
8. melarikan diri
Bau obat obatan menyeruak di dalam ruang VIP dimana seorang gadis masih asik menyelam di dalam mimpinya. pintu ruangan itu terbuka dan masuklah pria berpakaian formal. berjalan mendekat brankar lalu tersenyum tipis.
"rapat akan segera di mulai tuan." Axe bersuara membuat Roland mengalihkan pandangannya. duduk di sofa dekat jendela Axe memberikan laptop dimana dia akan mengadakan rapat yang sempat tertunda.
"lanjutkan." intruksinya dingin. rapat berjalan hampir setengaj jam.
"belum bangun?" Roland memandang Axe seperti bertanya 'apa lukanya parah'
"saya panggilkan Dokter tuan." Axe keluar meninggalkan Roland yang kini memegang tangan putih namun kasar pada telapak tangan itu.
"kamu harus jadi milikku. takkan kubiarkan tangan yang putih mulus ini lecet karena bekerja." gumamnya lalu mencium punggung tangan Bella.
ceklek
Axe masuk bersama dua orang dokter dan empat orang suster. dokter langsung memeriksa keadaan Bella sementara suster mencatat dan memeriksa infus takut takut habis.
"keadaan Nona baik baik saja." ujar salah satu dokter.
"tapi kenapa dia masih tidur?" ujar Roland dingin dan mencekam.
Dokter itu berusaha untuk tak gugup.
"nona ini sedang tidur, mungkin karena kelelahan dan pengaruh obat bius." jelas sang dokter.
"keluar." satu perintah yang langsung di turuti sang dokter dan suster tersebut.
"pesan makanan." titahnya pada Axe.
"apasih manusia ini, kenapa tak pergi pergi."
batin Bella yang sudah berapa menit terbangun.
"aku tahu kamu sudah bangun." Roland menatap wajah Bella yang masih asik menutup mata.
"bangun atau kucium." Bella tak mendengarkan karena menurutnya ancaman itu sudah biasa ia dengar.
cup
mata Bella terbuka sempurna saat satu ciuman mendarat di bibirnya.
plak
dengan kuat Bella menampar Roland bersamaan dengan Axe masuk kedalam dan terdiam mematung melihat kejadian barusan.
wajah Bella sangat dingin menatap datar kearah Roland yang masih terlihat santai.
"tidak sopan mencium orang sembarangan."
"bukankah sudah kukatakan barusan?" Roland mengangkat kening satu.aura Bella suram melihat santainya orang di depannya bahkan kini tanpa rasa bersalah duduk di brankarnya.
"apakah selain tak punya sopan santun tuan tidak punya malu?" keduanya saling menatap dingin.
__ADS_1
"dimana letak ketidaksopananku, nona?" Roland bersedekap dada membuat Bella makin menatapnya datar.
"rupanya anda tak mempunyai otak." Bella menganggukkan kepalanya.
"otakku hanya terisi tentangmu." Axe menyemburkan kopi yang baru saja ia minum belum sampai di tenggorokannya.
matanya memandang tak percaya pada bosnya yang sejak kapan pintar berbicara seperti itu di hadapan Seorang gadis.
"semua lelaki memang sama, sering mengucapkan kata manis agar gadis itu tersentuh." Bella menatap datar pada Roland.
"saya tak pernah berucap seperti itu kecuali padamu." Bella muak mendengarnya.
"sayangnya saya tak menyukainya dan menolak setiap kata manis dari seorang lelaki." balasnya dingin dan menusuk.
"bukankah dia sama seperti pria brengsek itu."
"dan saya tak butuh penolakan kamu." balasnya tak kalah dingin. Bella mengangkat keningnya.
"anda siapa?"
"orang yang kau tolong di taman, Roland De Girion." wajah Bella masih sama, datar. tak ada perubahan ekspresi membuat Roland dan Axe bertanya tanya. apakah gadis ini tak tahu siapa yang duduk di depannya.
"oh." hanya itu yang keluar dari bibir tipis nya. Roland melotot sementara Axe ternganga di sofa.
"hanya itu saja."
"ya"
"kau tak tahu siapa saya?" Roland menunjuk dirinya sendiri.
"keluar." suara dingin itu menyadarkannya kembali. Roland menatap Bella yang kembali menutup matanya.
"kamu belum makan."
"keluar."
"tap--"
"keluar." suara Bella penuh penekanan tapi apakah Roland mau menuruti? tentu tidak. dia hanya beranjak dari brankar lalu duduk di sofa dekat dengan Axe.
Bella yang masih merasakan keberadaan dua mahluk tak berguna dihidupnya hanya membiarkan saja. toh nanti juga pergi sendiri dan saat itu dia akan melarikan diri dari ruangan pesakitan ini. tapi muncul ide di otakknya yang membuat kilatan aneh dimatanya.
"memanfaatkan pohon besar bukankah menyenangkan." smirknya.
rencana melarikan diri dari rumah sakit masih berlaku. itu sebagai pancingan agar pohon besarnya semakin tertarik padanya. hahah bagus bagus.
"tak ada cinta dalam kamusku." matanya berkilat dingin tanpa emosi. cukup dimasa lalu dia sakit hati walaupun sedikit karena cinta.
hari beranjak malam. tapi si Roland belum kembali membuat kaki Bella gatal. menyibak selimutnya dan memandang dingin kearah Roland.
"lapar?" tanyanya tanpa menatap Bella. Fokusnya saat ini pada laptop.
"bukankah anda mempunyai banyak pekerjaan?" Roland memandang gadisnya. mungkin jika Bella tahu akan di gorok lehernya itupun kalau bisa.
"pekerjaanku sudah selesai." santainya.
__ADS_1
"sial."
tok tok tok
keduanya memandang pintu. suara Roland menyuruh masuk. Axe masuk dengan membawa paper bag berisi makanan. meletakkannya di meja lalu berbisik kepada Roland.
"mari pergi." Roland menatap Bella.
"jangan kemana mana, aku akan kembali dan makan makanan yang di bawa Axe." tanpa menunggu jawaban Roland pergi tinggallah dia sendiri.
"Idih, dia siapa menyuruh nyuruhku." Bella mencabut paksa jarum infusnya. turun kelantai dengan kaki telanjang mengikat asal rambutnya, mamasuki toilet menyikat gigi dan membasuh wajahnya. karena tak ada pakaian untuk diganti, Bella akan kabur dengan pakaian rumah sakitnya.
mengendap ngendap seperti pencuri, Bella berjalan keluar ruangannya. merasa aman Bella langsung berlari peduli setan dengan kaki yang tak ada alasnya.
grepp
kerahnya di tahan dari belakang. menoleh ternyata orang berpakaian hitam berbadan besar berwajah datar menatapnya.
"nona tidak boleh pergi."
"ah persetan denganmu."
Bugh
dengan kesal Bella menendang Bodyguard itu hingga kerahnya terlepas.
"kamu fikir aku lemah apa." tanpa menunggu lagi Bella berlari cepat dibelakangnya ada bodyguard yang tadi ditambah satu yang membuat Bella berdecih jengkel.
"kenapa banyak hama, sial! " makinya lalu berbelok tak jadi memasuki lift, dia akan menuruni tangga darurat. dengan nafas yang memburu Bella menuruni tangga tapi sial di bawah ada bodyguard. Bella menggeram marah.
"arggg, Roland sialan! persetan pohon besar kamu masuk daftar hitamku." dengan perasaan marah dia menendang dan memukul para bodyguard itu hingga tak berdaya. rencana menyembunyikan kekuatannya terpaksa gagal karena bodyguard bodyguard sialan.
"mengikutiku, hancur kepala kalian." Bella berjalan turun hingga lantai yang bisa ia naik liftnya.
"menarik." (?)
...................
Roland memasuki ruangan yang diterangi lampu temaran. bau anyir tercium sangat pekat di ruangan itu. sembab, pengap dan gelap menambah kesan menakutkan pada ruangan itu. Roland menatap dingin pada beberapa manusia yang tergantung di dinding tangan di rantai keatas dengan tubuh penuh luka sayatan dan cambukkan.
seringai ia keluarkan. "bagaimana?enak bukan siksaannya?" gemelatuk gigi dari salah satu orang yang ada di dinding aluminium itu.
"manusia brengsek!! kamu pysikopat, kamu tak pantas hidup di dunia ini!!" Nohan berteriak kesetanan.
"oh? saya tak pantas? lalu apakah kamu pantas? kurasa lebih pantas nyamuk dari pada beban sepertimu."
"lepaskan aku biadab atau orangtuaku menuntutmu atas penculikan dan penyiksaan ini." teriaknya.
"rupanya kamu masih mempunyai tenaga ya." smirknya lalu mengkode anak buahnya yang memang di tugaskan menyiksa korban.
"mari menonton acaranya." Smirknya.
dinding aluminium tempat mereka di ikat dan di gantung perlahan lahan menghangat membuat punggung mereka terasa hangat tapi lama kelamaan panasnya bertambah membuat luka di punggung mereka makin sakit. mereka berteriak bagi yang mampu sedangkan yang sudah lemah hanya mampu bersuara lirih meminta ampun.
"penyiksaan masih panjang, nikmatilah." kekehnya seperti iblis bagi mereka yang telah menyiksa Bella. mereka di culik di tengah jalan saat menuju ke kantor polisi. siapa dalangnya? Rolandlah pelakunya. dia tak akan membiarkan hama yang menganggu dan mengusik ketenangan gadisnya hidup tenang di dunia ini. ah bucin sudah tapi sayang perasaannya masih sepihak karena perasaan itu belum di ketahui gadisnya dan mungkin akan mendapat penolakan. biarlah Roland berangan angan dahulu karena keberuntungan tak ada yang tahu.
__ADS_1
TBC....