
7.Rencana yang Gagal
Suara langkah kaki memasuki mansion besar membuat atensi penghuni tertuju padanya.
"selamat datang kembali tuan muda." sapa sang kepala pelayan dan menghampiri tuan muda bungsu pemilik mansion itu.
"Dimana Mommy dan Daddy?" tanyanya memberikan jaket yang ia gunakan.
kepala pelayan mengambil jaketnya lalu berkata " seperti biasa, tuan besar sedang ada dikantor kalau Nyonya besar ada di taman belakang."
mengetahui keberadaan Mommynya, kakinya melangkah cepat kearah belakang rumahnya. senyumnya kini melebar saat melihat sosok yang menjadi cariannya.
bugh
"Mommy, Xavier kangen." rengeknya manja membuat wanita yang masih terlihat muda itu terkekeh. Dibaliknya badannya dan membalas pelukan anak bungsunya dengan sayang.
"Mommy lebih merindukan anak menggemaskan Mommy ini." Xavier melepaskan pelukannya lalu mencebik lucu membuat wanita itu heran sekaligus gemas.
"ada apa dengan wajah anak Mommy ini hmm? kurang bersemangat kelihatannya. cerita sama Mommy." dituntutnya tangan sang anak duduk di kursi taman.
"kak Bella gak ada di tempat kerja, Xavier jadi malas dan tak bersemangat." adunya seperti anak kecil tak mendapat permen.
sang Mommy menutup mulutnya pura pura terkejut padahal ia sudah tahu.
"anak Mommy tidak mendapatkan asupan ternyata." kekehnya lembut membuat sang anak cemberut.
"Mommy." rengeknya yang mana membuat sang wanita tertawa kencang.
"sudah sudah.besokkan bisa ketemunya. sekarang Xavier mandi karena malam ini kita keluar bersama Daddy dan dua kakakmu."
Xavier mengangguk lesu lalu berjalan masuk kedalam Mansion. Mommy Xavier menggelengkan kepalanya. dia sudah tahu siapa itu Bella yang asli bukan Bella sang ketua Mafia. dia juga tahu apa yang ada di sekitar anaknya bukan tanpa alasan dia meletakkan banyak Bodyguard. dia anak bungsu kesayangan keluarga Reoul yang harus dijaga dan di pantau kegiatannya diluar, dan sama siapa dia berteman. keluarga Reoul itu kaya raya hingga banyak penjilat di sekitar mereka.
mereka takut anak bungsu mereka berteman dengan orang yang salah hingga memengaruhi pergaulannya. keluarga Reoul tak ada kekangan malahan bebas melakukan apa saja asal tidak keluar batas.
.....
Bella selesai memasak mie instan dengan dua buah telur masak di atasnya. dengan binar bahagianya Bella duduk dikursi lalu menyeruput mie yang asapnya mengepul diudara.
"puahhh nikmatnya. kemana saja aku selama hidup ini yang baru tahu kalau ada makanan murah yang seenak ini." racaunya terus menyeruput mienya.
saat asik makan suara ketukan pintu membuatnya berhenti. wajahnya yang tadi bahagia kini kembali datar. bangkit dari kursinya menuju pintu rumahnya yang kini suara ketukan itu makin keras.
"ck siap--"
deg
tubuhnya mendadak kaku di depan pintu. kepalanya mendongkak keatas sedikit melihat seorang pria berdiri di depannya dengan senyum hangat namun menakutkan.
"si-siapa?" Bella memundurkan langkahnya. tubuhnya mendadak aneh saat melihat orang di depannya. tubuhnya bergetar ketakutan. kejadian yang baru Bella alami selama dua hidup di dua kehidupan.
"hai darling." suara berat menyapa indra pendengarnya.. tubuh Bella tak mau bergerak sendi sendinya bagai mati rasa di hadapkan oleh pria berbadan besar berkulit sedikit hitam. dia tak mendapatkan ingatan orang ini dari pemilik tubuh.
"apakah dia salah satu orang yang membuly Bella? "
kepala Bella menunduk, menyeringai diam diam. malam ini malam yang sangat panjang untuk memulai bukan? pesta darah akan segera di mulai. mengubah mimik wajahnya seperti semula ketakutan melihat pria itu. dengan langkah perlahan lahan dia mundur kebelakang menatap takut pria yang sekarang tertawa mengejek ke arahnya.
"wajahnya sangat jelek." gumamnya dalam hati.
"ayolah darling. jangan takut seperti itu." pria itu mendekat, tangannya menyentuh dagu Bella membuatnya mendongkak.
"karena wajah ketakutanmu membuatku bersemangat." kekehnya. wajahnya tiba tiba berubah marah.
"aku sebenarnya sangat jijik melihat wajah ini.tapi kalau di lepas nanti mainan kami tak ada."
pria itu menarik paksa tangan Bella membuatnya meringis sakit tapi di hatinya berseru senang mendapat banyak mainan. tubuhnya di seret memasuki sebuah mobil van tanpa diketahui pria itu Bella menyembunyikan gunting di balik bajunya.
"ki-kita mau kemana? ja-jangan bawa aku." Bella mundur hingga belakang tubuhnya bersentuhan dengan pintu mobil. badannya mengigil ketakutan yang mana membuat pria itu makin mengeraskan tawanya.
__ADS_1
"sudah lama tak bermain dengan tubuh indahmu itu." Bella melirik dengan ekor matanya pria itu menjilat bibirnya membuat Bella jijik sendiri. nama pria itu nohan ,Bella tahu karena jaket yang ia gunakan ada namanya. ntah itu namanya atau bukan yang Bella tahu namanya Nohan pria brengsek dari universitas fakultas teknik.
sepanjang jalan, Bella melirik keluar jendela mobil. sepanjang matanya memandang keluar hanya pohon besar yang ia lewati jadi dia tahu arah mana mereka saat ini Hutan.
mobil berhenti, Nohan keluar dari tempat kemudi menuju kursi penumpang mengeluarkan Bella dengan tak sabaran membuat pergelangan tangan Bella memerah.
"shhh sakit, kita mau kemana?" tanya Bella di sela jalannya.
"DIAMLAH!!" bentaknya membuat Bella diam namun hatinya menggerutu.
Nohan membawa Bella memasuki hutan yang tak lama terlihat sebuah rumah gubuk yang sedikit lebih besar dari gubuk biasa. Bella memindai semua yang ia lewati.
brak
"guys, mainan lama kita kembali." Seru Nohan membuat orang orang yang ada di dalam bersorak. Bella menahan nafasnya karena bau asap rokok dan alkohol yang sangat pekat di dalam ruangan yang telihat sangat bagus berbeda dari luarnya. Nohan mendorong Bella hingga gadis itu tersungkur di tengah tengah mereka. sekitar sepuluh orang ada di sana.
"wah, dia gadis miskin itu."
"bagus juga tubuhnya."
"Hahaha Nohan kamu hebat bisa menemukannya kembali."
"tak sia sia aku keluar dari club untuk kesini. tubuhnya lebih bagus dari ****** ****** yang pernah kulihat."
"pesta dimulai guys."
"WOOOOOOO." teriak mereka kesenangan.
grep
Rambut Bella di jambak hingga ia mendongkak. seorang perempuan berpakaian ketat berani menjambaknya. kilatan dingin melintas cepat dimatanya yang langsung terganti dengan mata berkaca kaca.
"ini dia mainan kita, kemana aja kamu hah!! beraninya kabur saat tubuh jalangmu ini kami mainkan!!" marah Wanita itu. Ara namanya lalu melepas jambakkannya meninggalkan rambut yang terlepas dari kepala Bella yang menyangkut di sela sela jari Ara.
"iyuhhh, tanganku kotor karena rambutnya." jijik Ara, ia meludah di kepala Bella membuat teman temannya berteriak bersorak senang akan tontonan di depannya.
"ayo guys, kita siksa dia." ajak Nohan.
plak
bugh*
Bella menerima semua kekerasan pada tubuhnya dengan senang hati walau harus ada pengerobanan pada tubuhnya yang kini lecet dan berdarah.
"akan kubalas lebih dari ini kalian." smirknya yang di lihat salah satu dari mereka. Mira yang hanya duduk menonton.
dengan wajah jeleknya Mira berjalan ke arah Bella. sepatu tingginya menginjak paha Bella membuat Bella berteriak bermain.
"hiks sakit, lepaskan aku." air mata mainanya keluar.
"melepaskanmu itu hal yang mustahil kami lakukan."
"kecuali jika kamu mati disini baru kami puas."
"aku hiks akan melaporkan kalian ke polisi!!" teriak Bella.
bugh
tubuhnya terpental di meja membuat punggungnya berdarah. Nohan yang geram tanpa ampun menendang Bella yang meringkuk melindungi badanya tanpa mereka tahu sedari tadi Bella menikmatinya.
"lapor polisi jika kamu bisa bebas dari sini hahaha." tawa Yohanes melemparkan gelas yang ia pegang ke kepala Bella membuat kepalanya berdarah.
.
sementara di tempat lain, Ronald yang sedang rapat online dikejutkan dengan dobrakan pintu dari Asistennya. wajahnya menggelap menatap membunuh kearah Axe yang tak di sadari sang empu.
"tu-tuan hah hah itu."
"bicara yang jelas Axe." dinginnya
__ADS_1
"nona, nona Bella di bawa kehutan oleh seorang pria bernama Nohan."
tanganmu yang asik memutar pulpen berhenti. kilatan marah jelas dimatanya. tanpa menunggu dia mematikan laptopnya dimana uang sedang mengalir deras. persetan dengan uang gadisnya lebih penting dari apapun. di raihnya jasnya, berjalan keluar.
"lacak tempatnya." suaranya lebih dingin dan menusuk dari biasanya.
"sudah tuan, nona Bella berada di hutan X."
Ronald memeriksa pistolnya,dia akan menembak kepala mereka jika berani melawannya. ia masuk kedalam mobil disusul Axe.
"sepuluh menit, atau kepalamu bolong."
dengan tangan gemetar Axe melajukan mobilnya menuju hutan tempat Bella berada. tangan Ronald mengepal kuat. siapa yang berani mengganggu miliknya akan mati ditangannya camkan itu.
"siapa mereka?" tanyanya tanpa menoleh.
"semuanya ada di dalam tab anda tuan."
diraihnya Tab-nya membaca semua informasi dari Nohan beserta kawan kawannya.
"hanya sekelompok sampah beraninya mereka." geramnya menekan kuat Tab itu hingga bunyi suara 'krek' tab-itu retak.
keadaan Bella berlumuran darah, bajunya bahkan sudah robek di beberapa bagian untung dia melapisnya dengan tang top. kedua tangannya di rantai berdiri. guntingnya entah kemana tubuhnya dia mainkan seolah lelah dan mulai kehabisan darah padahal otaknya kini berseru senang karena sebentar lagi dia akan berpesta mengeluarkan organ tubuh mereka, mengoyak daging mereka membuat mereka memohon untuk dibebaskan. ah membayangkannya saja membuat darahnya mendidih.
"le-lepaskan aku." suaranya lemah. kakinya tak kuat berdiri.
"sangat puas melihat tubuhnya seperti ini." smirk Nohan.
"tubuhku yang paling bagus sekarang." seru Ara girang.
"mana ada! tubuhku yang paling bagus." komentar Mira tak terima.
Yohanes merangkul kedua gadis itu. "tubuh kalian berdua sangat indah." senyum mereka mengambang.
"tapi lebih bagus lagi jika tubuhnya kita jadikan penampung kotoran bukan." smirk Ahlan membuat beberapa lelaki di sana menatap tubuh penuh luka itu liar.
"tunggu apa lagi, ay--" ucapan Nohan terpotong karena dobrakan pintu yang terlepas tepat mengenai tubuhnya membuat dia jatuh tersungkur dengan kepala berdarah.
"angkat tangan kalian!!" teriak polisi yang masuk kedalam disusul Roland bersama Axe.
"sialan!!" belum sempat bereaksi tangan mereka semua di borgol. suara Mira, Ara dan beberapa wanita berteriak meminta di lepasakan.
"lepaskan kami sialan!! atau keluargaku akan menuntut kalian!!" teriak Nohan yang di borgol berbaring di semen.
"bawa mereka." perintah Roland dengan aura membunuh yang pekat. matanya menatap dingin kearah Nohan yang terdiam karena kedatangannya.
"dimana otak kalian hah!? beraninya kalian menyiksa gadis dibawah umur!!" marah Axe hingga menendang pipi Nohan membuat giginya copot.
"mereka tak punya otak." seru Roland lalu menatap salah satu polisi.
"hukum mereka dengan hukuman paling berat. jika ada yang tak setuju." Roland mengantung ucapannya. langkahnya menuju pada Bella yang menutup mata.
"kuratakan semua kantor polisi yang ada di sini." Borgol itu terlepas dan Bella jatuh di pelukan Roland. menggendong ala bridel style menuju keluar dari gubuk tersebut.
"pergi, Axe."
"ingat pesan tuan Roland jika masih ingin bekerja." wajahnya yang dingin membuat sepuluh polis mengangguk dengan keringat sebiji jagung. mereka penasaran siapa gadis yang berada di pelukan Ceo besar itu.
"sial, siapa pria ini membuat kesenanganku hilang dalam sekejap."
Bella membatin meradang karena mangsanya yang banyak kini lenyap seketika.
"Curi mereka dan letakkan di tempat biasa, Axe." ujar Roland datar. Axe mengangguk sementara Bella bertanya tanya.
"dia orang yang berpengaruh. harus lebih hati hati."
Bella memilih meminsankan tubuhnya di dalam dekapan Roland yang selalu memandangnya membuatnya risih dan geli.
"kerumah sakit." titahnya.
__ADS_1
TBC.....