante Anes akan datang. Cinta telah memiliki jawaban yang akan dia sampaikan kepada Tante Anes nanti, ia harap jawabannya ini merupakan jalan yang terbaik buat dirinya.
"kamu udah siap sayang? tante Anes sudah menunggumu di bawah"
" iya Bi, cinta udah siap"
ucap cinta dengan senyuman percaya diri.
ucap bibinya dengan menggandeng tangan cinta kemudian menuju ke ruang tamu.
sesampainya di ruang tamu, cinta pun segera duduk di samping Tante Anes.
"kamu cantik sekali sayang"
"makasih Tante"
ucap cinta dengan wajah gugup.
"iya nak. sungguh Tante sangat tidak sabar mendengar jawabanmu sayang, bagaimana nak apakah kamu menerima perjodohan ini??"
ucap Tante Anes dengan wajah yang sangat menunggu kata apa yang keluar dari mulut cinta.
cinta sangat gugup, ia terdiam sesaat. setelah lama terdiam ia pun telah siap menjawab pertanyaan Tante Anes.
"I..i.iya Tante, cinta setuju dengan perjodohan ini"
__ADS_1
mendengar apa yang baru diucapkan cinta, Tante Anes langsung memeluk cinta dalam dekapannya, raut wajah senang terpancar di wajahnya, begitu juga dengan paman dan bibi cinta yang sangat senang dengan keputusan yang dipilih oleh cinta.
"Makasih sayang, Tante sangat senang mendengarnya"
Tante Anes memeluk cinta dengan sangat erat.
"Baiklah, Besok supir Tante akan menjemputmu nak. Besok kamu akan ke rumah Tante"
"T..** ..tapi.. Tante, Bukankah ini terlalu cepat?"
"Enggak ada tapi tapian sayang, secepatnya itu malah semakin bagus"
"ini hadiah untuk kamu, itu didalamnya ada sebuah dress, tante mau kamu pakai baju ini besok"
Tante Anes menyerahkan sebuah kotak yang diatasnya terdapat bunga-bunga yang cantik kepada cinta.
"nggak usah Tante, cinta Ada Baju kok Tante"
cinta mencoba menolak pemberian Tente Anes, karena cinta merasa sangat tidak enak menerima pemberian orang lain.
"ini hadiah buat kamu sayang, sebagai tanda kamu sebagai calon menantu Tante"
Tante Anes kembali menyodorkan kotak itu kepada cinta.
mendengar ucapan Tante Anes yang begitu tulus, cinta tidak ingin membuat Tante Anes merasa kecewa. cinta pun menerima kotak yang diberikan oleh Tante Anes dengan diiringi senyuman.
" makasih Tante"
" iya sayang sama-sama. Maaf Tante nggak bisa lama-lama, karena ada urusan mendesak. sampai ketemu besok ya? jangan lupa pakai bajunya"
"Iya Tante, cinta nggak akan lupa"
Tante Anes pun mulai berpamitan kepada paman dan bibinya. cinta, beserta paman dan bibinya mengantarkan Tante Anes sampai didepan pintu.
sebelum masuk ke mobilnya, tante Anes kembali memeluk cinta selama beberapa menit kemudian masuk kedalam mobilnya.
mobil itupun pergi dan meninggalkan perkarangan rumah cinta, beserta paman dan bibinya.
~Bersambung~
__ADS_1
Hai salam kenal semua. Aku mau ngucapin banyak terima kasih untuk kalian yang udah mau ngeluangin waktu untuk baca cerita aku sampai abissss, maksasih banyak ya. pliss komen dan like ya, terimakasih. i Miss you gays.