GADIS MAFIA TRANSMIGRASI

GADIS MAFIA TRANSMIGRASI
Chapter 10


__ADS_3

10. Mental yang terguncang



Rumah Sakit penuh dengan wartawan yang meliput berita hari ini, ada polisi yang berjaga dan menahan mereka yang ingin menorobos masuk ke dalam sana. sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan pintu utama rumah sakit. keluarlah seorang pria paruh baya yang semua masyarakat Amerika tahu dia siapa. Presiden Amerika dengan setelan jas hitamnya, Bodyguard di sekeliling membentuk lingkaran melindungi sang presiden dari para Wartawan.


"pak bagaimana caranya agar kasus ini bisa di usut tuntas?"


"pak, apa tanggapan anda mengenai kasus ini?"


"kami butuh suara anda untuk kasus ini pak."


"apa yang anda lakukan selama ini? mengapa pembunuh itu belum di tangkap?"


"kali ini polisi, nantinya siapa yang akan menjadi korban selanjutnya."


"warga Amerika sekarang mendemo karena kasus ini, bagaimana menurut bapak?"


berbagai pertanyaan yang di lontarkan untuk Wilson, pak presiden Amerika yang berjalan masuk kedalam rumah sakit menuju ruang VIP dimana polisi itu di rawat.


"apa yang terjadi padanya?" raut terkejut Wilson saat melihat pasien dengan keadaan yang mengenaskan. kedua mata yang di perban, mulut yang di perban, kedua kaki dan tangannya juga ikut terlilit benda putih itu.


seorang dokter berumur maju ke depan Wilson, memberi salam lalu menghadap ke ranjang sang pasien yang tertidur karena pengaruh obat bius.


"kedua matanya hilang, lidah yang terpotong serta kedua bibir yang di jahit, kedua tangan yang patah tak bisa di sembuhkan, kedua kakinya juga lumpuh karena terbentur sesuatu yang keras." jelas sang dokter membuat Wilson tak bisa menghilangkan raut wajah terkejutnya.


"pembunuh itu sudah sangat keterlaluan." tangan Wilson terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.


"ya anda benar pak presiden." Robert sang detektif masuk ke dalam. memberi hormat di depan Wilson sebentar lalu melangkah ke meja yang ada di sana.


"korban saat ini sudah menjadi tujuh orang. Tuan Edo tiga minggu yang lalu, tuan Fans dua minggu yang lalu, dan hari ini lima orang sekaligus dalam satu malam." Robert melirik ranjang pasien.


mengeluarkan foto foto yang tadi dia ambil lalu memberikannya pada Wilson yang di ambil dengan cepat. beberapa foto polisi yang sudah di evakuasi, Wilson memperhatikan tulisan di tubuh sang korban.


"jadi, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" Wilson memberikan kembali foto foto tersebut. dia tak sanggup melihatnya.


"Saat ini kami sedang melakukan pengecekan pada barang barang sang korban. semoga kami menemukan sidik jari pada barang yang di hancurkan si pembunuh ini." Robert mengambil foto itu lalu memasukkannya kedalam map cokelat.


"sebaiknya anda berhati hati pak presiden, kita semua tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Robert memperbaiki topinya.


"karena tulisan yang ada di tubuh korban mengarah pada anda." wajah Robert sangat serius memandang Wilson.


tubuh Wilson membeku dengan wajah menegang namun dengan cepat raut wajahnya tenang kembali.


"terima kasih atas peringatannya tuan Robert." ujar Wilson.


brak

__ADS_1


kapten polisi masuk ke dalam ruangan tersebut.


"sebaiknya anda kembali pak Presiden, di bawah banyak warga yang mendemo karena mereka tahu anda ada di sini."


Wilson mengangguk lalu pergi tanpa berucap sepatah katapun.


"kalian lindungi pak presiden. jangan sampai kenapa napa di bawah."


...............


Tubuh lemah yang terbaring di ranjang pesakitan itu memberontak gila mulutnya yang tertutup perban itu meracau tak jelas karena bibir yang sudah terjahit hanya suara 'hmm emmm' saja yang keluar. lima orang perawat menahan tubuh cacat total itu agar tak terjatuh. suara ranjangnya bahkan berderit nyaring di dalam ruangannya.


"tenang tuan Raka jangan memberontak di saat keadaan anda seperti ini." ucap salah satu perawat yang menahan tubuhnya.


mendengarnya, Raka makin menjadi bahkan badannya bergetar hebat. kejadian demi kejadian yang ia hadapi semalam membuat mental dan jiwanya terguncang hebat. kesadarannya perlahan hilang karena obat bius yang baru saja ia terima dari dokter Thony.


Dokter Thony menghela nafas. lalu melirik kearah Robert yang duduk di sofa memperhatikan kejadian dari awal sampai akhir.


"mentalnya terguncang dan itu sangat sulit di hilangkan bahkan dengan pisikolog dan teraphi sekaligus." jelas dokter Jhony.


"Killer at night itu sangat licik. bermain dengan mental seseorang." ucap Robert berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah ranjang.


"lebih baik mati dari pada menanggung beban seperti ini, cacat dan tidak berguna." Robert keluar meninggalkan ruangan tersebut.


ponselnya bergetar dari balik sakunya jasnya. melihat siapa yang menelfon Robert menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"........"


"haaaahh baiklah" Robert memutuskan sambungannya. matanya berkilat dingin saat menerima kabar dari anggotanya bahwa mereka tidak menemukan bukti satapun. remasan pada ponselnya makin erat hampir membuat ponsel itu pecah.


"aku berjanji, jika aku Menemukanmu akan kubuat kau hidup tersiksa matipun tak bisa." gumamnya melangkah ke parkiran mobil.


"kenapa tokohnya cepat di tutup?" tanya Beby kepada teman temannya yang sedang membereskan barang barang tokoh laundry.


"Bu Eny ada acara di rumahnya." Jawab Bobby


"acara apa dan apa hubungannya dengan tokoh? bukankah kunci cadangannya ada pada Bobby juga?" cerocos Beby membuat semuanya menghela nafas kasar.


"bisakah mulutmu berhenti berbicara! pesta dan tokoh Bu Eny tidak ada hubungannya denganmu juga." telak tirian dengan suara rendahnya membuat Beby Gercap bersembunyi


di balik punggung Lora yang menghela nafas jengah.


"kak Bella" panggil Xavier padanya yang sudah berjalan sampai di depan pintu. berbalik badan menghadap mereka matanya tertuju pada pemuda yang menatapnya senang.


"kak maukah kak Bella makan malam bersamaku?" ajak Xavier.


"Oho apakah ini ajakan kencan" goda Beby

__ADS_1


"wah Xavier bergerak cepat dari Bo--Hmppp" Mulut Tirian di bekap oleh Bobby.


"apa? siapa?" tanya Lora penasaran begitupun yang lainnya.


"tak ada" Acuh Bobby dengan mata menatap tajam Tirian.


"tidak bisa" tolak Bella


"kenapa" pundak Xavier meluruh mendengar penolakan langsung.


"aku sibuk" setelah berucap Bella pergi meninggalkan tokoh laundry beserta teman kerjanya.


pundak Xavier ditepuk oleh Lora


"jangan bersedih. waktu masih panjang untuk mengajaknya berkencan" hiburnya tapi wajahnya membuat Xavier tambah bersedih.


"jangan pasang wajah mengejek bodoh" maki Bobby tapi hatinya senang karena Bella menolak ajakan Xavier.


Bella berjalan dengan perasaan senang. ia merutuki kebodohannya karena melupakan cek senilai seratus juta itu. ia berniat mencairkan uangnya dan belanja kebutuhan hidupnya besok.


"lapar, apakah disini menjual makanan?" monolognya. matanya bergerilya kesana kemari siapa tahu ada penjual di pinggir jalan.


"ck, apakah aku harus menyesal karena menolak ajakan pemuda ingusan itu" Bella menendang kaleng soda yang ada di depannya.


"aduh!"


suara rintihan kesakitan terdengar. mata Bella melotot melihat punggung seseorang berjarak beberapa meter darinya mengaduh kesakitan karenanya. berbalik badan dengan cepat berlari meninggalkan seseorang tersebut.


"hey! mau kemana kamu! sial" maki orang tersebut sambil menggosok kepalanya yang sakit.


"Bos! anda kenapa?" tanya seseorang yang baru datang.


"apakah kau tak melihat seseorang yang melempariku dengan sampah kaleng ini! dimana matamu bodoh!" Maki orang yang di panggil Bos tersebut.


"ya mana saya lihat. orang Bos suruh saya jangan melihat anda yang sedang buang air kecil." belanya pada diri sendiri.


"jangan di perjelas bodoh!"


"nanti anda tak paham maksud saya. saya menjaga kepala saya saja agar tetap berada di tempatnya Bos"


menghela nafas karena ucapannya di jawab terus. orang tersebut masuk kedalam mobil.


"keluarga anda sudah menunggu di kediaman Bos"


"kembali, adik kecilku pasti sudah kesal sekarang" kekehnya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2