
6. Kalian tak akan bisa menemukanku
Sekali lagi Warga Amerika geger akan pembunuhan dari Killer at night. walaupun orang yang terbunuh tak memengaruhi sistem pemerintah tetapi dia masih warga Amerika dan masih berada di wilayah amerika. seluruh warga yang berada di lokasi kejadian menutup jendela dan pintu rapat rapat. keluar jika bekerja dan ada keperluan lainnya. mereka sudah takut akan pembunuhan itu.
cekrek
cekrek
cekrek
suara blitz kamera saling bersahutan di tempat kejadian. tanda larangan polisi kini melingkar di sekitar bahkan, deteketif dan beberapa orang lainnya sedang terjun ke tkp mencari barang bukti.
"tanda bukti kekerasan pelaku tak ada." ujar ketua dekektif dengan nafas gusarnya.
"pembunuhan seperti ini akhirnya terjadi lagi di Amerika." ujar kapten polisi di samping sang ketua.
"siapa sebenarnya killer at night ini? membunuh dan membuat kekacauan bahkan alat membunuhnyapun tak ada sama sekali." gusar sang kapten Detektif, bernama Robert.
topi yang ia pakaipun kini ia genggam erat hingga mengusut.
"periksa semua kendaraan yang lewat di seluruh daerah sini. aku yakin pembunuh itu masih di sekitar sini."
"dan mengawasi kita."
para anggota kepolisian mengangguk sementara anggota detektif masih mencari barang yang bisa melacak keberadaan sang pembunuh.
"pembunuhan tuan Edo saja belum selesai kini ada lagi kasus yang sama." gumam sang kapten polisi yang di dengar oleh Robert.
"pembunuhan kali ini sangat bersih, harus lebih teliti lagi." batin Robert dengan pikiran bercabang.
.......
suara klakson mobil bersahutan di jalan raya. kemacetan ada dimana mana karena penggeledahan tak terduga dari para polisi. di salah satu mobil taxi seorang gadis cantik berwajah datar dengan mata tertutup mendengarkan musik menggunakan earphonnya tampak tak terganggu.
decihan keluar dari mulut sang supir taxi.
"ah kemacetan ini membuat penghasilanku terganggu." marahnya lalu menoleh kebelakang.
"tidakkah menurutmu, pembunuhan ini sangat menyeramkan?"
gadis yang ditanyai membuka matanya memperbaiki posisi duduknya dan melepaskan earphonnya. mata tajam itu menatap intens sang supir.
"sebagian orang merasa terancam dan sebagiannya tidak." cetusnya acuh.
dahi supir taxi itu mengernyit.
"kenapa? bukankah si pembunuh brengsek itu selain mengganggu dia juga menjadi ancaman kita semua. bagaimana jika kami warga yang tak bersalah menjadi korbannya." sang supir berkata dengan menggebu gebu karena amarahnya.
gadis itu tersenyum tipis. matanya memandang keluar jendela mobil dimana polisi sedang memeriksa pengendara dan pejalan kaki satu persatu.
"dia tak akan membunuh orang yang tak bersalah." ujarnya santai.
"darimana kau tahu? kau bukan si pembunuh itu. dan lagi sepertinya kau masih anak remaja berhati hatilah dijalan agar tak menjadi korban."
__ADS_1
gadis itu masih diam dan tak menanggapi ocehan supir taxi yang seperti ibu ibu itu.
"bukankah polisi mengerjakan hal yang sia sia?" celutuknya dengan seringai bahaya.
"maksudmu?" supir itu melihat kearah polisi yang sedang memarahi salah satu warga.
"bukankah terlambat menggeledah mereka sementara kejadian pembunuhan itu sudah lewat semalam---"
"pembunuh itu tidak bodoh untuk menyimpan dan membawa bawa barang buktinya." senyumnya misterius tapi tak di tangkap oleh sang supir.
"bisa saja dia selalu membawa bawa pisaunya itu untuk membunuh. kau tahu nak, setiap pelaku pembunuhan pasti tak akan bisa mengontrol rasa membunuhnya." nasihatnya pada gadis itu.
"paman benar." angguknya
"tapi kalian takkan bisa Menemukanku." smirknya lalu memakai kembali earphonnya.
mobil yang ia tumpangi berjalan sedikit demi sedikit hingah kini mobilnya yang di periksa. seorang polisi muda mengetuk pintu kaca.
tok tok tok
"bisa turun, mohon kerja samanya dalam penyelidikan kali ini."
sang supir turun dari mobil dan berbicara sebentar sebelum seluruh pakaiannya di geledah bahkan mobilnya kini di periksa.
"gadis, mohon turun sebentar."
Gadis itu turun dari mobil dan juga ikut diperiksa oleh polisi wanita. beberapa menit terlewati akhirnya mereka lolos.
"terima kasih atas kerja samanya dan lanjutkan perjalanan kalian." supir itu mengangguk lalu masuk disusul sang gadis berwajah datar.
"kalian sekelompok manusia bodoh."
"kenapa Kak Bella hari ini tak masuk?" tanya seorang remaja pada salah satu pegawai yang bekerja bersama dengannya.
"katanya ada sesuatu yang harus dia lakukan jadi dia meminta izin pada Bu Eny." jawabnya tanpa menoleh karena dia sibuk menyetrika pakaian.
remaja lelaki itu berdecih malas. karena tak ada Bella membuatnya malas bekerja.
"bukankah tugasmu yang mengemas pakaian ini Xavier? kenapa kau duduk duduk aja." tegur Bobby salah satu karyawan tokoh laundry bu Eny dengan keranjang di kedua tangannya.
"hehehe dia tak bersemangat karena Bella tak ada." seru Tika dengan kekehannya.
Xavier memutar matanya malas. remaja yang masih sekolah itupun beranjak mengambil pakaian untuk di masukkan ke dalam plastik. Xavier itu masih lima belas tahun dia yang paling muda dan yang paling tua adalah Bobby yang berusia duapuluh tiga tahun.
"apakah kalian ada yang tahu alamat rumah kak bella?"
kelima pegawai itu melihat kearah Xavier sebentar kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"jika tidak salah, rumahnya di sekitar sini." ujar Tirian .
mata Xavier berbinar kearah Tirian."benarkah? bisa beritahu aku Tirian."
"ck, panggil aku kak Tirian Xavier." marah Tirian yang tak dihiraukan.
"lagian kita hanya beda dua tahun." ujar Xavier keras kepala.
__ADS_1
"Bella saja dipanggil Kak, kita dipanggil nama." seru Lora pura pura marah.
"terserah aku dong." songongnya membuat kelima pegawai muda itu mengeram marah.
"kau selalu menang. beruntung karena kau sangat menggemaskan walaupun sifatmu sangat menjengkelkan kami." ujar Baby yang membersihkan tangannya dari sabun.
"ya, aku harus bersyukur karena Mommy memberiku wajah yang menggemaskan ini."
"MOMMY?! " teriak mereka serempak membuat Xavier terkejut.
"kalian!! membuatku terkejut. bagaimana jika jantungku copot hah!!" marahnya tapi sangat menggemaskan dimata kelimanya.
"pasti kau anak orang kaya." ujar Tirian dengan mata penuh Telisik kearah Xavier.
"hanya anak orang kaya yang memanggil ibunya dengan sebutan 'MOMMY'." celutuk Bobby.
"apa salahnya jika aku memanggil 'MOMMY'. aku juga bukan orang kaya. buktinya aku bekerja disini." jelasnya
"siapa tahu kamu orang kaya yang sedang gabut." Komen Lora yang diangguki keempat temannya.
"bukan! aku bukan orang kaya! " ujar Xavier dengan suara kerasnya.
"ya terserah sih. selama kamu tak membuat kekacauan dan masalah di tokoh laundry ini kami masih menerimamu." suara Bobby menjadi dingin dan menatap Xavier dengan mata tajamnya membuat Xavier berkeringat.
mereka kemudian melanjutkan pekerjaan mereka.
"sial! mereka sangat pandai. aku harus berhati hati. bagaimana jika aku di usir hingga tak bisa bertemu lagi dengan kak Bella."
penyakit cemasnya hampir kambuh jika dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Xavier itu punya masalah gangguan salah satunya penyakit cemas yang berlebihan hingga membuat tubuhnya gemetar sangat hebat. Beruntung dia bisa mengontrol.
.....
Bella berdiri didepan sebuah batu nisan. tangan kanannya melempar mawar hitam di atas gundukan tanah yang terlihat sudah bertahun tahun. wajah tanpa ekspresi itu memandang nama pemilik rumah terakhir.
Danise Demia
Itulah nama sahabat satu satunya pemilik tubuh yang ia tempati sekarang. sahabat yang selalu ada di saat dia susah maupun senang.
"sayangnya nyawamu tak bertahan lama." ujarnya masih dengan wajah datarnya.
"orang baik umurnya pendek ya."
Bella masih menatap lamat lamat makan itu.
"kalian pasti sudah bertemu, aku penasaran bagaimana rasanya memikiki sahabat."
hujan rintik membasahi tanah makam. Bella memperbaiki anak rambutnya membungkuk sedikit dengan ucapan.
'bilang padanya bahwa aku berutang budi'
"sebenarnya aku ingin membalas dendam pada orang orang yang telah menyakitimu, tapi melihat reaksi tubuh yang tak menunjukkan dendam aku mengurung niatku." oh pertama kali dia bercerita seperti ini pada makam.
"tapi bermain sedikit bukan masalah bukan." smirk andalannya kini terlihat di bibirnya.
"haha membuat masalah dan membalas dendam adalah salah satu tujuanku tetap hidup di ragamu Bella. maka dari itu mari kita berpesta darah."
__ADS_1
kekehan dan senandung menjadi pengantar jalannya pulang dari makam di sertai hujan yang makin turun dengan derasnya membasahi tubuhnya.
TBC......