
"Apa kau bilang? Perempuan sewaan?!"
Daniel menyemburkan kopi panas yang tengah diminumnya. Tidak percaya apa yang baru saja dikatakan pria di seberang meja. Dia tahu pria itu sejak dulu tidak terlalu waras, tapi perempuan sewaan? Oh God!
"Habis mau bagaimana lagi? Tidak ada satupun babysiter yang tahan dengan Zio. Anak itu ingin seorang ibu, bukan pengasuh." Pria itu meremas kepala dengan jengkel. Matanya berkantung, semalaman dia tidak bisa tidur mendengar tangisan Zio yang memekakkan telinga.
"Lantas kenapa tidak menikah lagi saja Allandra? Alih-alih menyewa seorang perempuan untuk pura-pura jadi ibunya Zio?" Pria bernama Daniel masih tidak habis fikir dengan jalan pikir kawannya.
Allandra berdecak, "kau tahu bukan? Aku benci perempuan! Lebih lagi harus berhubungan dengan mereka!"
Kali ini giliran Daniel yang kebingungan. Kawannya kalau sudah ada mau tidak bisa diganggu gugat, keukeuh. Dan biasanya dia lah yang ketiban sial, kerepotan memenuhi semua keinginan duda satu anak itu.
Sebetulnya dia juga sedikit iba dengan kondisi kawannya. Dia sudah tidak punya ayah atau ibu yang bisa diminta mengasuh putra sematawayang buah pernikahan seumur jagung 3 tahun lalu. Sebagai anak tunggal, Allandra juga tidak memiliki kerabat yang bisa dimintai tolong. Dia hanya punya Daniel, sahabat sejak masih sekolah dasar.
"Kalaupun iya, misal ... kita mencari perempuan sewaan, harus seperti apa dan bagaimana?" Ditatap pria dengan surai cokelat terang itu lurus.
Allandra tampak berpikir, mengusap-usap dagunya yang lancip macam hasil sulam benang. Padahal dia sejak lahir memang tercipta dengan wajah rupawan. "Yang jelas harus cantik, putih, tinggi, dan punya kemiripan walau sedikit dengan Zio." Bebernya enteng, seolah mencari perempuan seperti itu sama mudahnya dengan mencari kerupuk udang di pasar swalayan.
"Kau pikir yang punya fisik seperti itu selain Khalila siapa lagi?" Daniel menatap lawan bicaranya skeptis. Allandra mendongak, tatapannya menyipit. Dia jelas tidak suka nama perempuan itu disebut.
"Oke ... oke, aku tidak bermaksud membawa nama perempuan itu," Daniel cepat-cepat mengangkat lengan tanda minta maaf, sebelum gelas kopi yang masih mengepul itu disiramkan ke kepalanya.
"Tidak perlu persis, hanya sedikit mirip. Entah itu matanya yang kecil, bibirnya saja yang kriting, atau hidung dan alisnya yang serupa Zio, aku tidak peduli." Kembali Allandra menjelaskan. Berusaha untuk tidak memikirkan nama perempuan yang tadi disebut kawannya.
"Bagaimana dengan resume?" Daniel mengejar.
"Itu tidak terlalu penting. Tidak msalah jika pendidikannya tidak terlalu tinggi. Yang penting dia berasal dari keluarga baik-baik dengan latar belakang sederhana. Dan tentu saja, dia bisa berakting dengan baik sebagai seorang ibu." Tambah pria yang merupakan Chairman dari Allandra's Group. Perusahaan waralaba besar di Ibukota.
Daniel tampak berpikir sejenak, gadis dengan latar belakang sederhana dan dari keluarga baik-baik memang tidak sulit. Namun mencarinya juga tidak akan mudah, apalagi yang mau menyewakan diri sendiri.
"Baiklah ... beri aku satu bulan," pada akhirnya dia kembali bersuara. Allandra menaikan alis, "tidak, aku ingin perempuan itu minggu ini juga!" Tandasnya.
Daniel terperangah.
"Apa kau sudah kehilangan akal?!"
***
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kalau minggu depan kau tidak bisa membayar uang sewa, keluar dari tempat ini!"
Ibu kost melempar sandal jepitnya ke arah gadis yang masih mengenakan piyama bergambar **** itu. Si gadis yang baru saja bangun tidur tampak bingung sekaligus takut. Melihat perempuan tambun di depannya memasang wajah mode perang membuat nyali siapa saja ciut.
"B-baik bu, saya janji ... akhir minggu ini uang sewanya saya bayar." Gelagapan gadis itu menjawab. Berusaha untuk tidak menatap lawan bicaranya secara langsung.
Tanpa bicara lagi ibu kost pergi meninggalkan petak kecil itu seraya membanting pintu.
"Fiuh ... kau selamat kali ini Zach ...," gadis itu melorot jatuh ke lantai, menghela napas lega seolah baru saja lolos dari maut.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan tenaga, gadis itu bangkit dan masuk ke kamar mandi. Hari ini dia harus berusaha lebih keras mencari pekerjaan lagi, uang saku pemberian ayah sudah sangat tipis. Dan kalau harus pulang ke Bandung sebelum mendapat pekerjaan dia tidak mau.
Awal tiba di ibukota Zachira pikir hidupnya akan langsung enak. Apalagi dia nekad pergi karena dapat panggilan dari salah satu perusahaan otomotif yang cukup terkenal di daerah Cempaka Putih. Ayah bahkan rela menjual sebagian perhiasan peninggalan ibu untuk bekalnya.
"Enggak usah banyak begini yah, Zach kan di sana mau kerja." Tolak gadis berlesung pipit itu ketika ayah mengasongkan amplop yang cukup tebal.
"Udah, bawa aja ... kita enggak tahu apa yang akan terjadi kan?"
Dan benar, sampai sekarang Zachira amat bersyukur menerima semua uang itu. Kalau saja tidak mungkin hidupnya akan terluntang lantung di jalan begitu saja.
Panggilan kerja dari perusahaan itu rupanya penipuan.
"Setahu saya di sini sedang tidak membuka lowongan kerja mbak," resepsionis di kantor itu menjelaskan. Membuat semangat yang tadinya sudah sangat menggebu, rontok seketika. Uang yang dia taransfer ke pria yang mengaku mengurus segala persyaratan untuk masuk ke perusahaan itu raib, sama seperti pria tidak bertanggung jawab yang juga hilang entah kemana.
Tadinya begitu mendapat kabar Zachira mau langsung kembali pulang saja. Tapi ... mengingat apa yang sudah ayah berikan nyalinya ciut. Dia tidak ingin mengecewakan ayah, juga kedua kakak dan adiknya.
"Bagaimana? Kamu diterima?" Tanya ayah dari seberang sana. Zachira berusaha untuk terdengar ceria, "iya ... minggu depan Zach sudah bisa langsung kerja. Ayah enggak perlu khawatir." Jelasnya pelan, memohon ampun dalam hati karena sudah berbohong.
"Yasudah, jaga diri baik-baik ya nak, Ibukota itu keras ... kamu harus tahan dari semua godaannya."
Gadis itu mengiyakan, berusaha tetap ceria sekalipun air mata tidak henti berjatuhan. Baru datang saja dia sudah tahu sekeras apa tempat itu.
"Chi Mei, nitip si Meong ya?"
Setelah mengunci pintu kost dia memangku kucing kecil berbulu putih ke rumah sebelah. Seorang China tua usia 60 tahunan bergetar menerima makhluk kecil berbulu halus itu.
Mau tidak mau Zach mengangguk, dia tentu tidak bisa menolak karena sudah merepotkan perempuan tua itu dengan kucing miliknya yang seminggu lalu dia temukan terluka di pinggir jalan. Mungkin terserempet motor yang melintas.
"Yaudah Zach pamit. Jangan lupa kasih makan ya Chi," sebelum menuruni tangga gadis itu menoleh sekali lagi. Melambaikan tangan ke arah kucingnya.
***
Bruk!
"Ish ... hati-hati kalau jalan!" Daniel mengdengus kesal. Saat baru saja keluar dari dalam mobil seseorang menabraknya hingga hampir terjatuh.
"A-anu ... maafkan saya pak," suara kecil seorang perempuan tampak gelagapan. Daniel menunduk, mendapati gadis mungil dengan surai legam memunguti amplop cokelat yang berserakan.
"Saya tidak sengaja," gadis itu kembali bersuara seraya berdiri dengan lebih tegak, mendekap amplop di dadanya.
Untuk beberapa saat pria berusaha 28 tahun itu mengerjap, gadis di depannya tampak manis sekali, dengan rambut terurai bergelombang dan poni jarang di kening serta pipinya yang merona karena kepanasan.
"Apa anda baik-baik saja?" Gadis itu kembali bertanya, membuyarkan lamunan pria di hadapannya.
"Ah itu ... ya, saya baik-baik saja." Pria itu menjawab cepat. Berusaha fokus.
"Kalau begitu saya permisi." Ucapnya seraya berlalu pergi. Namun baru beberapa langkah Daniel kembali memanggilnya, membuat langkah perempuan itu terhenti.
__ADS_1
"Ada apa lagi ya pak?" Dari wajahnya jelas dia kebingungan. Daniel menghampiri, mencoba mengamati gadis itu lebih jelas lagi. Bibirnya tipis sekali, pink natural. Alis melengkung sempurna tanpa ada garis pensil. Mata kecil namun tetap memiliki doble eyelid, benar-benar seperti yang dia cari selama hampir sepekan ini.
"Apa ... kamu sedang mencari pekerjaan?" Ragu pria itu bertanya. Semula perempuan itu tampak kaget, dia menyipitkan mata dengan curiga. Jangan-jangan pria ini ada niat ingin menjual dirinya atau semacam itu.
"Apa urusannya dengan anda?" Tanya gadis itu dingin. Masih curiga.
Daniel gelagapan, "eh ... anu, saya punya teman yang butuh pekerja baru, kalau kamu tertarik kita bisa bicarakan jelasnya di cafe sana." Jelasnya sambil menunjuk sebuah cafe kecil di seberang jalan.
Awalnya gadis itu tampak ragu. Dia khawatir lagi-lagi itu hanya penipuan seperti yang sudah-sudah. Namun, tidak ada salahnya mencoba, dia juga sudah lelah terus menerus ke sana ke mari mencari pekerjaan. Akhirnya dia menganggukkan kepala, mengikuti pria yang sama sekali belum dikenalnya ke tempat yang ditunjukkan.
***
"Jadi nama kamu Zachira?" Pria itu menatap gadis di seberangnya. Zachira mengangguk, membiarkan salah satu amplop lamaran pekerjaan miliknya diamati oleh pria yang memperkenalkan diri sebagai Daniel Pradipta itu.
"Sebenarnya, pekerjaan yang saya tawarkan bukanlah di perusahaan. Tapi untuk bekerja secara pribadi kepada atasan saya." Pria itu mulai menjelaskan, mencari kata yang tepat agar tidak membuat gadis di depannya salah paham.
"Memang pekerjaan seperti apa pak?" Kejar Zach penasaran.
"Pengasuh anak, atasan saya itu seorang duda dengan satu anak. Umurnya 2 tahun."
Mata kecil milik Zachira membesar, "babysiter?" Tebaknya. Daniel tampak menggaruk tengkuk tidak gatal, sedikit bingung bagaimana menjelaskannya.
"Ya ... sejenis itu, hanya saja ... kamu harus mau dipanggil 'ibu' oleh anak itu." Pelan, Daniel sedikit berbisik ketika mengatakannya.
Dahi gadis itu mengkerut, babysiter tapi dipanggil 'ibu'?
"Jadi maksud anda saya disewa untuk pura-pura menjadi ibu dari anak itu?!"
"Pstt ... jangan kencang-kencang, nanti orang lain dengar." Daniel mencoba menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya. Zachira menepuk lengan pria itu keras, kaget dengan gerakan tiba-tibanya.
"Anda pikir saya perempuan macam apa? Saya memang sedang butuh pekerjaan, tapi bukan berarti saya mau-"
"Please ... pikirkan dulu sebelum menolak, saya tahu anda perempuan baik-baik. Itu sebabnya saya menawarkan pekerjaan ini kepada anda nona Zach." Daniel tampak sedikit memelas, dia sudah kebingungan mencari perempuan yang diminta Allandra. Dan saat ini dia ada di depan mata, Daniel tidak ingin hilang kesempatan.
"Memang kemana ibunya? Kenapa harus menyewa perempuan? Kenapa atasan anda tidak menikah lagi saja?" Bibir gadis itu tidak bisa tidak bertanya. Berpikir pria macam apa yang begitu ribet mencari ibu sewaan hanya untuk putranya? Memang dia tidak suka perempuan apa? Sampai harus menyewa segala.
"Urusan itu memang agak rumit kalau dijelaskan. Yang pasti ... kalau anda bersedia, saya pastikan penghasilan anda akan jauh lebih besar daripada pekerja kantor biasa." Daniel mencoba kembali menawarkan.
"Memangnya saya terlihat seperti seorang mata duitan?" Zachira tampak tersinggung.
"A-anu ... bukan itu maksud saya, saya hanya-"
"Yasudah, akan saya pikirkan." Potong gadis itu dengan helaan napas, sungguh bukan pekerjaan seperti ini yang dia inginkan. Namun harus mencari pekerjaan di mana lagi? Hanya berijazah D3 tidak lantas membantu banyak. Sudah hampir satu bulan yang dia terima hanya penolakan. Sementara biaya sewa tempat dan makan sehari-hari jelas harus dipenuhi.
"Ah, terimakasih sebelumnya nona Zach ... ini kartu nama saya, kalau mau besok pagi anda bisa menemui saya di alamat itu. Saya akan senang hati menunggu anda." Daniel nampak sangat antusias, dia sungguh berharap gadis itu bersedia bekerja. Agar tugasnya cepat selesai.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Zachira mengasongkan lengan kanan. Daniel buru-buru menyambut uluran tangan itu, sejenak mengagumi betapa halusnya telapak tangan gadis di depannya. Selepas berjabat tangan si gadis berlalu, meninggalkan pria yang masih mematung, menatap kepergiannya.
__ADS_1
[Jangan lupa like, vote, dan komen yaaa😊🙏 See you di chapter selanjutnya!]