
Siapa calonmu?
_________________________
...HAPPY READING...
...SERATUS PERSEN ORI...
.......
.......
.......
Roland memasuki Mansion utama dengan wajah datar andalannya. sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya disini mungkin sekitar dua tahun dan hari ini dia di panggil pulang entah urusan apa.
"selamat datang kembali tuan muda pertama." sapa semua pelayan yang berjejer rapi di depan pintu.
Roland mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam dimana ia mendengar suara tawa bahagia.
"rupanya keluarga bahagia sedang berkumpul." Sinis Roland membuat orang orang yang ada di ruang keluarga menutup mulutnya dan menatap kearahnya.
"Roland, anakku akhirnya kamu pulang." perempuan berumur berdiri dari duduknya dengan wajah bahagianya dia mendekat kearah Roland berniat memeluknya.
"aku bukan anakmu, wanita simpanan." sarkas Roland dengan wajah datarnya. perempuan berumur itu terdiam dengan wajah sedihnya.
"Roland! jaga ucapanmu! dia ibumu dimana sopan santunmu!" bentak kepala keluarga. Ayah Roland.
"sopan santunku hilang bersama meninggalnya ibuku karena wanita ini terlebih lagi anda pria tua." Roland menunjuk kearah Ayahnya, Kaino De Girion dengan wajah marahnya.
"kak jangan berbicara seperti itu pada orangtua." suara lelaki yang duduk di sofa menegurnya.
satu keningnya terangkat menantang lelaki yang duduk tersebut.
"siapa anda berani menegur saya?"
"dia adik--"
"aku tidak mempunyai seorang adik!" bentak Roland mengagetkan mereka semua.
"aku hanya menganggap adikku yang ikut mati bersama ibuku" berangnya dengan mata memerah.
"jangan pernah menganggap diri kalian keluarga saya, karena bagi saya kalian tak lebih dari seorang pembawa petaka dalam hidup saya" Roland berjalan menaiki lantai atas di mana kamarnya berada.
"jangan dengarkan ucapan Roland. mungkin dia hanya sedang lelah." Kaino memberi senyum pada istri dan anaknya.
"aku ke kamar." Samuel, anak pertama dari istri kedua Kaino bangkit dari duduknya berjalan menuju kamarnya meninggalkan tiga orang.
"Gabriel, kamu kenapa nak?" tanya Sharen istri kedua Kaino yang melihat putra tirinya yang menundukkan kepalanya sedari tadi.
"aku? tidak apa apa." Gabriel berdiri meninggalkan keduanya.
Kaino menjatuhkan tubuhnya di sofa. memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"aku tidak tau harus berbuat apa lagi, Sharen."
__ADS_1
Sharen duduk di samping suaminya mengusap lengan suaminya dengan perlahan berusaha menenangkan walaupun itu ia rasa percuma.
"aku yakin semua akan berubah." ucap Sharen seperti menyakinkan dirinya sendiri.
"semoga"
..........
"WOAHHHHHHHH HUHUHU"
suara musik dj menggema di dalam ruangan, lampu berwarna menghiasi setiap sudut ruang Club. Bella duduk sendirian di pojok yang cukup gelap menikmati cairan merah yang membasahi tenggorokannya.
"sudah lama aku tidak merasakan sensasi ini." smirknya lalu meneguk kembali cairan merah tersebut. tiba tiba sebuah ide muncul di otaknya. matanya memicing memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan manusia manusia gila di sekelilingnya.
mabuk, berjoget, berjudi, berbuat mesum, menjual informasi, melakukan transaksi ilegal. semua ia lihat dan dapat dengar karena insting mafianya bekerja. ia bangkit menuju salah satu wanita malam yang duduk sendirian.
"permisi nona" suara Bella terdengar sayu menggoda di telinga wanita malam itu. wanita malam itu menoleh kesamping dan melihat wajah cantik dengan mata tajamnya.
"iya? ada yang bisa ku bantu?" balas wanita itu dengan senyum menggodanya.
"dia pasti anak orang kaya"
Bella tersenyum miring, melihat gelagat wanita di depannya yang menilainya dari atas sampai bawah. beruntung malam ini dia memakai pakaian yang mahal yang menghabiskan banyak uangnya.
"apa ada orang penting di salah satu bilik di lantai atas dana nona." Bella menyodorkan amplop yang cukup tebal di hadapan wanita tersebut.
dengan mata berbinar wanita itu mengambil uang itu dan memasukknnya di dalam tasnya.
"kudengar dari salah satu temanku yang akan melayani orang atas, malam ini ada salah satu dari komplotan mafia yang sedang melakukan transaksi illegal."
"narkoba dan penjualan organ anak kecil." Bella tersenyum miring di dalam hati. apakah malam ini dia akan berulah?
"apakah Nona mengetahui nama dari Mafia itu?" Bella berharap perempuan yang ada di depannya ini tahu tapi dia menelan pil pahit karena gelengan dari perempuan di depannya.
"aku tidak tahu."
Bella berdiri. "terima kasih atas informasinya Nona." Bella mencium punggung tangan wanita itu berlagak seperti ksatria.
"bersenang senanglah malam ini. kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya bukan?" senyum Bella terlihat misterius.
"anda benar."
Bella berjalan keluar Club. Sampainya di luar dia mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat yang ia selipkan di pinggang belakangnya. melirik arlojinya sebentar lalu menatap club yang sedang ramainya.
"mengurangi beban dunia tak masalah bukan." monolognya. "tunggu lima menit lagi."
......Lima menit kemudian......
Bella yang berjongkok menguap malas. rasanya ia mengantuk sekarang. berdiri meregangkan badannya yang kaku.
"mari kita berhitung."
Lima
empat
__ADS_1
tiga
dua
satu
Booommmmmm
setelah Bella melempar Bom itu ke lantai atas ia berjalan santai membelakangi Club yang roboh akibat Bom kecil tapi memiliki daya ledakan yang kuat miliknya. suara teriakkan kesakitam menggema di malam itu.
.....
Roland berjalan ke meja makan dengan wajah dinginnya. jika bukan karena bujukan kepala pelayan yang sudah ia anggap sebagai Kakeknya sendiri ia tak sudi makan malam bersama mereka.
"Malam, Sayang." sapa Sharen pada Roland dengan senyumnya sayangnya dia tak mendapat balasan di lihatpun tidak oleh Roland.
"tidak perlu merasa sakit hati, sakit hati ibuku tak sebanding dengan sakit hatimu." ujar Roland dingin menikam jantung Sharen dan Kaino.
"kak! jangan berbicara seperti itu." tegur Samuel merasa kesal karena ibunya di sakiti hatinya.
"tutup mulutmu!" Samuel menutup rapat mulutnya.
"bisakah kita mulai makan malamnya? pertengkarannya bisa kalian lanjutkan sehabisnya." Gerald membuka suara karena sudah merasa tertekan dengan keadaan di sekelilingnya. akhirnya makan malam berlangsung dengan sangat dingin.
"To The Point, ada apa memanggilku?" Roland memangku kaki kanannya. matanya memandang lurus kaino.
"kamu Ayah jodohkan dengan sahabat dekat Ayah."
brakk
Meja di depan mereka retak karena gebrakan Roland. matanya memandang tajam semua yang ada di depannya yang ketakutan akan dirinya.
"siapa yang berani mengatur hidupku? tak satapun bahkan dirimu."
"tapi usiamu sudah matang sudah pas untuk--"
"itu urusanku kenapa anda yang sibuk hah!" Roland menendang meja yang retak tadi hingga beberapa bagian terpotong menjadi bagian bagian kecil yang berserakan di lantai. kacanyapun hancur tak berbentuk.
"Kak!!" Samuel berdiri. sungguh kelakuan kakak tirinya sudah sangat keterlaluan.
"apa salahnya mengikuti kata Ayahmu, Roland? ini demi kebaikanmu." ujar Sharen.
"kebaikan apanya? kebaikanku atau kebaikan kalian? menyerahkan hidupku demi kalian? cih tidak akan pernah. jangan pernah bermimpi." Roland berjalan meninggalkan ruang keluarga. berada di kediaman ini membuatnya panas mungkin tempat itu neraka dunia.
"sampai kapan kamu melajang?" tanya Kaino menghentikan langkah kakinya.
"aku sudah mempunyai calon."
"siapa calonmu?" semua penasaran akan ucapan Roland. bahkan Maid dan Bodyguard memasang telinga mereka baik baik.
"bukan urusan kalian." Roland berjalan menjauh.
"kak, apa tak ada aku dimatamu." batin sendu Gerald menatap punggung kakak kandungnya yang mulai menghilang dari pandangannya.
TBC....
__ADS_1