
5.Ronald De Girion
Di sebuah ruangan yang sangat besar, berdiri seorang pria tampan menghadap kaca yang menjadi pembatasnya melihat keluar pemandangan kota yang sangat indah dengan sebuah Wine ditangan kanannya. bunyi ketukan pintu membuyarkan lamuannya.
"masuk." ujarnya dingin. sang asisten Axe masuk dengan membawa sebuah kertas yang menurutnya sedikit penting ah mungkin sangat penting hingga ia yang harus turun tangan.
"semua yang anda butuhkan ada di dalam sini Tuan." Axe meletakkan kertas itu di atas meja lalu berdiri tegak dengan pandangan tajam.
Ronald berjalan ke sofa meletakkan minumannya lalu menarik kertas itu membacanya dengan seksama dan teliti.
"Bella, seorang gadis yatim piatu bekerja di laundry nyonya Eny baru lulus beberapa minggu yang lalu. dibuang saat lahir dan mendapatkan kekerasan. kehidupan yang sangat miris." smirknya. tangannya mengambil gelas berisi anggur itu lalu menyesapnya pelan.
"apakah sudah terkirim?" tanyanya tanpa menoleh kepada sang asisten karena matanya kini terpusat pada foto foto milik gadisnya. ah apakah dia sudah mengklaim seseorang yang baru saja dia kenal? tak apa dia juga sudah suka tapi belum cinta. cinta akan datang karena terbiasa bukan?
"Sudah tuan, cek beserta barang barang yang anda minta kini sudah ada di depan rumahnya hanya tinggal menunggu pemilik rumah datang dan menandatangani berkas kepemilikan." jawab tegas Axe.
Ronald De Girion itu orang yang sangat dingin nan kejam. pria berasal dari Italia itu sebenarnya sedang menjalankan bisnis dimalam di mana dia di selamatkan oleh Bella. dia sebenarnya bisa membunuh sampah sampah itu hanya dia lengah dan tanpa sadar meminum obat perangsang hingga otak dan tubuhnya tak sinkron membuat dia tertusuk dan tertembak. bersyukur dia mempunyai kekuatan fisik yang kuat hingga dapat bertahan dari orang suruhan musuhnya.
untuk musuhnya mungkin sekarang sedang meminta minta di pinggir jalan. itulah akibatnya jika sudah berani mencari masalah dengan Ceo GIRION DE'GROUP. pria berumur 28 tahun itu masih lajang dan mungkin kini dia sudah mendapatkan pasangan hidupnya. Bella, gadis itu sudah masuk kedalam list calon istrinya.
.......
Dahi Bella mengernyit. di depan rumahnya berjejer beberapa mobil pikap yang mengangkut barang barang mahal yang mana mengundang tatapan iri dan curiga dari para tetangga yang tak ia kenal dan ia tak mau berkenalan.
seorang pria paruh baya berlari kearah Bella berniat untuk bertanya.
"apa nona kenal dengan pemikik rumah ini?" tanyanya dengan sopan.
"tidak."
pria paruh baya itu mengambil sebuh foto yang terselip di kertas yang ia pegang lalu memberikannya di hadapan Bella.
"tapi wajah anda sangat mirip dengan yang ada di foto ini." pria paruh baya itu memperlihatkan foto milik Bella yang sedang berjalan saat pulang dari kerja.
"dari mana kau mendapatkan fotoku." Bella mencengkeram kerah baju paruh baya itu dengan kuat membuat paruh baya itu kesulitan bernafas. sementara kurir lainnya ketakutan sendiri..
"m-maaf sa-saya ha-hanya menjalankan tu tugas dari atasan." Paruh baya itu menyerahkan kertas kecil yang langsung di ambil kasar oleh Bella.
...Ambil dan Jangan menolak...
-Orang yang kau tolong-
__ADS_1
Bella melempar kertas itu asal lalu menatap datar pada kurir yang sedang ketakutan.
"bawa masuk." ujarnya dingin tapi di dalam hati bersorak gembira. selain mendapatkan cek seratus juta dia juga mendapatkan barang kebutuhannya seperti kulkas dua pintu,mesin cuci, mesin cuci piring dan masih ada beberaoa barang lagi. tapi yang menjadi permasalahannya adalah. mau di letakkan di mana semua barang barang itu? rumahnya kecil bahkan terkesan kumuh untuk barang mewah seperti itu.
Bella menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. dia sungguh lelah karena memindahkan dan meletakkan barang barang itu di tempat yang cocok dan pas menurut matanya.
"apakah malam ini kita membuat kekacauan Bella?" tanyanya pada diri sendiri kemudian terkekeh geli.
"sepertinya tidak dulu. kurang menyenangkan bukan jika membuat mental mereka makin lemah." smirknya tak lama tertidur tengkurap.
keesokan harinya, Bella sudah siap dengan pakaian Sederhananya.hari ini weekend jadi dia mendapat hari libur dan itu dia gunakan untuk berlibur ketaman tapi bukan ketaman biasa dia melatih otot melainkan taman yang sedikit jauh dari rumahnya. selain berlibur dia juga ingin mengenal lebih luas lagi tempat yang ia pijaki (?).
Bella menunggu bus di halte. beberapa dari mereka juga sepertinya akan pergi ketempat yang sama dengannya. selagi menunggu, Bella memainkan ponselnya mencari hal hal yang menarik tapi sayang dia tak mendapatkannya. hanya berita tentang pembunuh misterius yang menjadi papan atas di internet dan itu karenanya. sekitar lima menit, bus datang dan dia masuk setelah membayar karcis.
tak ada kursi kosong terpaksa dia harus berdiri berdesak desakkan dengan orang yang mempunyai berbagai macam bau yang membuatnya eneg. seumur hidupnya baru kali ini dia menaiki bus dalam keadaan berdiri pula.
"sabar Bella sabar."
batinnya sibuk menyabari hidupnya hingga matanya menangkap hal tak senono yang tak jauh darinya. sekitar berjarak dua orang darinya terlihat pria yang sedang memegang pinggang seorang gadis yang terlihat ketakutan sampai ingin menangis. menyadari kelakuan mesumnya tak ada yang lihat, tangan pria itu dari pinggang turun kebawah.
Bella diam diam menyeringai ah dia mendapati mangsa baru hari ini. biarkan dia melakukan pelecehan sesukanya pada gadis itu setelah itu menghadap pada malaikat mautnya. bukankah itu menyanangkan? jangan suruh dia membantu gadis itu karena dia tidak mau tenaganya terbuang sia sia.
bus menuju taman telah berhenti semua keluar satu persatu dan gadis yang mendapat pelecehan itu dengan cepat keluar meninggalkan pria itu yang keluar disusul oleh Bella dengan tangan di dalam hoodienya. ia berusaha untuk tak tersenyum dan menutup senyumnya dengan wajah datarnya.
Bella memakai masker hitamnya melapisi tangannya dengan kaos tangan plastik hitam baru miliknya. mengikuti pria itu yang sudah masuk lebih dalam.
tetes demi tetes air berjatuhan di atas tanah menimbulkan bunyi 'tuk tuk tuk' pria itu merasakan sesuatu yang menjalar di lehernya. sesuatu yang dingin mampu mendirikan bulu kuduknya. berjalan cepat dengan sebatang rokok yang tinggal setengah.
"ah sial, kehabisan rokok membuatku pusing." gerutunya membanting puntung rokok di mulutnya. di rogohnya kantung jaket dan celananya mencari sesuatu dan mendapatkannya. sebuah dompet berwarna pink soft milik gadis yang habis ia lecehkan di dalam bus.
"hari ini keberuntunganku. sudah dapat dompet dapat pula bokong yang kenyal dan lembut. ah rasanya ingin memegangnya lagi.--"
"kenapa tak kuculik saja gadis itu." pikirnya lalu tersenyum mesum.
"masih ada lain kali. yah lain kali culik gadis yang lebih mantap."
"kurasa mulutmu perlu ku bersihkan." komentar Bella yang dari tadi menjadi pendengar kata kata kotor dari pria tigapuluhan itu. matanya menyorot bosan kearah pria itu.
"siapa kau? " tanya pria itu heran karena dia tak menyadari keberadaan Bella dari tadi.
"aku?" tanyanya "hanya seorang gadis yang tersesat." sambungnya dengan mata memandang polos pria itu.
senyum pria itu mengambang mengira dia akan mendapatkan keberuntungan lagi dan lagi. bahkan ucapan Bella sebelumnya tak ia hiraukan. celakalah kau!
__ADS_1
"kemana arah tujuanmu gadis kecil? biarkan pria ini menunjukkannya." pria itu melangkah ke arah Bella yang juga berjalan mendekat kearah pria itu dengan senyum iblis di balik maskernya.
"tapi paman, pertama tama kita harus melakukan sesuatu dulu." suara lembut nan lugu itu terdengar seperti panggilan untuk melakukan hal menggila. tak terasa air liurnya menetes.
"apa yang akan kita lakukan disini gadis kecil?"
pria itu ingin menyentuh rambut tertutup keplok itu namun sayang tangannya tiba tiba tertancap sebilah pisau hingga tertancap ke dinding sebelah kanan mereka. belum sempat berteriak mulut pria itu di sumpal sebuah batu bata hingga mulut itu mengeluarkan darah segar.
"mulut busukmu perlu kebersihan." matanya menyorot dingin kepada pria itu yang sudah terlihat ketakutan. Bella menyukai perasaan ketakutan pria itu.
"bagaimana paman? mau bermain sebentar atau langsung keintinya?" pria itu menggeleng kuat dengan derasnya air mata yang berjatuhan. sakit yang ia rasakan hilang digantikan rasa takut yang amat besar.
"ah, paman sangat membosankan." gerutunya.
"baiklah, karena paman tak mau bermain maka kita langsung ke intinya saja."
"emmm emmm." pria itu menggeleng takut.
Bella mengekuarkan pisau lipatnya. senyumnya makin mengambang melihat mangsanya yang sangat ketakutan bahkan celana pria itu basah karena dia ngompol. satu tangan pria itu yang bebas memegang pisau yang menancap di tangannya.
"em em em jangan bergerak paman, nanti tangan satunya ku tusuk juga hihihi." kekeh ringan itu terasa sangat menakutkan.
jleb
perut pria itu di tusuk
jleb
jleb
bagai orang gila, Bella langsung menikam mangsanya. bukankah katanya tadi dia langsung keintinya. maka dari itu Bella mengirimnya ke peristirahatan terakhir agar tak merasakan sakit yang luar biasa.
mulut pria itu Bella robek dengan tak berperasaan. mata pria itu memutih seluruhnya darahnya bahkan sudah mengenang di sekitarnya. wajah Bella menyenduh melihat mangsanya sudah mati.
"kurang menyenangkan, tapi tak apa aku menyukainya." tawanya lalu menuliskan sesuatu di dinding
I killed again hihihi
-killer at night***
walaupun namanya tak sesuai dengan apa yang ia lakukan. namanya pembunuh di malam hari tapi tadi ia membunuh di siang hari.
TBC......
__ADS_1