
*So why does it rain?
It feels just the same
As if I'd be on my own without you
So I'm thinkin' about the memories through this song
It helps me forget 'bout everything that went wrong
Although I know that we're not through for sure
Deep down in my heart the pain I can't ignore
And so I sing my song* ....
Zachira mengerjap, penggalan lagu yang tidak sengaja diputar dalam mobil itu mengingatkan dia akan sesuatu, sesuatu yang ingin dia lupakan namun tidak bisa.
"Pak, sebelum sampai rumah bisa antar saya ke alamat ini?" Zachira memberikan selembar kertas pada sopir. Pria paruh baya itu menatapnya sekilas kemudian mengangguk, "baik non."
Kembali hening, yang samar terdengar hanya deru mesin, sisa alunan lagu dan dengkur halus Zio yang sejak tadi sudah terlelap tidur. Anak itu memang punya kebiasaan tidur dalam perjalanan. Kadang baru dibawa naik mobil sebentar saja dia sudah tidur dengan nyenyak. Itu jadi salah satu cara ampuh Zachira membuatnya berhenti rewel.
Sepanjang jalan gadis itu menatap hamparan sawah yang padinya menguning. Arah Bandung memang penuh dengan tanaman seperti ini, menyejukkan pandangan mata. Membawanya terbang ke masa-masa yang sudah lama terlewat.
"Adrian ...."
Satu nama meluncur begitu saja dari bibirnya. Lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Zachira mengusap sudut mata dengan ujung jari, tertawa kecil mengingat kelakuan konyonya sendiri. Kenapa pula akhir-akhir ini dia kembali mengingat sosok pria yang bertahun lalu meninggalkan dirinya dengan begitu kejam.
Tidak kembali.
"Sudah sampai non," Pak Min membuyarkan lamunannya. Zachira tersadar, perlahan hati-hati membaringkan Zio di atas kursi penumpang. Untung saja di dalam mobil selalu dia sediakan bantal dan selimut. Anak itu tetap terlelap, tidak terganggu.
"Nitip Zio bentar ya pak, kalau dia bangun terus nangis, bapak ajak saja ke dalam. Saya enggak akan lama kok." Zachira menjelaskan sambil membuka pintu mobil kemudian turun dan menutupnya perlahan-lahan.
"Baik non, hati-hati." Pak Min melongok dari dalam mobil. Zachira mengangguk. Menolehkan kepala ke kiri dan kanan sebelum menyebrang jalan. Di hadapannya berdiri sebuah palang berukir, sebuah pemakaman umum.
***
"Neng Zach? Kemana aja?"
Begitu memasuki pekuburan, seorang laki-laki tua tergopoh menghampiri. Zachira mengenalnya, dia pak Amir, penjaga makam sekaligus penjual bunga dan segala macam pernik pemakaman lain.
__ADS_1
"Iya pak, udah lama nih Zach enggak ke sini. Sibuk kerja soalnya." Gadis itu menyalami tangan keriput pria di hadapannya dengan hangat. Mereka sudah saling kenal selama bertahun-tahun.
"Biasa ya?" Dia melanjutkan. Pak Amir yang sudah hafal dengan permintaan gadis itu mengangguk, memberikan sekeranjang mawar serta sekendi air.
"Hati-hati, jalanan agak licin soalnya tadi hujan neng." Beliau mengingatkan. Zachira mengangguk kecil, memberikan selembaran uang merah kemudian pamit pergi. Menelusuri jalan setapak berpelur tipis. Rumput-rumput hijau yang menghiasi tiap gunduk tanah makam tampak terawat. Banyak juga makam yang sepertinya masih basah. Makam yang baru saja ditempati.
Dan di sanalah dia berhenti. Di bawah pohon cempaka yang bunganya sedang bermekaran. Dia bersimpuh di depan pusara yang ditutupi rumput hijau itu. Bilur air bekas hujan masih tampak menghiasi tiap helainya. Nisan hitam yang terukir nama seseorang yang kini terbaring damai di bawah sana tampak berembun.
Lembut, jemari lentik Zachira membelai nisan itu. Membisikkan nama seseorang yang hingga hari ini tidak pernah bisa ia lupakan.
"Adrian ...."
***
Dua tahun silam ....
"Kita putus." Tandas, tidak ada angin apalagi hujan, pria dengan surai legam tahu-tahu mengatakan kalimat menusuk itu.
Zachira menganga, merasa bagai dijatuhi bom tepat ke dasar jantung. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja, kenapa tiba-tiba berubah haluan seperti itu?
"Tapi kenapa? Apakah aku sudah melalukan kesalahan? Apakah kamu sudah tidak cinta? Katakan Adrian, jangan diam saja!"
Tidak ada penjelasan apapun.
Zachira merasa langit tiba-tiba saja runtuh menimpa dirinya, sakit, sakit sekali rasanya.
Selama berbulan-bulan pria itu menghilang tanpa kabar berita. Meninggalkan perempuan yang kadung mencintai dengan begitu dalam berkubang dalam kecewa.
Segala bentuk caci maki dan sumpah serapah dia tujukan kepada laki-laki itu. Benci sekali walau sekadar mengingat bagaimana tatapan matanya yang tajam namun penuh kelembutan itu.
Sungguh Zachira tidak pernah menduga, alasan kepergian Adrian kala itu benar-benar menghancurkan dirinya lebih dalam dari sebelumnya.
"Dia sakit Zach ... Pankreasnya terkena kanker. Dokter bilang kesempatan sembuhnya tipis sekali." Perempuan paruh baya yang dia kenal sebagai ibu dari Adrian menjelaskan dengan air mata berleleran.
Menikam, benar-benar kenyataan yang begitu menikam jantung. Selama ini dia terus berkubang dalam kebencian dan rasa kecewa, namun ternyata kenyataan sungguh di luar apa yang selama ini dia duga-duga.
"Kenapa kamu tidak jujur saja?"
Gadis itu terisak di samping ranjang rumah sakit. Meremas jemari tangan pucat yang sudah hanya tinggal tulang berbalut kulit.
Pria dengan wajah sayu itu hanya tersenyum kecil, "aku takut kamu lebih terluka." Jawabnya.
__ADS_1
"Tapi aku mencintai kamu bagaimanapun keadaannya." Gadis itu menyanggah dengan tidak sabar, emosi sudah pasti.
"Justru karena itu ... aku tahu kamu mencintaiku, dan aku tidak ingin kamu terluka oleh cinta itu." Terbatuk dia menjelaskan. Meremas jemari lentik gadis yang amat dia cintai dengan sisa-sisa tenaga.
"B-bolehkan kumintai satu hal?" Dia bersuara dengan amat lirih, mencoba tetap bertahan dengan sisa kesadaran yang kian menipis.
"Apa?"
"Kalau aku pergi ... tolong lanjutkan hidup. Buka hati dan mulai lah kembali mencintai." Ucapnya terbata. Membuat air mata Zachira semakin berjatuhan.
"Kamu enggak boleh bilang begitu, kamu harus sembuh."
"Berjanjilah ...."
Walau hati begitu tercabik, gadis itu mengangguk.
Adrian tersenyum manis, memejamkan mata dengan damai.
Dan tidak pernah lagi membuka mata.
Hingga hari ini.
***
Gadis itu pelahan menabur bunga di atas pusara. Bersidekap dan berdo'a. Selama dua tahun, tiap ada kesempatan dia selalu datang ke pemakaman ini, melepas rindu akan kehadiran pria yang begitu dia cintai dengan sepenuh hati.
"Mbu ... mbu ...!"
Kepalanya menoleh, Zio terlihat menangis dalam gendongan pak Min. Menghampiri tempat dia berjongkok.
"Sini sini ... anak Mbu baru bangun ya? Cup cup ... jangan nangis."
Gadis itu meraih tubuh mungil Zio, menepuk punggungnya sambil mengayun-ayun.
"Mau langsung pulang non?" Pak Min menegur, melirik sekilas nisan yang baru saja ditaburi bunga-bungaan. Mungkin ingin bertanya namun takut dibilang ikut campur.
"Iya deh pak, keburu malam." Gadis itu mengangguk, mendahului sopir meninggalkan jalan setapak. Mengangguk kecil pada Pak Amir yang tampak kaget sekaligus bingung melihat anak yang kini ada dalam gendongannya.
Sebelum keluar sekali lagi gadis itu menoleh, menatap makam dari kejauhan.
"Semoga engkau selalu damai di atas sana Adrian ...."
__ADS_1
[bagaimana ceritanya? Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, like juga vote dan rate yaa ... see you di next episode oke? 😊😊😊🙏🙏]