GADIS SEWAAN CHAIRMAN

GADIS SEWAAN CHAIRMAN
ROMATISME ICE CREAM


__ADS_3

"Loh Zach, katanya mau tidur sama Zio, kok di sini?"


Allandra terperanjat kaget begitu membalikan badan. Gadis yang malam itu mengenakan piyama sutra berbahan tipis tampak berbaring di hadapannya dengan posisi menyamping. Tampak tersenyum manis ke arahnya.


"Zio udah tidur, makanya aku ke sini." Zachira menjawab simple sambil menggeser tubuh lebih dekat. Allandra spontan salah tingkah, dia tidak sempat untuk sekadar menggeser posisi tidurnya agar tidak berdekatan dengan gadis itu.


"K-kamu kenapa sih Zach? Kok jadi aneh begini?"


Laki-laki itu semakin gelagapan ketika jemari Zachira perlahan menyentuh dadanya. Seperti setruman listrik yang menyengat tiap pori di dalam kulitnya.


Allandra menggeliat, akal sehatnya berpikir untuk menepis tangan nakal itu. Tapi tidak dengan tubuhnya yang berkhianat dan meminta lebih.


Bibir ranum milik gadis itu semakin mendekat, berbisik lembut.


"Allandra ...."


"Zach ...."


"Allandra ...."


"Zach ...."


"Allandra!"


"Zach ...."


"WOY BANGUN! DASAR BANGK*!"


"Astaga, Zachira!"


Allandra tersentak, setengah lompat bangun dari tempat tidur. Di depannya gadis cantik berambut sebahu berkacak pinggang sambil membawa sapu. Menatap galak ke arahnya.


"Bapak kenapa sih? Dibangunin dari tadi bukannya bangun malah cengengesan enggak jelas? Ngigau?" Gadis itu menautkan alis dengan kesal ke arah boss nya.


"Apa? Ngigau? Ngigau ap-"


Kalimat Allandra terhenti, sambil mengucek mata dan mengumpukan kesadaran dia mengingat-ingat apa yang sebetulnya terjadi.


"Sial, mimpi rupanya." Laki-laki itu mendesis, sadar bahwa yang semalam terjadi di atas ranjang hanya mimpi.


"Apa? Bapak bilang sesuatu?"


Di depannya Zachira tampak menatap tidak mengerti. Allandra memperhatikan penampilan gadis itu, tampak segar dengan jaket sport training hitam bergaris putih serta celana training dengan warna senada. Tampaknya sudah siap lari pagi.


"Enggak, lagian ngapain sih teriak pagi-pagi gini?" Allandra mengelak, mengeluarkan kemeja dari selah ikat pinggang yang lupa tidak dia ganti tadi malam agar menutupi bagian tubuh yang saat ini akan sangat memalukan kalau sampai dilihat oleh Zachira. Sisa mimpi laknat tadi malam yang terputus oleh teriakan Zachira itu ternyata membuat adik kecil miliknya berada dalam posisi yang memalukan.


'Sial!'


"Pagi apaan? Ini udah mau jam 8 pak, udah ah buruan mandi, Zach tunggu sarapan di bawah ya?" Gadis itu berkacak pinggang kemudian berbalik meninggalkan kamar.


"I-iya iya, habis mandi saya turun." Allandra menjawab cepat, dalam hati menghela napas lega karena Zachira tidak menyadari apapun.


Namun baru saja hendak bebalik ke kamar mandi, suara gadis itu kembali terdengar.


"Lain kali, kalau tidur ganti baju sama celananya, biar enggak ketat begitu. Sampe nyembul segala." Celetuknya ringan. Mata Allandra membelalak kaget, baru saja hendak melemparkan sumpah serapah kepada pengasuh anaknya itu, Zachira sudah ngacir entah kemana.


"Sialan, awas kau Zachira!"


***

__ADS_1


"Eh nak Al sudah bangun rupanya, ayo ikut sarapan."


Dari lantai bawah, pria paruh baya yang merupakan ayah dari Zachira itu melambaikan tangan.


Allandra berusaha mengangguk sopan, menuruni tangga kayu. Tampak jelas meja makan hampir terisi semua kursinya. Keluarga Zachira sedang sarapan bersama di sebuah meja makan dari kayu jati. Zio juga ada di sana, sarapan entah menu apa dalam pangkuan Zachira.


Zachira mendongakan kepala begitu pria itu sampai, duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya.


"Mau dibikinin kopi apa langsung makan?" Tawar gadis itu santai. Bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


"Eh ... itu ... sudah, sarapan dulu saja."


Allandra menjawab cepat sembari membalik piring, ada menu nasi goreng seafood, capcay, kerupuk udang, serta semangkuk sup ayam yang sudah pasti sengaja dimasak untuk Zio.


"Ayo nak Al, jangan sungkan." Ayah menegur. Dibalas Allandra dengan anggukan singkat, lagipula tanpa disuruhpun dia akan makan lebih banyak. Sudah lama tidak ada nasi goreng seafood di pagi hari seperti hari ini karena sang koki baru bertatap muka lagi setelah sekian lama.


"Yayah ... maen yuk?" Di sebelahnya Zio tiba-tiba menegur, menarik lengan hoddie yang dia kenakan. Allandra menoleh, "maen? Kemana?"


"Itu ... kan ini hari minggu, di dekat alun-alun kecamatan ada pasar kaget. Dia mau ke sana." Zachira bantu menjelaskan.


"Pasar kaget?"


"Iya."


Pria itu tampak berpikir, sebetulnya dia tidak akan lama di kota ini, hanya saja ... melihat kedua alis Zachira terangkat, serta tatapan berbinar Zio dia tidak bisa mengeleng.


"Oke deh ...."


"Yappa!" Zio melonjak dalam gendongan Zachira hingga sup yang mau di suapkan hampir tumpah. Di seberang meja, ayah dan ketiga saudara Zachira tersenyum penuh arti.


***


Sekali lagi Allandra mengeluh, sejak tadi mereka berlari-lari kecil di sepanjang jalan. Zachira bilang mereka tidak perlu naik mobil karena tempat yang dimaksud tidak terlalu jauh. Namun pada kenyataannya tetap saja tidak sampai-sampai.


"Berisik! Baru segini udah ngeluh!" Zachira melemparkan tatapan galak ke arah boss nya. Mereka bahkan baru berjalan dua kilo meter, dan itu jalan menurun!


"Galak!"


"Biarin!"


Allandra mendengus dan mengalihkan pandangan. Dalam hal debat dia selalu kalah dengan Zachira. Apalagi saat itu si gadis sedang merasa di atas angin karena ada di rumahnya.


"Tuh, tempatnya udah kelihatan." Zachira berhenti, menunjuk lapangan rumput luas yang penuh dengan berbagai macam wahana. Mirip Funfair yang waktu itu mereka datangi.


"Tunggu di sini sama yayah ya? Mbu mau nyari minum dulu." Zachira meminta Zio duduk dengan ayahnya. Sekali ini anak itu menurut, mungkin karena sama kelelahan.


Allandra masih saja mengatur napas saat perempuan itu kembali dengan kresek berisi beberapa botol air mineral dingin. Disambarnya keresek itu dengan cepat, buru-buru diminum karena kerongkongan sudah sangat perih.


Zachira tersenyum kecil, tuan nya tampak seperti anak kecil saat itu.


"Apa lihat-lihat?" Allandra melotot galak.


"Dih GR!" Zachira mendengus, sebetulnya kaget karena pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya.


"Kenapa kamu ngelihatin saya begitu? Saya tampan ya?" Allandra menaikan alis dengan tampang menggoda.


"Dih ... apaan? Muka kucel gitu juga." Dengus Zachira sambil menaikin ujung bibir. Allandra menggulung senyum, entah kenapa rasanya senang melihat Zachira seperti itu.


***

__ADS_1


Hampir dua jam mereka bermain di lapangan Zio sangat senang mencoba berbagai permainan yang tersedia di lapangan itu.


"Ayolah ... udah siang ini, kita pulang yuk?" Allandra kembali mengeluh, sejak tadi dia mengeluh tetang betapa panasnya hari ini.


"Jangan pulang dulu yayah ... mau es kim." Zio mengeleng sambil mencak-mencak, menunjuk kios es krim yang ada di pinggir lapangan.


Zachira menaikan alis sambil tersenyum jahil ke arah bossnya, menggenggam tangan Zio kemudian tanpa permisi berlari meninggalkan Allandra.


"Hey kalian! Tunggu!" Walau sudah tidak tahan dengan panas nya udara, mau tidak mau Allandra berlari, mengejar Zio dan Zachira ke seberang lapang.


"Zio mau rasa apa?" Begitu tiba di kios es krim Zachira menoleh ke anak asuhnya, yang sama sekali tidak tampak kelelahan.


"Cokelat!" Sahut Zio bersemangat.


"Oey boss! Mau rasa apa?" Giliran dia menatap ke arah boss nya yang baru saja tiba dengan napas ngos-ngosan.


"Sialan," desis pria itu sebal.


"Rasa Sialan enggak ada, yang lain aja ya?" Zachira mengatakan itu dengan wajah polos tanpa beban. Membuat kekesalan Allandra semakin menjadi.


"Udah ah rasa apa aja, yang penting bukan rasa jadi boss tapi dijajah sama pegawai!" Ucapnya satire. Membuat Zachira dan si penjual es krim menahan tawa. Kalau sedang kesal begitu Allandra justru lucu.


Akhirnya Zachira memesan dua es krim cokelat dan satu es krim vanilla untuk dirinya.


"Mbu kok es kim nya beda?" Zio mendongak.


"Hm ... Soalnya ... mbu suka Vanilla." Jawab Zachira sambil menjilati es krim di tangannya dengan santai.


Diam-diam Allandra memperhatikan nya dengan ekor mata. Tiba-tiba saja teringat mimpi tadi malam.


"Oh come on Al, it's just a dream!" Rutuknya.


"Dream?" Zachira mengerutkan kening bingung, menatap boss nya tidak mengerti.


"Bukan apa-apa," pria itu mengeleng.


Zachira mendengus, kembali bermaksud menjilat es krim miliknya saat ekor matanya menangkap lelehan cokelat di sudut bibir Allandra.


Dia menarik beberapa lembar tissue kemudian menjawil dagu Allandra dengan tangan itu. "Bapak bisa enggak sih kalau makan enggak belepotan?" Gadis itu manyun, memilin bibir dengan dramatis.


Allandra terperanjat kaget. Jantungnya berdegup kencang begitu wajah mereka bertemu. Kornea hitam itu ... begitu bersinar hingga dia bisa melihat refleksi wajahnya dari sepasang mata itu.


Tanpa ia sadari kepalanya semakin condong ke depan, menatap wajah kebingungan di hadapannya dengan intens.


Zachira tercekat, terpaku di tempatnya tanpa bisa bergerak. Hembusan napas dari laki-laki itu semakin terasa jelas menerpa wajah. Degup jantung yang semula biasa saja ritmenya bertambah.


'Mau ngapain cowok ini?'


Jarak mereka semakin dekat ....


"Yayah ... Mbu ... pulang yuk?"


Zio tahu-tahu nyeletuk di antara mereka. Menoleh ke arah Allandra dan Zachira bergiliran. Keduanya spontan menjauhkan badan, salah tingkah.


"Ayok, sini mbu gendong." Zachira bergegas bangkit, menggendong Zio kemudian berjalan meninggalkan Allandra di belakang.


Sementara itu yang ditinggalkan mengumpat kesal. Padahal tinggal sedikit lagi, ia merutuki ocehan anaknya yang tidak tahu waktu itu.


[yeeay, athor cantik balik lagi gess!😁 mohon maaf sebelumnya sudah sebulan enggak update, bukan kenapa, hanya saja sudah satu bulan author sakit, jadi enggak bisa dekat laptop dulu.

__ADS_1


Gimana Part kali ini? Yang suka sama ceritanya jangan lupa tinggalin vote, like, dan jejak di kolom komentar yaa ... biar author makin semangat updatenya, see you di next episodeπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ‘‹πŸ‘‹]


__ADS_2