
4. Membuat kekacauan
sebulan kemudian
Malam kian larut tapi tak melunturkan semangat Bella untuk terus berlatih memperkuat otot dan melatih kekuatan tubuhnya. selama sebulan itu tubuhnya kini terbentuk karena latihan ekstra yang ia lakukan bahkan tak tanggung tanggung dia melukai dirinya sendiri.
"sepertinya cukup untuk hari ini." gumamnya melap keringat di dahinya.
"hmm? siapa kalian?" tanyanya dengan raut wajah menelisik satu persatu orang berbadan gemuk dan kurus di depannya.
"harusnya aku yang bertanya, siapa kau dan apa yang kau lakukan di wilayahku." raut wajah yang sangat menjijikkan itu membuat Bella mengernyit.
"taman ini bukan milik siapapun." ujarnya dengan nada acuh bahkan kini dia berbalik memunggungi para idiot di belakangnya yang kini berwajah mengerikan dengan kerutan kerutan di wajahnya.
"beraninya kau." salah satu dari mereka memegang bahu Bella kuat.
krrkk
"ARGHHHH" teriaknya saat tangannya di remas kuat oleh Bella. sepertinya tulangnya kini patah.
"jangan menyentuhku sialan!" ujar Bella dingin bahkan wajahnya kini sangat tak berekspresi.
"siapan wanita ini." sebuah pukulan hampir mendarat di wajahnya namun di tangkis dengan tendangan di bagian intinya.
krekk
suara nyaring itu membuat mereka menutup bagian bawahnya dengan tubuh mengigil.
"sepertinya bermain bersama kalian menyenangkan." Smirknya. tubuh mereka kian mengigil saat melihat ekspresi psikopat Bella.
*bruhh
Krek
tak
bumg
argkkk
kakikuuuu
tangankuuu
masa depankuuu
ampun hiks
argggggg mama
bugh
bugh*
__ADS_1
penampilan dari kelompok itu kini tak berbentuk sekarang. wajah memar penuh darah kaki bengkok, tangan bengkok , bau pesing bahkan ada yang sudah pingsan saking sakit dan takutnya.
"dasar manusia manusia sampah." Bella berjalan meninggalkan mereka yang terkapar di tanah.
.......
di atas pohon, kakinya ia goyangkan dari depan kebelakang dengan mata memandang datar pada bangunan megah pada jarak beberapa meter di depannya. memperhatikan dengan seksama setiap sudut bangunan itu. memakai koploknya dengan seringai.
"Amerika, mari kita buat kekacauan." smirknya lalu melompat tanpa suara berlari menuju tempat paling gelap di area tersebut.
di keluarkannya pisau lipat dari saku jaketnya dengan senandung "na na na mari kita buat sesuatu yang menyenangkan~~"
saat sudah sampai di dekat penjaga itu tangannya dengan gesit menikam penjaga itu tepat di titik yang mana membuat orang langsung mati.
"hmm? semudah itukah khekhekhe." kekehnya lalu berdiam di depan gerbang yang tertutup. matanya menelisik ke atas gerbang melihat apakah ada sesuatu yang akan menghalangi misi pembantaiannya.
dukh
kakinya mendarat saat selesai memanjat tembok. di bersihkan tangannya lalu berjalan dengan hati hati.
"Kukira banyak penjaga ternyata kosong." gumamnya saat melihat halaman rumah besar itu kosong mungkin istirahat.
berjalan masuk lebih dalam, samar samar dia mendengar suara tawa yang ia yakini itu sebuah keluarga yang harmonis dengan kebusukan yang menumpuk di belakangnya. kakinya berhenti di depan kaca jendela yang memperlihatkan secara langsung sebuah keluarga yang duduk di depan televisi.
puk
"siapa kau--" belum selesai orang itu berbicara lehernya telah di tikam oleh Bella yang mana membuatnya kehilangan nyawa.
"dasar penganggu." desisnya menatap mayat di kakinya.
"bagaimana hari ini Pa?" tanya sang istri di sela jalannya menuju kamar mereka.
"hari ini sangat menghibur. jika kamu melihat wajah wajah menjijikan itu membuat kesenangan kita sendiri--"
"ya rakyat jelata yang membutuhkan perhatian pemerintah sepertiku akan sangat gampang membuat mereka terjerat tipuan." kekeh sang suami.
"rencanamu sangat bangus sayang, untung kita orang pertama yang menjerat mereka untuk berada di samping kita.jika sainganmu, aku yakin kamu akan kalah deluan dalam pemilihan calon ketua."
kedua pasangan itu masuk kedalam kamar yang sangat gelap bahkan gorden kamarnya tertutup rapat.
"kamu tidak menyalakan lampunya?" tanya sang suami yang mendapat gelengan.
"aku bahkan membuka goredennya saat ingin turun ke bawah."
saat sang suami ingin menyalakan lampu, suara teriakkan teredam membuat sang istri terkejut.
"sayang." panggilnya tak mendapatkan sahutan membuat istrinya takut.
"jangan bermain main, sayang." lagi lagi tak mendapatkan jawabannya.
dengan gerakkan cepat di nyalakannya sakelar lampu yang membuatnya ingin berteriak namun sebuah tangan berlumuran darah menutup mulutnya dengan sebuah pisau di lehernya.
"berteriak kuputuskan lehermu." ancam Bella dingin membuatnya terdiam dengan tubuh gemetar hebat.
"Mmnnn mnnnn." racaunya tak jelas membuat Bella terkekeh.
__ADS_1
"mau lihat hal yang menarik?" tanyanya dengan suara rendah terdengar menakutkan di telinga istri dari Edo yang telah mati dengan darah berlumuran keluar dari lehernya.
digelengkan kepalanya membuat Bella melunturkan senyumannya.
"ah, ternyata kau tak suka bermain ya. baiklah baiklah." di jauhkannya pisau dari leher Istri Edo.
mendapat kesempatan istri Edo berlari kearah pintu berharap dia lepas dari orang yang tak dikenalnya. sayangnya usahanya sia sia karena kakinya kini tertancap pisau milik Bella membuatnya terjatuh.
"kau fikir aku meloloskanmu setelah melihat wajahku." suara datar itu membuat istri Edo mundur berlahan dengan kepala yang ia gelengkan kuat. walaupun memakai masker Bella tetap tak akan senang jika wajahnya di lihat oleh sang korban.
"hahah wajah kesakitanmu Sungguh membuatku sangat tertarik ingin menyiksamu, mengulitimu dan memotong motong dagingmu." walaupun tertutup masker tapi istri Edo tahu bahwa Bella tersenyum miring.
"PEMBUNUH!! KAU PEMBUNUH!! AKU LAPORKAN KAU KE POLISI!!!" teriaknya membuat Bella tertawa sarkas.
"kau fikir bisa lolos dariku nyonya? coba saja jika kau bisa." tentangnya lalu duduk di atas ranjang empuk.
"sungguh enak hidup anggota pemerintah ya dengan memakai uang rakyat." Bella menggelengkan kepalanya lalu menatap istri Edo yang akan membuka pintu.
*syuttt
jlebb*
"ARGHHHHH" teriak keras istri Edo saat tangannya tertancap pisau hingga menembus tangannya membiat tangan itu tertempel di pintu kamarnya.
"bagimana rasanya hmm?" Bella bangkit dari duduk nyamannya, mendekat lalu mencengkeram kuat rahang itu hingga berbunyi suara retakan.
"menyiksa mahluk seperti kalian itu membantu para malaikat mengurangi tugasnya bukan."
dikeluarkan jarum panjang beserta benangnya menatap sang korban yang sedang berteriak teriak seperti orang kesetanan.
"aku harus bersyukur karena kamar kalian kedap suara."
di jahitnya bibir sang korban dengan santai walau mendapat sedikit penolakan." suaramu sangat jelek untuk telingaku." dinginnya.
"selesai." girangnya melihat bibir yang tertutup dengan benang jahitan yang sangat rapi.
"saatnya sesi berikutnya." smirknya.
....
Amerika gempar dengan berita panas.keluarga Edo salah satu calon yang akan menjadi ketua pengadilan hukum itu mati dengan luka tusuk di leher serta sebuah jahitan yang sangat rapi. semua yang berada di kediaman itu di bunuh dengan sadis. warga Amerika kini ketakutan apalagi melihat sebuah nama yang tertulis
"Your life is in my hand."
-killer at night-
Presiden turun tangan dalam mengatasi masalah pembunuhan itu. apalagi yang terbunuh salah satu anggota yang dari pemerintah yang turut dalam mencalonkan diri. polisi dan tentara telah memasangkan pembatas di rumah mewah itu dan melarang siapa saja yang ingin masuk kecuali mendapat izin dari masing masing ketua. wartawan kini sibuk meliputi berita panas hingga presiden menghadiri rapat pers.
semua orang kini tahu siapa yang membunuh karena nama itu ada di dinding. 'killer at night'.
"killer at night aku tak tahu apa masalahmu kepada kami warga Amerika. melihat caramu yang membunuh wargaku dengan cara sadis itu membuat takut para wargaku. tapi ingat ini. aku takkan melepaskanmu walaupun kau mati. aku tahu kau melihatku di layar kaca oleh sebab itu berhati hatilah. dan untuk wargaku jangan cemas karena saya sebagai presiden Amerika akan mencari siapa sebenarnya Killer at night ini."
itulah isi dari pers tersebut hingga berlanjut di sidang rapat membahas hal hal tentang Killer at night ini. sementara yang dicari dan dibahas malas asik bekerja di toko laundry dengan senandung riangnya.
"carilah sampai ketemu." monolognya bersmirk.
__ADS_1
TBC...