GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
TAMU TAK TERDUGA


__ADS_3

"Mbu ... ini lihat!"


Zio berlari-lari kecil di atas jalan setapak. Membawa keranjang kecil berisi buah berwarna merah ranum, Zachira yang saat itu memakai baju terusan linen putih berjongkok, menyambut putra asuhnya dengan senyum lebar.


"Lihat nih ...." anak itu mengulang, mengasongkan keranjang penuh strawberry ke hadapan Zachira.


"Ow, ini banyak sekali ... buat siapa? Mbu?" Gadis itu membulatkan matanya. Zio mengangguk lucu, mencomot buah itu dan menyuapkannya kepada Zachira.


"That's sweet honey ... thank you," gadis itu mengerjap, kemudian menghadiahi satu kecupan tipis di pipi Zio.


Sudah hampir dua minggu mereka menghabiskan waktu di tempat tinggal Zachira. Setiap hari dihabiskan dengan berjalan-jalan di sekitar perkebunan strawberry yang dikelola oleh ayah. Sekalipun tidak begitu luas, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Selain perkebunan strawberry, ayah juga memiliki perkebunan kopi dan cengkeh. Juga peternakan kecil berisi sapi peras. Semua tempat itu membuat Zio tidak ingat pulang, bahkan saat Zachira bermaksud membawanya pulang, anak itu sudah lebih dulu mengamuk. Tidak mau kembali ke Jakarta.


"Biarkan saja, mungkin dia masih betah di sini Zach ... lagipula ayah senang ada Zio di sini, ayah serasa punya cucu."


Memang, kian hari, keluarga Zachira kian menerima kehadiran Zio di antara mereka, lagipula, tidak ada yang akan tahan untuk tidak menyukai anak manis dan lucu seperti Zio.


"Kau sudah mengabari ayahnya?"


"Ah itu ...."


Zachira tersadar, karena sibuk mengasuh Zio, dia sampai lupa mengabari Allandra. Bahkan satu minggu lamanya.


Dia bergegas meraih ponsel dan menghubungi nomor laki-laki itu.


"KAU KEMANA SAJA?!"


Begitu sambungan telpon terhubung dia harus menjauhkan telinga. Allandra berteriak sangat kencang hingga kuping rasanya begitu pekak.


"A-anu ... saya minta maaf sir, beberapa hari ini-"


"Beberapa hari kau bilang?! Aku menunggu telponmu sudah satu minggu Zachira! Bagaimana bisa kau lupa?!"


"Iya iya ... saya minta maaf sir, Zio baik-baik saja kok, tenang saja. Sir mau bicara?" Gadis itu berusaha untuk tenang, sekalipun dalam hati benar-benar kaget mendengar Allandra semarah itu.


"Yasudah cepat ... kau tahu? Aku khawatir Zach! Aku bahkan tidak bisa tidur barang sehari!"


Zachira berusaha menahan tawa, membayangkan bagaimana ekspresi Allandra yang panik sekaligus kesal, juga caranya meremas rambut dengan frustasi.


Malam itu akhirnya dihabiskan dengan berkomunikasi via video dengan Allandra. Dia berkali-kali mengeluh tentang betapa khawatirnya dia tentang Zio, juga kesalnya karena ternyata Zio cuek-cuek saja. Anak itu bahkan lebih memilih sibuk dengan tart keju bikinan Zachira daripada meladeni ocehan ayahnya.


"Lihat, baru satu minggu saja dia sudah lupa dengan aku. Kau harus segera membawa dia pulang Zach." Allandra menatap gadis itu lurus.


Zachira menggeleng, "tidak bisa."


"Tidak bisa?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Zio tidak mau pulang."


"Sial!"


***


"Mbu ... ngantuk,"


Puas bermain di perkebunan dan melahap banyak strawberry, Zio berjalan terseok-seok ke arah Zachira, tampak menguap berkali-kali.


'Sepertinya sudah waktunya dia tidur siang.'


Gadis itu menggumam, buru-buru menggendong Zio dan membawanya menelusuri jalanan setapak. Lereng bukit yang melandai dengan jelas menampilkan deretan pollybag strawberry. Digabungkan dengan perkebunan lain milik warga setempat, keseluruhan perkebunan itu sudah memenuhi hampir setengah bukit. Beberapa pekerja berjalan pulang sambil menggendong peralatan kebun di punggungnya.


"Makin hari makin pantas saja jadi ibunya."


Zavier yang sore itu baru pulang dari tempat kerjanya nyeletuk begitu Zachira sampai di teras rumah. Gadis itu hanya tersenyum kecil, mengelus kepala cokelat yang bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Kamu enggak kepingin punya anak sendiri?" Laki-laki dengan tinggi hampir 180 senti itu menunduk saat menatap adiknya.


Zachira tidak menjawab, hanya menaikan alis sambil masuk ke dalam rumah.


"Kakak sendiri sampai sekarang masih sendiri, kenapa enggak kakak duluan saja yang nikah?" Celetuknya sebelum menaiki tangga.


"Dasar Zachira!"


Zavier menggelengkan kepala sambil tersenyum.


***


"Zio ... sini nak, abah punya jagung bakar!"


Dari beranda depan terdengar suara ayah memanggil, Zio yang saat itu sedang asyik bermain dengan kucing tanpa dipanggil dua kali langsung berlari ke sumber suara.


"Hei ... hati-hati jalannya, nanti jatuh!"


Zachira bergegas menyusul, anak itu kalau berlari tidak pernah melihat apa yang dia injak. Teledor sedikit saja dia pasti sudah terjatuh atau terpeleset.


Di luar tampak pemanggang jagung sudah dinyalakan. Ayah sedang mengipasi jagung-jagung yang sedang dibakar. Sementara itu Zavier dan Zaidan duduk di bale bambu sambil bernyanyi-nyanyi. Gitar acoustik yang sudah ada sejak Zachira kecil tampak jadi pengiring.


"Loh, Zalina dimana?" Pandangan gadis itu berkeliling.


"Dia kakak suruh beli sosis sama baso buat di bakar." Zaidan yang menjawab.


"Zio sini sama Om, kita makan jagung!" Dia melanjutkan. Menarik Zio agar duduk di pangkuannya. Seperti robot anak itu menurut, bahkan langsung semangat mengambil jagung dari tangan Zaidan.


"Zach nyanyi dong, kakak udah lama enggak denger kamu nyanyi." Zavier menarik lengan adiknya agar ikut duduk di bale bambu.


"Elah, nyanyi?"


Zavier mengangguk, menggenjereng kunci dasar dengan asal.


Zachira tampak berpikir sejenak, sudah lama sejak terakhir kali dia ikut bernyanyi seperti ini.


"Sebentar ...." Zachira menarik napas sebelum mulai bernyanyi.


***


Dia hati-hati mematikan mesin mobil kemudian turun. Menarik travelingbag kecil dan papperbag berisi mainan anak. Malam sudah mulai larut, jam digital di pergelangan kanannya menunjukkan pukul 9 malam.


"Ramai sekali sepertinya ...."


Langkahnya terhenti, dari arah rumah terdengan suara canda tawa serta gurauan. Beberapa orang tampak asyik memanggang sesuatu.


*Pagi tadi aku masih menangis,


Pada rasa yang tak kunjung mati,


Ada seseorang di atasku


Menahan semua rasa malu* ....


Allandra, yang saat itu baru saja hendak mendekat kembali langkahnya terhenti. Suara lembut yang selama dua pekan begitu dirindukan terdengar mengalun. Dari balik pohon dia menatap sosok yang tengah bersenandung itu, Zachira ... dengan cardigan hitam dan syal abu yang melingkar di lehernya tengah duduk di sebelah seorang pria.


*Katanya mimpiku kan terwujud,


Mereka lupa tentang mimpi buruk,


Tentang kata maaf sayang, aku harus pergi* ....


"Yayah!"


Baik Zachira maupun orang-orang yang ada di sana, serempak terhenyak kaget mendengar Zio berseru, gegas turun dari gendongan Zaidan kemudian berlari.


Zachira terpaku di tempatnya melihat laki-laki dengan kemeja putih yang digulung sampai siku, serta rambut yang acak-acakan merentangkan tangan, menyambut kedatangan putra kecilnya yang sudah melompat ke dalam pelukan.


"Siapa dia Zach?" Zavier menoleh ke arah adiknya.

__ADS_1


Bukan menjawab, Zachira justru sudah berjalan pelan, menghampiri mereka berdua. Dia masih tidak menyangka bahwa pria yang saat ini sedang manyun kepadanya adalah Allandra.


"Apa? Kau kaget aku datang hah?" Allandra menatap gadis di depannya sambil cemberut. Walau dalam hati berusaha keras menahan diri untuk tidak menerkam gadis itu. Sudah dua pekan dia hilang akal, ingin sekali menemui dirinya dengan Zio namun karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dia harus menekan keinginan itu.


"Kenapa harus di susul sih? Lusa juga pulang." Zachira akhirnya bersuara, tertawa kecil sambil mengambil alih travelingbag yang masih ada di tangan Allandra.


"Ayo, aku kenalkan kepada keluargaku." Lanjutnya sambil menarik satu tangan Allandra.


"T-tapi ...."


"Sudah, ayo!"


Mereka berhenti di depan keluarga Zachira yang menunggu, lebih tepatnya menunggu diperkenalkan.


"Ayah, kakak, ini ... boss Zach dari Jakarta. Pak Allandra Tanoejaya." Gadis itu memperkenalkan. Allandra kikuk mengangguk, bingung harus bagaimana karena ini kali pertama dia diperkenalkan pada keluarga seseorang.


"Salam kenal, maaf kalau anak saya sudah merepotkan."


"Dan ya, boss ... kenalkan, ini ayah, dan ini kedua kakak saya, Zavier dan Zaidan." Zachira menunjuk keluarganya satu persatu.


"Ah ya, dan yang baru datang itu adik saya, namanya Zalina." Lanjut Zachira begitu seorang perempuan tiba sambil menenteng keresek besar.


"Waw ... ada tamu rupanya," Zalina menaikan alis, mencoba tersenyum sambil mengangguk kepada Allandra.


"Aunty Lin, bawa ... pah?"


Zio menoleh, tangannya yang sudah menenteng papperbag berusaha menggapai. Allandra mau tidak mau menurunkan putranya itu dari gendongan. Membiarkan dia berlari ke arah Zalina.


"Zach buatin kopi ya?" Zachira menegur. Masih dalam keadaan setengah bingung Allandra mengangguk.


"Silahkan duduk pak," Zavier yang awalnya saling melempar tatapan mata dengan ayahnya berucap, mempersilahkan tamu tidak terduga itu duduk di kursi bambu. Seperti robot Allandra menurut, sungguh baru kali ini dia merasa kikuk saat bertamu. Mungkin karena dia datang di waktu yang kurang pas, atau mungkin karena ini pertama kalinya dia bertemu keluarga Zachira.


***


"Gila kak, ganteng banget sih boss nya? Dia ayahnya Zio kan?"


Zalina berbisik sewaktu dia dan kakaknya berada di dapur. Zachira hanya mendengus, sibuk menuangkan kopi dan gula ke dalam cangkir.


"Kakak enggak naksir gitu tinggal seatap sama cowok sekeren dia?" Masih dengan nada menggoda, Zalina kembali bertanya.


"Keren apanya? Kamu bilang begitu karena belum tahu sikap aslinya!" Zachira manyun, menaruh cangkir ke atas napan kemudian menentengnya ke luar rumah.


Dari luar terlihat Allandra tengah bercakap-cakap dengan ayah dan kedua kakaknya. Sepertinya dia sudah tidak terlalu gugup karena sudah mulai bisa tersenyum dan mengangguk.


"Bagi saya, Zio sudah seperti cucu sendiri, apalagi dia anaknya manis dan penurut." Ayah terdengar berkomentar saat Zachira menaruh cangkir kopi di meja, tepat di depan Allandra. Sejenak mereka saling melempar tatapan.


"Silahkan diminum boss," Zachira menaikan alis sambil tersenyum lebar.


'Sial! Kenapa sikapnya berbeda sekali hari ini? Apa karena kami sudah lama tidak bertemu?' Dalam hati Allandra menyumpah, kesal karena Zachira terlihat begitu enjoy sementara dirinya berusaha keras untuk tidak gugup.


"Terimakasih sudah menerima Zio dengan baik, maaf karena sudah merepotkan." Dia kembali berbicara, meraih cangkir kopi dan menghirup aromanya sebentar. Betul-betul aroma khas racikan tangan Zachira.


Setelah berbincang cukup lama, mereka bubar dan berpamitan istirahat di kamar masing-masing, Allandra saat itu menaiki tangga kayu, mengikuti Zachira sambil mendorong travelingbagnya.


"Ini sudah malam sebaiknya anda istirahat, lagipula Zio sudah tidur." Zachira berbicara, berhenti di depan sebuah pintu.


Perlahan ia memutar knopnya, menampilkan ruangan berukuran sedang. Ada dipan berspray abu, lemari ukuran sedang, serta meja rias.


"Kalau mau mandi, aku sudah siapkan handuknya di kamar mandi, kalau enggak bawa sabun sendiri juga sudah ada kok di sana." Tambahnya.


"Kamu dan Zio tidur sekamar?"


"Iyalah, di mana lagi?" Zachira menautkan alis, pertanyaan itu sungguh tidak penting.


"Enggak akan tidur sama saya?" Tiba-tiba Allandra nyeletuk. Membuat perempuan di depannya melotot.


"Enak aja! Udah ah sana masuk, besok pagi aku bangunin!" Zachira mendorong punggung bossnya masuk ke dalam kamar, bergegas meninggalkan Allandra yang tersenyum-senyum sendiri.


Baginya bertemu dengan Zio dan gadis itu sudah menghilangkan hampir semua rasa penat. Tidak sia-sia dia datang menyusul jauh-jauh ke tempat itu.

__ADS_1


[Gimana episode kali ini? Jangan lupa tinggalkan like dan komen di bawah ya? See you di next episode๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹]


__ADS_2