
BRYAN Si Mahluk Kecil
...Typo bro...
.......
.......
.............
......_____......
Bella berlari dengan kecepatan maksimalnya. dia berdecih sinis saat melihat kebelakang dimana sekumpulan manusia mengejarnya. di eratkan topinya agar rambut panjangnya tak terlihat nanti. ia berlari memasuki tempat kontainer pengangkut barang di dekat dermaga terus berlari memasuki sela sela kontainer.
"jangan sampai terlepas."
Bella mendengar suara yang sangat menjengkelkan menurutnya. setelah melempar Bom ia ketahuan salah satu polisi hingga berakhirlah dia di kejar.
tuk
Bella menaiki kontainer dengan gampang dan terus berlari mencari tempat aman untuknya.
tak
ujung matanya melirik kesebelah kontainer lainnya dimana seorang lelaki berjaket hitam yang mengejarnya kini ada di sampingnya.
"jangan lari, perbuatanmu sudah keterlaluan."
menghiraukan ucapan kelaki itu, Bella melompat ke kontainer lainnya menghindar dari kejaran lelaki itu. sementara di bawah teman teman dari lelaki itu terus mengejar.
"lepaskan peluruh." titah lelaki itu.
Dor
Peluru meleset kearah Bella yang dengan muda dia hindari. mantan ketua Mafia apakah perlu di ragukan kemampuannya.
"apakah kita perlu menelfon yang lainnya?" tanya salah satu dari mereka yang juga ikut naik keatas kontainer .
"jangan"
Bella berdecih, Dia memegang ujung kontainer itu lalu turun dengan lihai ia berlari ke tempat gelap dimana ruang monitor berada.
"hadang dia!!" seru lelaki itu.
"Ambil Senjata Biusmu, Robert." seru temannya yang ada di depan Bella.
__ADS_1
"jangan menghalangiku sialan!!" gumam Bella lalu menaburkan tepung ke wajah orang itu dan menendangnya hingga tersungkur di tanah.
"berhenti!!" Titah Robert. semua temannya berhenti.
"kenapa? sedikit lagi dia akan tertangkap." ujar salah satu temannya.
"percuma. dia lihai dan licik kita tak bisa menangkapnya. sepertinya kita butuh alat yang lebih lengkap." Robert membantu Feru bangun yang sibuk mengucek matanya.
"jangan di kucek bodoh." Robert memukul kepala temannya.
"Hey, Kau awas saja ya!!" teriak Fery menggema di tempat itu.
"apa kau melihat wajahnya?" tanya Robert memandang lurus tempat Bella berlari.
"mana kulihat. dia tiba tiba melempariku dengan tepung yang entah dari mana dia dapatkan." sinis Feru.
"Sekumpulan manusia menyusahkan." gumam Bella yang bersembunyi di ruang Cctv karena ia akan menghack Cctv yang ada di depannya agar dia tidak ketahuan.
...
bruk
Bella menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. rasanya sangat lelah habis bermain kejar kejaran.
drtttt drtttt drtttt drtttt
"Halo"
"......."
"ck, bisakah gunakan mulutmu berbicara." kesal Bella yang hampir mau memutuskan sambungan hanya saja suara dari sana tiba tiba terdengar.
"kita akan bertemu lagi, Nona." dahi Bella mengernyit heran melihat kembali nomor tapi itu nomor baru yang baru masuk di ponselnya. sambungan terputus sepihak dari seberang sana. Bella duduk di atas kasurnya tangannya dengan lihai bergerak bebas di atas layar sentuh itu mencari sesuatu.
Bella melempar asal ponselnya. gugatan kesal yang ketara di wajahnya tampak dirinya tak senang akan satu hal.
"sepertinya, ada yang lebih hebat dariku dalam hal meng-hack." gumamnya.
"sudahlah." Bella merebahkan dirinya kembali di ranjang tak lama dia tertidur.
di belahan negara lain, di ruang yang terang duduk seseorang dengan tampang arogannya memperhatikan layar laptop yang sedang menampilkan angka angka serta kurva berwarna yang naik turun tak menentu.. seseorang masuk ke dalam membawa sesuatu di tangannya.
"bagaimana keadaannya?" tanya orang itu.
"semua ada di atas kendali anda Bos."
__ADS_1
"bagus. perhatikan setiap kegiatan yang keluarga itu lakukan karena saya tidak akan pernah melepaskan mereka sampai di bawah tanahpun." gumamnya dengan tatapan menerawang jauh.
"baik tuan, Bily." tinggallah dia sendiri di dalam ruangan itu. mata yang tajam dan tatapan dalam itu perlahan sayu mengingat kenangan lima tahun yang menjadi sejarah kelam bagi seluruh dunia bawah. air matanya tak terbendung lagi pria berusia 28 tahun itu menangis di ruangannya dengan pilu mengingat kenangan buruk dimana Ratu hidupnya mengorbankan dirinya dan menyerahkan tanggung jawab besar pada dirinya.
"aku tak sanggup, Bella. kenapa kau tak membawaku saat itu." gumamnya dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya.
"menanggung beban yang biasa kau emban membuatku stress kau tau. bahkan aku ingin melempar berkas berkas perusahaan milikmu ini dari lantai paling atas memperlihatkan pada orang orang betapa sulitnya aku." kekehnya yang terasa sangat hambar dan mengandung kesedihan.
ceklek
"papaaaaa!!" suara riang dari arah pintu yang berlari kearahnya.
Bily dengan cepat menghapus jejak air mata yang menempel di wajahnya lalu tersenyum kearah lelaki kecil yang berusaha duduk di pangkuannya.
"Papa menangis?" anak lelaki itu menghapus air mata di sudut mata Papanya.
"apakah ada yang menjahati,Papa?beritahu Bryan biar Bryan pukul dia." ujarnya menggebu gebu membuat Bily terkekeh.
"tidak ada yang menyakiti Papa. Papa hanya merasa senang karena Bryan tumbuh besar dengan baik." di kecipnya pipi tembem anak itu karena gemas.
"hahaha papa sangat lucu."
Bryan anak adopsi dirinya bersama Bella saat dimana mereka berdua sedang melakukan aksi membantai musuh sampai ke akar akarnya dan saat pulang mereka menemukan bayi di pinggir jalan sedang menangis keras akibat kedinginan, kelaparan dan kehausan. merasa tak tega Bella mengambil dan mengadopsinya sebagai Ibu dan Bily sebagai Papa.
"Bella, hanya dia kenangan paling berharga yang kupunya dan aku akan menjaganya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang walau tanpa adanya dirimu." batinnya.
"kapan kita mengunjungi makan Mama,Papa?" tanya Bryan yang memainkan kancing baju Papanya.
"Besok kita akan ke makan Mama, sekarang waktunya anak Papa yang tampan ini tidur siang." di gendongnya Bryan yang berusia lima tahun lebih itu menuju kamar mereka berdua.
"bersihkan ruanganku, Hery."
"Baik, tuan." Hery menunduk hormat. Bily berjalan menyusuri lorong terang itu menuju kamarnya.
"kenapa Papa tidak mencari Mama baru saja." pertanyaan polos itu mendarat dari bibir Bryan begitu saja.
Bily menatap anaknya dengan tenang.
"Mamamu orang yang paling berjasa dalam hidup Papa, orang yang paling Papa hormati dan juga orang yang paling Papa sayangi melebihi apapun."
"apakah melebihi kasih sayang Papa ke Bryan."
"kalian sama sama berarti di hidup Papa." di peluknya Bryan dengan erat yang juga di balas tak kalah erat oleh tangan mungil itu.
"Bella, Bryan anak yang kamu adopsi sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas. jika kamu masih ada mungkin kamu akan senang dan bangga."
__ADS_1
TBC.....