GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
GADIS LUGU YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Sial! Gue kesiangan!"


Allandra setengah melompat bangun dari tempat tidur. Melempar jam alarm digital ke atas ranjang dan berlari ke dalam kamar mandi. Begadang selamalaman memeriksa dokumen membuat dirinya baru bisa tidur menjelang pagi.


Selesai mandi dia tergesa memakai kemeja dan celana, menyambar tas kerja serta jas dari hanger kemudian keluar kamar.


"Zio ... where are you?"


"He's here!"


Dari arah dapur Zachira terdengar menyahut. Samar aroma rempah khas bumbu nasi goreng menguar, membuat perut kosong Allandra memberontak minta diisi. Ketika memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur dia mendapati Zio sedang asyik meminum susu dari dalam dot-nya. Sementara itu Zachira sedang asyik mengaduk-aduk nasi goreng, bersenandung riang sambil sesekali meladeni ocehan Zio.


"Ah, anda rupanya. Ayo sarapan dulu." Ketika sadar ada Allandra di belakangnya Zachira melempar senyum. Menuang nasi goreng ke atas sebuah piring kemudian menghampiri Allandra.


Pria itu menelan saliva, perutnya benar-benar lapar, namun dia harus segera pergi.


"Tidak bisa, aku harus segera ke kantor." Walau begitu tergiur dengan nasigoreng seafood yang masih mengepul itu dia menggeleng. Berjongkok di depan boxs pengaman anaknya.


"Ayah berangkat dulu kerja ya?" Ucapnya seraya mencium pipi Zio yang selalu wangi khas bayi itu.


"Ayolah, sebentar saja. Anda tidak bisa pergi dengan perut kosong." Zachira menarik lengan bossnya, memaksa pria itu duduk di salah satu kursi kemudian mengasongkan piring nasi goreng itu serta segelas air.


"Tapi-"


"Sudah, makan saja. Sementara itu biar saya sisir rambutnya ya?" Dia menunduk sejenak, menatap Allandra dari samping.


Pria itu mengalihkan pandangan, tersadar ke luar kamar dengan rambut yang masih acak-acakan.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Tolaknya seraya menyisir rambut itu asal dengan jari. Zachira kembali menggeleng, "udah, anda makan saja, nanti kesiangan loh."


"Dasar, perempuan pemaksa!" Gerutunya seraya mulai memasukan sendok ke dalam mulut. 'Hey, ini enak!' Ia membatin, selain mendiang ibu, baru kali ini ada perempuan yang membuatkan dia sarapan seperti ini.


Zachira tersenyum senang melihat boss nya menikmati makanan yang dia buat. Diraihnya sisir di atas meja kemudian mulai menyisir rambut berantakan Allandra secara perlahan, walau bukan seorang hair stylish, dia sering menonton drama korea di TV dan memperhatikan bagaimana cara pria di dalam drama itu menata rambut.


Dari pantulan bayangan di cermin seberang meja makan Allandra iseng mencuri pandang. Memperhatikan jemari lentik itu bermain dengan rambutnya.


Well, kalau saja jujur Zachira adalah satu-satunya perempuan yang dia perbolehkan menyentuh kepalanya. Dia juga tidak tahu kenapa, padahal Zachira baginya hanya seorang pelayan. Tidak lebih.


"Kenapa anda melihat saya seperti itu?"


"Apa? Ah, tidak." Allandra menggeleng, menyudahi makan dengan meminum habis air di dalam gelas.


Acara sisir menyisir itu juga selesai. Zachira tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Sementara itu laki-laki di depannya justru menaikan sebelah alis dengan heran, takjub, aneh, dan entah apa lagi.


"Ada apa?" Gadis itu ikut menatap pantulan bayangan mereka di cermin.


"Kenapa kau seenaknya saja mengubah gaya rambutku?" Dia mengalihkan pandangan ke arah Zachira. Gadis itu menautkan alis, memperhatikan pria tampan di sebelahnya. Tidak ada yang salah.


"Tidak ada yang salah kok, anda malah terlihat lebih tampan." akunya, menoleh sejenak ke arah Allandra kemudian beranjak mendekati boxs Zio, anak itu sudah mulai rewel, bosan duduk.


Sejenak Allandra tertegun.


"Kau bilang aku tampan?" Melupakan sejenak kalau dia harus segera pergi ke kantor pria itu menatap punggung Zachira.


Yang ditanya menoleh sekilas, "iya ... apa yang salah?"


"Tidak, aku ini memang dilahirkan tampan!" pria itu berseru bangga.


"Oh ya? Baru tahu saya ada yang dilahirkan tampan, saya pikir semua orang dilahirkan telanjang." ucapnya enteng, membuat Allandra ternganga.


Gadis itu! Benar-benar!

__ADS_1


"Katanya sudah telat?" Baru saja hendak membuka mulut, gadis itu sudah mengingatkan dia. Mau tidak mau Allandra mengalah, bergegas keluar dari mansion itu.


'Awas saja nanti kau!'


***


"Kau potong rambut?"


Daniel yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Allandra dengan setumpuk berkas tiba-tiba bertanya. Kaget dengan penampilan baru pria di depannya yang selama ini jarang sekali berganti gaya rambut.


"Oh ayolah ... kau orang ke sekian yang menanyakan itu!" Allandra memutar mata dengan sebal, sekali lagi melirik penampilannya dari pantulan dinding kaca. Apa benar penampilannya berubah sedrastis itu?


"Habisnya kau tampak berbeda hari ini? Disisir siapa sih?" Pria bersurai legam itu menatap dengan penuh tanda tanya. Membuat Allandra memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba menghiasi pipinya.


'Sial! Kenapa aku jadi gugup begini?' Umpatnya dalam hati.


"Lan?"


"Ah, tidak ... lagian ini cuma gaya rambut kok dipermasalahkan?" Sanggahnya. Mencoba terlihat kalem.


Walau Daniel masih penasaran, dia urung bertanya lagi. Memilih mengasongkan dokumen itu kepada Allandra untuk segera ditandatangani.


"Zachira apa kabar?"


Tiba-tiba dia bertanya. Membuat gerakan pena milik Allandra terhenti. Pria itu terdiam sejenak kemudian menjawab, "dia ... dia baik-baik saja, mungkin."


"Kau sebaiknya tidak terlalu keras padanya. Kurasa ... dia perempuan baik." Pria dengan tuksedo cream itu berbicara dengan pandangan menerawang, menatap hiruk pikuk jalanan Ibukota di bawah sana.


Allandra tidak mengatakan apa-apa, walau dalam hati kecil dia mengiyakan ucapan kawannya itu.


Ya, Zachira adalah perempuan baik. Dan itulah yang dia takutkan. Perempuan baik terakhir yang dia kenal hanya bisa meninggalkan luka mendalam, luka yang sampai hari ini begitu membekas sehingga sulit dilupakan.


***


Hampir 15 menit Allandra mengobrak abrik ruang kerjanya. Dibantu sekretaris Yu mereka menelusuri tiap inchi tempat seluas 10 kali 10 meter itu dengan teliti.


"Saya yakin pak, dokumennya sudah saya serahkan kemarin sore."


Sekretaris Yu bersuara, memilah tumpukan dokumen di bawah meja. Dalam hati dia kesal bukan main, ini sudah bukan kali pertama Allandra lupa menaruh barang seperti ini. Sejak dulu dia memang dikenal pelupa dan ceroboh.


Suatu hari dia bahkan pernah lupa dimana Zio saat berbelanja ke sebuah swalayan. Seharian dia mencari anak itu, memaki petugas keamanan gedung hingga semua staff dan bahkan pegawai kebersihan.


Padahal sejak awal dia tidak membawa serta Zio ke swalayan tersebut, menitipkannya pada sekretaris Yu karena anak itu sedang tidur siang. Benar-benar merepotkan.


"Kau yakin?" Allandra menanggapi ucapannya dengan pandangan menyipit.


"Tentu saja, saya ini tidak pelupa!" Pria bernama Yuhan itu menjawab ketus.


"Jadi maksudmu aku yang pelupa?" Giliran Allandra yang menatap lawan bicaranya tajam, bertolak pinggang.


"Ah ... anu, bukan itu maksud-"


Drttt ....


Kepala dua orang pria itu menoleh hampir bersamaan ke atas meja. Ponsel milik Allandra bergetar, layarnya berkelap-kelip.


Terlupakan soal lupa dan pelupa tadi, Allandra bergegas meraih ponsel, ada nama "Gadis Bodoh" tertera di sana.


"Bisakah kau ini tidak menelponku saat jam kantor? Aku sibuk!" Bentaknya kesal.


"Calm down Sir, anda yakin tidak melupakan sesuatu di rumah pagi ini?"

__ADS_1


Allandra terdiam sejenak, menautkan alis. "You found my map?"


"Yups!"


"Oh Gosh ... bring it now!" pria itu berseru lega. Dia baru ingat pagi tadi menaruh map itu di atas meja makan, karena tergesa dia lupa membawanya ke kantor.


"With Zio?"


"Of course! Kamu pikir dia bisa ditinggal sendiri?" Pria itu mengacak rambut kesal. Gemas, kalau saja bisa ingin dia makan perempuan itu bulat-bulat.


"Oke oke, anda tidak perlu meremas rambut seperti itu, setengah jam lagi saya sampai." Zachira terdengar setengah tertawa.


Pria itu tersentak kaget, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan curiga dan was-was, bagaimana bisa gadis itu tahu dia sedang meremas rambut? Apakah dia menaruh kamera atau semacamnya? Jangan-jangan gadis itu penguntit?


"Oh ayolah ... anda tidak usah berprasangka buruk begitu, tidak ada kamera di ruangan anda, saya sudah sering melihat anda meremas rambut kalau kesal kepada saya." Ucapnya enteng. Membuat Allandra justru makin terperangah.


"Hei kau-"


Tut!


Baru saja hendak bersuara sambungan telpon itu terputus. Dia menyumpah-nyumpah dengan kesal. Gadis itu selalu saja mengagetkan! Dia harus waspada mulai sekarang.


***


"Zio ... jangan lari, nanti jatuh!"


Zachira berseru kecil seraya berlari masuk, mengikuti Zio yang langsung ngacir begitu turun dari gendongan. Sejak bayi sering dibawa ke kantor membuat bocah dengan tubuh mungil itu sudah familiar. Beberapa staff kantor menyapanya, gemas.


"Yayah!" Dia berseru girang melihat Allandra keluar dari dalam lift. Pria itu tersenyum lebar, setengah berlari menyongsong putra kecilnya yang tersandung-sandung.


"Hei son!" Serunya begitu Zio melempar diri ke dalam pelukan. Dihujani pipi tembam anak itu dengan ciuman sayang.


Zachira tersenyum kecil. Dia selalu senang melihat perlakuan boss nyapada Zio. Sekalipun dia begitu dingin, menyebalkan, overprotektif, pede kompleks ... bagi Zio dia tetaplah ayah terbaik.


"You late!" Desis pria itu, menatap Zachira dengan ekor mata. Yang ditatap justru memutar mata dengan sebal, dia hanya terlambat lima menit. Dan itu karena Zio keukeuh ingin mengejar kucing buluk di parkiran depan.


"Pardon me ... ini dokumennya." Perempuan itu berusaha tetap tersenyum, menyerahkan map berwarna biru ke tangan Allandra. Pria itu menerimanya kemudian menyerahkan Zio.


"Go eat something with your ... mbu, yayah kerja dulu." ucapnya, sedikit tergagap ketika menyebut kata 'mbu', walau sudah hampir dua bulan tinggal satu atap, dia tidak pernah terbiasa memanggil Zachira begitu.


"We'd to go home now ...." Zachira memasangkan topi ke kepala Zio. Allandra menaikan alis, "why? Kalian baru saja sampai."


"Iya ... but, di sini juga mau ngapain? Mending di rumah, sekalian bikin kue." Jelas Zachira kalem.


Allandra tampak kaget. "Kue? Memangnya kamu bisa bikin kue?" tanya pria dengan obsidian hazel itu heran campur takjub.


"Of course ... anda mau saya buatkan kue apa?" Gadis itu bertanya, tersenyum.


Allandra tampak berpikir sejenak, mengusap-usap dagu lancipnya.


"Kamu bisa bikin choco lava cake?"


Giliran alis Zachira yang terangkat. Halo ... apa dia tidak salah dengar? Choco lava? Macam anak-anak saja!


"Bisa ... ya sudah nanti saya buatkan." Gadis itu akhirnya mengangguk. Berpamitan pulang, membiarkan Zio melambaikan tangan sampai mereka keluar dari dalam gedung.


Allandra menatap punggung mereka dalam diam, betapa mereka benar-benar telihat seperti ibu dan anak.


Ah sial, apa pula yang baru saja dia pikirkan?


[Bagaimana ceritanya? Jangan lupa like, rate, dan komen ya!😊🙏🙏 see you di next episode!]

__ADS_1


__ADS_2