
9. membantai polisi
Keesokan harinya, Bella sudah siap dengan pakaian sederhananya. hoodie di padukan dengan celana jeans robek di lutut, sepatu hitam, terakhir tas salempang berisi ponsel dan dompetnya. lukanya dia tutup dengan perban dan plaster yang ia tutup dengan anak rambut panjangnya. Bella mengunci pintu rumahnya dari luar.
berjalan santai menikmati matahari pagi dengan wajah datarnya. sepanjang jalan banyak yang meliriknya sembunyi sembunyi ada juga yang terang terangan. beberapa puluh menit berjalan akhirnya dia sampai di tempat kerjanya dan langsung suguhi wajah pemuda tampan yang menatap binar padanya.
"kak! akhirnya kak Bella datang." Xavier memeluk tubuhnya erat.
"lepas." dinginnya tapi tak di hiraukan oleh Xavier yang sudah kepalang rindu padanya.
"kubilang lepas!!" sentaknya. Xavier terkejut sedetik kemudian matanya berkaca kaca. tanpa melihat kearah pemuda itu Bella berjalan masuk meninggalkan Xavier yang menunduk sedih.
puk
"jangan bersedih. Bella memang begitu sifatnya dari yang kita lihat selama bekerja." Tirian menepuk pundak pemuda malang itu.
Baby mendekat berniat ikut menghibur pemuda malang itu.
"Sifat Bella beku jadi Xavier harus ekstra sabar sama kuatkan hati takut kejadian tadi terulang kembali." senyumnya.
"kembali bekerja!! kamu, Xavier tak perlu bertingkah seperti itu! lanjutkan tugasmu." suara tegas Bobby membuat mereka takut kemudian melanjutkan tugasnya. Xavier melakukan tugasnya dengan wajah suram.
Bella memasukkan Sabun sesuai takaran lalu memutar tombol on dan menyalalah mesin cuci tersebut. Lora juga melakukan hal yamg sama hanya tempat mesinnya sedikit jauh dengan Bella.
"kamu jangan seperti itu pada Xavier." Lora membuka percakapan di dalam ruangan itu.
Bella hanya diam. mencuci tangannya dan memisahkan pakaian berwarna dan tidak.
"Dia masih muda. emosinya kadang berubah ubah." Sambungnya tak mendapat sahutan dari lawan bicaranya.
"kamu dengarin aku gak sih Bell."
"hmm" hanya itu yang keluar dari mulut Bella. Lora menghela nafas kasar.
"kalau dengar kenapa gak di balas sih Bell. capek mulutku berbicara." sunggutnya kesal.
"telingaku yang mendengar." jawabnya dingin.
"ya iya sih." Lora menggaruk lehernya kikuk dia.
Bella melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan semua wejangan yang di berikan padanya. baginya itu hal tak berguna.
....................
"dasar tak berguna!!" Bentak Roland pada beberapa Bodyguard yang berwajah babak belur.
"kalian fikir saya mempekerjakan kalian dengan bayaran yang tinggi tapi hasilnya tak becus!!"
ciklik
Suara pistol yang di tarik pelatuknya.
*dor
dor
dor*
suara tembakan menggema di ruang mewah itu.
"bayaran atas kegagalan." Roland berjalan keluar dari ruangan mewah itu disusul Axe yang memberitahu Pelayan membersihkan kekacauan di dalam ruang kerja Roland.
sementara para Bodyguard menahan sakit di bagian betis sebelah kiri karena tembakan bos mereka. beruntung mereka masih diberikan kesempatan bernafas di bumi. setelah Roland dan Axe tak terlihat, mereka di bantu beberapa pelayan mengobati luka mereka.
Roland masuk ke dalam mobil di susul Axe.
wajahnya yang sangat dingin dengan aura membunuh membuat suasana di mobil makin mencekam. Axe menjalankan mobil itu menuju perusahaan miliknya.
"siapa klien hari ini? "
"Tuan Samuel Atlanta Geirven."
Bukankah itu, sahabatnya sendiri yang sudah bertahun tahun tak bertemu. dia jadi penasaran wajah dan penampilan dari Samuel Atlanta Geirven si Dingin sama seperti dirinya.
kaki jenjang itu memasuki lift khusus untuknya dan para eksekutif. menaiki lantai duapuluh dari lantai duapuluh lima itu dengan tenang. pintu lift terbuka keluarlah Roland bersama Axe menuju Ceo Room dimana tamunya sudah berada di sana.
"Maaf atas keterlambatan kami, tuan Samuel." Axe membungkuk hormat sementara Roland langsung duduk di sofa single dengan wajah angkuhnya.
keduanya saling menatap dingin dan tajam. kedua asisten itu bingung ingin memulai dari mana karena kedua bos mereka seperti saling melempar sengatan listrik dari matanya.
"ehem." dehem Axe
"lama tak berjumpa, Sam."
"ya, lama tak berjumpa,Lan.sekitar delapan tahun bukan?" Roland mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"tak kusangka kau bisa sesukses sekarang." Ujar Roland seperti meremehkan sahabat lamanya itu.
"tak kusangka perusahaanmu masih bertahan sampai sekarang." balas Samuel merendahkan Sabahatnya itu.
"kau banyak berubah ya, menjadi semakin aneh. " ujar Roland dengan senyum remehnya.
"kau juga banyak berubah. keriput di wajahmu bertambah." Smirk Samuel.
keduanya kembali saling menatap tajam seperti leser yang siap membunuh siapa saja yang lewat.
"bisakah kita bahas kerja sama ini?" keduanya menatap datar dan tajam kearah Axe membuat badan Axe berkeringat dingin.
"sepertinya begitu tuan tuan sekalian.jika kalian hanya saling bertatapan begitu emm mungkin hal yang tak di inginkan terjadi." Sony sang asisten Samuel berucap dengan tenang dengan sedikit kata kata ambigu di dalamnya.
"apa maksudmu?" suara dingin itu bertanya.
"mungkin kalian akan saling jatuh cinta."
tubuh keduanya di buat merinding karena ucapan Sony barusan.
..................
pukul sebelas malam. pekerjaan tokoh laundry itu selesai. Bella sudah bersiap siap pulang kerumahnya. badannya terasa pegal karena bekerja seharian penuh jika membunuh badannya tak lelah justru bersemangat berbeda dengan sekarang terlihat lesu.
"kak Bella mau pulang? mau kuantar?" Suara yang sangat membosankan masuk ke indranya.
matanya melirik tajam kearah Xavier.
"minggir." serunya dingin.
"em em." Xavier menggelengkan kepalanya kuat bertanda bocah itu tak ingin pindah dari pintu yang menghalangi jalannya.
"apa maumu?" desisnya menahan amarahnya.
"Xavier ingin mengantar kak Bella pulang!" semangatnya.
"tidak."
"ayolah."
"tidak!"
"ayolah kak Bella." rengeknya.
"bisakah kau minggir? kau memperlambat waktu istirahatku." auranya mencekam. niat membunuh berusaha ia tekan agar bocah di depannya ini tak menjadi korban selanjutnya.
keras kepala
Bella menghela nafas kasar. Ditatapnya datar pemuda di depannya. tangannya mencengkeram kuat dagu pemuda itu membuatnya mendesis sakit.
"jangan membuatku murka dan menyakitimu disini!" tekannya dengan mata berkilat tajam.
tubuh Xavier bergetar takut. matanya berkaca kaca ke arah Bella yang sayangnya tak berpengaruh.
"bocah mengesalkan." Bella mendorong tubuh Xavier kuat hingga pemuda itu hampir terjatuh kelantai. Bobby yang kebetulan masih berada di tokoh Laundry hanya memperhatikan dari dalam karena itu bukan urusannya dan dia juga malas berurusan dengan Bella yang ia akui mempunyai aura misterius dan mencekam. itulah mengapa dia hanya diam saja.
diam lebih baik dari pada masuk kandang singa
Bella berjalan dengan aura suram. kekesalannya masih ada di dalam dirinya. tangannya terasa panas sekarang rasanya dia ingin membunuh hari ini dan itu tidak boleh tidak di laksanakan. matanya mencari sesuatu yang bisa menekan keinginan membunuhnya.
matanya berkilat buas. di depannya beberapa ratus meter terdapat lima polisi yang sepertinya bertugas berpatroli sekeliling tapi mereka malah bermain catur di samping mobil polisi. seringai iblis kini tercetak jelas di bibirnya. senyuman seperti psikopat yang mendapat mangsanya. tapi bukankah memang demikian?
Bella melihat salah satu polisi berdiri dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari kawanannya. Bella tersenyum senang, dia berlahan mengikuti polisi itu tanpa suara menuju semak semak tempat polisi itu berada.
saat berada tepat di belakang polisi yang sedang buang air kecil itu, tangannya mengeluarkan sapu tangannya lalu dengan cepat membekap mulut polisi itu yang bahkan belum memperbaiki celananya. di seretnya polisi itu dengan b*rung yang belum di masukkan ke celananya. dikeluarkan belatinya dari balik hoodienya dan langsung menancapkan belati itu keleher sang korban berulang kali hingga sang korban kehabisan darah.
melepaskan tangannya dari sapu tangan miliknya yang membuat sang korban jatuh ketanah. dia tak menyentuh korban sama sekali, ia menyeret korban menggunakan kedua ujung sapu tangan yang ada di belakang kepala sang korban. melihat sang korban sudah tiada, Bella memakai kaos tangan hitamnya, merobek baju polisi yang di kenakan korban menuliskan kalimat.
-Killer at night is here-
Bella mengambil ponsel sang korban dan menekan chat Room sesama kawannya.
^^^**bro! datang kesini^^^
ada apa?
^^^aku menemukan sesuatu sepertinya akan sangat menyenangkan^^^
tunggu aku**!
Bella menyeringai. tak terlalu rumit mengikuti kosa kata sang korban. menunggu satu mangsa lagi dengan tak sabar, Bella memutar mutar belati berlumuran darah miliknya. suara dia dengar semakin mendekat semakin lebar pula senyumnya. belatinya melayang diudara dan.
jleb
mendarat sempurna di tengah jidat sang korban. polisi tersebut langsung jatuh tersungkur merasakan sakit dan terkejut di saat bersamaan. belum pulih dari keterkejutannya sebuah tusukan di kedua matanya membuatnya berteriak tapi mulutnya di bekap oleh tangan berlumuran darah.
krek
__ADS_1
mulutnya di r*bek paksa hingga ternganga kebar. Bella menyeringai puas, kemudian memasukkan tanah ke dalam mulut yang tak bisa tertutup itu. Bella memeriksa denyut nadi si polisi dan ternyata masih hidup walaupun lemah. mencabut belatinya yang ada di jidat dan langsung menusuknya tepat di jantung.
*jleb
jleb
jleb*
tiga tusukkan menyebabkan korbannya mati tanpa suara.
"kenapa cepat sekali m*tinya?" gerutunya lalu merobek baju di polisi dengan menuliskan kata si punggung sang korban.
-Catch me if you can hihihi-
Bella berdiri, memeriksa barang barang sang korban. ponsel dan dompet semua ia rusak kecuali uang tunai ia kantong. lumayan ada tambahan jajannya. Bella merusak semua barang barang tersebut hingga tak bisa di gunakan bahkan di lacakpun tak bisa. menyeringai puas menunggu tiga mangsanya yang akan datang sendirinya.
sementara ketiga polisi itu masih asik bermain caturnya.
"kenapa mereka lama sekali? bukankah hanya buang air kecil?" tanya salah satu polisi tersebut.
"kamu susullah. siapa tahu mereka sedang bermain bersama." balas satu temannya. sementara yang satu masih asik memindahkan anak catur tersebut.
polisi tersebut bangkit dari duduknya berjalan di tempat teman temannya tadi pergi.
"memangnya bermain sampai selama ini? sudah berapa banyak sp*rma yang mereka berdua keluarkan." gumamnya melewati semak semak.
"ya, mainnya sangat menyenangkan." suara bisikkan yang datang tiba tiba.
jleb
tusukkan di perut sang polisi. mata polisi tersebut terbelalak dengan cepat mengambil pistolnya tapi kalau cepat dengan sebuah benturan yang tepat mengenai kepalannya menyebabkan dia terjatuh beserta pistol yang sudah berpindah tangan.
"pistol yang sudah di rancang dengan peredam suara sangat membantuku bukan?" di putarnya pistol itu di tangan kanannya sambil menatap si polisi yang menatapnya takut serta waspada.
"siapa kau? dan apa yang kau lakukan disekitar sini?" tanyanya menahan sakit di perutnya.
"aku? hanya menghibur diri sendiri." smirknya.
"bagaimana jika kita bermian?" sambungnya.
"Pertanyaannya. jika dia ekor domba lepas dari pengawasan si anjing maka apa yang terjadi?"
"apa apaan pertanyaamu itu. sanga konyol." sentak polisi tersebut.
"pram!! Bray!! kemari kalian! seseorang menusukku!!" Teriaknya lantang di malam hari.
dor
"ucapkan selamat tinggal pada dunia sobat." smirknya lalu menatap pistol di tagannya.
"sepertinya pistol ini lumayan untuk menjadi teman bermainku." monolognya bersmirk.
"Tom! apa yang terjadi di sana?" Teriaknya.
"ah datang lagi mainanku? " Bella berdiri bersembunyi di balik pohon mangga liar yang ada di sekitarnya.
"Tom!!" Teriaknya, dia berlutut di hadapan mayat tersebut. menguncangnya berkali kali seraya memanggil manggil namanya.
"siapa yang melakukan ini padamu?!" tangisnya seraya memeluk tubuh temannya itu.
Bella yang menyaksikan drama melakonis tersebut hanya memandang datar. berlari dengan cepat kearah polisi bertag Bram di seragam cokelat itu.
jleb
tusukkan Bram dapatkan dileher kanannya. darah merembes keluar.
"si-sial!!" umpat Bram menutup lehernya cepat.
"siapa kau!" matanya memerah menahan sakit. darah terus keluar dengan cepat. Bella mendekat bahkan wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Bram.
"tanyakan pada malaikat di dalam kuburmu." sedetik kemudian tubuh Bram jatuh ketanah dengan luka tusuk di leher, perut dan pada k*maluannya. Bella berdiri. penampilannya saat ini sangat menyenangkan mata psikopat. darah di sekujur tubuhnya itu terlihat sangat indah.
bruk
Bella membalikkan badannya, melihat satu polisi terjatuh mungkin berlari menjauh dari tempat kejadian.
"pembunuh! ada pembunuh!" teriaknya, Bray namanya. polisi satu itu berlari tunggang langgang bagai di kejar setan tapi yang mengejarnya bukan setan melainkan pysikopat gila yang sedang tertawa di belakangnya.
"lari! lari sekencang mungkin cepat hahaha." tawa Bella menggelegar di malam itu.
"sialan!" sempatnya sang polisi memaki. tangannya yang gemetar memegang ponselnya seraya berlari secepat mungkin menjauh dari jangkauan Bella yang asik sendiri di belalang menjilat jilat darah yang ada di tangannya.
"****!!" ponsel itu melayang di udara karena tangkisan tangan Bella yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya. tubuhnya dengan cepat merespon meninju kearah Bella yang dengan mudah di hindarinya.
"jika empat ekor domba tak kembali apa yang terjadi?" Bella bertanya pada Bray yang sudah sangat panik di sampingnya.
"brengsek!!!" Bella bersmirk.
__ADS_1
TBC....