GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
LELEHAN COKELAT DAN DEBAR ITU


__ADS_3

"I'am home!"


Dari arah pintu depan terdengar suara kunci pintu yang terbuka. Disusul seruan riang si pemilik rumah, Zachira yang baru saja menidurkan Zio di kamar bergegas keluar. Allandra tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.


"Ah ... sudah pulang rupanya, bagaimana hari anda Sir?" Zachira menyongsong bossnya. Seperti kebiasaan mengambil alih tas kerja Allandra kemudian menaruhnya di atas meja kerja.


"Sibuk, dan kau jangan menambah kesibukanku dengan banyak bertanya!" Seperti biasa, pria yang sekarang rambutnya sudah berantakan macam sarang burung itu menjawab ketus. Menghempaskan diri ke atas sofa, tidak lupa dia membuka tiga kancing teratas kemeja yang dia kenakan. Hal itu selalu berhasil membuat Zachira cepat-cepat mengalihkan pandangan, pergi ke dapur.


Tak lama perempuan berpiyama hitam itu datang dengan menenteng napan, Allandra mengalihkan pandangan ketika hidungnya mencium aroma Vanilla Late. Di atas napan itu ada cangkir yang isinya masih mengepul.


"Kau membuatkan aku minum?" Dia menaikkan alis, meraih cangkir yang ditaruh hati-hati oleh Zachira di atas meja. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan.


"Kenapa tidak bertanya dulu? Aku ingin kopi hitam." Ketusnya.


Mendengar itu Zachira menghentikan gerakan tangan Allandra yang menggiring camgkir ke mulutnya.


"Hei hei ... apa yang kamu lakukan?!"


"Bapak bilang mau kopi hitam kan? Yasudah kembalikan ini." Perempuan itu merebut cangkir Vanilla Late dari tangan Allandra, tanpa ragu meminumnya sendiri.


"Hei! Itu milikku!" Pria itu berdiri, mencoba merebut cangkirnya kembali. Namun Zachira malah berlalu begitu saja, menikmati Vanilla Late sambil berjalan kembali ke dapur.


"Zach! Mana Vanilla-ku? Ayo balikin!"


Ketika asyik memecahkan telur ke dalam baskom suara Allandra kembali terdengar. Rupanya dia mengikuti Zachira ke dapur.


"Katanya mau kopi hitam?" Zachira menoleh sekilas, acuh menyalakan mixer. Dia bermaksud membuat kue yang tadi dipesan bossnya.


"Yasudah buatkan kopi hitam!"


"Buat saja sendiri." Tolak gadis yang malam itu menggulung rambutnya macam rumah siput cuek, menakar gula, terigu, dan mentega ke dalam beberapa wadah.


"Ayolah ... aku tidak bisa membuat kopi, rasanya berbeda, tidak sama dengan buatanmu." Kali ini Zachira mendengar nada merengek dari bossnya.


Lihatlah, tadi dia bersikap begitu dingin. Sekarang hanya karena secangkir kopi dia merengek macam anak kecil?


"Zach ...."


"Zach!"


"Iya ... iya, dasar cerewet!" Pekak dengan rengekan bayi besar bernama Allandra itu Zachira menurut. Mengambil cangkir, gula, serta kopi. Pria di belakangnya sekarang duduk di salah satu kursi bar, memperhatikan gerakan tangan gadis di hadapannya.

__ADS_1


"Kau ... sebenarnya kau ini dulu kuliah di mana?"


Allandra tiba-tiba bertanya. Membuat Zachira yang kini tengah menekan tombol air panas menoleh. "Di kampus tentu saja, memang kenapa?"


"Ya ... aku heran saja, kau pintar memasak, membuat kue, membuat kopi, bahkan kau juga pintar berbahasa Inggris dan Mandarin. Kenapa tidak bekerja di kantor besar saja?"


Zachira terdiam sejenak. Sedikit heran kenapa pria itu tiba-tiba bertanya perihal kehidupan pribadinya. Padahal selama ini dia cenderung bodo amat akan apapun tentang Zachira.


"Inginnya begitu, tapi sepertinya Tuhan menakdirkan aku berada di sini sekarang, membuatkan kopi untuk pria yang mendadak hobi bertanya seperti anda."


Mendengar jawaban satire dari gadis itu Allandra mendengus. Meraih cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Enak, dan harum tentu saja. Membuat penat seharian di kantor mendadak hilang.


"Kalau sudah dapat kopi kenapa masih di sini? Anda tidak mau ganti baju?" Zachira kembali menoleh, risih juga diperhatikan terus-menerus seperti itu.


Allandra tersadar, dia buru-buru berdiri, menenteng cangkirnya meninggalkan dapur. Namun sebelum itu dia kembali menoleh, "apa kau akan membuat choco lava?"


"Iya."


"Kalau begitu bagus, beritahu aku kalau kue nya sudah matang."


Selesai mengucapkan itu dia melenggang santai ke bagian Mansion yang lain. Meninggalkan Zachira yang mendengus sebal, dasar tukang perintah! Tidak maukah dia memberi bantuan barang sedikit? Menyebalkan.


"Makannya pelan-pelan ... lihat, mulut kamu jadi belepotan." Zachira membersihkan mulut dan pipi Zio dengan tissue basah. Sejak tadi anak itu semangat makan kue buatannya. Di seberang mereka Allandra tampak asyik menyendok kue sambil mengamati layar macbook di pangkuannya. Tampangnya begitu serius, seolah yang dia amati adalah hal paling penting.


Zachira tersenyum melihat lelehan cokelat di sudut bibir pria berkulit pucat itu.


Walau awalnya ragu dia akhirnya mendekat, meraih beberapa lembar tissue kemudian duduk di sebelah pria itu. Menarik dagunya agar mereka berhadapan.


Allandra tercekat, kaget dengan kelakuan mengejutkan gadis itu.


"K-kau mau apa?" gugup dia bertanya, sejak lama tidak ada perempuan dengan jarak sedekat ini dengan dirinya.


"Ayah dan anak sama saja, makan enggak pernah bener, belepotan!" ucap perempuan itu seraya membersihkan sudut bibir Allandra dengan tissue basah.


Pria itu membulatkan mata, tidak menduga sama sekali apa yang dilakukan Zachira.


"K-kau tidak sopan!" ungkapnya sambil buru-buru mengalihkan pandangan. Berusaha keras mengendalikan debar jantung yang mendadak begitu cepat dan keras.


'Sial! Sejak kapan seorang Allandra gugup hanya karena seorang gadis?'


Pria itu menggeleng pelan, tertawa kecil dengan pikiran konyolnya. Sementara Zachira sepertinya cuek saja, kembali menghampiri Zio.

__ADS_1


"Mbu ...."


"Hem?" Zachira menoleh, Zio menarik-narik lengan piyamanya.


"Yah ...."


"Apa Zio?" Allandra juga menoleh, menatap putranya bingung. Bukan menjawab, Zio justru kembali menarik-narik lengan Zachira, memaksa gadis itu menunduk.


"What?"


"Bilang yayah ... ntuh ... taman!" Dia terdengar merengek. Membuat Allandra menautkan alis bingung.


"Dia mau apa sih Zach?" Allandra beralih menatap gadis yang saat ini sedang menahan senyum. Mengangguk-angguk, menanggapi bisikan Zio di telinganya. Bagi Allandra mereka terlihat seperti tukang gosip yang asyik membagi sesuatu.


"Well well ... asyik berdua, kalian enggak mau ngajak ayah?" Pria itu berjongkok, jujur dia kadang sedikit cemburu melihat kedekatan Zachira dengan anaknya. Zio jadi lebih dekat dengan perempuan itu ketiban dirinya sendiri.


Gadis itu tersenyum, "Zio tadi sore lihat keluarga Arham pergi piknik ke taman kota. Dia katanya mau kayak gitu juga." Jelas Zachira.


Pria dengan kaos navy mengerjap.


"Piknik?"


"Iya, piknik .... bagaimana? Besok kan hari sabtu." Gadis itu menatap lawan bicaranya lurus.


Allandra tampak berpikir sejenak, sudah lama sejak terakhir dia mengajak Zio berjalan-jalan keluar. Sejak Zachira berperan sebagai ibunya dia lebih sibuk bekerja karena tidak khawatir dengan kondisi Zio.


"Yah ...." Zio menegur, menarik lengan baju ayahnya. Akhirnya Allandra tersenyum, mengelus kepala anaknya.


"Oke, besok kita piknik ke taman kota. Sekarang bobo yah? Udah malam."


"Yeay!! Thank you yayah!" Anak itu melonjak senang, menciumi pipi ayahnya.


"Oke sweetheart ... kita tidur yuk!" Zachira merentangkan lengan, seperti sudah terbiasa, Zio akan melempar diri ke dalam pelukan perempuan itu. Menurut saat Zachira mengajaknya ke kamar tidur di lantai dua.


Allandra terdiam, kembali membayangkan senyum lebar perempuan itu saat merentangkan tangan. Bagaimana rasanya kalau dia yang melemparkan diri ke dalam pelukan gadis itu? Apakah benar senyaman yang diperlihatkan Zio?


"Oh Gosh ... kenapa aku harus berpikir hal bodoh seperti itu?" Umpatnya kesal. Tidak menyangka bisa berpikir seperti itu, apalagi kepada pelayan seperti Zachira.


Semua ini karena lelehan cokelat dan debar sialan itu, dia harus mengendalikan diri sebelum terperangkap ke dalam ranjau serupa lagi.


[Bagaimana ceritanya? Jangan lupa tinggalakan like, komentar, dan vote ya!!😊🙏 See you di next episode!]

__ADS_1


__ADS_2