
"Apa? Pulang? Pulang bagaimana maksud kamu?"
Allandra membulatkan mata, nada suaranya jelas dari awal suku kata saja sudah naik satu oktaf. Permintaan tiba-tiba dari gadis di depannya begitu mengejutkan.
"Ya ... pulang, saya sudah dua bulan bekerja Sir, itu berarti tiga bulan sejak saya merantau ke Ibukota. Saya rindu ayah dan ketiga saudara saya." Zachira mengatakan semuanya dengan kalem.
"T-tapi ... bagaimana dengan Zio? Kamu tahu kan dia tidak bisa di tinggal?" Allandra masih terdengar keberatan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana melalui hari bersama Zio tanpa kehadiran Zachira, itu jelas mustahil.
"Bukankah anda dulu bilang, kalau saya mau pulang Zio bisa saya bawa serta?"
"Apa? Aku bilang begitu?" Dari nada suaranya jelas pria pelupa ini sudah lupa akan apa yang dia ucapkan. Zachira menautkan alis dengan bibir terpilin, dasar pelupa!
"Tentu saja, kalau tidak percaya tanya saja pada pak Daniel. Beliau kan waktu itu ada di sana." Gadis itu menambahkan.
"T-tapi bagaimana kalau Zio tidak mau pergi? Dia kan tidak suka jauh dari ayahnya." Kembali pria dengan surai cokelat itu mencari alasan, membuat Zachira mendecakkan lidah seraya menunjuk bocah 4 tahun yang tengah asyik menarik-narik kopor kecil bergambar tokoh anime.
"Zio malah udah siap berangkat tuh!" Gadis itu menunjuk Zio dengan dagu.
Allandra menelan saliva, gelagapan. Sementara itu di seberangnya Zachira tersenyum sinis dengan tatapan membunuh, dari auranya jelas dia berubah jadi iblis yang kini sedang menatapnya dengan berapi-api.
"Jadi bagaimana tuan Allandra Tanuoejaya yang terhormat? Bisakah saya pulang?" Kembali gadis itu bertanya. Menekan tiap suku kata dengan tatapan iblis itu.
'Sial! Dia menyeramkan sekali kalau seperti ini.' Pria itu mendesis dalam hati.
"B-baiklah ... t-tapi tidak hari ini. Besok pagi kalian boleh pergi." Akhirnya dia menyerah, seberkuasa apapun dirinya saat ini, tidak pernah akan bisa kalah dari tatapan maut Zachira yang mematikan itu.
"Aaa! Baiklah, terimakasih banyak Sir!"
Gadis itu memekik senang, seketika dari iblis dia berubah jinak dan imut seperti kucing. 'Cih! Dasar penjilat!' Umpat pria itu kesal. Memakai jas kemudian pamit pergi ke kantor.
"Loh ... anda tidak mau sarapan dulu Sir?" Zachira kaget.
"Aku tidak lapar!" Seru pria itu ketus. Membuat gadis berapron abu menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak. Allandra memang seperti anak kecil, mudah sekali ditebak.
***
"Kau kenapa?"
Daniel menautkan alis melihat Allandra termenung, memijat-mijat pelipisnya dengan tampang berpikir keras. Kalau saja bisa tentu saat ini dia bisa mendengar sel-sel otak pria itu berputar dan berpilin.
"Ck, dia kenapa ya?"
Bukan menjawab pria itu malah sibuk sendiri, berpikir. Daniel tidak mau ambil pusing, dia menyerahkan berkas ke meja sekretaris Yu yang juga kebingungan dengan kelakuan aneh boss nya hari itu.
__ADS_1
"Sejak datang ke kantor ekspresinya sudah seperti itu. Mungkin sedang ada masalah dengan orang rumah." Sekretaris Yu menjelaskan.
Mata Daniel melebar, orang rumah? Zachira? Ada apa dengan Zachira?
Allandra tidak peduli sekeliling. Benaknya masih keluyuran, bingung setengah mati apa alasan Zachira ingin pulang. Setahunya beberapa bulan ini perlakuan dia kepada gadis itu tidaklah buruk.
Selepas piknik bisa dibilang mereka mulai berdamai. Tiap malam berkumpul di ruang keluarga, bercanda dengan Zio sambil makan kue.
Akhir pekan mereka juga selalu jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama seperti halnya keluarga bahagia lain.
"Jadi kenapa?"
"Mungkin dia lelah."
"Loh? Daniel? Sejak kapan kau ada di sini?" Allandra terperanjat. Bibirnya yang tadi tidak sengaja mengeluarkan suara kaget karena ada sahutan. Daniel hanya bisa menggelengkan kepala dan berdecak.
"Kau ini kenapa Al? Sejak tadi melamun saja." Keluh pria tampan dengan tahi lalat di sisi dagu itu. Satu nilai plus dari seorang Daniel Pradipta adalah wajahnya yang imut dan manis. Apalagi pria itu ramah dan murah senyum.
"Zachira!" Gemas, dia meremas rambut sambil menyandarkan kepala ke kursi.
"Dia kenapa? Baik-baik saja kan?" Daniel tiba-tiba tampak serius. Debar jantung bertambah ritmenya.
"Justru itu tidak! Aku juga heran kenapa." Allandra kembali memijat pelipis.
"Dia ingin pulang!" Seru Allandra prustasi.
Seketika rona wajah Daniel berubah. Dari tegang dia menatap pria di hadapannya dengan sebelah alis yang berkedut.
"Hanya itu?"
"Dia bilang Zio boleh ikut bersamanya." Tambah Allandra.
"Itu saja?"
Allandra mengangguk.
Pria yang saat ini berdiri melipat lengan, "apa salahnya dia pulang? Kau pikir dia tidak punya keluarga?" Daniel mendecakkan lidah.
"Bukan begitu, aku hanya bingung. Kalau dia pergi bagaimana dengan aku?" Tidak sadar kalimat itu melincur begitu saja dari mulut Allandra. Sejenak Daniel juga terdiam, dia tidak menyangka Chairman dingin itu akan mengutarakan isi hatinya.
"Memang kenapa?" Pelan, setengah berbisik Daniel menanyakan itu.
"Kau tahu? Sejak ada dia semua keperluankupun dia yang menyiapkan. Sarapan, pakaian, sisir rambut -"
__ADS_1
"Biarkan dia pulang." Potong Daniel seraya menatap pria di hadapannya dengan lurus.
"Kenapa?"
"Karena dia berhak. Kau tidak boleh bergantung pada gadis itu Al, sejak awal dia hadir untuk Zio, bukan untukmu." Tambah Daniel, masih dengan wajah datar yang bagi Allandra justru tampak dingin.
"Aku hanya takut Zio kenapa-kenapa Niel," Allandra masih tampak ragu dan was-was.
"Setahuku dia justru lebih aman saat bersama Zachira. Kau juga sebenarnya menyadari itu." Jelas Daniel.
Walau ragu akhirnya Allandra mengangguk." Baiklah ... akan kubiarkan dia pulang," ucapnya. Sekalipun dalan benak masih aneh dengan perubahan sikap Daniel yang tiba-tiba itu.
'Sebenarnya dia kenapa?' benaknya bertanya, bingung.
***
"Ini berlebihan Sir! Saya bisa menyewa taksi online sendiri." Zachira menggaruk kepala tidak gatal melihat pak Won sudah berdiri di sisi mobil.
Apa yang akan dikatakan ayahnya nanti jika dia pulang dengan mobil mewah seperti ini? Bulletprof juga, memangnya dia pejabat penting apa? Bisa-bisa geger satu kelurahan!
"Kalau kau ingin pulang maka kau tidak boleh menolak diantar pak Won! Ini perintah jadi kau tidak boleh menolak." Tandas Allandra sambil melipat lengan. Sejak pulang dia kesal melihat raut bahagia gadis itu bersama Zio yang bahkan tidak mempedulikan dirinya itu.
"Tapi Sir-"
"Sudah sana, kamu tidak mau aku berubah pikiran lagi kan?"
Zachira cepat-cepat menggeleng. Pak Won membantu dia memasukkan kopor ke dalam bagasi.
"Ayo pamit dulu sama yayah." Zachira menuntun Zio ke arah ayahnya. Anak itu menurut, memeluk pria yang kini berjongkok di hadapannya dengan erat.
"Yayah, angan akal yah?" Ucapnya.
"No, yayah enggak akan nakal. Kamu di sana hati-hati ya? Jangan nakal juga." Ucap Allandra seraya mengelus kepala putranya yang kian hari kian tumbuh tinggi.
Anak itu mengangguk dengan ekspresi yang menggemaskan. Kembali berlari ke arah Zachira.
"Kau wajib menyalakan ponsel kapanpun dan di manapun. Setiap jam aku akan menelpon dan menanyakan kondisi Zio." Pria itu beralih menatap gadis berponi jarang yang hari ini tampak menggunakan pakaian serba hitam.
"Take care my son,Zach." tambahnya. Zachira mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil, "jangan lupa makan dan istirahat ya Sir?" Dia tersenyum kecil sebelum kaca mobil menutup.
Allandra melepas kepergian mereka dengan perasaan kosong. Entahlah ... mungkin ini karena Zio ikut bersamanya. Namun baru saja hilang dalam pandangan mata, dia sudah merasakan rindu luar biasa.
[gimana ceritanya? Jangan lupa tinggalkan komentar dan Like yaa😊😊🙏🙏See you di next episode!]
__ADS_1