GADIS MAFIA TRANSMIGRASI

GADIS MAFIA TRANSMIGRASI
Chapter 2


__ADS_3

2. Terbangun



di sebuah ruangan yang luasnya tak seberapa. terdapat seorang gadis yang masih tertidur lelap diatas ranjang. tapi tak lama jari jarinya bergerak perlahan lahan disusul oleh terbukanya kelopak mata bernetra hitam pekat itu.


"enggg." lenguhnya pelan.


gadis itu mengerjakan matanya, bingung. dengan cepat dia turun dari ranjang dengan perasaan tak karuan. matanya penuh telisik kesegala penjuru kamar berdinding kayu tak bercat itu.


"dimana?" sontak gadis itu memegang lehernya. kenapa suaranya berbeda? gadis itu berjalan kearah cermin yang memperlihatkan sseluruh badannya.


"siapa kau? " gadis itu menunjuk cermin dan diikuti oleh oleh bayangan di dalam cermin itu.


"oh? apa ini? heh! sialann!" makinya lalu duduk kembali di ranjangnya dengan kaki disilangkan.


Bella, sang Queen Exa akhirnya paham apa yang terjadi sekarang.


"transmigrasi." smirknya. tak lama sebuah ingatan memasuki otak cerdasnya membuat dia menutup matanya menikmati rasa sakit yang tak seberapa itu. hanya di gigit semut katanya.


matanya kembali terbuka begitu ingatan itu selesai.


"anak tak diinginkan yang dibuang saat dia lahir, besar di panti dan mendapatkan perundungan,diskrminasi,pembulyan dan kekerasan fisik. ah, hidupnya begitu menyenangkan."


"nama kita sama hanya saja kamu tidak memiliki keluarga sedangkan aku mempunyainya. namun seperti tidak mempunyai keluarga, kita mempunyai hidup yang sama hanya caranya yang berbeda.--"


"mari kita mulai hidup baru, memporandakan dunia ini." smirk Bella yang terlihat menyeramkan.


Bella sudah selesai membersihkan dirinya sekarang dia berada di dapur membuat sarapan sederhana karena sekarang dia jatuh miskin dan dia menikmatinya. hidup serba kekurangan dan batas dalam menggunakan apa saja yang ada di rumah ini. sungguh kehidupan yang baru saja dia rasakan.


"sudah lima tahun aku pergi. bagaimana dengan mereka?" monolognya sambil makan.


"sepertinya aku sudah mempunyai keponakan. benarkan Bily?" lagi lagi Bella berbicara sendiri sudah terlihat seperti orang tak waras.


.


.


.

__ADS_1


Bella memandangi langit malam berbintang yang sangat indah menurut orang lain tapi bagi Bella dia lebih memilih langit gelap tanpa bintang dan bulan karena itu bisa membuatnya bergerak bebas di malam hari dan menjalani kesenangannya seorang diri.


"sepertinya perlu melatih tubuh ini sebelum bergerak." Bella mengangkat tangan kanannya. sangat kurus dan dekil. pantas dia di buly.


Bella berganti pakaian yang kini memakai hotpants dan crop top berwarna hitam. dan memulai olahraganya untuk membentuk kembali tubuhnya seperti di kehidupan pertamanya.


Bella sudah siap dengan pakaiannya, hari ini dia akan bekerja di tempat pemilik asli bekerja. tubuh yang ia tempati baru lulus dari sekolah menengah atas dan seminggu yang lalu dia di terima bekerja di....


laudry pakaian? yang benar saja. apakah tidak ada pekerjaan lain selain laudry yang bahkan tidak terkenal ini. tapi tak apa, Bella menyukainya.


tringgg..


"selamat dat--oh Bella, apakah kau sudah siap bekerja hari ini?" ujar sang pemilik yang terlihat berusia 40an namanya. Bu Eny.


Bella dengan susah payah menampilkan senyum ramahnya yang sayangnya terlihat canggung.


"sudah bu." singkatnya.


"ya sudah, sekarang kamu kebelakang disana kamu akan mencuci pakaian tapi hati hati karena kalau sampai ada yang lecet maka tempat ibu yang akan dimintai pertanggung jawaban." Bella mengangguk lalu berjalan masuk menuju tempat mesin cuci berada.


"bagaimana cara mencuci pakaian ini?" bingungnya.


"Aha." Bella mengangkat buku itu tinggi tinggi seperti mendapatkan kartu lotre.


"pertama, isi mesin dengan air." Bella mengikuti petunjuk petunjuk hingga akhirnya mesin itu menyala dan berputar.


"wow, sangat keren." kagumnya pada mesin yang berputar itu. sungguh dalam hidupnya baru pertama kali dia melihat caranya biasanya kan tinggal menyuruh dan bajunya sudah ada di dalam lemari pakaian.


hari sudah beranjak siang, Bella saat ini sedang beristirahat dengan makan siang Sandwich di dalam kotak bekalnya.


"kurasa perlu sebulan untuk membentuk tubuh ini. tapi harus ekstra latihan." monolognya di tengah makan.


"Bella." panggil Bu Eny dari luar. dengan cepat Bella berdiri dan berjalan keluar.


"iya."


bu Eny tersenyum lalu membuka laci tempat menyimpan uangnya kemudian memberikan dolar senilai lima puluh ribu rupiah jika di rupiahkan.


"hari ini pelanggan sepi jadi Bella boleh pulang."

__ADS_1


Bella mengambil uang itu. "apakah tempat ini kekurangan pelanggan." gumamnya yang masih di dengar bu Eny.


"tempat ini awalnya ramai pengunjung bahkan sampai ibu harus merekrut karyawan baru tapi beberapa hari setelah itu pelanggan mulai berbelok arah ketokoh besar di seberang sana." Bella mengarahkan tatapannya kearah yang di tunjuk bu Eny.


tokoh laundry yang lebih bagus dan besar memang menarik pelanggan bukan?


"tokoh itu milik tuan Edo. dia salah satu orang yang bekerja di pengadilan entah mengapa dia membangun tokoh itu di sana padahal mereka sudah kaya. yah tapi memang manusia tak akan merasa cukup dengan hartanya bukan? bahkan mereka tak berfikir kehidupan lain yang mereka renggut." wajah bu Eny berubah sendu.


"jika dalam sebulan ini tempat ibu sepi terpaksa kita harus menutupnya." Bu Eny menampilkan senyum terbaik kepada Bella yang mana membuat hatinya sedikit sakit.


"bu--"


"ah kenapa ibu curhat kepadamu. sudah sudah sekarang kamu bisa pulang nak."


"tapi seseorang butuh teman curhat untuk mengurangi beban di hatinya bukan?" Bella mengangkat alisnya sebelah. sama seperti di kehidupan sebelumnya yang suka sekali mengangkat keningnya sebelah.


"ya kamu benar, tapi kamu tidak tau masalah orang dewasa." bu Eny mengibaskan tangannya kekanan kiri.


"aku sudah dewasa, dua puluh satu tahun di kehidupanku lalu." batin Bella meradang.


Bella berjalan dengan wajah datarnya tapi tidak dengan fikirannya yang sudah berakar kemana mana.


"sudahlah memikirkannya membuatku pusing."


"hai manis." sapa seseorang di depannya membuat langkahnya berhenti.


matanya memandang heran ke seorang pria dewasa di depannya. pakaian yang sangat norak menurutnya dan apa apaan rambutnya yang terlihat seperti gunung itu.


"minggir Jamet." dingin Bella.


"eyy nona manis dari mana nih. butuh di temenin gak." saat Jamet itu ingin memegang pipi Bella.


plak


sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jamet itu hingga ia menoleh kesamping bahkan bibirnya kini sudah sobek.


"huwaaaa mama cewek cantiknya galak." teriaknya dengan tangis berderai. Jamet itu lari dengan cepat entah kemana dengan suara tangis memanggil manggil 'mamanya'


"anak mama begayanya kek preman pasar." decihnya malas lalu berjalan kembali menuju rumahnya.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2